Oh My Baby

Oh My Baby
insecure part 2


Jung Kook memeluk erat Hana dan Kiki. Mencium pipi Kiki. Mencium kening dan bibir Hana.


"Noona ... Aku pergi. Ki ... Appa pergi dulu."


"Appa ... Bye ... Bye ..." Hana menggerakkan tangan Kiki yang sedang ia gendong. Kiki masih ingin ikut ayahnya. Tapi Jung Kook tidak bisa membawa Kiki. Ia harus fokus latihan. Bila ia membawa Kiki, ia akan menghabiskan waktunya untuk mengurus Kiki


"Appa~ ..." Kiki mulai merengek.


Jung Kook buru-buru pergi dari rumahnya menuju ke tempat parkir. Ia menaruh kopernya di bagasi lalu melajukan mobilnya menuju tempat temannya yang juga petarung yang akan berlatih bersama-sama dengannya.


Setelahnya Jung Kook dan temannya mulai menuju ke tempat latihan.


Di luar kota tempat Jung Kook berlatih bersama petarung lain ...


Jung Kook mengganti pakaiannya dengan celana petarung. Membalut tangannya dengan perban lalu memakai sarung tinju. Ia berlatih dan berlatih. Ia tak mau kalah. Ia harus menang dalam pertandingan berikutnya.


Dalam hati Jung Kook, ia memikirkan Hana dan Kiki. Terutama Kiki yang hampir menangis saat ia tinggal karena ingin ikut dengannya.


Apa tidak apa-apa mereka aku tinggal?


Fokus ... Fokus ...


Mereka akan baik-baik saja.


Latihan demi latihan Jung Kook jalani. Push up, squat, tinju, tendangan, sparing. Semua semata-mata demi kemenangan.


Lelahnya ...


Jung Kook mengistirahatkan dirinya. Ia tidak mengecek ponsel karena tak ingin latihannya terganggu. Barulah saat malam, saat istirahat, Jung Kook mengecek ponselnya.


Noona ... I Miss you.


Ki ... Appa kangen.


Walau baru pisah beberapa jam, Jung Kook sudah merindukan Hana. Ia ingin melihat dan mendengar suara Hana dan Kiki.


Jung Kook melakukan panggilan video ke Hana.


Kok Noona nggak angkat-angkat?


Apa lagi nidurin Kiki?


Atau lagi di kamar mandi?


Jung Kook tersenyum nakal.


Setelah beberapa saat panggilan tersambung.


"Noona ..." Jung Kook tersenyum lebar. Ia sudah sangat merindukan Hana.


"Kookie ..." Hana terlihat kebingungan.


Jung Kook ~ Kenapa dengan raut wajah Noona? Kenapa ia terlihat cemas?


"Hana ..." Nam Joon menyebut nama Hana dalam tidurnya.


Suara laki-laki?


"Noona ... Ada siapa di sana?" Jung Kook mendengar suara seorang pria.


Keringat dingin mulai membanjiri pelipis Hana. Ia hanya takut bila Jung Kook tahu ada Nam Joon di rumah mereka.


Hana ~ Beritahu Jung Kook atau tidak? Aku harus memberitahunya.


"Kookie ... Ada Nam Joon oppa di rumah. Ia mabuk ..." Hana belum selesai berbicara. Ia ingin menjelaskan ke Jung Kook. Supaya Jung Kook tidak salah paham.


"NOONA SEKARANG MASUK KAMAR. KUNCI PINTUNYA. AKU PULANG SEKARANG." Jung Kook cemas. Ia takut Nam Joon yang mabuk akan berbuat sesuatu hal yang buruk ke Hana. Sesuatu yang pernah ia perbuat dulu ke Hana. Yang mengakibatkan terciptanya Kiki.


Seketika itu juga Jung Kook yang masih memakai piyama langsung mengambil kunci mobil. Ia menuju tempat parkir. Menyalakan mobilnya lalu pulang ke Seoul.


Hana menuruti perintah Jung Kook. Ia dan Kiki masuk ke dalam kamar dan menguncinya. Walaupun sebenarnya tidak perlu seperti itu. Nam Joon hanya mengigau.


Sepanjang perjalanan menuju ke Seoul, Jung Kook sangat mengkhawatirkan Hana.


Semoga Noona baik-baik saja.


Semoga Nam Joon Hyung tidak berbuat yang buruk ke Noona.


Noona lagi hamil.


Kalau sampai mereka ...


Bagaimana dengan Mint?


Berbagai pikiran buruk muncul di benak Jung Kook.


Kenapa juga Nam Joon Hyung datang ke rumah malam-malam?


Pakai acara mabuk segala.


Sesampainya di gedung apartemen ...


Jung Kook masuk ke dalam rumah. Ia melihat Nam Joon yang tertidur di sofa. Ia kemudian mengetuk pintu kamar.


"Noona ... Ini aku."


Hana dan Kiki keluar dari kamar ketika mendengar suara Jung Kook.


"Noona baik-baik saja?"


"Aku baik-baik saja."


Jung Kook mengambil ponsel Nam Joon hendak mengabari istri Nam Joon tetapi saat ia menghubungi nomor darurat di ponsel Nam Joon malah ponsel Hana yang berbunyi.


Nomor darurat Nam Joon Hyung masih nomor Noona?


Apa maksudnya?


Nam Joon Hyung masih memikirkan Noona?


Akhirnya Jung Kook membiarkan Nam Joon tidur di sofa. Ia ingin membawa Nam Joon pulang ke rumahnya tapi ia tidak tahu alamat rumah Nam Joon yang baru. Untuk malam ini Nam Joon ia ijinkan tidur di rumahnya.


Jung Kook juga bermalam di rumahnya. Ia tidak ingin kembali ke tempat latihannya. Ia harus menjaga Hana dan Kiki. Ia akan kembali ke tempat pelatihannya setelah Nam Joon sadar.


Jung Kook membawa masuk Hana dan Kiki ke dalam kamar. Mengunci pintu kamar karena ia tak ingin Nam Joon membuka kamar mereka saat mereka tidur.


Jung Kook menidurkan Kiki. Saat Kiki sudah tidur, Jung Kook duduk di ranjang di samping Hana.


"Kookie ... Aku akan menceritakan apa yang terjadi." Hana tak ingin Jung Kook salah paham.


"Tadi saat Nam Joon oppa memencet bel apartemen kita, aku tidak menghiraukannya. Tapi ia memencet bel lagi. Saat itu aku perhatikan ada yang aneh darinya. Nam Joon oppa ternyata mabuk. Maafkan aku ... Seharusnya aku memberitahumu terlebih dahulu sebelum membawa ia masuk."


"Noona ... Kau itu terlalu baik."


"Maafkan aku ... Aku tak bisa membiarkan Nam Joon oppa tergeletak di luar sana."


"Aku itu mencemaskan Noona. Bagaimana kalau Nam Joon Hyung itu berbuat sesuatu yang buruk ke Noona? Bagaimana kalau ..."


Hana menempelkan jari telunjuknya ke Jung Kook. Hana tahu Jung Kook sangat takut kehilangan dirinya. Atau ada orang yang menyakiti dirinya.


"Aku dan Kiki tidak apa-apa. Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku dan Kiki. Apa kau capek?" Hana berusaha mengubah topik pembicaraan.


"Capek banget. Dari tadi aku latihan non stop. Tapi ..." Smirk muncul di bibir Jung Kook.


"Tapi apa?" Hana sudah paham smirk di bibir Jung Kook.



Jung Kook menggosok-gosok bibirnya dengan jari-jarinya.


"Noona ..." Jung Kook mendekat dan semakin dekat. Ia mencium bibir Hana.


Hana balas mencium Jung Kook "Kookie ..."


Rasa cemas di hati Jung Kook sudah berubah. Saat ini ia hanya memikirkan Hana.


"Noona ..."


"Kookie ..."


Keesokkan harinya ...


Nam Joon yang sudah sadar bingung dengan keadaan nekitarnya.


Aku di mana?


Kenapa ada anak kecil?


Kiki?


Saat ia melihat Kiki yang sedang menatapnya, ia tahu ia berada di mana. Ia berada di rumah Hana. Saat ia mabuk kemarin, ia secara tidak sadar pergi ke rumah Hana.


"Ki ... Bawain buat Nam Joon samchon." Hana memanggil Kiki untuk membawakan teh hangat yang baru saja ia buat untuk Nam Joon.


Kiki berjalan dengan hati-hati. Ia berhasil memberikan segelas teh hangat untuk Nam Joon.


"Gomawo, Ki."


Setelah beberapa saat ...


Nam Joon berpamitan pulang diiringi dengan tatapan sinis dari Jung Kook. Jung Kook tidak senang melihat Nam Joon berada di rumahnya. Terutama saat tahu nomor darurat di Nam Joon masih nomor Hana.


Saat Nam Joon di depan pintu. Hana teringat cincin kawin Nam Joon yang terlepas dari jari manis Nam Joon saat ia membawa Nam Joon berbaring di sofa.


"Oppa ... Tunggu sebentar." Hana segera berlari mengambil cincin Nam Joon.


"Ini cincinmu." Hana hendak menyerahkan cincin milik Nam Joon.


"Buang saja. Aku sudah tidak memerlukannya lagi."