
Rahang Edward mengerat dengan dadanya yang naik turun seiring dengan amarah yang membelenggu laki-laki itu. Edward tidak pernah menyangka, Cleona sepupunya sendiri berani menjebloskan nya ke dalam penjara, hanya demi membela seorang wanita rendahan seperti Bianca. Ya Kini Edward tengah berada di balik jeruji besi.
"Hei penghuni baru. Apa yang membuat mu masuk ke dalam sini? Memperkosa? Membunuh atau mencuri?"Cetus salah satu narapidana sana dengan menatap Edward dengan smriknya."Di lihat dari penampilan mu, Sepertinya kau orang berada? Dimana kedua orang tuamu? Apakah mereka membiarkan mu tetap berada di dalam penjara."Ejeknya dan seketika suara tawa menggema di dalam ruangan tahanan itu.
"Tutup mulutmu sialan...!!"Pekik Edward seraya menghadiahkan sebuah pukulan di rahang laki-laki itu.
"Bang'at apa yang kau lakukan..!!"Laki-laki itu menyeka sudut bibirnya yang mengeluarkan darah dan laki-laki itu memberi kode kepada teman-temannya untuk menghajar Edward.
Dan terjadilah baku hantam antara Edward dan para tahanan tersebut. Walaupun Edward kalah jumlah, namun laki-laki itu dapat mengimbangi mereka semua tahanan yang menyerangnya.
Salah satu dari polisi yang sedang berjaga yang mendengar keributan dari ruangan Edward, Segera menuju sumber suara beserta para rekan sesamanya untuk melerai pertengkaran tersebut.
"Apa yang kalian lakukan?!"Seru Para polisi itu segera memisahkan Edward yang tengah menghajar para tahanan itu dengan membabi buta.
"Lepaskan aku Sialan..!"Edward meronta ronta dan berusaha melepaskan dirinya dari para polisi.
"Ckck... Ternyata hanya ini saja kemampuan mu."Kata tahanan itu membuat amarah Edward semakin tersulut.
"Akan ku robek mulutmu Sialan..!!"Pekik Edward.
Tanpa terasa satu malam pun berlalu dengan sangat cepat. Kini Sang Surya sudah mulai nampak di tempat peraduan nya dan mulai menampakkan warnanya. Kicauan burung-burung saling bersahutan satu sama lainnya. Satu malam suntuk Edward tidak memejamkan matanya, karena setiap laki-laki itu menutup matanya bayang-bayang Bianca tengah mentertawakan dirinya karena masuk ke dalam penjara selalu menghantui laki-laki itu.
Edward memandang dinding kokoh yang menghalanginya kebebasan nya dari dunia luar. Setelah perkelahiannya dengan para tahanan itu, Akhirnya Edward di pindahkan dengan ke ruangan tahanan yang lain dan kini baju laki-laki itu pun telah berganti menjadi baju tahanan yang tidak pernah Edward bayangkan dalam hidupnya.
Edward mengalihkan pandangannya saat seorang sipir penjara membuka pintu ruangan. Lantas Edward pun segera bangkit dan menuju sipir tersebut.
"Bagaimana? Apakah aku sudah bisa di bebaskan?"Ucap Edward dengan tidak sabar.
"Bukan..! Kejahatan mu terlalu fatal dan banyak bukti yang memberatkan mu. Sehingga cukup sulit untuk membebaskan mu, walaupun dengan kekuasaan dan uang yang kau miliki."Tutur sipir penjara itu membuat senyaman Edward perlahan pudar.
"Apa maksudmu Sialan?!"Pekik Edward dengan nafas yang memburu dan kedua matanya yang membelik tajam.
"Ini terlalu pagi untuk mencari masalah."
Decak sipir itu dengan memutar bola matanya malas."Kau tidak ingin kejadian semalam terulang lagi kan?"Tutur sipir itu dengan smriknya.
Edward menghembuskan nafasnya dengan kasar, berusaha meredakan amarah yang kapan saja meledak dalam dirinya.
"Ada seseorang yang ingin menemui mu." Kata sipir itu membuat Atensi Edward teralihkan.
"Siapa...?"Tanya Edward dengan penuh semangat.
"Lihatlah sendiri, Jika kau ingin mengetahui siapa orang yang ingin menemui mu." Edward mengeratkan rahangnya saat mendengar jawaban dari sipir itu.
"Dasar polisi sialan..!!"Desis Edward di dalam hatinya.
Akhirnya dengan kedua tangan yang di borgol Edward keluar dari sel tahanan. Laki-laki itu melangkah mengikuti langkah sipir di hadapannya, Edward menghentikan langkah kakinya saat melihat seseorang yang tidak asing bagi tengah duduk di salah satu kursi tunggu di dalam kantor polisi tersebut.
"Kaisar..."Panggil Edward seketika Asisten Kai mengangkat kepalanya dan bangkit dari posisinya setelah Edward berada di hadapannya.
"Anda baik-baik saja Tuan?"Tanya Asisten Kai dengan menatap Edward dengan intens. Kondisi Edward begitu memprihatinkan bagi Asisten Kaisar, Wajah tampan Edward kini di penuhi lebam dan baju tahanan yang melekat di tubuh laki-laki itu.
"Untuk apa kau bertanya! Jika kau mengetahui jawabannya."Sunggut Edward dengan suara yang menjamam.
"Maafkan saya Tuan..."Ucap Asisten Kaisar dengan menundukkan pandangannya.
"Bagaimana? Apakah kau sudah mengurusi semuanya?"
"Saya akan berusaha Tuan..."Ucapnya dengan menundukkan kepalanya.
"Apa maksudmu dengan akan berusaha Sialan?!"Pekik Edward dengan suara lengkingan nya.
"Tuan, Kasus Anda adalah kasus yang cukup berat karena anda melakukan kekerasan fisik maupun verbal kepada seorang wanita dan terlebih lagi cukup banyak saksi dan barang bukti yang memberatkan Anda. Jika pun Anda ingin terbebas dari semua tuntutan ini. Hanya Nona Bianca dan Nona Cleona lah yang dapat membebaskan Anda dan mencabut semua tuntutannya."Kata Asisten Kaisar membuat kedua tangan Edward terkepal erat.
"Semua ini gara-gara wanita rendahan itu. Jika saja dia dan anak haramnya itu tidak hadir di dalam kehidupan ku, Mungkin semua itu tidak akan terjadi."Guman Edward dengan dada yang bergemuruh karena amarahnya.
"Aku tidak mau tahu, Hari ini semua urusan ku di kantor polisi harus selesai."Titah Edward penuh penekanan di setiap kalimatnya. Tanpa mendapatkan jawaban dari Asisten Kaisar Edward langsung saja meninggalkan laki-laki itu.
_
_
_
"Andreas, Bagaimana keadaan Bianca?" Tanya Cleona penuh ke khawatiran. Bola matanya bergerak liar dan terfokus pada satu titik yaitu dimana seorang wanita tengah terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.
"Kondisi Bianca sudah stabil. Kita hanya perlu bersabar dan menunggu efek obat tidur Bianca menghilang."Ucap Andreas dengan menyampirkan stetoskop di bahunya.
"Lalu, Bagaimana dengan kondisi keponakan ku? Apakah kandungan Bianca baik-baik saja?"Cerca Cleona dengan suara penuh tuntutan.
"Mereka baik-baik saja..."Cetus Andreas membuat kening Cleona mengkerut.
"Mereka kuat seperti ibunya."Imbuh Andreas dengan tarikan kecil di sudut bibirnya.
"Mereka...?"Cicit Cleona dengan kening yang semakin mengkerut dalam."Ja-jangan bilang jika kini Bianca tengah mengandung bayi kembar?"Pekik Cleona dengan mulut yang terbuka lebar. Dan Andreas hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawabannya.
"Dan bisakah kau memelankan Suara mu. Suara cempreng mu itu bisa saja merusak gendang telingaku."Cibir Andreas membuat bibir Cleona mengerucut.
"Jangan memonyongkan bibirmu seperti itu, Kau nampak semakin jelek dan aneh." Kata Andreas.
"Andreas..."Cebik Cleona dengan tangan yang bersedekap dada dan memalingkan wajahnya.
"Tidak perlu marah seperti itu. Kau bukan anak kecil lagi yang pantas untuk merajuk..." Ucap Dokter muda itu dengan mengulum senyumannya.
"Kau keterlaluan..!!"Cleona segera meninggalkan Andreas yang tengah terkekeh melihat kelakuannya. Perutnya sudah meronta-ronta untuk di isi, karena terakhir dirinya makan kemarin siang.
"Hei Cleona..."Cleona tidak mengindahkan Andreas yang tengah memanggil manggil namanya.
"Cleona.."Andreas mencekal lengan Cleona, sehingga membuat wanita itu mau tidak mau menghentikan langkahnya.
"Lepaskan..!"Cleona berusaha melepaskan cekalan Andreas di lengannya.
"Kau marah kepadaku?"Wanita itu tidak menjawab pertanyaan Andreas."Baiklah baiklah, Aku minta maaf dan aku mengakui bahwa bercandaan ku sudah keterlaluan."
"Hmmm..."Balas Cleona dengan sebuah deheman. Wanita itu segera melanjutkan langkahnya yang terhenti akibat Andreas.
"Astaga Wanita itu..."Gerutu Andreas dengan mengusap wajahnya dengan kasar.
"Satu Coffe late."Ucap Cleona kepada pelayan yang ada di kantin rumah sakit itu.
"Perutmu belum terisi apapun Cleona! Dan sekarang kau ingin memesan cofee? Tidak ganti yang lain."Seru Andreas dengan tegas.
"Aku bukanlah anak kecil lagi yang perlu kau beritahu mana yang baik dan buruk untuk ku."Sahut Cleona tanpa menatap Andreas yang berada di hadapannya.
"Dua Sandwich dan dua teh manis hangat saja mbak."Ucap Andreas dengan belikan kedua matanya membuat Cleona tidak berkutik sama sekali di hadapan laki-laki itu.
Cleona hanya diam sembari memalingkan wajahnya dengan kedua tangan yang bersedekap di dadanya. Andreas pun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, karena Cleona masih saja marah kepadanya.
"Cley..."Panggil Andreas dan lagi-lagi hanya di balas sebuah deheman oleh Cleona. "Apakah kau tidak memikirkan ulang tentang keputusan mu itu?"
"Apak maksud mu?"Tukas Cleona dengan kening yang mengkerut.
"Begini, Edward adalah saudara mu dan sebaik-baik kau memikirkan ulang lagi rencana mu. Karena apa yang akan kau lakukan bisa saja mencoreng nama besar keluarga mu"Tutur Andreas dengan hati-hati, Andreas tidak ingin perkataan nya menyinggung Cleona. Meskipun dirinya menginginkan Edward untuk berubah kepada Bianca dan menerima kehadiran wanita itu terlebih lagi kedua bayi yang ada di dalam kandungan Bianca. Tapi tidak dengan cara yang seperti ini, menurutnya Cleona sudah sedikit keterlaluan karena telah memenjarakan saudaranya sendiri.
"Kau masih membahas itu?"Decak Cleona dengan sebuah senyuman sinisnya. "Dan bukankah sudah berapa kali ku katakan! bahwa apa yang kini tengah ku lakukan semua ini demi Edward. Aku tidak ingin Edward tenggelam dalam jurang kebencian dan dendam yang tidak berkesudahan." Sargah Cleona.
"Cley, Edward adalah saudara mu..." Pungkas Andreas yang tidak merasa puas akan jawaban Cleona."Dan satu lagi, kau berkata jika ini semua demi kebaikan Edward agar laki-laki itu tersadar akan kesalahannya? Dan jika hasilnya berbanding terbalik dengan yang kau inginkan? Edward akan semakin membenci Bianca, karena Edward pikir bahwa Bianca lah penyebab kau memasukannya ke penjara. Dan hubungan mu merenggang begitupun dengan hubungan keluarga mu dengan paman Julian? Kau mau seperti itu?."Imbuh Andreas dengan penekanan di setiap kalimatnya.
"A-aku...."Cleona tergagap saat akan menjawab pertanyaan Andreas. Cleona tahu apa yang di lakuannya salah dan wanita itupun sudah memikirkan matang matang semua kemungkinan yang akan terjadi setelah dia melaporkan Edward ke polisi. Namun saat Andreas mengatakan bahwa Edward akan semakin membenci Bianca, membuat Cleona tidak bisa berkata kata.
"Ya Tuhan Apa yang harus aku lakukan?" Guman Cleona dengan menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Cley..."Panggil Andreas membuat Cleona mendongkakan kepalanya. "Sebaiknya kau cabut saja laporan mu kepada Edward."Kata Andreas memegang tangan Cleona dengan erat.
"Bagaimana setelah Edward keluar dari penjara, laki-laki itu akan kembali membuat Bianca tersakiti? Aku tidak Bianca maupun kandungan nya kenapa kenapa?"Ucap Cleona dengan menundukkan kepalanya dan memilin ujung baju yang dia kenakan.
"Bagaimana pun Edward dan Bianca adalah pasangan suami istri. Dan kita hanyalah orang luar yang tidak sepatutnya masuk terlalu dalam permasalahan yang ada di rumah tangga mereka."Seru Andreas.
"Tapi, bagaimana jika Edward kembali menyakiti Bianca dan kandungannya?" Balas Cleona yang masih tidak ingin mencabut laporannya.
"Semuanya akan baik-baik saja. Kau bisa percayakan saja semua kepada Tuhan." Balas Andreas dengan bersungguh-sungguh.
_
_
_
Masuknya Edward ke penjara ternyata telah sampai di telinga Papah Julian. Laki-laki itu mengepalkan kedua tangannya saat melihat berita tertangkapnya Edward tersebar luas di jejaring sosial media dan menjadi trending topik. Meskipun belum ada yang kepastian mengapa Edward bisa berurusan dengan pihak kepolisian.
Dan dengan beredarnya berita ini pula saham perusahaan O'deon semakin menurun, setelah beberapa bulan yang lalu scandal tentang batalnya pernikahan Edward, karena laki-laki itu telah memperkosa seorang wanita sehingga membuat wanita itu hamil menyeruak ke permukaan umum.
"Anak tidak tahu di Untung! Kerjaan nya hanya bisa membuat masalah saja."Desis Papah Julian dengan mengeratkan rahangnya.
"Pah..."Panggil Erland yang entah kapan telah masuk ke dalam ruangan Papah Julian.
"Ada apa..?"Kata Papah Julian berusaha menahan amarah yang ada di dalam dirinya
"K-kak Edward..."
"Dimana Anak Sialan itu di tahan?"
"Di penjara xxxx pah."Jawab Erland seraya menatap papahnya dengan lekat. "Pah...
Papah jangan emosi terlebih dahulu, Papah belum tahu kebenarannya, kenapa kakak masuk ke dalam penjara. Bisa saja Kakak di jebak."Pinta Erland yang tidak ingin melihat Sang Papah dan Edward bertengkar untuk yang kesekian kalinya.
Papah Julian hanya menghela nafasnya seraya bangkit dari kursi kebesarannya tanpa menjawab pertanyaan dari anaknya.
"Antarkan Papah ke penjara xxxx."Titah Papah Julian dan dengan berat hati laki-laki itu menuruti perintah sang Papah.
Tiga puluh menit pun berlalu....
Mobil mewah yang di kendarai oleh Edward telah sampai di pelataran kantor polisi xxxx. Kedua laki-laki berbeda generasi itupun segera keluar dari mobil tersebut. Dan tentu saja kedatangan Seorang Julian O'deon membuat gempar seluruh kantor polisi itu. Siapa yang tidak mengenal sosok Julian O'deon, Seorang pengusaha yang dapat di perhitungkan di negeri ini dan memiliki banyak anak-anak perusahaan baik di dalam negeri maupun yang berada di luar negeri.
Bughh...
Bughh....
Plakk....
Plakk....
Pukulan dan tamparan bertubi-tubi laki-laki setengah baya itu layangkan ke wajah tampan Edward. Dan Edward hanya diam dan menatap datar sang Papah yang kini tengah membabi buta menghajarnya. Mungkin ini bukan pertama kalinya Edward di perlakukan seperti itu dari sang Papah, karena sejak Edward masih kecil, Sang Papah selalu saja menghukum dan memukulnya saat melakukan kesalahan tanpa mencari tahu apa penyebab Edward melakukan hal tersebut.
"Sudah puas papah memukulku? Jika iya, papah lebih baik pulang saja dari sini."Kata Edward membuat amarah papah Julian kembali tersulut.
"Dasar anak Sialan..!" Pekik Papah seraya akan menghadiahi satu bogem mentah di rahang Edward.
"Pah, Sudah..."Seru Erland seketika sang Papah menurunkan tangannya. Edward yang melihat itu semua pun hanya berdecih.
"Drama menjijikkan..!!"Decih Edward dengan lirih namun dapat di dengar oleh Sang Papah maupun Erland.
"KAU...."
"Mas Sudah..."Seru Mamah Eleana yang tiba-tiba saja menghalangi Sang suami yang akan memukul wajah Edward.
"Jangan menghalangi ku Eleana!!"Sentak Papah Julian mendorong kasar tubuh Mamah Eleana yang menghalanginya.
"Apa yang kau lakukan Sialan..!!"Pekik Edward membantu Mamah Eleana yang terjatuh akibat dorongan sang Papah.
"Lihatlah anakmu Eleana. Begitu lemahkah didikan dan ajaran mu sehingga membuat anakmu ini begitu kurang ajar kepada Orang tuanya."Seru Papah Julian dengan nada yang meninggi.
"Jangan berteriak kepada Mamah ku." Pungkas Edward dengan menatap tajam sang Papah. "Tidakkah kau berpikir mengapa aku melakukan semua ini kepada mu? Berpikirlah sedikit, dan tidak perlu menyalahkan orang lain atas perbuatan yang telah kau lakukan." Tegas Edward dengan rahang yang mengerat.
"Edward... Jangan berkata kasar seperti itu kepada Papah mu."Titah Mamah Eleana sembari mengusap punggung Edward.
"Lihatlah karena kau selalu memanjakan anak mu itu, membuatnya urakan dan susah untuk di atur. Berperilaku tanpa berpikir panjang dan selalu saja mencoreng nama O'deon."Sargah Papah Julian sembari menunjuk wajah Mamah Eleana."Dan Jika anakmu terus seperti itu, lebih baik kursi Presdir ku berikan kepada Erland."
"Kau pikir aku takut. Silahkan saja kau berikan posisi Presdir kepada anak tersayang mu itu! Bukankah selama ini yang kau inginkan. Tanpa uangmu itu aku pun masih bisa hidup."Seru Edward dengan tautan di kedua alisnya.
Jangan lupa
Like
Comment
Rate
Vote
Favorit
Tips