
"Jika kau memang malu mempunyai anak seperti ku, lebih baik kau putuskan saja hubungan ku dengan mu."Pungkas Edward dengan menahan gemuruh yang ada di dalam dadanya. Kesabarannya telah sampai batas, semua perlakuan Sang Papah sudah terlampau menyakiti nya. Kini dirinya tidak akan mengharapkan kasih sayang laki-laki yang ada di hadapannya. Semua sudah pupus dan tidak akan bisa di perbaiki lagi, hati yang sudah hancur tidak bisa lagi utuh seperti sebelumnya.
"Edward, Apa yang kau katakan Nak."Kedua bola mata Mamah Eleana membola mendengar perkataan dari Sang Anak. Jantung nya berdetak dengan kencang akan lontarkan kata yang telah di ucapkan oleh Sang Ayah.
"KAU...!!"Rahang Papah Julian semakin mengerat dan amarah yang ada di dalam diri laki-laki parubaya itu semakin membara.
"Kenapa kau terlihat kaget dan marah seperti itu? Bukankah semua ini yang kau inginkan? Kau selalu berkata bahwa keberadaan ku adalah Aib bagimu dan selalu mencoreng nama baikmu. Mungkin dengan putusnya hubungan kita adalah jalan yang terbaik bagi kita semua."Kata Edward dengan tersenyum kecut.
"Dasar Anak tidak tahu diri..!!"Pekik Sang dengan menatap Edward penuh amarah. Tangan besar papah Julian sudah mengudara dan siap untuk mendarat di wajah tampan Edward.
"Mas, Apa yang kau lakukan?"Mamah Eleana menahan tangan Sang suami sebelum mendarat di wajah Edward.
"Tidak seperti ini Mas, Tidak semua permasalahan di selesaikan dengan kekerasan Mas."Mamah Eleana mengusap wajahnya dengan kasar. Wanita parubaya itu sudah cukup lelah melihat pertengkaran Antara Edward dan Sang Suami. "Dan Kau juga Edward, Jangan pernah sekalipun kau berkata seperti itu lagi."Pungkas Mamah Eleana dengan tegas.
"Tidak Mah! Sudah cukup Edward bersabar selama ini, Apakah Mamah pernah berpikir bagaimana perasaan Edward selama ini saat Papah membandingkan Edward dan Erland? Edward sudah Lelah mah, Edward sudah tidak berharap kasih sayang papah yang tidak pernah bisa Edward gapai. Dan Edward rasa dengan memutuskan hubungan ini, adalah jalan yang terbaik untuk kita semua dan dengan begini Edward dapat terlepas dari semua beban yang selama ini menghimpit di dada Edward."Tutur Edward dengan mengalihkan pandangannya. Laki-laki itu tidak ingin ada seseorang yang melihat sisi lemahnya dan menatap Edward penuh dengan belas kasihan.
Papah Julian mematung mendengar semua keluh kesah anaknya. Anak yang selama ini di abaikan dan acuhkan, Ternyata menyimpan begitu banyak luka Karena semua perbuatannya. Masih membekas di ingatannya, bagaimana dirinya selalu berbicara kasar kepada Edward dan selalu membandingkan Edward dengan Erland Sang Adik. Perbuatannya yang selalu memukul dan menampar Edward sejak anaknya itu masih kecil dan ternyata karena perbuatanya pula membuat karakter Edward menjadi keras dan membangkang kepadanya.
Ingatan Papah Julian berputar saat usia Edward sekitar tujuh dan delapan tahun. Anaknya itu pulang dengan membawa Erland gendongan nya dengan keadaan kaki dan pelipis yang terluka dan mengeluarkan darah. Tanpa mendengarkan penjelasan dari Edward, laki-laki itu memarahi Edward habis-habisan bahkan tanpa segan memukul sang anak dan setelah itu Papah Julian mengunci Edward di gudang tanpa memberikan makanan dan minuman kepada Edward.
Dan satu persatu kesalahan nya kepada Edward bermunculan bagaikan sebuah kaset kusut yang sulit untuk di hentikan. Namun, Ego Papah Julian begitu tinggi, sehingga membuat laki-laki parubaya itu lebih baik meninggalkan Edward dari pada mengakui kesalahan yang telah dia lakukan kepada anaknya itu.
"Erland, Lebih baik kita pulang. Dari pada kita mendengar omong kosong dari Kakak mu itu." Kata Papah Julian tanpa menatap Edward maupun Sang istri. Laki-laki parubaya itu beranjak dari tempatnya tanpa
mendengarnya jawaban dari Sang Anak.
"Tapi pah..."Sahut Erland yang masih ingin melihat keadaan Edward.
"Kau sudah mulai berani membantah! Kau ingin jadi seperti kakakmu."Tukas Papah Julian dengan suara yang menjamam.
"Baiklah..."Akhirnya Erland pun menuruti keinginan Sang Papah."Erland berangkat ya Mah."Pamit Erland sembari mengecup kening dan kedua pipi Sang Mamah.
"K-kak..."Panggil Erland namun Edward memalingkan wajahnya, membuat Erland mengurungkan niatnya untuk berpamitan kepada sang Kakak.
"Hati-hati Nak, Jangan terlalu kencang membawa mobilnya."Ucap Mamah Eleana dan di balas anggukan kepala oleh Erland.
"Baik Mah."Jawab Erland sebelum pergi meninggalkan ruangan itu.
"Edward..."Panggil Mamah Eleana namun Edward lebih memilih memalingkan wajahnya dari pada menyahuti perkataan Sang Mamah. "Nak, Katakan kepada Mamah semua yang di katakan kamu itu hanya main-main kan? Kamu pasti terbawa emosi, Sehingga kamu mengatakan hal semua itu." Mamah Eleana berusaha memegang tangan Edward, Namun langsung di tepis oleh laki-laki itu.
"Edward...."Lirih Mamah Eleana yang merasa sedih mendapatkan penolakan dari Edward.
"Apakah semua perkataan ku kurang jelas? Sehingga Mamah terus bertanya berulang kali dengan pertanyaan seperti itu?"Tukas Edward dengan cepat.
"Nak, Kenapa kamu jadi seperti ini? Apakah benar-benar laki-laki yang ada di hadapan ku ini, adalah anak yang telah ku lahirkan dua puluh enam tahun yang lalu?"Tutur Mamah Eleana dengan suara yang bergetar menahan tangisannya.
"Sudah mah jangan seperti itu! Dan Edward akan bertanya untuk yang terakhir kalinya, Siapa yang Mamah pilih antara aku ataukah laki-laki Tua Bangka itu."Seru Edward dengan penekanan di akhir kalimatnya.
"Edward, Jangan membuat posisi Mamah terasa sulit seperti ini Nak. Baik kamu, papah mu dan Erland adalah harta berharga yang Mamah miliki dan Mamah tidak bisa memilih di antara kalian bertiga." Entah kapan air mata itu keluar dari pelukan mata Sang Mamah.
"Meskipun Erland bukanlah anak kandung Mamah?"Cetus Edward membuat Sang Mamah mematung di tempatnya.
"A-apa yang kau katakan, Nak?"Ucap Mamah Eleana dengan terbata-bata.
"Mamah tidak usah menutupi semuanya dari Edward. Edward sudah mengetahui semuanya, bahwa Erland bukanlah Anak kandung Mamah! Melainkan Anak papah dengan selingkuhannya itu."Kata Edward dengan menahan gemuruh yang ada di dalam dirinya, mengingat semua penderitaan Sang Mamah selama ini.
"Kenapa Mah? Kenapa cinta bisa membutakan Hati dan Logika Mamah? Mengapa Mamah dengan sukarela merawat dan membesarkan anak dari wanita yang telah menghancurkan rumah tangga dan kehidupan Mamah? Apakah Mamah tidak tersiksa saat melihat wajah Erland? Wajah seorang wanita yang tidak memliki hati karena telah merebut Suami dari wanita lain?" Seru Edward dengan menggebu-gebu memikirkan seberapa dalam luka yang telah di torehkan Papah Julian kepada Sang Mamah. Dan Mamah Eleana tidak bisa berkata-kata untuk menyahuti cercaan pertanyaan Edward kepada dirinya.
"Mengapa Mamah begitu Naif? Apakah Mamah masih mengharapkan cinta dari seorang laki-laki yang telah mengkhianati cinta dan kepercayaan Mamah? Apakah Mamah bertahan selama ini hanya karena Edward? Tidak Mah, Jangan jadikan kehadiran Edward sumber dari kesakitan dan penderitaan Mamah."
"Bukan Nak! Kamu bukanlah sumber penderitaan Mamah."Sargah Mamah Eleana berusaha memegang tangan Edward, walaupun Edward beberapa kali menepis tangan Sang Mamah."Kehadiran Edward adalah anugerah terindah yang telah Tuhan berikan di dalam kehidupan Mamah. Lalu bagaimana mungkin kamu berkata, Jika kamu adalah sumber dari penderitaan Mamah." Imbuh Mamah Eleana dengan menggelengkan kepalanya.
"Jika Mamah memikirkan perasaan Edward, Edward akan merasa lebih senang jika Mamah lebih memilih mengakhiri hubungan Mamah dengan laki-laki Tua Bangka itu."
Edward menatap Sang Mamah dengan intens seraya membalas genggaman tangan Sang Mamah.
"Ini tidak semudah yang kamu pikirkan Nak," Kata Mamah Eleana.
"Apakah Mamah takut Edward tidak mendapatkan hak Edward sebagai pewaris? Jika itu yang sebenarnya mamah takutkan, Mamah tidak perlu khawatir. Karena tanpa harta dari laki-laki itu, Edward masih bisa berdiri sendiri dan hidup dengan layak."Kata Edward dengan sungguh-sungguh baik dari ucapannya maupun dengan ekspresi Nya.
"Mamah tidak bisa Nak. Mamah tidak bisa meninggalkan Papah kamu."Tolak Mamah Eleana dengan membuang pandangannya.
"Mamah tidak bisa berpisah dengan Papah mu, Karena Mamah telah terikat janji dengan mendiang Nenekmu, bahwa dalam keadaan apapun Mamah tidak akan pernah meninggalkan Papah mu."Batin Mamah Eleana dengan tersenyum getir.
"Baiklah..."Kata Edward dengan tersenyum penuh arti."Edward bertanya untuk yang terakhir kalinya kepada Mamah, Siapa yang akan Mamah pilih antara aku ataukah laki-laki Tua Bangka itu?"Seru Edward dengan amarah yang semakin menguasai laki-laki itu karena penolakan dari Sang Mamah untuk kesekian kalinya.
"Edward, Kenapa kamu memberikan pilihan yang sulit ini kepada Mamah?"
"Tidak perlu Mamah Jawab! Karena tanpa Mamah Jawab pun Edward sudah mengetahui jawabannya."Pungkas Edward beranjak dari duduknya."Dan satu lagi, Lebih baik Mamah lupakan saja bahwa aku adalah putra Mamah."Seru Edward tanpa menoleh sedikitpun ke belakang.
Edward tetap melanjutkan langkahnya walaupun Mamah Eleana memanggil dan menyerukan Namanya. Tubuh wanita parubaya itu lemah dan tidak bisa lagi menopang tubuhnya saat kedua matanya tidak lagi melihat punggung Sang Anak.
_
_
_
"Eughh..."Kedua manik madu Bianca perlahan-lahan terbuka dan menampilkan warnanya. Untuk beberapa saat kedua bola mata itu menatap kosong dan tidak lama kemudian cairan bening keluar dari kedua pelupuk matanya dan di iringi oleh isakan kecil dari bibir mungilnya yang membuat siapa saja terenyuh mendengar tangisan nya yang begitu lirih, Seolah-olah tangisan itu menggambarkan semua penderitaan dan luka yang di alami oleh wanita itu.
Masih teringat jelas di ingatan Bianca bagiamana tangan besar Edward yang seharusnya melindungi dirinya, menampar wajahnya dengan sangat kencang sehingga meninggalkan bekas yang sangat kentara di pipinya. Cambukan demi Cambukan laki-laki itu layangkan di tubuhnya, Seolah-olah Edward lupa bahwa tubuh Bianca bukan untuk wanita itu seorang. Ada sebuah kehidupan di dalamnya yang tidak pernah Edward percayai. Perkataan-perkataan kasar yang laki-laki itu lontarkan, membuat perasaan wanita hamil itu kian hancur dan tak berbentuk.
Anak haram.....
Bianca merasa perutnya begitu kencang, sehingga membuat wanita hamil itu kesulitan untuk bernafas. "Tidak Nak, kalian bukanlah anak haram. Kalian adalah anugerah terindah tidak pernah Mamah bayangkan di dalam kehidupan Mamah." Dan Bianca merasakan perutnya berangsur angsur membaik dan Bianca pun merasakan sebuah gerakan dan di susul tendangan di dalam perutnya Bianca tersenyum simpul saat merasakan hal tersebut.
"Kalian memang benar anak-anak Mamah yang pintar. Papah kalian pasti akan sangat menyesal karena telah menolak kehadiran kalian."Ucap Bianca dengan wajah sendunya dengan tangan yang tidak henti hentinya mengusap permukaan perutnya yang berbalut pakaian rumah sakit.
Bianca menghembuskan nafasnya dengan kasar dengan kedua matanya menatap lekat langit-langit kamarnya."Kenapa Papah kalian begitu membenci kehadiran kita Nak? Apakah Papah kalian tidak pernah berpikir bahwa di sinilah Mamah pihak yang paling di rugikan! Kesucian Mamah terenggut, Masa depan dan kehidupan Mamah hancur dan gunjingan dan hinaan yang selalu Mamah dapatkan karena hamil di usia muda. Apakah laki-laki hanya merasa dirinya lah korban dari malam itu?" Kata demi kata keluar dari mulut wanita malang itu membuat seseorang di pintu sana mematung di tempatnya.
"Edward Sialan! Suatu saat nanti kau akan menyesal karena telah menyia-nyiakan wanita baik seperti Bianca."Guman Cleona dengan kedua matanya yang terpusat ke arah Bianca.
Bianca menyampingkan tubuhnya dan entah apa yang kembali di pikirkan oleh wanita hamil itu sehingga membuat isakan nya yang semakin kencang dan memenuhi ruangan itu.
Cleona menghela nafasnya dan menatap Bianca sejenak sebelum keluar dari ruangan wanita hamil itu. Cleona terpekik saat melihat Andreas berdiri menjulang di belakangnya.
"Astaga Tuhan..."Pekik Cleona tanpa suara.
"Kenapa kau keluar? Bukankah kau bilang ingin menjaga Bianca?"Tanya Dokter muda itu dengan kening yang mengkerut.
"Syutt..."Cleona memberikan isyarat kepada Andreas untuk memelankan suaranya.
"Ada apa?"Kening Andreas semakin mengkerut melihat kelakuan wanita yang ada di hadapannya.
"Kau tidak dengar? Bianca sedang menangis, aku sengaja tidak menggangu nya agar Bianca dapat menangis sepuasnya."Kata Cleona yang sedikit mengetahui jika Bianca akan berpura-pura kuat di hadapan semua orang, agar semua orang tidak mengetahui sisi lemah wanita itu.
"Terserah kau saja Cley."Dokter Andreas mengidikan bahunya dan menggenggam tangan Cleona untuk duduk di kursi panjang di depan ruangan Bianca.
"Makanlah..."Seru Dokter Andreas seraya menyerahkan sekotak makan siang ke hadapan Cleona.
"Tidak reas, Aku tidak lapar."Tolak Cleona dengan menundukkan kepalanya. Wanita itu menggigit bibir bawahnya menahan isakan yang akan keluar mulutnya.
"Kenapa?"Andreas tahu Cleona sedang menahan tangisannya, Entah apa yang membuat wanita itu menangis.
"Menangislah, mungkin dengan menangis bisa meringankan sedikit beban mu."Tutur Andreas tanpa meminta izin laki-laki itu segera membawa tubuh Cleona ke dalam dekapannya.
"Apa yang kau lakukan?"Cleona berusaha memberontak dari dekapan Andreas, Namun setalah tepukan tiga kali di punggung nya membuat Cleona tidak bisa lagi menahan tangisannya.
"Hiks-hiks Andreas, Aku tidak apa yang harus aku lakukan? Di satu sisi aku merasa iba melihat penderitaan wanita malang itu karena perlakuan Edward. Akan tetapi, di satu sisi aku merasa bersalah akan apa yang telah aku lakukan kepada Edward. Apa yang harus aku lakukan Andreas? Keputusan apa yang harus ku buat."Tutur Cleona di sela-sela tangisannya.
Andreas hanya diam dengan tangan yang tidak henti-hentinya mengusap punggung sahabatnya tersebut. Andreas tahu yang Cleona butuhkan saat ini adalah sandaran dan seseorang yang mendengar keluh kesah wanita itu.
_
_
_
Di bawah sinar rembulan dan pekatnya langit malam yang tidak ada satupun yang menyelaminya. Dinginnya angin malam tidak menyurutkan seorang wanita untuk beranjak dari tempat duduknya.
"Apa yang harus aku lakukan Tuhan?"Ucap wanita itu dengan menatap bintang bintang menghiasi pekatnya malam.
"Nyonya...."Panggil Seorang wanita berpakaian pelayan yang tengah berjalan menuju wanita itu dengan kedua tangan yang memegang sebuah nampan yang entah apa isinya.
"Ada apa Emma?"Kata Wanita itu tanpa mengalihkan pandangannya.
"Anda telah melewatkan makan malam Anda Nyonya."Kata pelayan itu menaruh nampan di hadapan wanita itu. "Saya membawa makan malam Anda Nyonya."Sambung Nya.
"Bawalah kembali Emma! Aku tidak merasa lapar."Ucap Wanita itu dengan mengusap wajahnya dengan kasar. Guratan guratan kekhawatiran dan kegelisahan terlihat jelas di wajahnya yang tidak lagi muda.
"Duduklah di samping ku Emma."Titah Wanita itu dengan menepuk bagian kosong di sampingnya.
"Maafkan Saya Nyonya..."Wanita itu ragu untuk mengikuti perintah Sang Majikan.
"Tidak ada siapa-siapa disini selain kita, Jadi janganlah bersikap formal seperti itu kepada ku, Emma."Ucap Wanita itu dengan suara penuh perintah dan mau tidak mau wanita yang bernama Emma pun menuruti titah Sang Majikan.
"Dia sudah mengetahuinya Emma..."Cetus wanita itu dengan lirih membuat kenyitran di kening Emma.
"Apa yang kau katakan Eleana?"Tanyanya.
Mamah Eleana menatap wanita yang selama ini berada di sisi nya baik duka maupun suka.
"Edward sudah mengetahuinya Emma." Mamah Eleana menatap Emma dengan lekat."Edward sudah mengetahui bahwa Erland bukanlah Anakku! Melainkan anak dari suamiku dan selingkuhan nya."Tutur Mamah Eleana dengan suara yang menahan tangisannya saat mengingat bahwa anak yang selama ini dia besarkan dan di beri kasih sayang layaknya anak kandungnya sendiri adalah anak dari wanita yang telah menghancurkan kehidupan rumah tangganya.
"APA...?! Bagaimana mana bisa seperti itu Eleana?"Pekiknya dengan membolakan kedua matanya.
"Apa yang harus aku lakukan Emms? Edward memintaku untuk memilih antara dia dan Mas Julian. Bagaimana mungkin aku memilih salah satu dia antara mereka Emme. Baik Edward, Erland dan Mas Julian adalah orang-orang yang aku sayangi dan anugrah terindah yang telah Tuhan berikan di dalam kehidupanku."Tutur Mamah Eleana dengan suara yang bergetar dan menahan tangisannya.
"Walaupun Erland bukan terlahir dari rahimku. Akan tetapi akulah yang membesarkannya nya dengan kedua tangan ku, tanpa peduli bahwa Erland adalah anak dari selingkuhan suamiku." Tutur Mamah Eleana dengan tatapan mata yang menerawang.
Jangan lupa
Like
Comment
Rate
Vote
Favorit
Tips