
"Edward tunggu..!!"Pekik Marvin saat Edward semakin melangkah jauh darinya. Tapi Marvin tidak bisa berbuat apa-apa atau pun menyusul Edward karena sudah ada beberapa pengawal pribadi laki-laki itu yang menghalangi langkahnya.
"Edward tunggu! Setidaknya dengarkan penjelasan ku sebentar saja. Ini tengah Briana, Anakmu..!!"Seru Marvin berusaha melarikan diri dari para pengawal Edward.
Sontak Edward menghentikan langkahnya saat Marvin mengucapkan Briana, entah mengapa perasaan Edward menjadi tidak nyaman saat mengingat gadis kecil yang memanggil dirinya dengan sebutan Papah itu. Namun sekelebatan saat dirinya melihat Marvin dan Bianca masuk ke dalam mobil yang sama membuat Edward tersadar dan dirinya tidak boleh masuk ke dalam perangkap permainan yang di lakukan oleh laki-laki picik seperti Marvin. Pikir Edward
"Apa Maksud mu? Anakku..."Tukas Edward dengan menatap datar wajah laki-laki yang ada di hadapannya.
"Briana Edward, Briana kini masuk ke rumah sakit."belum sempat Marvin menyelesaikan ucapannya sebuah pukulan menghantam wajahnya dengan sangat kencang membuat tubuh laki-laki itu terhuyung ke belakang.
"Berhentilah mempermainkan kehidupan ku Sialan..!! Tidak cukupkah kau menghancurkan kehidupan ku selama ini?"
Ujar Edward dengan mengepalkan kedua tangannya saat amarah tersulut karena karena seruan Marvin beberapa saat lalu.
Tanpa di kendali dan diri yang kini di kuasai oleh amarah membuat Edward gelap mata dan memberikan pukulan yang bertubi-tubi di wajah dan tubuh laki-laki yang telah mempermainkan dan menghancurkan hidup dirinya.
Brugg....
Brugg....
"Sialan Kau Marvin..!! Gara-gara kau hidup ku hancur dan dengan gampangnya kau meminta maaf hah..!!"Sentak Edward sembari memberikan pukulan di wajah Marvin yang penuh dengan luka lebam akibat pukulannya.
Marvin hanya diam dan tidak membalas pukulan yang di terima nya. Karena laki-laki itu tahu apa yang di terimanya saat ini tidak sebanding dengan rasa sakit yang di rasakan oleh Edward karena dirinya.
"Kau memang Breng'sek Marvin..!!"Seperti nya memang Edward telah melampiaskan semua rasa sakit yang selama ini dirinya pendam terbukti dengan kencangnya pukulan yang laki-laki itu lakukan membuat Marvin tidak berdaya dengan luka lebam di seluruh wajahnya.
"Akhh...!!"Erang Marvin saat Edward menendang perutnya dengan sangat kencang seketika membuat darah segar keluar dari mulut laki-laki.
"Hentikan Tuan..!!"Ujar Sean saat Edward semakin membabi buta menghajar Marvin.
Edward tidak mengindahkan seruan dari Asisten pribadinya itu. Akan tetapi laki-laki itu semakin menghajar Marvin dengan membabi buta sehingga laki-laki itu tidak berdaya dan kuasa untuk menggerakkan tubuhnya.
Melihat Edward yang semakin menjadi-jadi membuat Sean memberikan isyarat kepada para bawahan untuk membawa Edward masuk kembali ke dalam mobil.
"Apa yang kalian lakukan sialan..!!"Pekik Edward saat tubuhnya di bawa oleh beberapa bawahannya.
"Usir laki-laki itu dari sini dan jangan biarkan pengkhianat itu untuk menginjakkan kakinya di perusahaan ini."Titah Sean kepada beberapa bawahannya yang hendak membawa tubuh tidak berdaya Marvin.
"Baik Tuan..."Jawab mereka dengan serempak.
Sean pun menghela nafasnya dengan kasar dan menatap ke sekelilingnya ternyata banyak sekali pasang mata yang melihat apa yang telah di lakukan oleh Tuannya tersebut.
"Apa yang kalian lihat? Bubar kalian..!!" Sentak Sean dengan lengkingan suaranya membuat mereka sontak membubarkan diri mereka masing-masing.
Sean pun segera masuk ke dalam mobil dan di sambut oleh teriakan Edward yang memekikkan telinganya.
"Apa yang kau lakukan Sialan..!!"Pekik Edward menendang kursi kemudi yang di duduki oleh Sean.
"Maafkan saya Tuan..."Ucap Sean yang tidak ingin semakin menyulut amarah Tuannya tersebut.
"****...!!"Umpat Edward dengan mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah.
.
.
.
Briana mengerjab-ngerjabkan kedua matanya setelah beberapa jam gadis kecil itu tidak sadarkan diri.
"Shhh..."Ringis Briana saat rasa sakit gadis kecil itu rasakan di kepalanya.
"Dimana ini..?"Guman Briana dengan mata yang bergerak liar saat rasa asing gadis kecil rasakan.
Briana menatap sekitarnya dengan warna putih yang mendominasi ruangan itu dengan bau-bau obat-obatan yang begitu menyengat Indra penciumannya.
"Auchh..."Briana meringis saat rasa perih di pergelangan tangannya yang di infus.
"Anna di rumah sakit lagi..."Guman gadis kecil itu saat melihat selang infus yang terpasang di pergelangan tangannya.
"Mamah, Anna takut. Mereka benar-benar jahat..!! Apa salah Anna Mamah? Sehingga Lyara dan teman-temannya begitu membenci Anna?"Ujar gadis kecil itu dengan wajah yang memurung pada saat mengingat apa yang terjadi kepada dirinya.
Bianca yang pada saat itu baru akan memasuki ruangan Briana di rawat, seketika mematung mendengar ucapan sang anak. Hati wanita itu hancur, Bianca merasa tidak berguna menjadi seorang ibu karena tidak mengetahui apa yang di alami oleh sang anak, sehingga hampir saja membahayakan nyawa sang anak. Briana harta satu- satunya yang dia miliki dan alasan dirinya bertahan dari segala penderitaan yang dia alami selama ini, terluka karena kebodohan yang dirinya lakukan.
"Maafkan Mamah sayang, Maafkan Mamah."Guman Bianca menggigit bibir bawahnya menahan tangisan yang akan keluar dari bibirnya.
"Seandainya Anna mempunyai Papah, mungkin tidak akan pernah membully anak dan mengejek Anna sebagai anak haram." Ucap Briana tanpa menyadari kehadiran sang Mamah di dekatnya.
"Papah..."
"Papah, Anna sangat merindukan dan menyayangi Papah. Kenapa Papah bisa begitu jahat kepada Anak kandung Papah sendiri? Tidak tahukan Papah, bagaimana beratnya Anna menjalani kehidupan selama ini? Anna sangat membutuhkan kehadiran Papah! Tapi kenapa Papah dengan kejam- nya menolak kehadiran anakmu ini Pah?"
Bianca semakin mematung dan tergugu di tempatnya mendengar bahwa sang anak merasakan apa yang dia rasakan selama ini. Menjadi anak yang terbuang dan menjadi bahan ejekan teman-temannya. Bianca pun mengetahui bagaimana rasa sakitnya saat seseorang mengejeknya dengan sebutan Anak haram, terlebih lagi Ayah kandungnya sendiri yang mengatakan hal tersebut.
"Maafkan Mamah sayang."Hanya kata maaf yang bisa wanita itu ucapkan mengingat penderitaan yang selama ini sang anak rasakan.
Bianca pun menutup pintu ruang rawat Briana, karena sudah tidak bisa menahan tangisannya mengingat segala penderitaan yang dirinya dan sang anak alami selama ini.
"Kenapa begitu sakit Tuhan?!"Ujar wanita itu sembari menepuk dadanya saat merasakan sesak yang tiada bisa wanita itu jabarkan.
"Kapankah semua kesakitan ini berakhir Tuhan? Tidak cukupkah semua air mata penderitaan ini Tuhan?"
Wanita itu terisak melampiaskan semua rasa yang selama ini dia pendam sendirian, tidak peduli bahwa kini dirinya menjadi pusat perhatian di lorong rumah sakit itu.
"Mengapa engkau begitu kejam kepada hambamu yang malang ini Tuhan?"Ucap wanita itu dengan lelehan air mata yang membasahi wajahnya.
Entah berapa lama wanita itu menangis sampai Bianca merasakan sebuah tangan menepuk pundaknya. Sontak Bianca langsung mengangkat pandangannya dan melihat seorang perawat berdiri di hadapannya.
"Ada apa Sus?"Tanya wanita itu dengan suara paraunya dan menghapus air mata yang membasahi wajahnya.
"Maaf Nyonya, Anda di minta untuk ke ruang Administrasi."Ujar perawat itu dengan sungkan karena melihat wajah sendu Bianca.
"Oh iya, Baik Sus..."Kata Bianca berusaha tersenyum di hadapan perawat itu.
"Terima kasih Sus..."Kata wanita itu.
Perawat itu pun tersenyum membalas ucapan wanita malang itu.
Bianca pun segera ke ruangan administrasi karena Briana sudah di izinkan untuk pulang oleh Dokter sore nanti. Setelah Bianca menyelesaikan semua administrasi kepulangan sang anak, Bianca pun segera kembali ke ruangan rawat Briana.
Entah apa yang di pikirkan oleh Bianca akan tetapi wanita itu tercenung beberapa saat sebelum membuka ruang rawat sang anak.
"Kuatkan lah hambamu ini Tuhan..."Gumam wanita itu.
Bianca menghembuskan nafasnya dengan kasar saat melihat Briana memejamkan matanya dengan lelehan air mata yang masih membekas di wajah mungil gadis kecil itu.
"Maafkan Mamah sayang..."Lirih Bianca memegang tangan Briana yang tidak terpasang infus."Mamah gagal menjaga mu sehingga membuat kamu seperti ini."Imbuh wanita itu.
Merasakan sebuah tangan hangat menggenggam tangannya membuat Briana perlahan-lahan membuka kedua matanya.
"Mamah..."Panggil Briana dengan suara lirihnya sembari melihat tangannya yang di genggaman oleh sang Mamah.
"Anna..."Pekik Bianca dengan binar kebahagiaan di wajah kuyu wanita itu.
Seketika briana menundukkan kepalanya saat manik matanya bersitatap dengan Sang Mamah. Hati Gadis kecil itu semakin terluka melihat air mata yang menggenang di kedua pelupuk mata wanita yang melahirkannya dan Briana tahu bahwa dirinya yang menjadi penyebab tangisan sang Mamah. Semua ini sangatlah menyakitkan bagi gadis kecil itu, melebihi saat teman-temannya mengatakan dirinya Anak haram.
"Briana..."Panggil Bianca saat Briana enggan menatap ke arah dirinya.
"Iya Mah..."Jawab gadis kecil itu tanpa mengangkat pandangannya.
Bianca menghela nafasnya sejujurnya wanita itu tahu apa yang kini sedang di rasakan oleh Briana. Sejatinya Bianca dan Briana adalah dua sosok lemah yang berusaha kuat di depan satu sama lainnya.
Bianca mengusap wajah Briana dengan penuh kasih sayang. Bianca tidak kuasa menahan air mata melihat wajah pucat Briana.
"Hiks-hiks..."Sekuat tenaga Bianca menahan tangisannya namun tidak bisa.
"Mamah jangan menangis..!!"Ujar Briana menghapus air mata itu.
"Maafkan Mamah sayang, Maafkan Mamah yang tidak bisa memberikan kebahagiaan untuk mu selama ini."Ucap Bianca di sela-sela tangisannya.
"Mamah jangan berkata seperti itu. Mamah adalah Mamah terbaik di dunia ini."Tukas Briana dengan cepat dan air mata yang entah kapan keluar dari pelupuk mata gadis kecil itu.
Bianca pun membaringkan tubuhnya di atas brankar Briana dan membawa tubuh mungil itu ke dalam dekapannya tanpa menghentikan tangisnya. Dan tangisan briana pun pecah saat tubuhnya di dalam dekapan wanita yang melahirkannya.
"Mamah..."
"Anna takut Mamah. Mereka semua jahat kepada Anna..!!"
"Maafkan Mamah sayang. Maafkan Mamah mu yang bodoh ini."Ucap Bianca seraya menghujami kecupan di pucuk kepala dan seluruh wajah Briana.
Jangan lupa
Like
Comment
Vote
Rate
Favorit