Oh My Baby

Oh My Baby
pindah jalur


Setelah beberapa kali Kiki ikut les balet, Hana menyadari Kiki sudah tidak begitu bersemangat. Hana juga melihat Kiki lebih sering keluar dari ruangan latihan balet dan melihat ruangan sebelahnya.


"Kiki mau belajar nari itu?" Hana menunjuk segerombolan penari hip hop.


Kiki menganggukkan kepalanya.


Hana akhirnya memutuskan untuk mengganti les balet Kiki dengan les tari modern.


Kiki belajar dengan penari-penari cilik lainnya. Usia mereka memang masih kecil, masih bocah tapi tarian mereka tidak kalah bagus dari tarian orang dewasa.


Eomma-nya mereka dulu itu makan apa saat hamil?


Hana bisa melihat Kiki hanya menari mengikuti keinginannya saja.


"Kepekaan irama Kiki sangat bagus." Pelatih tari Kiki memberitahu Hana.


"Tapi Kiki itu cuma asal menari." Hana meragukan pendengarannya.


Mungkin karena pelatih itu sudah sering melatih jadinya ia tahu mana penari berbakat atau tidak.


Sebenarnya Jung Kook juga penari yang bagus. Ia juga sudah menjadi trainee di salah satu agensi. Tapi Jung Kook merubah haluan hidupnya karena Kiki. Ia menjadi petarung karena ia bisa menghidupi Kiki. Jika ia menjadi trainee, ia tidak akan bisa mendapat uang dengan cepat.


"Ayah Kiki itu Jung Kook, kan?"


"Dari mana Anda tahu?"


"Jung Kook pernah berlatih di sini saat ia jadi trainee. Kalau nggak salah ia sempat masuk line debut."


Kalau tentang Jung Kook menjadi trainee, Hana tahu. Tapi tentang masuk line debut, Hana baru mendengarnya sekarang.


"Jung Kook itu luar biasa. Ia bisa nyanyi, bisa nge-rap, bisa dance. All around entertainer. Artis serba bisa."


Dalam perjalanan pulang setelah mengantar Seon Ho, Hana membuka suaranya.


"Kookie ... apa benar kau dulu masuk line debut?"


"Iya."


Hana merasa bersalah. Ia menitikkan air matanya. Jung Kook melihat Hana sekilas. Ia menepikan mobilnya.


"Noona ... kenapa menangis?" Jung Kook menghapuskan air mata Hana.


"Karena aku nggak debut?"


Hana menganggukkan kepalanya.


"Itu sudah masa lalu. Nggak usah Noona pikirkan lagi. Yang harus kita pikirkan itu Mint." Jung Kook menyentuh perut Hana.


"Juga Kiki." Jung Kook melihat Kiki yang tertidur pulas di baby seatnya.


"Apa aku akan bahagia jika aku debut? Nggak juga. Dunia idol itu penuh persaingan. Nggak semuanya bisa bertahan lama."


"Jangan menangis lagi. Noona itu jelek banget kalau nangis." Jung Kook mengejek Hana.


Hana tersenyum.


"Nah ... gitu dong. Aku paling suka lihat Noona tersenyum." Jung Kook melihat sekitarnya.


Sepi.


Ia lalu mencium bibir Hana. Tapi dengan cepat ia menyelesaikan ciumannya karena ia dan Hana berada di jalanan umum. Walaupun berada di dalam mobil tapi tetap saja ia malu kalau dilihat orang.


Nanti lanjut di rumah yang versi lamanya.


Jung Kook melajukan mobilnya pulang ke rumah. Setibanya di rumah, ia menggendong Kiki dan menaruhnya di ranjangnya.


Ia lalu memeluk Hana dari belakang. Memutar tubuh Hana sehingga menghadap ke dirinya. Mencium bibir Hana. Kali ini lebih intens dan lama.


"Eomma ...." Kiki memanggil dari dalam kamarnya.


Hana melepas ciuman mereka. Ia melihat Kiki. Ia menepuk-nepuk pantat mungil Kiki.


Apa Jung Kook benar-benar tidak menyesal memilih kami?


Masuk line debut itu artinya tinggal selangkah lagi menjadi idol.


Apa Kiki hanya jadi penghalang Jung Kook?


Tidak ...


Aku harus berhenti berpikiran seperti itu.