
Saat sang surya telah menunjukkan wajahnya ...
"Tok ... Tok ... Tok ..." Tae Tae mengetuk rumah terapung.
"Sebentar ...." Jung Kook yang sudah bangun membuka pintu. Tubuhnya cepat pulih. Mungkin karena ia sering berolahraga.
Jung Kook membuka pintu. Ia melihat Tae Tae.
"Ini ... Aku bawain bubur untukmu dan Hana" Tae Tae menyerahkan tas plastik berisi bubur hangat yang baru saja dibelinya.
"Masuk, Hyung. Kita makan sama-sama" ajak Jung Kook. Tae Tae adalah penyelamatnya. Ia berhutang nyawa ke Tae Tae. Jadi, ia harus bersikap baik.
Tae Tae pun masuk. Hana masih tertidur. Jung Kook hendak membangunkan Hana.
Hana menaikkan bajunya ke atas sebatas perut. Memperlihatkan perut donatnya. Jung Kook menarik baju Hana ke bawah.
"Noona ... Ada Tae Hyung," ucap Jung Kook membangunkan Hana.
Hana masih saja tidur. Ia menarik bajunya ke atas lagi. Ia merasa sedikit panas.
Noona!
Jung Kook membetulkan baju Hana.
"Kookie ... Biasanya juga kau yang melucuti bajuku setiap malam" ucap Hana setengah sadar. Masih dalam keadaan mata tertutup.
Noona! ~ Muka Jung Kook memerah.
Hana hendak menarik lagi bajunya sampai ke atas tapi dicegah Jung Kook.
"Hmm ... Hmm ..." Tae Tae berdehem.
Hmm ... Hmm?
Sejak kapan suara Jung Kook jadi berat?
Yang punya suara berat itu Tae oppa.
Tae oppa?
Mata Hana langsung terbuka. Ia melihat Tae Tae di depannya.
"Kookie ... Sisir." Hana meminta Jung Kook mengambilkan sisir untuknya.
Penampilanku pasti berantakan sekarang.
Jung Kook tahu ia juga harus membawa cermin untuk Hana. Hana merapikan rambutnya yang berantakan.
"Tae Hyung membelikan bubur untuk kita" ujar Jung Kook sambil membuka kemasan bubur dan memberikannya ke Hana. Ia kemudian membuka bubur miliknya.
"Gomawo, oppa." Hana berterima kasih.
Mereka pun makan bersama.
"Noona ... Biasanya juga Noona nggak pernah sisiran." Jung Kook menyindir Hana di depan Tae Tae.
"Noona ini, Hyung"
"Kalau di rumah rambutnya itu selalu rambut singa," curhat Jung Kook.
Hana langsung meletakkan ibu jarinya di pipi kanan Jung Kook dan jari-jari lainnya di pipi kiri Jung Kook. Mempoutkan bibir Jung Kook. Sebagai isyarat agar Jung Kook tidak berbicara lebih lanjut lagi.
"Noona ini, Hyung. Juga sering siksa aku," curhat Jung Kook lagi setelah Hana melepas jari-jarinya.
Jari-jari Hana sudah bersiap-siap mencubit pipi Jung Kook. Tapi Jung Kook sudah cekatan. Ia berhasil mengamankan pipinya. Ia mengatupkan jari-jari tangannya di pipinya .
Tangan Hana bergerak ke hidung Jung Kook. Daerah yang masih bisa ia cubit.
Kookie ... Aku tadi sudah baik-baik untuk tidak mencubitmu di depan Tae oppa. Kenapa masih mengadu lagi.
Tae Tae hanya bisa cemburu melihat keakraban mereka ~ Hana ... Aku nggak masalah kau cubit setiap hari.
"Jiji ...." Kiki yang baru saja terbangun memanggil Tae Tae. Ia bergerak ke arah Tae Tae.
"Ki ... Kiki harus ganti popok dulu."
"Kasihan Tae samchon kalau cium bau ompol Kiki," kata Jung Kook mengingatkan.
"Sini ... Appa ganti popok Kiki." Jung Kook pun mengganti popok Kiki.
Baru saja Jung Kook melepas popok Kiki, Kiki buang air kecil lagi dan mengenai wajah Jung Kook.
Ki!
Kiki tertawa. Hana dan Tae Tae juga ikut tertawa melihat wajah Jung Kook yang basah.
Jung Kook segera membasuh mukanya dan mengganti pakaiannya yang terkena air alami Kiki.
Pagi-pagi sudah dapat hadiah dari Kiki.
Hana membersihkan ompol Kiki dan memasang popok baru ke Kiki.
Kiki yang sudah memakai popok baru menuju ke arah Tae Tae. Ia duduk di pangkuan Tae Tae dan memakan bubur dari suapan Tae Tae.