Oh My Baby

Oh My Baby
Part 21


Sudah satu Minggu lebih Bianca di rawat di rumah sakit tersebut. Dengan segala pasilitas mewah yang dirinya terima. Sungguh itu membuat Bianca berpikir berapa biaya yang harus dirinya keluarkan untuk membayar semua pasilitas yang dirinya terima. Bianca mengusap wajahnya dengan kasar menatap langit langit kamar rawat yang selama satu Minggu lebih dirinya tempati. Belum Bianca menemukan cara untuk menggantikan semua kerugian kerugian Edward, Kini beban pikirannya kembali bertambah untuk membayar semua biaya perawatan dirinya seminggu ini. Terlebih lagi Bianca menyadari bahwa ruangan yang dia tempati bukanlah ruangan biasa, akan tetapi sebuah Ruangan VVIP yang tidak sembarang orang lain masuki.


"Ya Tuhan! Bianca harus bagaimana?"Cetus Bianca dengan mengusap wajahnya dengan kasar.


"Nona Bianca Anda baik baik saja?"Tanya Perawat yang selama ini menjaga dan merawat Bianca selama di rumah sakit ini.Namun pertanyaan itu bagaikan angin lalu untuk Bianca, Karena nyatanya wanita hamil itu hanya terdiam dan terhanyut dalam lamunannya.


Perawat itu menghentikan kegiatannya membereskan barang barang wanita hamil itu. Langkahnya mendekat ke arah yang tengah duduk termenung di atas brankar rumah sakit.


"Nona..."Seru perawat itu seraya menepuk pundak Bianca. Sehingga membuat wanita itu tersentak dalam lamunannya.


"Iya Sus? Anda berbicara dengan Saya?" Ucap Bianca dengan mengerjab ngerjabkan kedua matanya.


"Anda baik baik saja Nona? Ingat perkataan Dokter Clarissa tadi, bahwa kandungan Anda lemah dan rentan kembali pendarahan dan memikirkan sesuatu yang berat dan stress itu dapat mempengaruhi kondisi kandungan Anda yang lemah."Tutur Perawat itu membuat Bianca seketika memegang perutnya. Dimana buah hatinya kini tengah bersemayam dan berbagi raga dengan dirinya.


"Baik Sus."Jawab Bianca dengan tersenyum kecil. Lagi lagi dia melupakan kondisi kandungan yang kini melemah karena penyiksaan Edward di malam kelam itu.


"Maafkan Mamah Nak. Mamah terlalu egois memikirkan kondisi mamah saat ini, Tanpa mempedulikan keadaan kalian yang bergantung hidup dengan kondisi Mamah." Kata Bianca seraya menatap selembar foto berwarna hitam dengan dua titik titik kecil di dalamnya.


Tangan ringkih itu mengusung foto hasil Usg dirinya beberapa hari yang lalu. Bianca tidak dapat berkata apa-apa melihat perkembangan kedua permata hatinya yang sedikit membaik hari ke hari. Walaupun sempat melemah karena tindakan Edward kepada dirinya malam itu. Memikirkan itu, membuat Bianca tidak habis pikir kepada laki-laki yang berstatus sebagai suaminya tersebut. Terlebih lagi Bianca mendengar detak jantung kedua buah hatinya, sehingga Bianca tidak dapat menahan air mata kebahagiaan keluar dari kedua pelupuk matanya.


"Sus, bisakah Anda mengantarkan saya ke tempat Administrasi?"Ucap Bianca yang tidak dapat lagi menahan rasa penasaran tentang Nominasi yang harus dirinya keluarkan untuk semua pasilitas yang dia terima dan gunakan selama seminggu lebih ini. Terlebih lagi Nanti Sore Bianca telah di perbolehkan pulang oleh dokter yang selama ini merawatnya.


"Baik Nona."Perawat itu pun membantu Bianca untuk turun dari tempat tidur dan berjalan ke kursi roda yang selalu berada di dalam ruangan wanita itu.


Perawat itupun mendorong kursi roda yang Bianca duduk menuju ruangan Administrasi. Setelah sampai disana Bianca menanyakan tentang berapa Uang yang harus Bianca bayar selama wanita itu di rawat di rumah sakit ini.


"Dengan Nama siapa?"Tanya petugas Administrasi itu seraya menatap layar komputer yang ada di depannya.


"Bianca Jackson Nona."Jawab Bianca dengan meremat ujung baju yang dia kenakan.


Perawat itupun menscrol Nama Bianca dan untuk beberapa saat terjadi keheningan di antara mereka, Sebelum perawat itu mendapatkan nama Bianca tertera di layar komputer dan tertulis semua pembayaran Bianca telah lunas dan tertera disana bahwa Dokter Andreas lah yang melunasi semua biaya perawatan Bianca selama ini.


"Nona Bianca Ashleya Jackson."Dan Bianca pun menganggukkan kepalanya saat Namanya di sebut.


"Semua biaya perawatan Anda sudah Lunas Nona."Tutur Perawat itu membuat Bianca terperangah. Bagaimana mungkin telah lunas, karena Bianca sama sekali belum pernah membayarnya.


Apakah mungkin Edward yang membayar semua biaya perawatan Bianca? Seketika itu juga wanita hamil itu menggelengkan kepalanya, Mana mungkin laki laki kejam itu berbuat hal seperti itu. Karena menurut sudut pandang Bianca, bahwa Edward lah orang yang pertama merasakan bahagia melihat Bianca menderita dan kesakitan.


"Bagaimana mungkin sudah lunas Sus? Saya merasa belum pernah membayarnya sama sekali."Seru Bianca berusaha menahan debaran yang ada di dalam hatinya. Karena ingin mengetahui siapakah orang yang berbaik hati yang telah membantunya.


"Memang Anda belum membayarnya. Akan tetapi Dokter Andreas lah yang menanggung semua biaya perawatan Anda selama ini." Pungkas petugas Administrasi tersebut.


"Dokter Andreas?"Kata Wanita hamil itu dengan mengerutkan keningnya."Siapa Dokter Andreas?"Cicit wanita itu yang tidak dapat menahan perasaan untuk bertanya siapa laki laki baik yang menolongnya.


Wanita itu pun menjelaskan siapa Dokter Andreas dan posisi Dokter Andreas di rumah sakit ini. Membuat lagi lagi wanita hamil itu terperangah, bagaimana mungkin orang penting seperti Dokter Andreas bisa membantu Nya. Dan Bianca pun bertanya apakah Dokter Andreas ada di rumah sakit ini atau tidak. Dan petugas Administrasi itu pun memberi tahukan bahwa Dokter Andreas kini ada di ruangan setelah melakukan meeting dengan para petinggi rumah sakit ini.


"Sus, Apakah Anda bisa mengantarkan saya ke ruangan Dokter Andreas?"Pinta Bianca dengan penuh harap. Bianca ingin bertemu seseorang yang telah berbaik hati membantu dirinya.


"Baik Nona."Perawat itu pun kembali mendorong kursi roda Bianca menuju ruangan pribadi Dokter Andreas.


Setelah sampai di depan ruangan Dokter Andreas, Perawat itu pun mengetuk pintu itu dan tidak lama terdengar suara sahutan di dalam sana.


"Dokter..."Sapa perawat itu setelah masuk ke dalam sana. Dokter Andreas berdiri membelakangi pintu sehingga tidak menyadari bahwa ada Bianca di belakangnya.


"Ada apa?"Laki laki itu membalikkan tubuhnya dan seketika dirinya membeku melihat Bianca yang ada di hadapannya.


Bianca mengerjab ngerjabkan kedua matanya, melihat laki laki yang ada di hadapannya yang tidak terlihat asing bagi dirinya.


"Dokter Andreas."Suara lirih itu menyentakan Dokter muda di dalam lamunannya.


"Ya Nona Bianca?"Dokter Andreas menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Entah mengapa jantung nya begitu berdebar melihat wanita kuyu Bianca.


"Apakah saya mengenal Anda? Mengapa Anda membayar semua biaya tagihan saya?"Tanya Bianca dengan nada yang formal dan sedikit kaku.


Dokter Andreas tersenyum mendengar semua rentetan pertanyaan dari wanita hamil tersebut. Dan Dokter Andreas pun menjelaskan siapa dirinya dan mengapa dirinya membantu Bianca, dengan membayar semua biaya tagihan Bianca selama di rumah sakit ini.


"Jadi, Anda adalah Sahabat dari Tuan Edward?" Pekik Bianca dengan membolakan kedua matanya. Kini rasa resah semakin membelenggu wanita hamil itu, Bagaimana Jika Edward mengetahui semuanya dan hubungan antara dua sahabat itu merenggang karena Bianca.


"Benar Sekali Nyonya O'deon."Bianca memalingkan wajahnya merasa tidak nyaman akan panggil dari laki laki tersebut.


"Jangan memanggil saya dengan seperti itu Tuan!"Tukas Bianca membuat kening Dokter Andreas mengerut.


"Mengapa?"Katanya.


"Karena saya tidak pantas menyandang nama itu. Lagi pula Anda pun, pasti mengetahui bagaimana kondisi pernikahan saya dengan Tuan Edward."Lirih Bianca.


"Bukan seperti itu!"Dokter Andreas tidak bisa berkata kata mendengar ucapan dari Bianca.


"Tuan."Panggil Bianca seraya mengadahkan kepalanya."Berapa biaya yang harus saya gantikan, untuk semua uang yang Anda keluarkan?"Sambung Bianca.


"Anda tidak perlu menggantikan nya Nona Bianca. Saya ikhlas membantu Anda." Jawab Dokter muda itu.


"Tapi Dok..."


"Tidak Ada tapi tapian Nona. Ingat Kondisi kandungan Anda lemah, terlebih lagi Anda mengandung bayi kembar. Terlalu banyak pikiran tidak baik untuk kandungan Anda."


Tukas Dokter Andreas penuh penekanan.


"Baiklah Dok terima kasih."Bianca pun meminta izin untuk kembali ke ruangan dan Dokter Andreas pun mengijinkan Nya. Namun sebelum pintu ruangan tertutup rapat laki laki itu segera memanggil Bianca dan menghentikan perawat itu mendorong kursi roda Bianca.


"Ada yang bisa saya bantu Dok?"Ucap Bianca. Dokter Andreas menggelengkan kepalanya dan mengeluarkan sebuah Amplop di sakunya dan memberikan nya ke tangan Bianca.


"Apa maksud Anda Dok?"Pungkas Bianca tidak mengerti maksud dari Dokter Andreas.


"Mungkin saya tidak dapat membantu Anda dalam permasalahan yang sedang Anda hadapi saat ini. Buka saya menghina atau mencoba merendahkan Anda, saya hanya ingin sedikit mengurangi beban Anda. Jadi saya mohon terimalah sedikit bantuan saya."Seru Dokter Andreas tanpa memberikan celah untuk Bianca menyela ucapannya. Tanpa mendengarkan balasan dari Bianca Dokter Andreas pun segera pergi meninggalkan Bianca dengan tergesa-gesa.


_


_


_


Dan disinilah Bianca, berada di dalam mobil yang kini melaju menuju kediaman Edward. Tempat tinggal Bianca Sekarang, Bianca menyandarkan kepalanya di jendela dengan mata yang menatap gedung gedung pencakar langit yang menjulang tinggi. Sudut bibir Bianca terangkat saat melihat burung burung berterbangan di atas langit. Bianca ingin seperti burung burung itu, mereka bebas tanpa terikat apapun yang membelenggu dirinya. Yang Bianca inginkan hanyalah kebebasan dan kebahagiaan, bukankah harta ataupun barang mewah yang berlimpah.


Tanpa sadar Bianca telah memasuki gerbang mewah kediaman Edward yang kini dirinya tempati. Lampu lampu taman berjejer dengan rapi dengan para laki laki berbaju hitam berdiri dengan tatapan tajamnya seolah siap menyerang siapapun yang menggangu Tuanya. Mobil telah sampai di pelataran depan rumah Edward Namun Wanita hamil itu masih enggan keluar dari lamunannya.


"Nona..."Seru Sang Supir yang telah di perintahkan oleh Asisten Kai untuk menjemput Bianca dari rumah sakit.


"Iya Pak?"Bianca tersentak dalam lamunannya dan mengedarkan pandangannya melihat ke sekelilingnya.


"Sudah sampai ya Pak?"Bianca menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dan tersenyum di paksakan ke arah laki laki itu.


"Saya Turun ya Pak. Terima kasih sudah menjemput saya di rumah sakit dan mengantarkan kesini."Kata Bianca dengan senyuman khas wanita hamil itu. Tidak ada kepalsuan ataupun sandiwara dalam pengucapan nya, Bianca benar benar tulus mengucapkan rasa terima kasih itu.


"Baik Nona."Jawab laki laki sembari berlalu meninggalkan Bianca. Bianca menghela nafasnya dengan kasar, lagi lagi dirinya mendapatkan perlakuan dan respon yang kurang baik dari bawahan Edward.


Kaki mungilnya melangkah berjalan memasuki rumah yang satu Minggu ini tidak dia tapaki. Walaupun rasa takut menyelimuti wanita hamil itu, Karena bayang bayang penyiksaan Edward masih tertanam jelas di ingatan nya. Bagaimana tangan itu mencambuk tubuhnya dengan membabi buta, Sehingga membuat dirinya pendarahan dan nyaris kehilangan nyawa dan kedua buah hatinya.


"Kamu harus kuat Bianca!"Wanita hamil itu tampak menyemangati dirinya sendiri saat kakinya sudah memasuki ruang tengah di dalam rumah itu.


Seketika Bianca mematung dan kedua matanya mengerjab saat cairan bening menumpuk di kedua pelupuk matanya. Saat melihat pemandangan yang sangat menyakitkan untuknya. Saat Edward Sang Suami tengah bercumbu mesra di atas sofa dengan seorang perempuan yang kini tengah duduk mesra di pangkuannya. Bahkan suara decapan dan ******* menjijikkan menggema di ruangan itu, Membuat hati Bianca lagi lagi terluka dan hancur menghadapi kenyataan yang begitu menyakitkan bagi dirinya.


"Ya Tuhan, Apalagi ini..!"Pekik wanita itu di dalam hatinya seraya memalingkan wajahnya enggan melihat pemandangan yang sangat menjijikkan bagi wanita itu.


Bianca menyeka air matanya, Entah mendapatkan keberanian dari mana Bianca berjalan ke arah Edward yang tidak menyadari keadaannya. Tangan mungil itu menyentak tubuh wanita yang kini tengah duduk di atas pangkuan sang suami, Sehingga pungutan keduanya terlelap.


Edward menatap Bianca tajam bahkan terlihat kemarahan dan kebencian menyatu di sorot matanya."APA YANG KAU LAKUKAN SIALAN..!!" Sentak Edward dengan suara yang meninggi, bahkan suara laki laki itu menggema di dalam ruangan itu.


Bianca tidak bergeming di tempatnya, bahkan kedua membalas tatapan Edward yang kini tengah menatapnya dengan tajam sehingga membuat kekehan terdengar di mulut laki laki itu.


"Tuan..."Panggil Bianca dengan suara paraunya. Belum hilang luka fisiknya karena perbuatan laki laki itu, Kini batinnya kembali terluka dengan semua tabiat dan perilaku laki laki yang berstatus sebagai suaminya.


"Sayang."Panggil Wanita dengan rengekan manjanya bahkan tanpa segan bergelayut di atas pangkuan laki laki itu.


Edward menatap wanita itu dengan tatapan dan senyuman yang penuh arti. Bianca tidak dapat melihat dengan jelas siapa wanita itu dan bagaimana rupanya. Apakah itu kekasih Edward sebelum merek


"Tuan! Anda tidak bisa seperti ini kepada Saya. Walaupun Anda tidak menginginkan pernikahan ini dan tidak menggap Saya sebagai istri Anda. Tapi yang Anda lakukan semua ini salah Tuan." Seru Bianca dengan tegas karena walau bagaimanapun dirinya adalah istri Sah Edward baik hukum maupun agama.


Edward terkekeh mendengar semua ucapan Bianca."Bangunlah Sayang."Seru Edward kepada wanita itu bahkan Edward mengecup bibir wanita itu dan di balas oleh wanita itu dengan agresif. Sehingga terjadilah pungutan di antara keduanya.


Nafas Edward terengah-engah begitu pun dengan wanita itu, setelah decapan mereka terlelap. Mereka saling berpandangan dan melepaskan diri satu sama lain.


Bianca terpaku di tempatnya saat wanita itu membalikkan badannya dan menatap Bianca dengan penuh kemenangan. Wanita itu sangat cantik dengan mata biru lautnya yang menghanyutkan siapapun yang menatap Nya. Hidungya yang mancung dan bibir tebalnya yang menggoda siapa saja untuk mengecapnya, terlebih lagi wanita itu memiliki tinggi yang semampai dan rambut hitam yang tergerai indah. Bianca yang perempuan pun terpaku akan kecantikan wanita itu, apalagi Edward.


Belum Bianca membuka mulutnya, laki laki kejam itu memanggil pak Jang dengan suara yang penuh kemarahan. Kepala pelayan itu segera berlari tergopoh-gopoh menemui Sang Tuan di ikuti beberapa pelayan wanita di belakangnya dengan memegang Sebuah tas yang tidak asing bagi Bianca.


"Tasku..."Guman Wanita itu. Pikiran buruk mulai membelenggu Bianca dan terlebih lagi dirinya melihat senyum seringai di sudut bibir Edward


"Bagaimana? Kau Sudah menyelesaikan?" Ini adalah pertama kalinya pak Jang dan Edward bertemu setelah malam itu.


"Sudah Tuan."Pak Jang tidak memiliki keberanian untuk menatap Edward karena kesalahan fatal yang telah dirinya lakukan, Sehingga membuat Edward begitu murka kepadanya.


"Baguslah."Ucap Edward dengan mengulum senyumnya dengan menatap Bianca dengan sarkastik. Dan Edward pun menyuruh pak Jang meletakkan semua barang barang itu di hadapan Bianca dan Bianca pun mencerna semua yang di lakukan oleh Edward.


"Tuan...!"Pekik Bianca dengan membolakan kedua matanya, Nafas wanita itu tercekat dengan segala pemikiran buruk berkecamuk di dalam dirinya sehingga membuat wanita itu hampir limbung dan terjatuh jika beberapa pelayan tidak menopang tubuhnya.


"Kenapa kau masih saja diam disitu! Bukankah Sudah jelas bahwa keberadaan mu tidak di inginkan disini! Maka angkat Kalilah dari rumah ini, sebelum saya melakukan kekerasan kepada kau!"Seru Edward menikmati wajah pias wanita yang telah menghancurkan kehidupannya.


"Tuan Anda tidak bisa seperti itu kepada saya. Saya adalah istri Sah Anda baik hukum maupun agama, terlebih lagi kini saya tengah mengandung darah daging Anda! Jadi Anda tidak bisa mengusir saya dari sini."Sungut Bianca dengan berapi-api.


"Benarkah Anak yang ada di dalam kandungan mu adalah Anakku? Bukan Anak dari para pria pelanggan mu."Cetus Edward dengan tersenyum miring.


"Tuan! Bukankah sudah berapa kali saya katakan bahwa anak ini adalah darah daging mu. Dan berhentilah menganggap saya perempuan seperti itu!"Sahut Bianca dengan nafas yang memburu karena Edward lagi lagi menganggap dirinya sebagai perempuan yang tidak benar.


"Kenapa? Bukankah itu kenyataannya! Bagaimana mungkin seorang wanita baik baik, rela menanggalkan kehormatannya hanya demi sebuah Uang?"Timpal Edward.


"Bukan seperti itu kejadian sebenarnya Tuan. Anda salah paham!"Kata Bianca.


"Sayang Sudah! Aku ingin tidur."Rengek wanita itu membuat Edward mengalihkan pandangannya.


"Baiklah Sayang, Kita akan tidur. Akan tetapi setelah wanita itu pergi dari sini."Ucap Edward seraya mengelus rambut wanita itu membuat Bianca yang melihatnya tersenyum getir.


"Tunggu apalagi, Cepat Kau angkat kaki dari rumah ini."Seru Edward dengan menggebu gebu.


"Tuan, Anda tidak bisa seperti ini kepada Saya. Bukankah di dalam surat perjanjian tertulis bahwa anda tidak akan pernah mengusir saya sebelum anak ini di lahirkan."Pekik Bianca masih tetap pendirian untuk tinggal di rumah laki laki kejam itu. Jika Edward benar benar mengusir nya, dimana dirinya akan tinggal? Karena hanya Edward satu satunya tempat Edward bernaung terlepas semua perbuatan perbuatan Edward kepada dirinya.


"CKck masih berani menantang."Pungkas Edward dengan nafas yang memburu.


"Pak Jang, Cepat kau seret wanita tidak tahu malu itu di hadapan ku."Titah Edward. Tanpa bisa menolak Pak Jang dan beberapa pelayan segera menyeret tubuh ringkih itu dengan paksa.


"Tuan Saya Mohon, jangan usir saya dari sini Tuan."Bianca memberontak berusaha untuk melepaskan Nya. Akan tetapi dengan kondisi yang seperti ini membuat Bianca pasrah saat para pelayan itu menyeret tubuhnya.


"Tunggu!"Pekik Edward menghentikan langkah para pelayan itu."Kau masih ingin tinggal disini?"Sambung Nya.


"Iya..."Jawab Bianca tanpa pikir panjang.


"Bersujud dan memohon lah kepada ku."


Cetus Edward dengan tersenyum penuh kemenangan melihat wajah kaget Bianca.


"Kenapa kau diam? Cepatlah lakukan jika kau masih ingin tinggal disini."Pungkasnya.


"Tuan..."Panggil Bianca dengan menggelengkan kepalanya sungguh Bianca tidak habis pikir dengan semua tingkah laku Edward yang begitu mengerikan baginya.


"Kau menolak? Maka bersiap siaplah keluar dari rumah ini."Ujar Edward seraya menunjuk pintu rumahnya.


Pikiran dan hati Bianca kini tengah berkecamuk, dia masih ingin tetap tinggal disini bukan karena kemewahan rumah Edward, Akan tetapi Bianca ingin kedua anaknya mendapatkan kasih sayang dari Papah mereka, Walaupun hanya di dalam kandungan Nya. Tapi apakah dia harus semakin merendahkan harga dirinya di hadapan Edward?


"Baiklah Jika ini keputusan mu. Pak Jang segera seret wanita Ja'ang ini dari hadapan ku."Tanpa di perintah dua kali mereka kembali menyeret tubuh Bianca.


"Tunggu..."Pekik Bianca dengan tatapan kosongnya.


"Baiklah Tuan! Jika itu yang Anda inginkan."


Bianca berjalan perlahan ke arah Edward dengan menatap Edward dengan berkaca kaca. Wanita malang itu mematung dan mendongkakan kepalanya saat berdiri tepat di hadapan Edward karena tinggi wanita itu hanya sebatas dada Edward.


"Kenapa kau diam? Cepatlah berlutut dan memohonlah Kepada ku."Titah laki laki itu dengan senyuman penuh kemenangan.


"Ya Tuhan, Kuatlah Hamba mu ini."Batin Bianca menjerit karena untuk pertama kalinya dia merendahkan harga dirinya di hadapan seorang laki-laki.


Jangan lupa


Like


Comment


Rate


Vote