
Briana berlari sejauh mungkin dari teman- teman yang kini tengah meneriakinya dengan kata-kata yang sangat menyakitkan itu. Air mata tiada henti mengalir di kedua pelupuk gadis malang itu, saat cacian teman-temannya terngiang-ngiang di benak gadis kecil itu.
"Ana bukan Anak haram..!!"
"Ana punya Papah..!!"Ujar Briana seraya menyeka air mata yang membasahi wajahnya dengan cukup kasar.
Briana berlari sekencang mungkin menjauhi teman-temannya sehingga gadis kecil itu tidak menyadari bahwa dirinya telah berada dari area sekolahan. Kaki mungil itu terus berlari dengan air mata yang semakin deras keluar dari pelupuk matanya.
Briana terus berlari sehingga membuat gadis kecil itu tidak menyadari bahwa ada sebuah mobil hitam yang melaju dengan kecepatan tinggi menuju ke arahnya.
Titt...
Titt...
Bunyi memekik klakson membuat gadis kecil itu terhenyak dan seketika gadis kecil itu tersadar bahwa dirinya telah berada jauh dari area sekolahnya.
Titt...
Titt...
Kedua bola mata Briana membelik saat sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi menuju ke arahnya. Briana berusaha menggerakkan kakinya yang seolah tidak memiliki tenaga untuk beranjak di tempatnya.
"Akhhh Mamah...!!"Briana memejamkan matanya saat mobil hitam itu semakin mendekat ke arahnya.
Satu detik...
Dua detik...
Tiga detik...
Briana tidak merasakan sesuatu yang terjadi di tubuhnya, dengan perasaan takut gadis kecil itu membuat kedua matanya dan Briana menjerit saat mobil itu berhenti tepat di hadapannya.
"Mamah..."Tubuh Briana bergetar dan jatuh tidak mampu lagi menopang tubuhnya membayangkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi kepada dirinya saat mobil hitam itu menghantam tubuhnya.
"Hiks-hiks Mamah. Ana takut..."Cicit Briana dengan menggelengkan wajahnya di antara kedua lututnya.
Brakk...
"Apa kau tidak punya mata Hah..!!"Sentak Seseorang dengan suara yang terasa familiar bagi gadis kecil itu.
Briana mendongkakan kepalanya dan seketika tatapan gadis kecil itu terkunci pada sesosok laki-laki yang kini tengah berdiri dengan tegak di hadapannya dengan kedua bola mata yang memancing.
"Papah..."Cicit Briana berusaha bangkit dan dengan kaki yang bergetar gadis kecil itu berlari menuju sosok yang sangat di rindukan olehnya.
"Papah..."Briana memeluk erat kedua kaki Edward menyalurkan rasa rindu yang menumpuk di dada gadis kecil itu.
"Papah dari mana saja? Ana sangat rindu Papah."Ucap Bianca berserta isakan yang menyiratkan betapa gadis kecil itu lemah akan kerinduan tentang sosok Papahnya itu.
Tidak peduli seberapa besar kekecewaan dan kesedihan yang gadis kecil itu rasakan atas apa yang telah di lakukan oleh Sang Papah. Nyatanya Briana tetaplah gadis kecil yang sangat merindukan sosok Papah kandungannya.
"Apa yang kau lakukan Sialan..!!"Pekik Edward menghempaskan tubuh mungil itu yang tengah memeluknya dengan erat.
Bruk....
Briana tersungkur dan kini lutut gadis kecil itu semakin terluka dan mengeluarkan darah karena perlakuan kasar yang Briana terima dari Papah kandungannya.
"Hiks-hiks Pa-papah."Briana berusaha menahan tangisnya dan rasa sakit di lututnya.
"Siapa yang kau panggil Papah Sialan..!!" Sentak Edward dengan berdecak pinggang dan menatap gadis kecil itu dengan tajam. Tidak ada sedikit pun rasa iba yang laki-laki itu rasakan melihat tangisan sosok kecil di hadapannya karena rasa dendam dan kebencian menutup hati nurani laki-laki itu.
"Tuan..."Timpal Sean yang sedari tadi diam melihat apa yang telah di lakukan oleh Tuannya itu sudah keterlaluan.
Sean pun segera menghampiri Briana dan membantu gadis kecil itu untuk berdiri dan untuk pertama kalinya Sean melihat secara langsung anak kandung yang telah di sia-siakan oleh Tuannya tersebut.
"Anda baik-baik saja Nona kecil?"Tanya Sean dengan nada penuh ke khawatiran dan menyeka air mata Briana.
"Hiks-hiks Lutut Anna sakit paman."Cicit Briana dengan menunjuk Lututnya yang kini tengah mengeluarkan darah.
"Tunggu sebentar ya, paman akan mengambilkan kotak obat untuk mengobati lukamu."Ucap Sean dengan mengusap pucuk kepala Briana.
"Ba-baik Paman."Jawab Briana berusaha tersenyum kepada laki-laki dewasa yang ada di sampingnya itu.
Pandangan mata Edward menajam melihat apa yang di lakukan oleh Asisten pribadinya itu.
"Sean..!!"Ujar Edward dengan nada penuh penekanan.
"Maafkan saya Tuan."Sean pun berlalu tanpa menghiraukan Tuan nya yang kini tengah terbelenggu dengan api amarah.
Sementara itu Lyara dan teman-temannya yang tengah mencari keberadaan Briana sontak terkejut mendengar suara pekikan dari Briana dan dengan segera mereka pun mencari keberadaan Briana.
"Lyara bukankah itu Briana?!"Seru salah satu dari mereka menunjuk Briana yang tidak jauh dari tempat mereka.
"Iya Lyara, itu benar Briana."
"Ayo Lyara kita kesana dan kita lihat apa yang di lakukan oleh Anak haram itu."
"Tunggu dulu, kita lihat apa yang di lakukan oleh Briana. Sepertinya akan ada drama sebentar lagi."Ujar Lyara dengan suara lirihnya.
"Lyara, Kau dengar Briana memanggil laki-laki dewasa itu dengan sebutan Papah. Apakah benar jika laki-laki dewasa itu Papah kandung Briana?"Tanya salah satu teman Lyara dengan suara yang seperti bisikan.
"Entahlah..."Lyara menggidikan bahunya dengan tatapan matanya tetap fokus kepada Briana yang ada di hadapannya.
"Papah...! Kenapa Papah jahat sekali kepada Anna? Apa kesalahan Anna sehingga Papah begitu membenci Anna?"Cerca gadis mungil itu dengan kedua matanya yang berkaca-kaca.
"Sudah berapa kali ku katakan bahwa aku bukanlah Papah mu Sialan..!!"Sentak Edward dengan nada yang lebih tinggi dari pada sebelumnya.
Briana memundurkan langkahnya dengan air mata yang entah kapan keluar dari pelupuk mata gadis malang itu.
"Papah jahat..!! Anna benci Papah..!!"Pekik Briana dengan nafas yang tersengal- sengal.
"Ckck... Sudahlah lebih baik kau pergi. Muak lama-lama aku melihat wajah mu."Seru Edward dengan amarah yang semakin membuat hati gadis kecil itu hancur.
"Briana..."Panggil Lyara bersama teman-
temannya secara serempak.
"Briana apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu menghalang jalan paman ini."Ujar Lyara dengan menampilkan wajah polosnya.
"Diamlah Lyara..!! Untuk yang satu ini jangan pernah kamu ikut campur dengan urusan ku."Tukas Briana dengan nada sengitnya.
"Briana kenapa kamu kasar sekali kepada; ku. Padahal aku hanya mengingatkan kamu untuk tidak membuat kekacauan lagi dengan memanggil setiap laki-laki dewasa dengan sebutan Papah."Ucap Lyara dengan menampilkan wajah pura-pura polosnya.
"Ini memang Papah ku..!!"Pekik Briana dengan lengkingan suaranya.
"Briana kami tahu kamu tidak mempunyai Papah. Tapi tidak seperti ini Briana."Timpal salah satu teman Lyara dengan menggelengkan kepalanya.
"Ini memang Papah aku. Benarkan Papah?"
Seru Briana dengan menatap Edward dengan penuh harap.
Edward hanya diam seolah tidak mendengar apa yang di ucapkan oleh gadis kecil di sampingnya itu.
"Beraninya kau memegang tubuh ku dengan tangan kotor mu Sialan..!!"Pekik Edward membuat Briana terjingkak di tempatnya karena bentakan dari Papah kandungannya tersebut.
Sean yang sedang mencari kotak obat pun segera bergegas mendengar suara pekikan dari Tuannya.
"Papah..."Lirih Briana dengan air mata yang kembali keluar dari kedua pelupuk matanya.
"Sudah berapa kali ku katakan aku bukanlah Papah mu dan berhentilah memanggil ku dengan sebutan yang menjijikkan itu Sialan..!!"Sentak Edward dengan nafas yang memburu karena amarah yang membelenggu laki-laki itu.
Briana semakin menundukkan kepalanya dengan air mata yang semakin deras membasahi wajah gadis kecil itu. Hati rapuh gadis kecil itu semakin hancur mendengar kata-kata menyakitkan dari sosok laki-laki yang selama ini dia dambakan kehadiran nya.
Sean menatap iba Briana yang kini tengah menundukkan kepalanya dan Sean tahu bahwa saat ini gadis kecil itu tengah menangis karena kata-kata kejam yang di lontarkan oleh Tuannya tersebut.
"Tuan, Cukup sudah! Kata-kata Anda telah terlampaui kasar bagi anak kecil seperti Nona Briana Tuan."Tukas Sean.
Edward menaikkan salah satu alisnya mendengar perkataan dari Asisten pribadinya itu.
"Sean... Sean...!!"Sahut Edward dengan mendecakan bibirnya. "Sepertinya kau telah,zery get o 9 ,o termakan sandiwara murahan yang telah di mainkan oleh anak wanita Ja'ang itu..!!"
Imbuhnya.
"Mamah..."Guman Briana dengan menggigit bibir bawahnya saat isakan lolos dari bibir mungilnya.
"Tuan..."Sean menggeram marah saat kata tidak pantas Edward ucapkan di hadapan anak-anak.
"Paman..."Panggil Briana memegang pergelangan tangan Sean.
Sean pun mengalihkan pandangannya dan menatap lekat Briana menunggu apa yang akan di ucapkan oleh gadis kecil itu.
"Anna tidak apa-apa kok Paman."Ucap Briana berusaha tersenyum paksa.
.
.
.
.
.
Bianca senantiasa menunggu Briana keluar dari kelasnya. Sudut bibir wanita satu anak itu terangkat melihat Briana keluar dari kelasnya. Namun, lengkungan di sudut bibir wanita itu perlahan-lahan menghilang melihat wajah murung sang anak dan jejak- jejak air mata yang membekas di sudut mata Briana dan dengan langkah lebarnya Bianca menghampiri Briana.
"Mamah..."Panggil Briana dengan lirih saat melihat Sang Mamah yang kini ada di hadapannya.
"Ada apa sayang? Kenapa wajahmu murung seperti ini?"Tanya Bianca dengan penuh ke khawatiran.
"Anna tidak apa-apa Mah."Elak Briana dengan menundukkan pandangannya.
Sudah cukup selama ini dirinya menjadi beban pikiran sang Mamah dan untuk kejadian yang dia alami beberapa saat lalu, cukup saja dirinya yang tahu.
"Ana sakit?"Tanya Bianca yang belum puas akan jawaban yang di lontarkan oleh sang anak.
"Tidak Mah, Anna baik-baik saja."Jawab Briana dengan lirih.
"Lalu kenapa wajahmu murung sayang?" Cerca Bianca menatap intens wajah sang anak.
"Tidak Mah."
Briana menggelengkan kepalanya dengan pandangan matanya menatap lurus ke depan. Bukan Briana tidak sopan karena tidak menjawab pertanyaan dari Sang Mamah, Namun untuk saat ini Briana enggan untuk banyak bicara.
Bianca menghembuskan nafasnya dengan kasar, wanita itu tahu bahwa saat ini sang anak tidak baik-baik saja dan berusaha menutupi apa yang terjadi kepadanya. Terkadang Bianca merasa bersalah melihat wajah sendu Sang Anak saat Briana bertanya tentang sosok Papah kandungannya.
"Ayo sayang..."Bianca memegang erat tangan mungil Briana saat sebuah bus berhenti di hadapan mereka.
Briana menganggukkan kepalanya dan mengikuti langkah sang Mamah dalam diam. Briana menyandarkan kepalanya dan menatap jalanan yang di lalui nya.
"Mamah, bolehkah Anna bertanya?"Kata Briana menatap sang Mamah dengan penuh harap.
"Apa sayang?"Balas Bianca mengusap pucuk kepala Briana dengan sayang.
"Tapi Mamah jangan marah ya?"Cetus Briana dengan hati-hati.
"Hmm, memangnya kenapa?"Balas Bianca dengan senyumannya.
Briana menatap wajah wanita yang sangat di cintainya itu dengan pandangan sendu. Sebenarnya Briana ragu untuk bertanya kepada sang Mamah. Namun, keraguan itu mengalahkan rasa penasaran yang ada di dalam dirinya.
"Mah..."
"Hemm apa sayang?"
"Ke-kenapa Papah sangat membenci Kita Mah?"
Deg!
Bianca terhenyak dan membeku di tempatnya saat kalimat yang wanita itu takutkan terlontar juga dari mulut sang anak. Tentang mengapa sang Papah membencinya.
"Ya Tuhan apa yang harus hambamu lakukan?"Guman Bianca.
"Sayang..."
"Kenapa Mah? Kenapa Papah sangat membenci kehadiran kita Mah? Terutama kehadiran ku? Teman-teman ku menjauhi ku karena aku tidak memiliki keluarga yang utuh Mah. Mereka selalu berkata jahat dan membuat Anna sakit hati Mah. Kenapa Papah begitu jahat kepada kita Mah?"
"Sayang, Kenapa kamu baru mengatakan hal itu kepada Mamah?"Hati Bianca hancur mendengar curahan hati sang anak.
"Tapi tidak apa-apa mereka mengatai aku, asalkan mereka tidak mengatai Mamah. Anna sangat menyayangi Mamah, Cukup bersama Mamah Anna merasa bahagia. Tidak dengan yang lain maupun dengan Papah."Tutur Briana membuat hati wanita itu menghangat.
Di tempat duduknya Briana terisak, Wanita itu merasa sakit hati mendengar apa yang di ucapkan oleh anaknya. Apakah selama ini Briana menderita karena dirinya.
"Mamah jangan menangis. Anna minta maaf karena lagi-lagi membuat Mamah menangis."Ucap Briana menyeka air mata sang Mamah dan menggenggam erat tangan wanita yang melahirkannya itu.
Jujur Briana ingin sekali menangis melihat wanita yang di cintainya itu menangis karena perkataan nya. Melihat air mata yang menetes di kedua pelupuk mata Mamahnya membuat hati Briana sakit, lebih sakit dari pada teman-temannya mengatai dirinya dengan sebutan anak haram.
"Sayang maafkan Mamah, Karena selama ini membuat kamu menderita. Tapi percayalah suatu saat nanti kita akan bahagia."Bisik Bianca dengan lirih dan mengecup seluruh permukaan wajah sang anak.
Jangan lupa
Like
Comment
Rate
Vote
Favorit
Gift