Oh My Baby

Oh My Baby
Part 61


"Eughhh..."Lenguh Bianca setelah beberapa jam wanita itu tidak sadarkan diri di dalam ruangan operasi sang anak.


Bianca mengerjab-ngerjabkan kedua matanya saat rasa pusing mendera dirinya. Aroma obat-obatan begitu menyengat indera penciuman wanita itu, Sontak membuat Bianca segera Bianca memegang kepalanya saat rasa pusing kian menjadi- jadi membuat Bianca tidak kuasa untuk membuka kedua matanya. di tempatnya.


"Auww...!!"Ringis Bianca saat merasakan nyeri di sekitar pergelangan tangannya.


"Kenapa aku disini?"Tanya Bianca sembari memegang kepalanya saat rasa pusing kian menjadi-jadi membuat Bianca tidak kuasa untuk membuka kedua matanya.


"Briana...!!"Pekik Bianca saat wanita itu tersadar akan kondisi anaknya saat berada di dalam ruangan operasi.


"Dimana Briana? Dimana Anakku..?"Jantung Bianca berdetak kencang saat wanita itu tidak melihat satu orang pun di dalam ruangan nya.


"Oh Tuhan, Briana Anakku..."Bianca menggigit bibir bawahnya saat wanita itu memikirkan kemungkinan terburuk kepada sang anak.


"Tidak, pasti semua itu tidak terjadi kepada Anakku..!!"Ujar Bianca dengan mengedarkan pandangannya saat tidak ada satupun orang di sekelilingnya.


"Aku harus bagaimana Tuhan?"Bianca bagaikan seseorang yang kehilangan arah tujuannya. Wanita itu tidak tahu apa yang harus dirinya lakukan lantaran kegelisahan yang membelenggu dirinya.


"Aku harus mencari Dokter dan bertanya tentang keadaan Briana."Ucap Bianca dengan sungguh-sungguh.


"Shshh..."Bianca sedikit mendesis saat dirinya melepaskan paksa Jarum infus yang melingkar di pergelangan tangannya.


Tanpa banyak kata, Bianca pun bergerak turun dari ranjang dan tujuan nya hanya satu yaitu bertemu dengan dokter dan bertanya mengenai sang anak saat ini. Namun, bukannya berdiri Bianca terjatuh dengan kepala membentur pinggiran brankar.


Brug!


"Auww...!!"Ringis Bianca saat kepalanya terasa berdenyut nyeri. Namun rasa sesak di dadanya kian terasa nyata menghimpit dada wanita itu.


"Bianca..!!"Pekik Nenek Clara saat membuka pintu itu dan melihat Bianca terjatuh di atas brankar nya.


"Nenek..."Cetus Bianca dengan memegang kepalanya dan wanita itu dapat merasakan bahwa sesuatu yang basah membasahi pelipisnya.


"Astaga Bianca, apa yang terjadi kepada mu Nak."Seru Nenek Clara menghampiri Bianca dan membantu wanita itu untuk bangkit dan berbaring di atas brankar.


"Tidak apa-apa Nenek, Bianca baik-baik saja." Ucap Bianca.


"Lepaskan Bianca. Bianca ingin bertemu Dokter."Tukas Bianca berusaha untuk kembali turun dari tempat tidurnya.


"Tenanglah sayang, Briana baik-baik saja." Ujar Nenek Clara yang mengerti akan kegundahan yang kini menyelimuti Bianca.


"Benarkah Nek?"Bianca menatap Sang Nenek dengan penuh harap.


"Iya dan sekarang Briana sudah berada di ruangannya."Jawab Nenek Clara dengan menyematkan senyuman nya.


Setelah operasi Briana di pindahkan ke dalam ruangan lainnya, guna memantau keadaan Briana pasca operasi dan menjalani perawatan lebih lanjut karena Briana tidak bisa langsung di bawa ke dalam ruangan perawatan, tapi di pindahkan ke ruangan transisi dimana kondisi fisik Briana akan di pantau dengan ketat oleh dokter yang menangani operasi Briana saat itu.


"Syukurlah Tuhan..."Seketika itu juga Bianca merasa bahwa beban yang ada di dalam dirinya hilang begitu saja.


"Bianca ingin bertemu Briana Nek,"Pinta Bianca dengan penuh permohonan.


"Tunggulah sebentar lagi Bianca. Kita tunggu Dokter dahulu untuk memeriksa kondisi mu dan setelah itu kita menemui Briana."Ujar Nenek Clara dengan tegas.


"Baiklah Nek."Jawab dengan lesu.


Tidak lama kemudian datanglah seorang dokter dengan di ikuti oleh seorang perawat.


"Permisi Nyonya..."Sang Dokter pun meminta izin untuk kembali memeriksa kondisi bianca dan memasang kembali jarum infus ke pergelangan tangan Bianca.


"Lain kali Anda tidak boleh melakukan hal seperti ini lagi Nyonya, Apa yang Anda lakukan bisa membahayakan nyawa Anda Nyonya."Kata Sang Dokter sembari mengelap darah yang keluar di pergelangan tangan Bianca.


Bianca hanya tersenyum kecut mendengar teguran dari dokter yang memeriksanya itu tanpa menjawab pernyataan dokter itu.


Dokter pun menjelaskan bahwa kondisi Bianca saat ini mulai membaik dan Dokter pun memberikan resep obat yang bisa Bianca tebus di Apotik rumah sakit itu.


"Jika tidak ada yang ingin Anda tanyakan Nyonya, Saya permisi dahulu."Pamit Dokter itu dengan menundukkan kepalanya.


"Silahkan Dok..."Jawab Nenek Clara dengan senyuman khas wanita tua ini.


Setelah Dokter dan Suster itu pergi meninggalkan ruangan Bianca, Nenek Clara menatap Bianca dengan tajam sehingga membuat wanita satu anak itu tidak nyaman di buatnya.


"Ke-kenapa Nenek menatap Bianca seperti itu?"Tanya Bianca setelah beberapa menit terdiam di posisinya.


"Kau tahu apa kesalahan mu Bianca?"Tanya Nenek Clara dengan tatapan tajamnya.


Bianca menundukkan kepalanya saat wanita itu sadar kemana arah pembicaraan Nenek Clara.


"Kenapa kau diam seperti itu Bianca? Nenek tanya, Apakah kamu tahu kesalahan mu Bianca?"Tanya Nenek Clara dengan nada yang menuntut.


"Maafkan Bianca Nek. Tapi Bianca tidak menyesali semua keputusan Bianca Nek. Bianca akan melakukan apapun untuk menyelamatkan Briana, Bahkan jika nyawa Bianca jadi taruhan pun, Bianca rela Nek." Seru Bianca dengan sungguh-sungguh yang terbukti jelas dari sorot mata wanita itu.


Ya ketika Bianca dia ajak untuk masuk ke dalam ruangan operasi, Bianca di minta untuk melakukan tes darah karena saat ini Briana sangat membutuhkan banyak sekali darah dan untung saja darah Bianca dan Briana cocok. Namun yang sempat menjadi kendala saat itu adalah Bianca sedang dalam masa periodenya.


Para Dokter dan tim medis lainnya menolak Bianca yang akan melakukan transfusi darah, Namun Bianca bersikeras bahkan sampai memohon agar dialah yang menjadi pendonor darah untuk sang anak, melihat waktu dan kondisi Briana saat di operasi membuat Tim medis mau tidak mau mengambil darah Bianca.


Nenek Clara menghembuskan nafasnya dengan kasar mendengar jawaban Bianca. Karena jika beliau yang berada di posisi Bianca, maka Nenek Clara pun pasti akan melakukan apa yang telah di lakukan oleh Bianca.


.


.


.


.


.


"Apa ini?"Tanya Edward dengan menyengritkan kedua alisnya saat melihat sebuah map yang tersimpan di dalam meja kerjanya itu.


Edward membuka map tersebut, untuk melihat apa isi di dalam map itu dan hal pertama kali yang laki-laki itu lihat adalah foto wajah seorang wanita yang telah menghancurkan kehidupan nya.


Iya, Map itu berisi tentang identitas Bianca dan semua kebenaran yang terjadi di malam itu. Seketika itu juga sumbu amarah Edward menyala saat laki-laki itu mengingat apa yang terjadi kepada dirinya karena ulah Bianca kehidupan nya hancur, meskipun apa yang Edward ketahui selama ini hanyalah sebuah kesalahan pahaman.


"Wanita Ja'ang ini...!!"Desis Edward dengan mengepalkan kedua tangannya.


Edward mengeratkan rahangnya dengan kedua bola matanya membelik tajam saat amarah semakin membelenggu laki-laki itu.


Edward melemparkan map itu sehingga membuat kertas-kertas yang ada di dalamnya bertebaran di atas lantai dan bertepatan saat itu Sean masuk ke dalam ruangan kerja laki-laki itu.


"Tuan..."Ujar Sean saat melihat kertas-kertas itu berhamburan di atas lantai.


"Kenapa berkas-berkas sialan ini masih disini Sean..!! Bukankah sudah aku perintahkan untuk kau membuangnya?!" Seru Edward dengan nafas yang memburu karena amarah yang membelenggu laki-laki itu.


Sean menelan Savilanya dengan susah payah saat Edward menatap nya dengan begitu tajam.


"Kenapa kau diam saja?! Apakah kau dengan sengaja tetap menyimpan berkas sialan itu?!" Tukas Edward membuat Sean tidak berkutik sama sekali.


Memang Sean dengan sengaja menyimpan berkas itu, agar suata saat Edward bisa membacanya dan mengetahui kebenaran yang terjadi kepada Edward maupun Bianca selama ini. Namun apa yang terjadi tidak seperti yang Sean bayangkan.


"Maafkan saya Tuan."Ucap Sean tanpa berani menatap ke arah Edward yang ada di hadapannya.


"Apakah kau diam-diam membuat rencana untuk mempertemukan ku dengan wanita Ja'ang itu."Tanya Edward.


"Ti-tidak Tu-tuan..!!"Jawab Sean dengan cepat dan terbata-bata.


Belum sempat Sean menjawab pertanyaan Edward, Pak Jang masuk ke dalam ruangan kerja Edward dan menginterupsi obrolan kedua laki-laki itu.


"Apakah Anda sudah melupakan semua aturan setelah saya pergi pak Jang."Seru Edward dengan bersedekap dada.


"Maafkan saya Tuan."Ucap Pak Jang saat menyadari atmosfer mencekam di dalam ruangan itu.


Edward berusaha menetralkan rasa amarah yang ada di dalam dirinya. "Ada urusan apa Anda kesini pak Jang?"Tanya Edward.


"Maafkan saya Tuan, Tapi di depan ada Nyonya Eleana mencari Anda dan memaksa masuk ke dalam."Ujar Pak Jang tanpa berani menatap ke arah Edward.


"Mamah..."Guman Edward dengan tatapan matanya yang kosong. Meskipun selama ini Edward berusaha mengalihkan pikirannya tentang keluarganya, terutama sang Mamah. Namun tetap saja di dalam lubuk hati Edward yang terdalam laki-laki itu merindukan sosok wanita yang melahirkan nya itu.


"Bagaimana Tuan? Apakah saya perlu memeriksakan kepada para penjaga untuk mengusir Nyonya Eleana?"Tanya Pak Jang dengan menatap Edward dengan lekat.


"Hmm..."Balas Edward sembari melangkahkan kakinya menuju balkon kamarnya yang berhadapan langsung dengan pintu gerbang utama kediaman mewahnya.


"Maafkan Edward Mah, Untuk saat ini Edward tidak bisa menemui Mamah karena rasa kecewa ini masih terasa. Edward tidak mau jika Edward bertemu dengan Mamah, Edward tidak bisa mengendalikan amarah yang ada di dalam diri ini."Guman Edward dengan menghembuskan nafasnya dengan kasar.


.


.


.


.


.


Setelah Bianca merasa tubuhnya sedikit membaik, wanita itu meminta Nenek Clara untuk mengantarkan nya ke ruang perawatan sang anak dan Nenek Clara pun mau tidak mau mengantarkan Bianca, meskipun wanita tua itu tahu bahwa kondisi Bianca belum pulih sepenuhnya.


Bianca menatap Nenek Clara dengan lekat, Wanita berhati malaikat yang membantunya tanpa memandang siapa dan dari mana Bianca berasal.


"Hati-hati Bianca..!!"Seru Nenek Clara saat kaki wanita itu tersandung.


"Terima kasih Nek, Karena selama ini Nenek telah membantu Bianca. Meskipun Bianca bukanlah siapa-siapa Bianca Nenek, di saat semua orang dan kedua orang tua bianca membuang Bianca, Nenek dengan tangan terbuka menerima Bianca dan Sudi menganggap Bianca seperti cucu Nenek sendiri."Tutur Bianca dengan menatap Nenek Clara dengan lekat.


"Sekali lagi, Bianca mengucapkan terima kasih atas segala kebaikan yang telah Nenek lakukan selama ini kepada Bianca dan Briana. Entah apa yang akan terjadi kepada Bianca, Jika saat itu Nenek tidak menolong Bianca, Mungkin saat ini Bianca hanyalah tinggal sebuah Nama."Imbuhnya.


"Apa yang kamu katakan Bianca?! Kamu tidak perlu berterima kasih seperti itu, Karena Nenek ikhlas membantu mu."Jawab Nenek Clara sembari membuka pintu ruangan Briana.


"Briana..."Ucap Bianca dengan kedua mata yang berkaca-kaca saat melihat beberapa alat menepel di tubuh mungil putrinya, Namun jika di lihat kondisi Briana saat ini baik-baik saja menandakan bahwa operasi yang di jalani Briana berhasil.


Bianca pun segera menghampiri ranjang Briana di ikuti dengan Nenek Clara di belakangnya.


"Anakku..."Ucap Bianca seraya mengusap wajah pucat Briana.


"Maafkan Mamah Nak, Karena kebodohan yang Mamah lakukan berdampak buruk bagimu."Entah sudah berapa banyak wanita itu mengutarakan penyesalan yang telah dia lakukan.


"Bangunlah sayang, Mamah ada disini."Kata Bianca dengan memberikan ciuman bertubi-tubi di sekitar wajah sang anak.


"Nenek, Kenapa Briana tidak bangun juga Nek? Apakah terjadi sesuatu kepada Briana yang tidak Bianca ketahui?"Tanya Bianca dengan mengalihkan pandangannya ke arah Nenek Clara dan kedua mata Bianca membelik melihat wajah Nenek Clara yang begitu pucat dan tidak sedikit pula keringat yang cukup besar membasahi pelipisnya.


"Nenek, Nenek pucat sekali."Ujar Bianca menghampiri Nenek Clara dan menatap wanita parubaya dengan penuh ke khawatiran.


"Tidak Sayang, Nenek baik-baik saja."Tukas Nenek Clara dengan sematan senyuman di sudut bibir keriputnya.


Bianca menghembuskan nafasnya dengan kasar mendengar jawaban dari wanita yang telah menolongnya.


"Nek, Bukan maksud Bianca tidak tahu berterima kasih kepada Nenek. Akan tetapi Nenek pulanglah, Bianca tidak ingin karena Nenek menemani Bianca saat ini, kesehatan Nenek menjadi terganggu. Bianca tidak ingin semua itu terjadi Nek."Tutur Bianca menggenggam erat tangan renta Nenek Clara.


"Eughhh..."Lenguh Briana membuat Atensi kedua wanita beda usia itu teralihkan.


Bianca dan Nenek Clara pun segera menghampiri ranjang Briana dan Nampak jelas binar kebahagiaan di wajah kedua wanita saat melihat Briana telah sadarkan diri.


"Mamah..."Ucap Briana dengan mengerjab- ngerjabkan kedua matanya menyesuaikan cahaya di dalam ruangan nya.


"Briana sayang. Mamah disini Nak,"Seru Bianca dengan menahan air mata kebahagiaan saat melihat kedua mata anak nya itu terbuka.


"Mamah..."


"Nenek..."Ucap Briana saat melihat kedua wanita itu di hadapannya.


"Briana sayang, Kamu sudah sadar Nak." Ucap Bianca dengan sejuta kebahagiaan yang menyelimuti wanita itu.


Briana meringis seraya menyentuh dadanya yang terasa begitu nyeri, Namun gadis kecil itu berusaha menutupinya dari Bianca agar ibunya itu tidak mengkhawatirkan dirinya.


"Ada apa sayang?"Tanya Bianca yang melihat perubahan raut wajah sang anak.


"Tidak apa-apa Mah."Jawab Briana dengan menggigit bibir bawahnya saat rasa nyeri itu semakin menjadi-jadi di sekitar dadanya karena obat bius yang di berikan telah menghilang.


"Mama Sakit..."Ringis Briana dengan air mata yang entah kapan keluar dari kedua pelupuk matanya.


"Kenapa sayang? Apa yang sakit?"Tanya Bianca.


"Sakit Mamah, Dadaku sakit sekali."Pekik Briana saat rasa sakit itu begitu menyiksa gadis kecil itu.


"Tahanlah sayang, Mamah akan segera memanggil Dokter."Seru Bianca dengan tangan yang bergetar, wanita itu memencet tombol yang berada di samping brankar sang anak.


"Mamah sakit..."tangan mungil Briana meraba dadanya yang terluka akibat operasi yang dia jalani beberapa saat yang lalu.


"Jangan diraba seperti itu Sayang! Nanti lukamu kembali terbuka."Seru Bianca saat melihat apa yang di lakukan oleh anaknya tersebut.


"Sakit sekali Mam."


Bianca benar-benar tidak tega melihat dan mendengar rintihan kesakitan anaknya itu dan tanpa terasa air mata mengalir di kedua matanya. Bianca tahu bagaimana rasa sakit yang Briana alami saat obat bius untuk menghilang, karena sejatinya Bianca pun pernah merasakan nya.


Briana terus mengeluh sakit di dadanya dan menangis dan yang bisa Bianca lakukan hanya memenangkan Briana dan menghapus air mata anaknya itu.


Pada saat itu seorang Dokter dan perawat masuk ke dalam ruangan Briana dengan tergesa-gesa. Mereka pun segera menghampiri ranjang Briana dan tentu saja Briana di beri obat penahan rasa nyeri dan obat bius agar gadis kecil itu tertidur.


"Dokter, Apa yang terjadi kepada Anak saya Dok? Kenapa dia begitu kesakitan seperti itu?"Tanya Bianca dengan nada penuh ke khawatiran.


"Tidak ada yang perlu Anda cemaskan Nyonya. Keadaan Anak Anda baik-baik saja dan apa yang terjadi kepada Anak Anda adalah hal yang biasa bagi pasien yang telah melakukan operasi."Tutur Dokter itu membuat Bianca bisa bernafas lega.


Bianca pun segera menghampiri Briana dan duduk di samping ranjang anaknya itu dengan menggenggam erat tangan mungil anaknya itu. Kini yang Bianca harapkan adalah luka Briana segera sembuh karena Bianca tidak kuasa melihat anaknya kesakitan seperti saat tadi.


"Lekaslah sembuh Anakku..."Ujar Bianca dengan mengecup tangan mungil Briana yang tengah terlelap di peraduan nya.


Jangan lupa


Like


Comment


Rate


Vote


Favorit