
"Sayang."Rengek wanita itu dengan mencebikan bibirnya. Wanita itu menatap Edward dengan wajah yang memberenggut.
"Kenapa hmm?"Tanya Edward dengan lembut bahkan tangan yang pernah menampar wajah Bianca itu, tampak mengelus wajah wanita yang tengah bersandar di bahunya.
"Apa sudah selesai? Aku ingin istirahat." Kata Wanita yang entah siapa namanya.
"Kamu Lelah?"Edward menatap wanita itu, tanpa mempedulikan seorang wanita hamil yang kini tengah bersimpuh di hadapan Nya. Tanpa aba-aba Edward menggendong tubuh wanita itu, Sehingga membuatnya terpekik dan tidak lama kemudian terdengar Ucapan manja dari wanita itu.
Tanpa mengalihkan pandangannya ke arah Bianca. Laki laki kejam itu berjalan menuju tangga sembari menggendong wanita itu ke kamarnya. Bahkan Bianca melihat kedua manusia berbeda kelamin itu menautkan kedua bibirnya dengan mesra dan suara decapan itu saling bersahutan, dan lagi lagi Bianca hanya bisa menatap punggung mereka yang semakin jauh dari jangkauanya dengan hati yang hancur.
Bianca tidak bisa berkata kata untuk mendeskripsikan bagaimana hancurnya perasaan nya sekarang, Dimana laki laki yang berstatus sebagai suaminya tengah bercumbu mesra dan membawanya ke dalam kamar yang seharusnya dirinya tempati, Hanya air mata yang menyiratkan bagaimana hancurnya perasaan wanita itu saat ini.
"Ya Tuhan."Bianca bergumam saat kedua manusia itu hilang di balik pintu kamar laki laki itu.
Sungguh pemandangan itu begitu membuat siapa saja merasakan kesakitan yang Bianca rasakan. Bahkan tidak sedikit pelayan yang menitihkan air matanya. Begitupun dengan pak Jang Yang melihat semuanya, hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar seraya memaki atas apa yang di lakukan oleh Tuannya tersebut. Pak Jang berjalan dan menepuk pundak ringkih wanita malang tersebut.
"Nona Bianca."Ucap Pak Jang membuat wanita itu mendongkakan kepalanya.
"Ada apa pak Jang?"Tanya Wanita itu dengan suara paraunya.
"Mari Nona ikut saya."Kata laki laki parubaya itu sembari membantu Bianca untuk berdiri dan membawa tas yang berisi pakaian dan barang-barang wanita itu.
"Kemana Pak Jang? Anda ingin mengusir
Saya?"Cetus Bianca membuat Pak Jang seketika menggelengkan kepalanya.
"Tidak Nona, Saya akan mengantarkan Anda ke tempat tinggal Anda."Tutur Pak Jang membuat Bianca mengusap wajahnya dengan kasar.
"Baik Pak Jang."Bianca bangkit membawa tas besar miliknya. Tubuh yang belum sepenuhnya pulih kini kembali mendapatkan hantaman yang kembali mengguncang jiwanya.
Kedua tangan mungil itu menggenggam erat sebuah tas besar yang berisi semua barang barang pribadinya. Langkah demi langkah kaki kecil Bianca itu berjalan menyusuri jalan yang setapak yang telah di arahkan oleh laki laki parubaya itu. Setelah kejadian dimana Bianca harus berlutut di hadapan Edward dan memohon kepada Edward hanya demi untuk tetap tinggal di rumah yang seharusnya menjadi tempat nya berlindung. Dan lagi lagi air mata itu tidak henti hentinya keluar dari kedua pelupuk matanya.
Namun takdir Tuhan siapa yang tahu? Rumah yang seharusnya menjadi tempat perlindungan Bianca semenjak dirinya mengikat dan mengikrarkan sumpah dan janji suci pernikahan di hadapan Tuhan, kini hanyalah untaian kata semata yang tidak ada artinya bagi Bianca maupun Edward. Semua kata kata itu hanyalah bohong belakang. Nyatanya rumah itu kini menjadi neraka kedua bagi Bianca setelah Bianca keluar dari neraka yang telah di ciptakan oleh ayah kandungnya sendiri.
Langkah demi langkah wanita itu tapaki dan pepohonan yang menjulang tinggi dan berdaun lebat menjadi pemandangan Bianca di setiap langkahnya dan laki laki berwajah sangar dan berbaju hitam hitam dengan senjata api di setiap orangnya, membuat wanita hamil itu bertanya tanya seberapa banyak jumlah kekayaan yang Edward miliki, sehingga dapat memperkerjakan orang orang sebanyak itu.
"Ya Tuhan, Bianca takut sekali."Guman Bianca saat langkahnya semakin jauh masuk ke dalam. Bianca menghentikan langkahnya saat pak Jang berhenti dan menatap sebuah rumah kayu di dekat danau. Bianca tidak yakin bahwa rumah yang akan dia tempati dapat bertahan dari derasnya air hujan.
"I-ini Pak Jang?"Bianca tergagap dan Bianca tidak yakin bahwa rumah yang akan dia tempati dapat bertahan dari derasnya air hujan. pak Jang hanya menganggukkan dan menatap Bianca dengan penuh arti.
"Silahkan Nona."Pak Jang berjalan terlebih dahulu memasuki rumah itu. Pak Jang maupun Bianca terperangah melihat isi di dalam rumah kayu itu. Dinding kayu yang sudah lapuk di makan rayap dan hanya berisi sebuah meja kecil dan kasur lantai di dalamnya membuat Bianca lagi lagi menggelengkan kepalanya atas perlakuan Edward kepada Nya.
"Terima kasih pak Jang telah mengantarkan Bianca."Ucap Bianca tanpa menatap laki laki parubaya itu. pak Jang pun hanya mengagukan kepalanya dan meminta izin kepada Bianca untuk kembali ke rumah utama.
Kini kesendirian menyelimuti wanita hamil itu. Pandangan matanya mengedar menatap tempat yang akan menjadi tempatnya bernaung, Sungguh miris sekali di saat seluruh wanita hamil di dunia ini mendapatkan kasih sayang dan cinta yang berlimpah dari orang orang sekitarnya, berbanding terbalik dengan Bianca yang harus banting tulang untuk menghidupi kehidupan sehari-hari.
Bianca gamang akan masa depan nya. Akankah ada kebahagiaan untuk dirinya? Ataukah masih banyakah kesakitan dan penderitaan yang telah Tuhan tuliskan di garis kehidupan nya, entahlah hanya Tuhanlah yang tahu bagaimana masa depan yang akan Bianca alami.
Namun ada sebuah kalimat yang Bianca yakini dari dahulu sampai saat ini. Tuhan tidak tidur dan Tuhan tidak buta, Tuhan mengetahui semua yang terjadi di muka bumi ini maupun semua yang terjadi kepada setiap makhluk hidup yang dia ciptakan. Bianca meyakini akan adanya kebahagiaan yang Tuhan tuliskan di garis kehidupan nya suatu saat ini. Untuk saat ini Tuhan memberikan Bianca luka yang sedemikian rupa, agar untuk di masa yang akan mendatang tidak ada lagi makhluk di bumi ini yang dapat melukai dirinya.
_
_
_
Sang Surya sudah nampak naik di tempat peraduan Nya. Sinarnya memantulkan dan membias apapun yang dia lewati, seperti pagi pagi yang Bianca lewati. Rasa mual mendera dirinya sehingga membuat Bianca tidak dapat menopang tubuhnya, terlebih lagi kondisinya belum sepenuhnya pulih pasca pulang dari rumah sakit. Bianca duduk di atas dinginnya lantai dengan tatapan matanya yang menerawang, Nafas wanita hamil itu terengah-engah begitu pun dengan dada yang naik turun seiring dengan nafas wanita itu.
"Nona Bianca..."Bianca mendongkakan kepalanya saat sebuah suara memanggil namanya, seiring dengan langkah kaki yang mendekat ke arah dirinya.
"Pak Jang."Bianca memekik dimana laki laki parubaya itu menghampiri dirinya di pagi buta seperti ini. "Ada apa pak Jang? Mengapa pak Jang mencari Bianca?" Sambung Bianca dengan menyematkan senyuman nya.
Dan melihat senyuman wanita itu membuat pak Jang tercekat, parubaya itu meremat sebuah kertas yang ada di dalam sakunya Namun tidak merusaknya.
Bianca menautkan alisnya saat pak Jang menatap nya dengan intens, membuat wanita hamil itu sedikit tidak merasa nyaman. Dan perempuan itupun bangkit dan di bantu oleh pak Jang.
"Ada apa pak Jang? Katakan saja, Bianca tidak apa-apa kok."Tuturan dan membuat pak Jang mau tidak mau menyerahkan kertas yang ada di genggaman tangannya.
"Apa ini pak Jang?"Tanyanya saat menerima kertas tersebut.
"Ini adalah beberapa Nota pembayaran yang Tuan Edward lakukan untuk memperbaiki dapur yang sempat Anda bakar."Jelas pak Jang membuat Bianca membeku di tempatnya.
"Benarkah pak Jang?"Bianca seketika melihat nominal angka yang tertera di sudut bawah kertas tersebut.
"Seratus Lima puluh juta."Guman Bianca dengan membelikan kedua matanya.
"Bagaimana Bianca mendapatkan uang sebanyak itu? Bahkan uang tabungan Bianca pun tidak sampai sebanyak itu."Belum sempat Bianca membuka mulutnya rasa mual itu kembali menyerang dirinya sehingga mau tidak mau Bianca mengeluarkan kembali isi di dalam perutnya walaupun hanya sebuah cairan berwarna kuning yang keluar dari mulutnya.
"Pak Jang pergilah! Ini menjijikkan...!"Pekik Bianca di sela sela muntahnya. Dan Pak Jang tidak mengindahkan peringatan Bianca, laki laki parubaya itu tetap memijat tengkuk dan punggung wanita hamil itu.
"Anda baik baik saja Nona?"Tanya pak Jang langsung di balas anggukan oleh Bianca.
"Apakah saya perlu memanggil Dokter Andreas, untuk memeriksa keadaan Anda?"Imbuhnya.
"Tidak perlu pak Jang, Bianca baik baik saja. Ini hanyalah morning sickness yang biasa wanita hamil alami Pak."Tutur Bianca.
"Apakah Anda sering mengalaminya Nona?"
Tanya pak Jang.
"Iya Pak, Hampir setiap pagi Bianca mengalaminya."Kata Bianca dengan tersenyum pelik. Membayangkan pagi pagi yang dirinya lalui dengan morning sickness sendirian, tidak ada yang memijatnya saat rasa mual itu semakin menjadi jadi mendera dirinya. Terlebih lagi saat dirinya tiba tiba menginginkan seseorang di waktu yang tidak tepat.
Bianca termenung memikirkan bagaimana dirinya membayar kerugian Edward sebanyak itu. Sehingga wanita hamil itu melupakan bahwa dirinya belum memakan apapun sedari tadi.
"Anak Mamah lapar ya?"Kata Bianca dengan mengusap perutnya dengan gerakan memutar. Kini Bianca tidak boleh egois memikirkan perasaan sendiri, sehingga melupakan kondisi kandungannya yang lemah.
Bianca bangkit dan merapihkan kasur lantai yang dia duduki dan melipatnya berserta selimut dan bantalnya, lalu menaruhnya di sudut ruangan tersebut. Bianca menatap penampilannya dari atas hingga bawah, walau Bianca di anjurkan oleh dokter untuk istirahat total selama dua Minggu. Namun Bianca harus tetap bekerja karena dirinya membutuhkan uang untuk keperluannya sehari-hari dan menggantikan kerugian Edward.
"Anak-anak Mamah Jangan rewel ya, hari ini mamah akan mulai bekerja kembali."Kata Wanita hamil itu.
Sudut mata Bianca menatap amplop coklat yang berada di atas tumpukan baju yang belum Bianca rapihkan. Bianca ingat amplop itu adalah pemberian dari Dokter Andreas dan Bianca belum membukanya.
"A-apa banyak sekali."Pekik Bianca saat melihat setumpuk uang berwarna merah di dalam dan beserta tiga cek kosong di dalamnya.
"Apakah Dokter Andreas tidak salah memberikan Bianca untuk sebanyak ini?" Guman Bianca sembari menghitung uang pemberian Dokter Andreas.
"Lima puluh juta!"Kata Bianca setelah menghitung semua uang tersebut.
"Ini banyak sekali, Sepertinya Bianca harus mengembalikan semua ini kembali kepada Dokter Andreas?"Sambungnya.
_
_
_
Dentingan suara sendok dan garpu saling bersahutan di dalam ruangan makan mewah milik Edward. Tidak ada obrolan ataupun perbincangan hangat di dalamnya, suasana di meja makan tersebut terasa dingin, Sehingga siapapun enggan untuk berlama lama di dalamnya. Namun, keheningan itu terhenyak saat sebuah seruan mengalihkan atensi mereka.
"Untuk apa kau ke rumah ku?"Tukas Edward mata yang menatap laki laki yang berjalan dengan santainya ke arah dirinya, tidak lupa senyuman miring di sudut bibirnya.
"Mengapa? Apa salahnya aku berkunjung ke rumah sahabat ku."Timpalnya seraya duduk di samping kursi Edward dan sudut matanya menatap wanita cantik yang duduk di sebelah kiri Edward dengan tatapan nakalnya.
"Hai Cleona."Seru Dokter Andreas dengan kerlingan matanya. Namun wanita yang berada di samping Edward itu hanya menatap sekilas Dokter Andreas, Lalu melanjutkan makannya. Dan Edward yang melihat apa yang di lakukan oleh sahabatnya pun tidak dapat menahan tawanya.
"Sialan Kau Edward!"Pekik Andreas sembari melempar remahan roti ke arah Edward. Namun dengan cepat laki laki itu menghindari nya.
"Untuk apa kau kemari?"Edward mengulangi kembali pertanyaanya. Namun Dokter muda itu hanya membalas ucapan Edward dengan mengidikan bahunya.
"Pelayan."Panggil Andreas kepada pelayan yang ada di belakangnya."Tolong Ambilkan saya piring."Titahnya dan dengan sigap pelayan itu mengambilkan piring untuk Andreas di dapur.
Andreas bertopang dagu menunggu pelayan itu mengambilkan piring untuknya.Kedua matanya tidak henti hentinya melihat wanita cantik di hadapannya.
"Bisakah kau berhenti menatap ku?"Titah Cleona yang jengah saat Dokter Andreas terus menerus menatapnya.
"Kenapa memangnya? Aku hanya ingin melihat wajah cantik seorang Cleona O'deon yang tidak setiap hari ku lihat."Ujar Dokter Andreas membuat wanita itu mendengus.
Tanpa mereka sadari sepasang mata menatap mereka dengan tatapan mata yang sulit untuk di artikan. Wanita itu bersandar di dinding menahan gemuruh yang ada di dalam dirinya setelah mendengar perkataan Dokter Andreas.
"Cleona O'deon?"Ucap Bianca dengan bibir yang bergetar. Kini pikiran wanita itu berkelana tentang kemungkinan kemungkinan hubungan Edward dengan wanita yang bernama Cleona tersebut.
"Jadi nama wanita itu Cleona? Namun kenapa dia memakai Nama O'deon? Apa hubungan wanita itu dengan Tuan Edward?"Tuturnya.
Jangan lupa
Like
Comment
Favorit
Rate
Vote