
Kiki yang baru saja bangun berjalan menuju ruang tamu. Ia melihat ada yang tidur di sofa yang biasanya ia pakai tidur lagi sebelum ke daycare.
"Ki ... Kiki harus mandi." Jung Kook mengajak Kiki ke kamar mandi. Kiki berjalan menuju ayahnya. Ia pun membersihkan diri bersama ayahnya. Setelah ia rapi, Kiki melihat lagi pria yang mulai sadar itu.
"Ki ... Bawain buat samchon." Hana memanggil Kiki. Ia baru saja membuat teh hangat untuk Nam Joon dan Jung Kook.
Kiki berjalan pelan. Ia takut teh yang dibawanya tumpah. Akhirnya ia berhasil membawa teh ke Nam Joon yang sudah sadar.
"Gomawo, Ki."
Hana membawa roti sandwich isi tuna mayo untuk sarapan Nam Joon.
"Gomawo." Nam Joon bisa melihat jelas kissmark di leher Hana. Hasil perbuatan Jung Kook semalam. Bukti kepemilikan Jung Kook atas Hana. Jung Kook sengaja membuatnya di tempat yang bisa dilihat Nam Joon. Supaya Nam Joon tahu dan sadar diri kalau Hana itu sudah milik Jung Kook.
Nam Joon menghabiskan sandwich buatan Hana.
Rasa yang masih sama seperti dulu.
Dulu Hana sering membuatkan Nam Joon sandwich tuna mayo. Secara makanan itu mudah dibuat oleh Hana yang masih pemula dalam hal masak memasak.
Setelah beberapa lama Nam Joon berpamitan pulang. Saat Nam Joon di depan pintu. Hana teringat cincin kawin Nam Joon yang terlepas dari jari manis Nam Joon saat ia membawa Nam Joon berbaring di sofa.
"Oppa ... Tunggu sebentar." Hana segera berlari mengambil cincin Nam Joon.
"Ini cincinmu." Hana hendak menyerahkan cincin milik Nam Joon.
"Buang saja. Aku sudah tidak memerlukannya lagi." Nam Joon beranjak pergi.
"Eh ...? Dibuang?" Hana jadi bingung.
"Iya. Buang aja."
Nam Joon lalu pulang.
Hana melihat cincin kawin milik Nam Joon.
Dibuang?
Aku nggak salah dengar?
Oppa ...
Ini cincin berlian, lho.
Harganya mungkin 3 juta won.
"Kookie ... Aku nggak salah dengar? Tadi Nam Joon oppa bilang 'buang'?" Hana meragukan pendengarannya.
"Iya. Noona nggak salah dengar. Nam Joon Hyung minta Noona buang cincin kawinnya."
Hana tidak mengerti perkataan Nam Joon. Tetapi ia tetap menyimpannya jika suatu waktu Nam Joon mengubah pikirannya. Tidak mungkin ia membuang cincin yang mahal. Lebih baik ia jual saat ia butuh uang.
"Noona ... Aku mau Noona dan Kiki nginap di rumah ibu selama aku di luar kota." Jung Kook hanya takut kejadian yang sama terjadi lagi.
"Tetapi ..." Hana hendak menolak pemintaan Jung Kook.
"Baiklah ..." Hana hanya tak ingin Jung Kook cemas.
Hana mulai mengemas bajunya dan perlengkapan Kiki untuk menginap di rumah orang tuanya.
Hana lalu ikut Jung Kook mengantarkan Kiki ke daycare.
"Appa ... Bye ... Bye ..." Kiki menuju ke daycare diantar Hana sampai depan gedung daycare.
Lalu Jung Kook mengantar Hana ke rumah orang tuanya. Membawakan koper berisi kebutuhan Hana dan Kiki selama menginap di rumah orang tua mereka. Menaruhnya di kamar Hana.
"Ibu ... Aku titip Hana dan Kiki."
"Noona ... Aku balik lagi." Jung Kook berpamitan dengan Hana. Ia hendak kembali lagi ke tempat pelatihannya. Di ponselnya sudah banyak miss call dari pelatihnya yang tidak melihat Jung Kook di tempat pelatihan.
"Kookie ... Bawa sandwich tuna mayo ini buat sarapan." Hana mengambil bungkusan dari tas kecilnya.
"Cup ..." Satu kecupan dari Jung Kook di kening Hana.
"Cup ..." Satu kecupan di bibir Hana.
Jung Kook memeluk Hana dengan erat. Seolah-olah tak ingin berpisah dari Hana.
"Bye ... Bye ..." Hana melambaikan tangannya. Jung Kook lalu beranjak pergi.
Jung Kook merasa berat meninggalkan Hana. Di mobil Jung Kook masih terus memikirkan Hana.
Noona ...
Jika Nam Joon Hyung sudah tidak memerlukan cincin kawinnya lagi, itu artinya ia dan istrinya ...
Nggak mungkin, kan?
Nam Joon Hyung baru aja menikah.
Mereka juga tampak saling mencintai.
Jung Kook jadi susah berkonsentrasi. Di kepalanya saat ini memikirkan saingan cintanya.
Diantara Yoon Gi Hyung, Tae Hyung Hyung, Nam Joon Hyung dan aku, Noona pasti memilihku, kan? ~ Jung Kook cemas. Ia jadi tidak fokus saat latihan.
"Kalau begini terus, kau bisa kalah. Padahal kemarin pukulan dan tendanganmu cukup bagus."
Jung Kook tidak bisa fokus karena saingan cintanya bertambah lagi.
Baru aja Yoon Gi Hyung.
Sekarang Nam Joon Hyung.
Bagaimana ini?
Kalau aku nggak segera mendapatkan hati Noona sepenuhnya, Noona bakal tinggalin aku.
Pelatih Jung Kook menelpon Hana "Jung Kook sekarang tidak fokus. Apa terjadi sesuatu di rumah?"
"Sampai kemarin Jung Kook baik-baik saja. Tetapi setelah pulang ke Seoul dan kembali ke kamp, pukulan dan tendangannya menurun."
"Tidak ada hal besar yang terjadi. Saya akan menelpon Jung Kook. Terima kasih sudah menelpon saya."
Hana ~ Apa karena Nam Joon oppa?
Hana melakukan panggilan video dengan Jung Kook.
"Kookie ... Pelatih tadi menelponku. Katanya kau nggak fokus." Hana memandang Jung Kook yang penuh dengan peluh.
"Aku sudah nggak ada perasaan apa-apa dengan Nam Joon oppa. Kau fokus aja dengan latihanmu. Kita ingin beli rumah, kan. Jadi kau harus menang." Hana hanya berusaha mengembalikan mood Jung Kook.
"Noona ... Aku ..."
"Kiki appa ... Mint appa ... Kau pasti bisa menang. Jangan pikirkan hal yang tidak penting."
"Appa fighting ..." Kiki ikut menyemangati ayahnya.
"Samchon ... Fighting." Seon Ho juga ikut menyemangati.
Ki ... Seon Ho ...
"Saranghae ..." Hana dan Kiki membentuk hari dengan tangan mereka.
Mood Jung Kook membaik setelah telepon dari Hana. Ia berlatih lagi.
Fokus ...
Fokus ...
Tidak boleh kalah.
Hanya boleh menang.
Pelatih mengirim pesan ke Hana
Memang cuma Hana yang bisa kembaliin mood Jung Kook.
...🌼🌼🌼...
Di rumah orang tuanya ...
Hana mengingat kembali cincin kawin Nam Joon.
Ki ...
Kapan appa beliin eomma cincin berlian?
Dari dulu appa cuma beliin eomma cincin emas.
Itupun cuma satu.
Hana berpikir sejenak.
Apa aku perlu cincin berlian?
Hana menggelengkan kepalanya ~ Tidak. Aku tidak memerlukan cincin berlian. Cinta dari Jung Kook itu jauh melebihi cincin berlian.
Sekarang ini prioritas kami rumah. Setiap tahun sewa rumah akan naik. Kalau punya rumah sendiri, kami terbebas dari bayar sewa rumah.
"Ki ... Temani eomma ke mini market. Eomma mau beli es krim. Seon Ho ikut Imo." Hana hendak membeli es krim.
"Ibu mau es krim rasa apa?" Hana bertanya ke ibunya.
"Kacang merah."
Hana menggandeng tangan kanan mungil Kiki. Sedangkan tangan kiri Kiki digandeng Seon Ho. Hana mengajak mereka ke mini market. Ia membeli es krim untuk dirinya dan Kiki juga Seon Ho.
"Kiki mau yang mana?"
"Choco."
"Seon Ho?" Hana bertanya ke Seon Ho.
"Vanilla."
Hana mengambil satu es krim strawberry untuknya dan satu es krim coklat untuk Kiki juga es krim vanila untuk Seon Ho serta dua es krim kacang merah untuk orang tuanya.