
"Sekarang kita pergi dulu. Eomma sama appa mau ajak Kiki jalan-jalan."
"Jayan?"
"Iya. Kita mau ke tempat permainan."
"Yeay .." Kiki sangat senang mendengar kata main. Itu artinya ia akan bersenang-senang.
"Kami permisi dulu." Hana berpamitan dengan pengurus panti.
"Bila anda masih ragu, anda bisa mencoba menitipkan Kiki beberapa hari di sini. Gratis," ucap pengurus daycare.
Gratis?
Siapa yang nggak suka gratisan?
"Saya akan membicarakannya dengan suami saya. Kami permisi dulu."
"Bye ... Bye .. " Kiki berpamitan dengan teman-temannya.
"Bye ... Bye ..."
Hana, Jung Kook dan Kiki menuju ke daycare yang sudah masuk list Jung Kook.
Mereka melihat-lihat lagi daycare yang kedua.
Cukup bagus.
Eomma jadi bingung, Ki.
Mau titipin Kiki di mana.
Setelahnya mereka menuju ke tempat permainan.
Kiki hanya bisa bermain kuda mainan yang bergoyang. Sebenarnya Hana bingung mengapa Kiki dan dirinya sewaktu masih masih kecil menyukai permainan seperti itu.
Sedangkan Jung Kook bermain basket. Ia terkadang mencetak skor, terkadang tidak.
Kiki mendekati Jung Kook.
"Kiki mau coba lempar bolanya?"
"Iya ..."
Jung Kook mengangkat Kiki. Kiki mengambil bola dan mencoba melemparnya. Bola basket yang ukurannya lebih besar dari kepala Kiki dan cukup berat bagi Kiki hanya bisa terlempar tidak jauh dari tangan Kiki.
Kemudian mereka mendekati mainan mesin capit.
"Kiki mau yang mana?" Jung Kook menggendong Kiki agar bisa melihat jelas boneka-boneka yang berada di dalam box.
Kiki memperhatikan boneka-boneka dengan seksama. Ia kemudian menunjuk boneka yang ia inginkan.
"Poyoyo ..." Kiki menunjuk boneka karakter penguin bernama Pororo.
"Pororo?"
Itu cukup sulit, Ki.
Letaknya di ujung.
Tapi appa coba aja.
"Appa coba, ya. Kalau nggak dapet nggak pa pa, ya?"
Kiki menggelengkan kepalanya ~ Appa hayus dapet Poyoyo.
Kiki yang sudah menantikan boneka Pororo sedikit kecewa.
"Sory, Ki. Appa belum berhasil." Jung Kook melihat Kiki yang kecewa.
"Appa coba lagi." Jung Kook memasukkan koin lagi. Tapi ia gagal lagi.
Jung Kook mencoba lagi. Percobaannya yang ketiga. Tapi ia masih gagal.
Saat yang keempat, Hana mencegah Jung Kook "Sudah ..."
"Noona ... Sekali lagi. Kalau nggak dapet, aku nyerah."
"Okay. Habis itu stop. Aku sudah lapar. Waktunya makan siang."
Jung Kook memasukkan koin lagi.
Ki ...
Doakan appa supaya bisa dapetin Pororo.
Kiki mengatupkan kedua tangannya. Ia berharap ayahnya berhasil mendapatkan boneka pilihannya.
Jung Kook mulai menggerakkan capit. Capit mendekat ke boneka Pororo. Kali ini capitnya berhasil menangkap badan Pororo. Perlahan capit itu mencapit Pororo dan mulai bergerak.
Terus ...
Jangan sampai lepas.
Jung Kook sangat berharap ia bisa berhasil mendapatkan boneka Pororo untuk Kiki.
Akhirnya Jung Kook berhasil mendapatkan boneka Pororo.
"Yeay ..." Kiki bersorak saat ia mendapatkan boneka Pororo.
"Eomma ... Poyoyo ..."
"Kiki suka?"
"Suka ..."
"Bilang terima kasih sama appa."
"Teyima kasih." Kiki berterima kasih ke Jung Kook.
"Kuya-kuya ..." Kiki ingin boneka yang lain.
"Sudah dulu, Ki. Eomma lapar. Kita makan dulu. Kiki juga lapar, kan?" Hana tahu koin mereka bakal habis hanya untuk bermain mesin capit. Mungkin malah lebih murah beli di toko. Tapi sensasi berhasil mendapatkan sesuatu di mesin capitlah yang membuat ketagihan.
Noona ...
Mendapatkan boneka Pororo itu sangat tidak mudah.
Butuh percobaan berkali-kali.
Pertama, kedua, ketiga aku gagal.
Pada percobaan keempat, aku berhasil.
Sama seperti perjuanganku mendapatkan cinta Noona.
Meskipun aku gagal berkali-kali, aku akan tetap berusaha.
Aku yakin suatu saat nanti hati Noona bakal jadi milikku seutuhnya.
Aku yakin itu.