
"Untuk Apa Kak Agnes mencari Bianca?"Tanya Bianca setelah duduk berhadapan dengan kakak satu bapaknya.
Agnes hanya diam tanpa berniat untuk menjawab pertanyaan dari Bianca. Namun wanita hamil itu dapat melihat dengan jelas senyuman seringai di bibir wanita yang ada di hadapan Nya.
"Jika memang tidak ada yang ingin kak Agnes bicarakan, Bianca permisi ke belakang dahulu."Wanita hamil tampak akan beranjak
dari posisinya, Namun sebuah tangan mencengkram lengannya sehingga membuat pergerakan wanita hamil itu terhenti.
"Ternyata setelah sekian lama kau semakin berani."Decak Agnes dengan senyuman miring yang tercekat jelas di sudut bibirnya.
"Tidakkah kakak merasa Lelah? Dari dahulu sampai sekarang kakak selalu menggangu ku?" Tukas wanita hamil itu dengan menatap mata sang kakak dengan penuh keyakinan.
"Lelah?"Agnes tampak terkekeh dan senyuman seringai semakin nampak jelas di wajah cantiknya.
"Aku tidak akan pernah lelah! Bahkan sampai tubuh rentanmu tidak dapat lagi menopang barat badan mu dan tubuh kotormu menyatu dengan tanah! Aku tidak akan pernah puas melihat mu menderita!"Sarkas Agnes dengan menggebu-gebu. Bahkan wanita itu tidak segan menunjuk wajah Bianca dengan wajah yang memerah padam.
Pikiran kembali berkelana tentang kejadian belasan Tahun silam yang menorehkan luka yang cukup dalam baginya, Sehingga membuat sifat dan karakter Agnes menjadi keras. Di saat Sang Papah di ketahui telah memperkosa pelayan di rumahnya, Sehingga pelayan itu hamil dan membuat keluarga yang semulanya harmonis berubah. Tidak ada lagi keceriaan di dalamnya, Kini berubah menjadi pertengkaran pertengkaran yang membuat jarak di Antara kedua orang tua Agnes merenggang hingga saat ini.
"Kak Agnes!"Bianca membelikan kedua matanya saat mendengar kata yang begitu kasar keluar dari mulut wanita itu.
"Kenapa? Marah?"Ucapnya dengan mengeluarkan beberapa lembar kertas dan foto di dalam tasnya, Namun Bianca tidak dapat melihat dengan jelas karena Agnes langsung menaruhnya dengan posisi terbalik di atas meja.
"Jika memang kak Agnes hanya mencari keributan disini, lebih baik kak Agnes keluar saja dari sini!"Usir Bianca dengan menunjuk pintu keluar restoran tersebut.
"KAU...!!"Pekik Agnes dengan Amarah yang mulai tersulut karena perbuatan yang di lakukan oleh Bianca.
"Kak Agnes marah? Seharusnya yang marah disini adalah Bianca bukan kak Agnes."Ucap wanita hamil itu berusaha merendam amarah yang kini membelenggu dirinya.
"Dasar wanita Sialan!"Umpat Agnes Seraya berjalan ke arah bianca dan menjambak rambut Bianca.
"Akhhh Apa yang kau lakukan kak!"Pekik Bianca saat rambut di Jambak dengan kencang oleh sang Kakak.
Bianca meronta dan berusaha melepaskan jambakan sang kakak dari rambutnya. Namun semua usahanya nihil karena Agnes tidak melepaskan jambakannya.
"Dasar manusia kotor! Pantas saja Papahku tidak ingin mengakui mu sebagai anaknya. Bahkan ibu kandung mu sendiri enggan menganggap mu sebagai anaknya dan lebih memilih meninggalkan mu dari pada membesarkan Anak Haram seperti mu." Seru Agnes dengan menggebu-gebu bahkan Agnes dengan sengaja semakin mengeratkan jambakannya.
"Akhhh Jangan keterlaluan seperti itu Kak Agnes! Jangan pernah sekalipun Kak Agnes membawa Bunda Bianca yang telah tenang disana!"Sargah Bianca dengan memelintir tangan Agnes di rambutnya, Sehingga kini posisi mereka terbalik.
"Ja*ang Sialan! Apa yang kau lakukan Hah." Pekik Agnes saat tubuhnya terhimpit meja oleh Bianca.
"Sejak dahulu Bianca selalu bersabar dan menahan atas semua yang Kak Agnes lakukan kepada Bianca. Namun Jika kak Agnes membawa bawa Nama Bunda Bianca, Bianca tidak akan pernah segan untuk membalas ucapan maupun perbuatan Kak Agnes!"Seru Bianca tanpa melepaskan tangan Agnes dari cengkeraman Nya.
"Ckck untuk apa aku membohongi mu, Jika tidak percaya kau bisa melihat kertas perjanjian antara Papah dan Mamah mu itu!"Tukas Agnes dengan bersungguh sungguh.
"Kak Agnes pikir Bianca akan percaya setelah semua yang Kak Agnes lakukan kepada Bianca?"Pungkas Bianca dengan meninggikan suaranya.
"Dasar manusia bodoh! Selama ini kau telah tertipu dengan cerita pelayan Sialan itu!"Agnes berusaha melepaskan cengkraman Bianca di tangannya.
"Jangan menipu ku Kak..!!"Sahut Bianca.
"Siapa yang menipu mu Sialan! Jika kau tidak percaya, aku telah membawa beberapa bukti agar kau mempercayai ucapan ku."UJar Agnes dengan menggebu-gebu membuat Bianca membeku di tempatnya. Kini otaknya tengah bekerja dengan keras memikirkan kemungkinan kemungkinan yang terjadi kepada dirinya.
"KAK..!!"Ucap Bianca dengan suara yang tercekat."Kak Agnes tidak berbohong kan? Kak Agnes tidak sedang mempermainkan Bianca kak..?"Imbuh Bianca dengan suara paraunya.
"CKck lepaskan."Tubuh Bianca Kini melemah sehingga dengan mudahnya Agnes melepaskan cengkraman Bianca.
"Untuk apa aku membohongi mu? Tidak gunanya untukku! Lihatlah jika kau tidak mempercayai semua ucapan ku!"Dengan kasarnya Agnes melempar beberapa lembar kertas ke arah Bianca, Sehingga berhamburan di atas lantai tempat Bianca berpijak.
Bianca mengambil satu persatu kertas tersebut. Dan membacanya dengan seksama, Tanpa sadar air mata Bianca menetes melihat tulisan yang tertera di atas kertas tersebut. Dimana Bunda Bianca menyerahkan Bianca sepenuhnya kepada Sang Papah dan tidak lagi memiliki hubungan apapun setelah dirinya menandatangani surat perjanjian tersebut. Dan Agnes pun menyertakan beberapa foto Sebuah keluarga yang tampak bahagia dengan seorang wanita yang tidak asing di penglihatannya.
Tubuh wanita hamil itu semakin melemah dan sendi sendi di tubuhnya tiada terasa. Air mata semakin deras keluar dari pelupuk matanya dan tanpa sadar tubuhnya terjatuh.
"Tidak mungkin!"Lirih Bianca dengan suara paraunya, kedua matanya berkaca-kaca dan tampak cairan bening menumpuk di kedua pelupuk matanya.
Agnes yang melihat Bianca terpuruk seperti itu pun tersenyum penuh kemenangan. Tiada rasa belas kasihan wanita itu rasakan kepada adiknya, Karena rasa dendam dan kebencian membuat hatinya membeku.
"Kak Agnes berbohong kan?"Tanya Bianca dengan mendongkakkan kepalanya."Tidak mungkin Bunda Bianca berbuat hal seperti ini? Kak Agnes pasti sedang membohongi ku kan.." Sambung Bianca dengan mengusap wajahnya dengan kasar.
"Dasar manusia bodoh! Sudah ku tunjukkan semua bukti bukti nya. Kau masih saja tetap tidak mempercayai ku."Seru Agnes dengan berdecak pinggang.
"Bunda, Tidak mungkin kan Bunda berbuat sekejam ini kepada Bianca?"Guman wanita hamil itu dengan tersenyum getir.
Bianca berusaha menyangkal akan semua bukti bukti yang telah Agnes tunjukkan kepada dirinya. Dahulu Bianca pernah berharap bahwa sang ibunda masih hidup di dunia ini dan menemaninya melawan kerasnya kehidupan ini. Namun setelah mendapatkan kenyataannya, Jiwa dan pikiran Bianca menolak atas kebenaran yang kini dirinya hadapi. Dimana Sang ibunda ternyata masih hidup dan tidak menginginkan kehadirannya, Sehingga lebih menyerahkan dirinya untuk di besarkan kepada Sang Papah.
"Tidak...! Tidak...!"Bianca berteriak layaknya orang yang kehilangan akalnya, Sehingga menyebabkan beberapa pelayan masuk ke dalam ruangan itu.
"Jika kau tidak percaya pergilah ke Alamat ini. Ini adalah Alamat dimana Orang tua mu tinggal."Kata Agnes dengan senyuman miringnya. Wanita itu tampak memberikan selembar kertas kepada Bianca dan berjalan keluar dari restoran itu, tanpa menoleh ke belakang melihat bagaimana kondisi Bianca setelah dirinya memporak porandakan pertahanan Bianca selama ini.
Setelah Agnes keluar dari ruangan tersebut. Teman teman seprofesinya segera mengerubungi Bianca untuk melihat kondisi wanita hamil tersebut.
"Bianca kau baik baik Saja?"Tanya salah satu teman Bianca seraya menepuk pipi wanita hamil tersebut.
"Bunda..."Ucapnya setelah lama mulutnya terbungkam. Pandangan Bianca tampak kosong. Namun cairan bening tidak henti hentinya keluar dari kedua pelupuk matanya. Jiwa Bianca terasa melayang mendapatkan kenyataan pahit yang lagi lagi mengguncang psikisnya sehingga membuat Bianca tidak berdaya.
"Ada apa ini! Kenapa kalian berkerumun seperti itu!"Seru laki laki bertubuh gempal yang berprofesi sebagai manager tempat Bianca bekerja.
"Dan kau Bianca, Kenapa kau duduk seperti itu."Bianca hanya bungkam dan menatap sekilas ke arah laki laki gempal itu.
"Kau pikir, Kau pemilik restoran ini. Sehingga kau dapat berlaku sesukamu!"Seru Laki laki dengan berdecak pinggang.
Tanpa berkata Bianca bangkit dan berlari keluar dari restoran tersebut. Wanita hamil itu tidak mempedulikan teriakan Laki laki gempal itu untuk kembali masuk ke dalam restoran.
"Taksi..."Pekik Bianca.
Bianca segera masuk ke dalam taksi tersebut. "Anda mengetahui jalan ini pak?"Bianca menyerahkan selembar kertas kepada supir taksi.
"Baik Nona."Sang Supir mengangukan kepalanya dan segera melajukan mobilnya membelah padatnya jalanan ibu kota.
Bianca menyandarkan kepalanya, pikiran wanita malang itu berkelana tentang semua permasalahan yang kini menimpa dirinya dengan silih berganti menerpa hidupnya.
"Ya Tuhan Bianca harus bagaimana?Tidak mungkin Bunda melakukan hal yang keji itu kepada Bianca?"Cairan bening lagi lagi keluar dari pelupuk matanya.
Tiga puluh menit berlalu. Mobil taksi itu sudah sampai di tempat tujuan Bianca, Namun wanita hamil itu terlihat masih enggan untuk keluar dari lamunannya. Dan sudah beberapa kali supir taksi itu memanggil Bianca, Namun Bianca tampak tidak menyahuti Seruan dari supir taksi tersebut.
"Nona kita sudah sampai."Seru Sang Supir taksi dengan menepuk pundak Bianca.
"Apa Benarkah..?!"Sahut Bianca dengan mengedarkan pandangannya."Maaf ya Pak, Saya melamun."Sambung nya dengan penuh sesal.
"Terima kasih ya Pak."
"Ini terlalu banyak Nona."Ujar supir taksi itu.
"Di ambil saja kembaliannya Saja pak."Sahutnya sembari berjalan ke arah rumah yang ada di hadapan Nya. Wanita hamil itu menengadahkan kepalanya melihat sebuah rumah yang ada di hadapan nya, Yang bisa di bilang Cukup mewah dengan pekarangan rumah yang banyak di penuhi oleh pepohonan dan berbagai macam bunga bunga.
Bianca memundurkan langkahnya. Wanita hamil itu merasa tidak sanggup melihat sebuah kebenaran yang akan dirinya.
"Ada yang bisa saya bantu Nona?"Tanya seorang securuti disana yang melihat seorang wanita hamil tengah berdiri di depan gerbang dengan keadaan seperti orang linglung.
"Hardi Hardi..."Pekik seseorang wanita dari dalam rumah mengalihkan atensi Bianca maupun dengan satpam tersebut.
Tampak seorang wanita setengah parubaya berjalan dari dalam rumah dan menuju ke arah mereka. Bianca mematung di tempatnya dengan kedua mata yang terbelalak dengan hati yang hancur berkeping-keping melihat kenyataan pahit yang menerpa kehidupan nya.
"Bunda..."Lirih Bianca dengan menundukkan kepalanya seraya menyeka air matanya.
"Ternyata apa yang di katakan oleh Kak Agnes benar. Bunda tidak menginginkan kehadiran ku, Bunda membuang Bianca. Ternyata perkataan Bibi Ellen semuanya salah! Bibi Ellen membohongi Bianca selama ini."Guman Bianca dengan mengerjab ngerjabkan matanya karena air mata yang menghalangi penglihatan Nya. Bianca menatap Lamat lamat wanita yang ada di hadapan Nya. Seolah olah wanita hamil itu sedang menyimpan bingkai wajah Cantik Sang Ibunda.
"Siapa Dia?"Tanyanya dengan menatap sekilas ke arah Bianca.
"Saya tidak Tahu Nyonya. Wanita itu berdiri di depan pintu gerbang sedari tadi seperti orang linglung."Tutur Security tersebut.
"Benarkah?"Katanya dengan menutup mulutnya. Wanita itu berjalan ke arah Bianca dan menepuk pundak wanita hamil itu.
"Nak, Kau baik baik Saja."Bianca memejamkan matanya saat rasa hangat dan sulit di definisikan mengalir di tubuhnya saat tangan wanita itu menyentuh Nya.
"A-apakah Anda yang bernama Nyonya Liliana?" Tanya Bianca dengan lirih dan menatap Sosok wanita yang selama ini di rindukan dirinya.
"Iya, Ada yang bisa saya bantu?"Tanya wanita itu dengan menyematkan senyuman Nya.
Bianca memundurkan langkahnya dengan memejamkan matanya seiring dengan air mata yang semakin membasahi wajah cantiknya.
"Tidak! Sepertinya Saya salah orang."Tanpa mengatakan apapun Bianca segera pergi meninggalkan dua orang yang kini tengah kebingungan melihat apa yang telah di perbuatnya.
"Kenapa dengan wanita itu?"
"Hardi jika ada orang seperti tadi lagi, Lebih baik kau usir saja dia dari rumah ini."Titah wanita itu langsung di angguki oleh Security tersebut.
_
_
_
Kini Bianca membutuhkan seseorang yang dapat merengkuh dan menguatkan Bianca saat dirinya berada di titik terendah dalam hidupnya. Dan Lizalah satu satunya orang yang dapat memberikan itu semua kepada Bianca. Walaupun tidak ada hubungan darah di antara mereka, Namun Liza memberikan dan mencurahkan kasih sayang yang berlimpah bagi Bianca.
Bianca sudah mengelilingi rumah mewah Edward. Namun nihil, Bianca tidak dapat menemukan wanita baik hati tersebut. Perasaan nyaman tiba tiba saja menyeruak di dalam perasaan wanita hamil itu.
"Dimana kak Liza?!"Lirih wanita hamil itu dengan mengedarkan pandangannya. Tempat tempat yang biasa Liza datangi sudah Bianca lihat, Namun batang hidung wanita itu sama sekali tidak terlihat.
"Permisi."Bianca berujar saat seorang pelayan berjalan di hadapannya. Raut masam terlihat jelas di wajah pelayan tersebut.
"Ada apa?"Ketusnya.
"Apakah Anda melihat kak Liza?"Tanya Bianca seolah tidak melihat wajah masam pelayan tersebut.
"Ckck pura pura bodoh dia!"Decak pelayan itu dengan menatap sinis ke arah Bianca.
"Maksud Anda Apa mengatakan hal yang tidak pantas itu kepada Saya!"Tukas Bianca.
"Kau memang pantas mendapatkan hal itu! Karena membantu mu, Liza mendapatkan masalah. Liza harus menerima hukuman dari Tuan Edward karena telah melanggar perintahnya untuk tidak memberikan mu makan dan minum. Dan kini Liza di asingkan entah kemana oleh Tuan Edward."Seru Pelayan itu membuat kedua mata bianca terbelalak.
"APA."Pekiknya.
"Anda tidak berbohong kan?"Tanya Bianca dengan memundurkan langkahnya.
"Dasar Manusia Bodoh! Untuk apa aku berbohong hal seserius ini kepada mu."
Pungkas pelayan itu.
Dan lagi lagi Bianca mendapatkan kenyataan pahit yang menimpa dirinya. Tanpa berkata Bianca berlari ke ruang kerja Edward dan membuka pintu ruangan itu dengan kasar. Sehingga Edward dan Asisten Kai yang ada di dalamnya terkejut akan tindakan yang di lakukan oleh Bianca.
"APA YANG KAU LAKUKAN SIALAN!"Sentak Edward dengan membolakan kedua matanya. Rahang laki laki itu mengeras seiring dengan amarah yang kini membelenggu laki laki tersebut.
"Tuan apa yang Anda lakukan? Kenapa Anda menghukum kak Liza? Bukankah disini yang salah adalah Bianca, mengapa Tuan menghukum seseorang yang tidak bersalah?" Pekik Bianca setelah berdiri di hadapan Edward.
Edward terkekeh tanpa membalas Seruan dari wanita berstatus sebagai istrinya.
"Jika Tuan ingin menghukum, Maka hukumlah Bianca. Karena Bianca adalah akar dari semua permasalahan yang Tuan hadapi saat ini." Bianca berujar dengan menggebu-gebu bahkan tanpa segan wanita hamil itu menatap Edward dengan tajam.
"Kau menantang ku?"Tukas Edward dengan tersenyum miring.
"Jika memang itu yang Tuan Edward inginkan, Maka lakukanlah. Hukumlah Bianca dengan sesuka Tuan Edward, Sehingga Tuan Edward merasa puas."Sahut Bianca membuat Asisten Kai yang sedari tadi diam menonton perdebatan antara suami dan istri tersebut membelikan kedua matanya.
"Nona Bianca."Sela Asisten Kai.
"Diamlah kau Kaisar! Siapa yang mengijinkan mu berbicara!"Sargah Edward.
"Maafkan Saya Tuan."Ucap laki laki itu dengan menundukkan kepalanya. Dan Asisten Kai hanya bisa berdoa agar Edward tidak melakukan sesuatu yang dapat menimbulkan penyesalan bagi laki laki itu di kemudian hari.
"Ambilkan Aku Cambuk Kai."Titah Edward membuat Asisten Kai membeku di tempatnya.
"Tuan..."
"Sebaiknya kau diam! Dan cepatlah turuti perintah ku.."Pungkas Edward dan mau tidak mau Asisten Kai menuruti semua perintah dari Tuannya tersebut.
Jangan lupa
Like
Comment
Rate
Vote