
Hana dan Jung Kook sudah kembali ke rumah mereka. Melanjutkan hari seperti biasa. Jung Kook sibuk berlatih. Sedangkan Hana sibuk menjaga Kiki dan melakukan pekerjaan rumah. Tiga hari sekali mereka berkunjung ke rumah Yoon Gi untuk membantu bersih-bersih.
Akhirnya hari pernikahan Nam Joon tiba ...
"Noona yakin mau datang?" tanya Jung Kook ketika Hana mempersiapkan berbagai keperluan Kiki dalam tas.
Sampai kemarin Hana masih ragu untuk menghadiri pesta pernikahan Nam Joon.
"Aku yakin. Aku ingin turut berbahagia dengan pernikahan Nam Joon oppa."
Sudah saatnya merelakan Nam Joon oppa.
Demi Jung Kook, demi Kiki terutama demi aku sendiri.
Hana mengenakan dasi kupu-kupu dan jas ke Kiki. Jung Kook juga memakai jas yang serasi dengan jas Kiki. Mengikat rambutnya yang sudah mulai panjang.
Kookie ...
Ketampananmu jadi berlipat kali ganda.
"Appa tambah ganteng, ya?"
Kiki menganggukkan kepalanya. Jung Kook yang mendengarnya tentu saja senang.
"Appa keyen (keren)." Kiki mengangkat jempol mungilnya untuk Jung Kook.
"Kiki juga keren." Jung Kook ikut memuji Kiki.
Hana mengenakan dress midi warna pink. Tidak terlalu panjang atau terlalu pendek.
Setelah semua sudah siap, Jung Kook mulai mengemudikan mobilnya ke tempat acara.
Pernikahan Nam Joon diadakan di luar ruangan. Untung saja Kiki mengenakan jas. Setidaknya ia tidak akan terlalu merasa kedinginan.
Hana dan Jung Kook duduk di kursi yang sudah disediakan. Kiki berada di dekapan Hana. Kiki tertidur lagi.
Banyak tamu undangan yang Hana kenal karena Nam Joon sering mengajak Hana ke acara keluarganya dan memperkenalkan Hana sebagai calon istrinya.
Mereka berbisik-bisik sambil menunjuk Hana.
"Yang mana?"
"Yang pakai dress pink itu."
"Apa kau tahu penyebab mereka putus?"
"Karena ia mengandung anak dari pria lain."
"Apa?"
"Dan kau tahu ayah bayinya? Adik angkatnya sendiri. Kasihan Nam Joon. Ia hampir saja depresi. Tapi untung ia menemukan Suzy."
"Buat apa ia datang ke pesta ini? Tidak tahu malu. Wanita tidak tahu diri."
"Apa kau tahu ibu kandungnya itu pelacur?"
"Jadi kelakuannya itu turunan ibunya?"
Hana hanya berusaha tidak mendengarnya. Terlalu sakit bila ia masukkan ke dalam hati. Ia sudah terbiasa dengan sikap orang-orang di sekitarnya.
"Kookie ... Titip Kiki bentar." Hana menaruh Kiki di pangkuan Jung Kook.
"Aku mau ke sana." Hana hendak menyapa salah satu keluarga Nam Joon yang ia kenal tapi saat ia mendekat, orang itu menjauh.
Ingat nasehat Yoon Gi oppa "Kita nggak akan pernah bisa mengendalikan apa yang orang lakukan dan katakan kepada kita. Tapi kita bisa mengendalikan diri kita dan perasaan kita. Dan jangan terlalu peduli dengan anggapan orang, mereka punya pendapatnya masing-masing."
Hana berjalan kembali ke tempatnya. Ia mengambil Kiki dari Jung Kook. Menaruhnya di dekapannya. Kiki masih tertidur pulas.
Acara akan segera dimulai. Para undangan duduk di kursi. Musik pengiring mulai terdengar. Para hadirin berdiri saat Nam Joon berjalan menuju ke altar. Tak lama kemudian mempelai wanita berjalan menuju altar. Ia terlihat cantik dengan gaun pengantin putih yang ia kenakan bergandengan tangan dengan ayahnya. Menuju ke samping Nam Joon.
Hana masih bisa menahan air matanya.
Seharusnya akulah yang berdiri di samping Nam Joon oppa.
"Sebelum saya memulai acara ini, apakah ada yang keberatan dengan pernikahan ini?" Pendeta bertanya.
Aku ... Aku keberatan ... ~ Hana hendak berdiri dari kursinya.