
Di sebuah ruangan yang bercahaya tamram seorang laki-laki tengah duduk di atas kursi kebesarannya dengan tatapan matanya yang sulit untuk di artikan. Deru nafasnya memburu memecahkan kesunyian di dalam ruangan itu, kedua tangannya terkepal sehingga urat-uratnya tercekat jelas di tangan besarnya.
"Sialan...!!"Pekik laki-laki itu dengan menghempaskan semua barang-barang yang ada di atas mejanya bahkan sebuah laptop dengan merek kenamaan teronggok di lantai dengan keadaan layar yang sudah retak.
Sebuah ketukan dari luar ruangan nya dan dengan di iringi dengan suara yang tidak asing baginya, membuat laki-laki itu mengalihkan atensinya dan berusaha merendam amarah yang semakin menguasai dirinya.
"Masuklah..."Suara beratnya memecahkan keheningan ruangan itu.
Tidak lama kemudian pintu ruangan nya terbuka dari luar dan nampaklah Asisten pribadinya yang kini berjalan menuju arahnya.
"Bagaimana...?"Satu patah kata itu membuka perbincangan di antara kedua laki-laki itu.
"Sesuai dengan perintah Anda Tuan."Jawab Asisten pribadi itu dengan penuh percaya diri membuat sudut bibir laki-laki itu terangkat.
"Bagus..."Ucapnya dengan senyuman seringai yang tidak pudar dari kedua sudut bibirnya.
"Tuan, Ini adalah obat penyubur kandungan yang telah di resepkan oleh dokter untuk Nyonya."Katanya sembari menyarahkan sebuah botol yang berisi obat penyubur kandungan.
"Baiklah kau bisa pergi dari sini."Usir laki- laki itu dengan mengibaskan tangannya mengusir sang Asisten untuk keluar dari ruangan kerjanya.
Laki-laki itu menggenggam erat sebuah botol berwarna bening di genggamannya dengan gigi yang bergemurutuk.
"Kau selalu mempunyai cara untuk terlepas dari genggaman ku. Namun kau lupa bahwa aku mempunyai seribu satu cara agar kau tetap berada di sampingku."Desisnya dengan penekanan di setiap kalimatnya.
Dengan amarah yang menguasai dirinya, laki-laki itu bangkit dari duduknya dan keluar dari ruangan menuju kamarnya yang tidak jauh ruang kerjanya tersebut.
Brakk...
Dengan kasarnya laki-laki itu membuka pintu kamarnya membuat seseorang di yang tengah terbaring di atas tempat tidur seketika membuka matanya. Ketakutan terlihat jelas di wajah cantiknya, tubuhnya beringsut dan bulir-bulir keringat membasahi pelipisnya beserta wajahnya.
"Ma-marvin."Kata wanita itu dengan beringsut mundur dari tempatnya. Raut wajahnya nampak terlihat jelas ketakutan terlebih lagi ucapannya yang terbata-bata.
"Bahkan aku belum melakukan apapun kepada mu! Akan tetapi kenapa kau ketakutan seperti itu."Ujarnya dengan senyuman penuh maksud sembari berjalan menuju wanita tersebut.
"Stop Marvin! Jangan mendekat..!!"Pekik wanita itu dengan tubuh yang bergetar begitu pun dengan suaranya.
"Dimana keberanian mu Laura, saat kau memutuskan untuk meminum obat pencegah kehamilan."Seru Marvin dengan tubuh yang kini menghimpit Laura yang kini terbaring di bawah Kungkungan nya.
Laura bungkam tidak ada satu patah katapun yang keluar dari bibirnya, wajahnya berpaling ke samping membuat Marvin yang berada di atas tubuhnya semakin di kuasai amarah.
"Laura Fernandez..!!"Pekik Marvin dengan lengkingan suaranya memenuhi ruangan tersebut.
"Kenapa kau melakukan semua ini kepada ku Marvin? Apa kesalahan ku kepada mu Marvin, Sehingga kau memperlakukan ku seperti ini?"Tanya Laura dengan derai air mata yang tidak henti-hentinya keluar dari kedua pelupuk matanya.
"Kau masih bertanya kesalahan mu Laura Laura? Kesalahan mu adalah saat kau lebih memilih Edward di bandingkan diriku Laura." Sahut Marvin dengan penuh penekanan.
"Kenapa kau begitu tega kepada aku dan Edward Marvin? Bukankah kami berdua adalah sahabat mu? Baik aku maupun Edward adalah orang-orang yang selalu berada di sampingku saat kau susah Marvin? Kenapa kau begitu tega mempermainkan kehidupan kepada kami Marvin?"Seru Laura dengan bertubi-tubi bahkan kedua manik abunya menatap Marvin dengan penuh luka.
"Mempermainkan kehidupan kalian? Bukankah semua kata-kata itu harus ku tanyakan kepada mu?"Tukas Marvin.
Kening Laura menaut mendengar apa yang di ucapkan oleh Marvin."Apa maksud mu..?" Tanyanya.
"Semua kata-kata mu dan perhatian mu, Semua itu sangatlah berlebihan Laura! Kau memperlakukan ku layaknya seorang wanita kepada kekasihnya! Tidakkah kau menyadari semua itu Laura?!"
Kedua mata Laura mendelik mendengar semua penuturan Marvin. "Kau salah paham Marvin!"Kata Laura tanpa berniat menjelaskan semuanya.
"Kesalah pahaman apa yang kau katakan Laura?! Kau ingin mengatakan bahwa cinta yang ku miliki hanyalah kesalah pahaman begitu? Begitu maksud mu Laura?!"Sargah Marvin dengan menggebu-gebu. Laki-laki itu semakin di kuasai amarah saat Laura secara tidak langsung mengatakan bahwa cinta yang dia miliki hanyalah kesalah pahaman.
"Aku tidak pernah mengatakan semua itu Marvin?! Dan satu yang harus kau ingat, bukanlah cinta yang kau miliki kepada ku! Melainkan hanya sebuah obsesi yang suatu saat akan hilang entah kemana."Timpal Laura.
"KAU....!!"Pekik Marvin dengan membolakan kedua matanya dengan kedua tangan yang mencengkeram bahu Wanita yang ada di bawahnya.
"Awww..."Ringis Laura saat Marvin begitu kuatnya mencengkeram bahunya."Kau menyakiti ku Marvin?!"Imbuh Laura dengan ringisan di akhir kalimatnya.
Marvin tersadar atas apa yang dia lakukan setelah mendengar ringisan dari bibir Laura. Dengan cepat Marvin pun bangkit dari atas tubuh Laura.
"Pernikahan kita akan di laksanakan satu Minggu lagi dan selama satu Minggu pula kau tidak di izinkan keluar dari kamar ini." Seru Marvin dengan menahan gemuruh yang ada di dalam dadanya.
"Kau bajingan Marvin?!"Pekik Laura dengan mencengkeram ujung baju yang dia kenakan.
"Dan bajingan ini adalah laki-laki yang sangat mencintai mu Laura Fernandez!" Tukas Marvin sebelum pergi meninggalkan Laura di dalam ruangan tersebut.
"Tuan..."
"Kalian berdua tetap disini dan jaga wanita ku. Jangan biarkan dia keluar satu langkah pun dari kamar ini dan perintah dua orang lagi untuk berjaga di halaman dekat balkon kamar ini."Titah Marvin dengan tegas.
"Baik Tuan..."Jawab mereka dengan serempak.
Tubuh tegap itu perlahan meninggalkan tempat Laura berada. Tatapan Marvin lurus ke depan dengan tatapan mata yang sulit untuk di artikan.
"Jika aku mengetahui bahwa mencintai sesakit ini. Lebih baik aku tidak mengenal cinta seumur hidup ku."Guman Marvin sebelum tubuhnya hilang di dalam ruangan kerjanya.
_
_
_
Para pelayan sudah berbaris rapi di dekat tangga dengan posisi mereka masing- masing menyambut sang pemilik rumah yang akan segera. Dan mereka serempak membungkukkan badannya dan menundukkan kepalanya saat Edward menuruni tangga terakhir dan berjalan melewati mereka menuju ruang makan.
"Selamat pagi Tuan Edward..."
Edward hanya melewati nya saja tanpa berniat menjawab sapaan dari para anak buahnya. "Pergilah dan kerjakan tugas kalian masing-masing."Titah Edward dengan mengibaskan tangannya.
"Baik Tuan..."
Setelah para pelayan itu pergi dan mengerjakan tugas mereka masing-masing dan menyisakan Pak Jang yang tengah berdiri di belakang Edward beberapa langkah.
"Dimana Kaisar?"Tanya Edward kembali melanjutkan langkahnya dengan pak Jang berjalan di belakangnya.
"Asisten Kai telah menunggu di ruang kerja Anda Tuan."Jawab pak Jang.
Setelah sampai di meja makan, Pak Jang pun segera menarik kursi yang akan di duduki oleh Edward dan mengambil sarapan yang telah di siapkan oleh para juru masak untuk di hidangkan kepada Edward.
"Silahkan Tuan..."
"Panggil Kaisar dan beritahu kepadanya untuk sarapan bersama dengan ku."Seru Edward.
"Baik Tuan..."Pak Jang pun segera berjalan meninggalkan Edward dan menuju ke ruang kerja Edward.
"Tuan..."Ucap Asisten Kai setelah sampai di hadapan Edward.
"Duduklah dan makanlah bersama ku."Seru Edward dengan melirik kursi kosong yang ada di sampingnya.
"Tapi Tuan..."
"Kau ingin membantahku!"Sargah Edward dengan menatap tajam Asisten Kai.
Dan akhirnya asisten Kai pun mau tidak mau menuruti perintah Edward dan mengambil makanan yang telah tersedia di atas meja makan.
Sepuluh menit pun berlalu Edward maupun Asisten Kai telah menghabiskan makanannya dan kini kedua laki-laki itu tengah berjalan menuju mobil mewah milik Edward yang telah terparkir di depan pelantara rumah Edward.
"Silahkan Tuan..."Ucap Asisten Kai setelah membuka pintu mobil bagian tengah untuk Edward duduki.
Dengan memutari mobil itu Asisten Kai masuk ke dalam kursi kemudinya, memang di rumah Edward tersedia supir, Namun hanya dengan Asisten Kai Edward merasa nyaman dan untuk supir hanya dengan alasan tertentu saja Edward menyuruh supir untuk mengemudi.
Mobil mewah milik Edward pun mulai berjalan dan meninggalkan rumah mewah itu dan membelah padatnya jalanan ibu kota.
Kedua mata Edward terpejam dan sesekali terdengar helaan nafasnya panjang dari hidung nya. Asisten melirik apa yang tengah di lakukan oleh Edward lewat kaca spion di sampingnya.
"Kenapa kau menatap ku seperti itu? Apakah ada sesuatu yang ingin kau bicarakan?"Kata Edward tanpa membuka kedua matanya.
"Tuan...!!"Asisten Kai terbelalak kaget karena Edward mengetahui bahwa dirinya sedari tadi menatap Edward.
"Tidak perlu kaget seperti itu! Cepatlah utarakan apa yang ingin kau katakan? Aku tidak ingin pekerjaan mu berantakan karena hal ini."Edward berkata dengan menatap tajam Asisten Kai yang kini tengah mengemudikan kendaraan nya.
Asisten Kai menghirup nafasnya dalam- dalam, laki-laki itu tahu bahwa apa yang di ucapkan nya akan membuat amarah Edward tersulut.
"Tuan, Sean memberikan informasi bahwa Nona Bianca tidak sadarkan diri dengan kondisi tubuh yang panas, bahkan beberapa menit sebelum Sean menelepon saya, Sean mengatakan bahwa Nona Bianca mengalami kejang-kejang sebelum tidak sadarkan diri."Tutur Asisten Kai dengan melirik ekspresi wajah Edward.
Sudut bibir Edward terangkat, senyuman penuh kemenangan tercekat jelas di wajah tampannya. "Ckck... Wanita Ja'ang itu." Guman Edward dengan mendecakan kedua bibirnya.
"Tuan..."Panggil Asisten Kai.
"Biarkan saja wanita itu dengan kondisinya yang seperti itu! Tidak perlu memanggilkan dokter untuk wanita Ja'ang itu."Seru Edward tanpa menerima bantahan.
"Syukur-syukur wanita itu mati beserta janin yang ada di dalam kandungan Nya karena sakit yang kini dia derita. Jadi aku tidak perlu mengotori tanganku hanya untuk melenyapkan hama menjijikkan itu." Guman Edward namun masih di dengar jelas oleh Asisten Kai.
"Tuan kenapa Anda bisa jadi seperti ini? Aku seperti tidak mengenal sosok laki-laki yang ada di belakang ku saat ini. Apakah sebuah kebencian dan dendam dapat merubah watak seseorang?"Monolog Asisten Kai di dalam hatinya.
Mobil mewah Edward telah sampai di pelataran perusahaan Dimitri, Asisten Kai segera keluar dari kursi kemudinya dan membukakan pintu untuk Edward.
Semua pegawai baik dari jabatan tinggi maupun yang rendah, telah berbaris rapi untuk menyambut kedatangan sang pemilik perusahaan tiba. Setiap pekan di penghujung bulan perusahaan Dimitri nampak ramai tidak seperti hari-hari biasanya, karena pada hari ini seluruh ceo perusahaan di bawah naungan perusahaan Dimitri berkumpul untuk menyampaikan kinerja mereka selama sebulan ini.
Mereka semua menahan nafasnya saat Edward turun dari mobilnya dengan setelah jas mewah berwarna navy blue dengan dasi bermotif garis-garis menyempurnakan penampilan laki-laki. Dengan langkah tegap nya Edward berjalan memasuki lobby perusahaan Nya. Mereka semua membungkukkan badannya setelah Edward melewati mereka tanpa membalas sapaan mereka.
Asisten Kai menyengritkan kedua alisnya saat mendapatkan pesan dari nomor yang tidak di kenalnya.
Temuilah aku di cafe xxx jika kau ingin mengetahui kebenarannya. Itulah isi dari pesan tersebut. Terdengar begitu ambigu membuat Asisten Kai merasa bahwa pesan itu hanyalah seseorang yang ingin bermain main denganya.
Notes: bagi siapa yang bertanya siapa Marvin, Maka baca part awal-awal pasti kalian tahu siapa itu Marvin.
Jangan lupa
Like
Comment
Vote.
Favorit
Rite