
Bianca dengan setia menggenggam erat tangan mungil Briana yang kini tengah berbalut infusan di pergelangan tangannya.
Ini sudah beberapa jam berlalu setelah Dokter kembali memberikan obat bius kepada Briana. Namun sampai detik ini tidak ada tanda-tanda Briana akan membuka matanya, membuat Bianca sebagai seorang ibu merasa cemas di saat anaknya itu tidak kunjung membuka matanya.
Walaupun waktu sudah menunjukkan pukul tengah malam, Namun kedua manik madu itu enggan untuk menutup kedua matanya karena Bianca ingin saat Briana membuka matanya dia adalah orang yang pertama kali sang anak lihat. Terlebih lagi saat efek obat bius itu hilang dan Briana kembali histeris kesakitan seperti beberapa jam yang lalu dan Bianca tidak ingin hal itu terjadi lagi.
"Bangunlah sayang Mamah menunggumu." Ucap Bianca seraya merebahkan kepalanya di tepat di samping wajah Briana.
"Apakah mimpi mu lebih indah, Sehingga kamu begitu enggan untuk membuka kedua matamu hemm?!"Tanya Bianca dengan menghembuskan nafasnya dengan kasar saat Briana tak kunjung menjawab pertanyaan nya.
"Bangunlah sayang, Jangan membuat Mamah takut seperti ini."Dalam kesunyian malam wanita malang itu tetap terjaga dan menatap Briana begitu lekat tanpa mengalihkan pandangannya sekali pun, Seolah-olah wanita itu takut jika dirinya mengalihkan pandangannya maka Briana akan menghilang dari pandangannya.
Bianca menyeka air mata yang entah kapan keluar dari kedua pelupuk matanya. Bianca tidak kuasa melihat kondisi Briana seperti ini, tubuh mungilnya terpasang beberapa alat untuk memantau perkembangan Briana pasca operasi. Jika saja Bianca bisa memilih, Bianca ingin dirinya saja yang berada di posisi Briana saat ini. Karena Bianca pernah merasakan apa yang Briana rasakan saat ini.
"Bangunlah sayang, Bukankah kamu ingin bertemu dengan Papah mu? Maka cepatlah bangun dan sembuh. Mamah rela melakukan apapun agar kamu bahagia Nak. Meskipun Mamah tahu, hati ini begitu sakit saat kamu begitu mendambakan sosok laki-laki yang telah menghancurkan kehidupan kita Nak." Tutur Bianca berusaha menahan rasa sesak di dadanya saat wanita itu kembali mengingat kepahitan hidup yang dia jalani selama ini.
Hingga sang Surya muncul dan naik ke atas peraduan nya, Bianca tetap membuka kedua matanya meskipun rasa kantuk mendera nya. Namun sebisa mungkin Bianca tahan agar dialah orang yang pertama kali Briana lihat saat membuka kedua matanya.
Atensi Bianca teralihkan saat pintu ruangan Briana di buku dari luar dan masuklah seorang Dokter dan Suster yang menangani Briana kemarin dan Dokter pun meminta izin kepada Bianca untuk memeriksa kembali kondisi Briana.
"Silahkan Dok."Ucap Bianca dengan memundurkan langkahnya dari brankar Briana untuk memudahkan Sang Dokter maupun Suster untuk melakukan tugasnya.
Bianca melihat dengan seksama apa yang di lakukan oleh Dokter dan Suster itu kepada Briana dari awal hingga akhir Dokter itu memeriksa Briana.
"Bagaimana keadaan anak saya Dokter?" Tanya Bianca setelah Dokter itu selesai memeriksa Bianca.
"Keadaan Anak Anda saat ini sudah menunjukkan perkembangan yang cukup baik Nyonya dan begitu pun dengan luka pasca operasi nya."Ujar Sang Dokter itu yang mengerti akan ke khawatiran yang wanita itu rasakan.
"Syukurlah Tuhan."Guman Bianca seraya mengucapkan sejuta syukur kepada sang pemilik kehidupan.
"Lalu kenapa sampai saat ini Anak saya belum sadar juga Dok?"Tanya Bianca dengan guratan ke khawatiran yang masih nampak di raut wajahnya.
"Tenanglah Nyonya. Jika efek obat bius itu menghilang, maka pasien akan berangsur- angsur akan sadarkan diri."Jawab Dokter itu dengan senyuman yang selalu menghiasi wajahnya.
"Baiklah, Terima kasih Dok."Ucap Bianca dengan menundukkan pandangannya.
Bianca pun kembali mendudukkan dirinya setelah Dokter dan Suster itu keluar dari ruangan Briana.
"Apa yang harus hamba mu lakukan Tuhan? Kenapa cobaan ini begitu bertubi-tubi datang di kehidupan hambamu ini Tuhan?" Guman Bianca dengan suara yang menahan tangisannya.
Bianca lelah akan semua permasalahan dan kepahitan yang wanita itu jalani selama ini. Bianca pun mengetahui bahwa Tuhan tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan hambanya itu sendiri. Namun tidak cukupkah selama ini Bianca menjalani kehidupan nya penuh duka dan air mata. Apakah Tuhan begitu tega kepada hambanya yang malang ini.
Bianca menelengkupkan wajahnya di antara kedua tangannya dengan isakan lirih yang membuat siapa saja iba mendengarnya.
Briana adalah alasan Bianca untuk hidup di dunia ini dan jika terjadi sesuatu kepada Briana, maka Bianca tidak tahu apa yang akan dia lakukan jika semua pemikiran buruk itu terjadi.
Entah sudah berapa lama Bianca tenggelam dalam tangisannya, Sehingga Bianca merasakan sebuah tangan mungil mengelus pucuk kepalanya.
"Mamah..."Panggil Briana dengan suara lirihnya.
Seketika Bianca mendongakkan kepalanya dan kedua manik matanya bersitatap dengan tatapan Briana yang kini tengah menatapnya dengan senyuman kecilnya.
"Mamah..."Panggil Briana kembali dengan senyuman yang masih menghiasi wajah cantiknya.
"Briana Anakku..."Pekik Bianca bangkit dari duduknya.
"Syukurlah kamu sudah sadar Nak."Ucap Bianca dengan sejuta syukur wanita itu panjatkan kepada sang pencipta.
"Mamah menangis lagi? Pasti karena Briana kan Mamah menangis lagi?"Tanya Briana dengan menundukkan pandangannya.
"Tidak sayang, Mamah tidak menangis. Ini adalah air mata kebahagiaan karena kamu telah sadar sayang."Tutur Bianca seraya mengusap air mata yang membasahi pipinya.
"Benarkah?"Tanya Briana dengan memiringkan kepalanya untuk melihat wajah Sang Mamah dengan lebih jelas lagi.
"Iya Sayang..."Bianca terkekeh melihat ekspresi wajah yang Briana tunjukkan kepada dirinya.
"Mamah..."
"Ada apa sayang?"
"Haus..."Kata Briana dengan menampilkan jejeran gigi susunya yang membuat Bianca tidak kuasa untuk memberikan ciuman kepada sang anak.
"Astaga Mamah lupa sayang."Cetus Bianca dengan menepuk keningnya.
.
.
.
.
.
Malam berbintang terlihat indah jika di lihat di luar sana, Tirai jendela di biarkan terbuka, Remang lampu tidur tidak menyurutkan dua pasang manusia itu untuk menuntaskan hasrat mereka. Saat deru nafas mereka memanas selimut dan bantal bergeser sesuai dengan gerak tubuh mereka dengan hasrat yang kian memuncak.
"Akhh..."Lenguh Edward saat dirinya telah mencapai pelepasan nya.
Edward menggulingkan tubuhnya ke samping di atas wanita yang telah menghangatkan laki-laki itu malam nya ini. Nafas wanita itu tersengal-sengal dengan dada yang naik turun seiring dengan tarikan nafas wanita itu.
"Tuan..."Panggil wanita itu saat melihat Edward turun dari ranjang mewahnya dengan keadaan tanpa busana yang melekat di tubuhnya.
"Pergilah...!!"Kata Edward tanpa menatap wanita yang beberapa waktu lalu di bawah Kungkungan nya itu.
"Tapi Tuan...!!"Wanita itu sontak menghentikan ucapannya pada saat dirinya mendapatkan tatapan tajam dari laki-laki yang telah menyewa itu.
"Cepatlah dan setelah itu jangan pernah muncul lagi di hadapan ku!"Seru Edward sembari melemparkan sebuah cek kosong ke arah wanita itu.
"Tulislah berapa pun nominal yang kau inginkan dan pergilah sejauh mungkin dari pandangan ku..!!"Edward memicingkan matanya tidak lupa dengan nada suaranya penuh dengan ancaman.
"Ba-baik Tuan..!!"Wanita itu dengan terburu-buru turun dari ranjang yang menjadi saksi penyatuan raga mereka beberapa waktu yang lalu.
Dengan kaki yang bergetar wanita itu pun segera memakai baju nya, yang sebelumnya sempat tertanggal akibat dari has'rat mereka yang menggebu-gebu.
"Ingat, jika ada yang mengetahui apa yang kita lakukan malam ini. Maka kaulah orang yang ku cari pertama kali."Ancam Edward dengan bersungguh-sungguh.
Brug...
Wanita itu terpelanting ke belakang beberapa langkah, saat tubuhnya menabrak sesuatu yang keras di hadapannya.
"Ma-maafkan Sa-saya Tu-tuan."Wanita itu berujar dengan terbata-bata tanpa melihat siapa yang di tabraknya sembari berlalu pergi dari ruangan itu.
"Hemm..."Jawab Sean dengan acuh seraya masuk ke dalam ruangan itu.
"Tuan..."Sean membungkukkan badannya saat berada di hadapan Edward yang kini membalut tubuh polosnya dengan selembar handuk putih.
Edward membalikkan tubuhnya dan menatap Asisten pribadinya itu dengan helaan nafasnya yang berat.
"Bagaimana dengan pekerjaan hari ini?" Tanya Edward yang memang hari ini tidak masuk ke perusahaan di karenakan mood laki-laki itu yang sedang memburuk.
"Semua berjalan sesuai dengan perintah Anda Tuan."Jawab Sean dengan tegas.
"Baguslah..."Kata Edward dengan tersenyum puas.
"Tuan..."Panggil Sean dengan nada yang terdengar ragu-ragu, begitu pun dengan raut wajahnya.
"Ada apa?"
Sean menelan Savilanya dengan susah, karena laki-laki itu tahu bahwa apa yang akan di ucapkan nya dapat mengundang amarah Tuannya itu.
"Kenapa kau diam seperti itu? Cepat katakan apa yang ingin kau katakan..!!"Seru Edward dengan nada yang menuntut.
"Emm, Begini Tuan.... Tuan Morgan terus bertanya kepada saya, kapan Anda turun langsung dengan proyek kerja sama kita dengan perusahaan beliau."Tutur Sean dengan nada penuh kehati-hatian agar amarah Tuannya itu tidak tersulut karena ucapannya.
Edward diam dan menatap Asisten pribadinya itu cukup lama sehingga terjadi keheningan di dalam ruangan itu dalam beberapa saat.
"Pergilah..!!"Titah Edward tanpa menatap Asisten pribadinya itu.
"Tapi Tuan..."Tukas Sean.
"Kau tidak mengerti dengan ucapan ku Sean..!!"Seru Edward dengan nada penuh penekanan.
"Baik Tuan. Saya permisi..."Sean pun segera beranjak dan keluar dari ruangan itu meninggalkan laki-laki itu dengan kesendirian dan kesunyian malamnya.
Edward menghembuskan nafasnya dengan kasar dan dengan sedikit tekanan setelah Sean keluar dari ruangannya saat ini.
Seperti malam-malam yang telah laki-laki itu lalui selama tujuh tahun ini. Kesunyian dan kehampaan menjadi pendamping setia Edward selama ini. Dalam kesendirian nya Edward menatap pekatnya malam dengan sejuta kegundahan yang laki-laki itu rasakan selama ini.
Amarah, Dendam dan kebencian menghancurkan semua kehidupan Edward sehingga tiada bersisa. Kehidupan sempurna yang dia miliki sirna begitu saja karena permainan oleh seorang wanita yang sangat rendah dan menjijikkan di mata Edward.
"Wanita Ja'ang itu..!!"Desis Edward dengan suara yang mengeram karena amarah yang menumpuk di dalam diri laki-laki itu.
.
.
.
.
.
Tanpa terasa satu bulan pun berlalu dengan cepat. Setelah satu Minggu pasca operasi keadaan Briana berangsur-angsur membaik dan Dokter memperbolehkan gadis kecil itu untuk pulang setelah sepuluh hari Briana di rawat di rumah sakit. Kini gadis itu tengah berbaring di atas tempat tidurnya karena Sang Mamah belum memperbolehkan gadis kecil itu untuk melakukan apapun sebelum luka di dada sang anak mengering.
Briana menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan mata yang sulit untuk di artikan. Sesekali gadis kecil itu tampak menghela nafasnya dengan wajah cantiknya yang memberenggut.
Briana mengingat dengan jelas saat dirinya akan melakukan operasi, Sang Mamah berjanji akan mempertemukan dirinya dengan Papah kandungannya dengan syarat Briana bersedia melakukan operasi. Namun, sampai saat ini belum ada tanda- tanda bahwa Bianca akan menempati janji yang telah wanita itu ucapkan. Bahkan sudah beberapa kali Briana menyingung tentang janji yang telah sang Mamah buat, akan tetapi Bianca selalu mengalihkan pembicaraan mereka.
"Apakah Mamah melupakannya?"Guman Briana dengan menopang dagunya.
"Bukankah Mamah sudah berjanji kepada Ana? Tapi kenapa Mamah melupakannya?" Monolog Briana dengan wajah yang semakin memberenggut.
Jika Briana bisa, Briana ingin sekali menangih janji yang telah di buat oleh Mamah nya tersebut. Akan tetapi, Briana selalu mengingat wajah sendu Sang Mamah yang kerap kali Briana lihat setelah dirinya bertanya tentang keberadaan Papah kandungannya.
"Briana ingin bertemu dengan Papah Briana. Tapi Briana juga tidak ingin melihat Mamah menangis karena keinginan Briana."Tutur Briana dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Briana harus bagaimana Tuhan?"Ujar Briana kepada Sang Pemilik takdir kehidupan.
Tanpa sengaja tatapan mata Briana melihat sesuatu yang begitu melukai hati gadis kecil itu. Dimana Briana melihat tetangga di samping rumahnya tengah belajar sepeda dengan Ayahnya.
"Briana juga ingin seperti itu."Lirih gadis kecil itu dengan suara yang menahan tangisannya.
"Briana ingin bertemu Papah dan memeluk Papah, seperti teman-teman Briana lainnya."Rupanya gadis kecil itu tiada kuasa menahan air mata yang kini menumpuk di kedua matanya.
Gadis kecil itu menangis dalam diam seraya menggigit bibir bawahnya. Briana tidak ingin suara tangisannya terdengar oleh Sang Mamah.
"Apa yang harus Briana lakukan Tuhan? Di satu sisi Briana ingin bertemu dengan Papah. Namun di sisi lain Briana tidak ingin membuat Mamah kembali terluka dan menangis karena permintaan Briana yang tidak masuk akal ini."Seru Briana dengan menengadahkan kepalanya dengan cairan bening yang tidak henti-hentinya keluar dari kedua pelupuk matanya.
Tubuh Bianca melemah dan tidak kuasa menahan tubuhnya saat mendengar semua perkataan dari anaknya itu.
Briana begitu merindukan sosok Ayah di dalam kehidupannya. Namun apakah Bianca bisa mewujudkan impian anaknya itu. Bukan Bianca tidak ingin menepati janjinya kepada Briana. Namun Bianca tidak ingin melihat kekecewaan dan kesedihan di raut wajah Briana, setelah anaknya itu mengetahui bahwa Papah yang selama ini dirinya rindukan sama sekali tidak menginginkan kehadiran nya.
"Maafkan Mamah, Nak..."
"Maafkan Mamah..."Ucap Bianca dengan menenggelamkan wajahnya di antara kedua lututnya.
Jangan lupa
Like
Comment
Rate
Vote
Favorit