
"Kaisar..."Panggil Edward setelah keduanya masuk ke dalam ruangan kerja laki-laki tersebut.
"Ada yang bisa saya bantu Tuan?"Tanya Asisten Kai saat mendengar helaan nafas dari Tuannya.
"Cari tahu siapa laki-laki yang bersama wanita itu!"Titah Edward dengan suara yang menajam.
"Baik Tuan."Tanpa di perintah dua kali oleh Edward, Asisten Kai tampak menghubungi salah satu anak buahnya untuk mencari tahu siapa dan latar belakang laki-laki yang bersama Bianca beberapa saat yang lalu.
"Anda baik-baik saja Tuan?"Asisten Kai bertanya penuh dengan kekhawatiran saat melihat Edward menyandarkan kepalanya di kursi yang dia duduki.
Tampak Edward memijit pelipisnya karena rasa pusing yang menderanya. Edward selalu seperti itu saat setelah berhadapan dengan Bianca. Emosi dan amarah laki-laki itu selalu menguap saat berhadapan dengan Bianca.
"Hmm..."Balas Edward dengan sebuah deheman.
"Apakah perlu Saya memanggil Dokter Andreas untuk memeriksa keadaan Anda?" Kata Asisten Kai.
"Bisakah Kau diam! Kerjakanlah apa yang telah ku perintahkan kepada mu."Tukas Edward penuh penekanan.
"Baik Tuan."Jawab Asisten Kai sembari mengambil laptopnya yang ada di ruangan kerja Edward.
Beberapa menit pun berlalu...
Asisten Kai sudah mendapatkan semua informasi dan latar belakang tentang Christ, membuat laki-laki kepercayaan Edward itu tersenyum puas akan pekerjaan dari anak buahnya.
"Tuan..."Panggil Asisten Kai yang entah kapan sudah berada di hadapan Edward.
"Bagaimana?"Edward berkata tanpa membuka kedua matanya yang terpejam.
"Sudah Tuan, Anda bisa melihatnya."Kata Asisten Kai sembari menyerahkan laptopnya kepada Edward.
"Christian Alexander."Guman Edward setelah membaca semua latar belakang Christ. Edward tampak bertopang dagu seraya tersenyum penuh arti membuat siapapun bergidik melihat senyum dari laki-laki tersebut.
"Kau pasti tahu apa yang harus kau lakukan selanjutnya."Ucap Edward dengan senyuman seringai yang tidak luntur dari sudut bibirnya.
"Baik Tuan."Jawab Asisten Kai dengan mengganguk mantap. Membuat Edward tersenyum puas menanti kejutan yang akan menanti esok hari.
"Bila perlu lepaskan cabang perusahaan untuk melancarkan jalan kita."Kata Edward tanpa pikir panjang.
Pukul 02 dini hari....
Kegelapan malam tidak menyurutkan Bianca untuk menghentikan langkahnya. Terlihat wanita hamil itu berjalan dengan perlahan-lahan menyusuri jalan setapak menuju rumah utama, tangan mungilnya tidak henti hentinya mengelus perutnya saat rasa lapar semakin meliputinya.
"Anak-anak Mamah sangat lapar sepertinya?" Kata Bianca dengan seulas senyuman di sudut bibirnya.
"Dingin..."Bianca menggenggam tangannya dengan erat saat hawa dingin menerpa tubuhnya yang hanya berbalut baju tidur yang cukup tipis.
"Nona Bianca..."Panggil Seseorang di antara kegelapan malam membuat Bianca menghentikan langkahnya.
Bianca menyipitkan matanya saat melihat seseorang bertubuh besar berjalan ke arah dirinya."Kak Harry..."Ucap Bianca.
"Anda keluar malam-malam seperti ini Nona? Apakah Anda membutuhkan sesuatu?"Tanya Laki laki bernama Herry itu. Salah satu bawahan Edward yang Pernah membantu Bianca mendapatkan kelapa muda yang Bianca inginkan.
"Tidak perlu Kak. Bianca akan ke rumah utama untuk mengambil sedikit makanan."Jawab Bianca yang entah mengapa membuat hati laki-laki merasa miris bercampur iba karena kehidupan yang harus di jalani oleh wanita hamil itu.
"Mari Saya antar Nona."Ucap laki-laki.
"Tidak perlu Kak! Bianca bisa kok jalan sendiri, lagipula Bianca tidak merepotkan kakak dan mengganggu pekerjaan Kakak."Tolak Bianca secara halus.
"Tidak apa-apa Nona, itu tidak merepotkan.
Saya hanya ingin berjaga-jaga saja, Jika terjadi sesuatu yang tidak di inginkan."Seru Pengawal itu membuat kening Bianca mengkerut.
"Maksud Kakak?"
"Disini sangat gelap Nona, Dan beberapa waktu yang lalu turun hujan walaupun hanya sebentar. Jalanan cukup licin untuk wanita hamil seperti Anda."Tuturnya membuat Bianca mau tidak mau menerima permintaan dari laki-laki tersebut.
"Terima kasih ya Kak, Sudah mengantarkan Bianca."Ucap Bianca setelah wanita hamil itu sampai di rumah utama.
"Sama-sama Nona. Anda tidak perlu sungkan seperti itu kepada saya, karena memang ini adalah tugas saya. Jika Anda membutuhkan sesuatu Anda bisa memanggil Saya."Kata Laki-laki dengan membungkukkan badannya.
"Tidak perlu Kak. Bianca tidak ingin berhutang budi kepada siapapun."Ucap Bianca dengan penuh kehati-hatian. Bukan Bianca orang yang tidak tahu terima kasih atas kebaikan seseorang kepadanya tetapi Bianca tidak ingin terjadi sesuatu laki-laki yang ada di hadapannya jika Edward mengetahui semuanya.
"Bianca masuk dulu ya Kak."Pamit Bianca sembari melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam.
"Silahkan Nona..."Ucap pengawal itu seraya menatap punggung ringkih Bianca.
Kegelapan menyambut Bianca saat memasuki rumah mewah milik Edward. Tangan mungilnya mencari saklar untuk menghidupkan lampu dapur yang sengaja di matikan. Manik madunya menatap ruangan yang tengah dia tempati. Bianca kembali mengingat saat dia tidak sengaja melakukan kesalahan di dalam ruangan ini sehingga berdampak bagi kehidupannya dan orang-orang di sekitarnya.
Liza...
Bianca mengingat kembali wanita berhati malaikat itu, membuat Bianca menyesali apa yang telah di pebuat. Seandainya saat itu Bianca tidak mengidam mungkin kejadiannya tidak seperti sekarang. Liza masih bekerja disini, menemani dan menguatkan Bianca saat dirinya merasa Lelah akan permasalahan yang bertubi-tubi. Namun nasi sudah menjadi bubur, Bianca tidak dapat membuat Liza kembali lagi bekerja di rumah Edward dan Bianca hanya bisa berdoa dimana pun wanita itu berada semoga saja kebahagiaan dan kesehatan menyertai Liza.
Suara yang begitu nyaring yang berasal dari dalam perutnya."Anak-anak Mamah sepertinya sudah tidak sabar untuk makan."Tutur Bianca dengan kekekan di akhir kalimatnya.
"Baiklah kita cari apakah ada makanan untuk kita makan."Kata Bianca dengan berjalan menuju lemari pendingin di sudut ruangan.
"Wah ternyata masih banyak makanan."Guman Bianca saat melihat beberapa makanan yang berada di dalam kulkas. Bianca tahu semua makanan ini adalah makanan sisa makan malam Edward yang tidak habis. Namun itu semua masih layak untuk di makan.
Bianca segera mengeluarkan makanan itu dari lemari pendingin, Sehingga wanita hamil tidak menyadari bahwa ada sepasang mata tengah menatapnya dengan tajam dan dengan kilatan amarah terlihat jelas dari sorot matanya.
"Ja'ang Sialan."Desis Edward dengan gemuruh yang ada di dalam dadanya. Kaki panjang Edward melangkah lebar menuju Bianca dengan kedua tangan yang terkepal erat. Tanpa berkata Edward menyentak pergelangan tangan Bianca, Sehingga membuat piring yang ada di tangan Bianca terjatuh di atas lantai.
"Tu-tuan..."Cicit Bianca dengan membelikan kedua matanya. Bibir mungilnya meringis saat Edward mencengkeram tangannya dengan erat.
"Ingin mencuri Heh."Ucap Edward dengan senyuman smrik di salah satu sudut bibirnya.
"CKck Pura-pura bodoh ternyata."Desis Edward sembari mengencangkan cengkraman tangannya di lengan Bianca.
"Auchh... Sakit Tuan."Pekik Bianca menahan sakit di pergelangan tangannya.
"Ternyata selain kau murahan! Kau juga seorang pencuri."Ucap Edward di telinga Bianca dengan kekehan di akhir kalimatnya.
"Pak Jang... Pak Jang..."Teriak Edward menggelar memecahkan keheningan malam. Rahang Edward mengerat seiring dengan amarah yang membelenggu dirinya.
"Pak Jang..."
"Pelayan..."
Tidak lama kemudian terlihat pak Jang berjalan dengan tergopoh-gopoh ke arah Edward, di ikuti oleh beberapa pelayan di belakangnya.
"Tuan..."Kata pak Jang dengan nafas yang memburu setelah berada di depan Edward.
"Ada yang bisa saya bantu?"Sambungnya.
"Kau lihat wanita itu..."Ujar Edward sembari melirik Bianca yang kini tengah menundukkan kepalanya.
"Jangan biarkan wanita murahan ini masuk ke dalam rumah utama dan mencuri makanan di dalam rumah ini."Seru Edward dengan suara yang menajam begitupun dengan tatapan kedua matanya.
"Ya Tuhan kenapa sesakit ini? Bukankah Bianca sering kali mendapatkan perlakuan seperti ini dari orang-orang sekitar Bianca. Namun kenapa lagi-lagi perasaan ini begitu sakit saat semua ini terjadi kepadaku." Batin Bianca dengan sekuat tenaga wanita hamil itu menahan cairan bening yang kini menggembung di kedua pelupuk matanya, karena perbuatan dan perkataan Edward yang lagi-lagi melukai perasaannya.
"Baik Tuan."Jawab Pak Jang tanpa keraguan. Sudut pandangnya menatap Bianca yang kini tengah menundukkan kepalanya, walaupun rasa kemanusiaannya meronta-ronta atas apa yang terjadi kepada buang, Namun pak Jang tidak ingin kembali menghianati kepercayaan Edward kepadanya.
"Ada apa honey? Kenapa malam-malam seperti ini kau berteriak seperti itu."Seru Cleona yang terbangun saat mendengar teriakkan Edward yang menggema di dalam rumah tersebut.
"Kau terbangun sayang?"Kata Edward setelah wanita itu berdiri di hadapan Edward.
Cleona menganggukkan kepalanya dengan bibir yang merahnya yang mengerucut.
"Iya, Aku terbangun saat mendengar suara teriakan mu Honey."Jawabnya.
"Astaga maafkan aku sayang."Ucap Edward membawa tubuh Cleona ke dalam dekapannya dan mengecup pucuk kepala Cleona dengan bertubi-tubi.
"Kenapa kau berteriak-teriak seperti itu Honey?"Tanya Cleona dengan mendongkakan kepalanya.
"Tidak apa-apa sayang. Hanya sedikit memberikan pelajaran kepada seorang hama saja, Sayang."Ujar Edward dengan senyuman penuh kemenangan.
"Dan Pak Jang bawalah wanita menjijikkan itu dari hadapan ku."Titah Edward tanpa menatap ke arah Bianca
"Tidak perlu Tuan! Bianca bisa sendiri pergi dari sini."Lirih Bianca dengan suara parau nya. Wanita hamil itu terluka karena melihat sebuah pemandangan yang begitu menyakitkan bagi wanita hamil itu.
Perlahan-lahan tubuh ringkih Bianca berjalan meninggalkan ruangan tersebut. Dengan sejuta luka yang laki-laki itu torehkan kepadanya.
Bianca masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu kamarnya dengan rapat. Wanita hamil itu berjalan ke sudut ruangan dan merebahkan tubuhnya di atas kasur lantai. Kedua manik matanya menatap nanar langit-langit kamar tempatnya bernaung, kedua manik matanya terpejam seiring dengan cairan bening yang keluar dari pelupuk matanya. Isakan lirih dan begitu menyayat hati keluar dari bibir mungilnya.
"Ya Tuhan... Apakah selamanya Bianca akan seperti ini."Ucap Bianca seraya menyeka air mata yang membasahi wajahnya. Rasanya Bianca begitu sakit saat kembali mengingat semua perlakuan dan perkataan Edward kepadanya. Namun semua itu tidak lebih sakit saat Edward mengatakan anak yang ada di dalam kandungannya adalah anak pembawa sial. Ibu mana yang tidak terluka saat anak yang dia perjuangkan mati-matian di perlakukan seperti itu oleh ayah kandungnya sendiri.
"Maafkan Mamah yang sayang, Sepertinya malam ini kalian akan tidur dengan rasa lapar."Kata Bianca saat lagi-lagi perutnya bergemuruh untuk minta di isi.
Sudut mata Bianca menatap satu botol air mineral kemasan yang ada di sampingnya, tanpa berkata Bianca bangkit dan mengambil air kemasan itu dalam sekali tegukan hingga tandas.
"Semoga saja air ini bisa mengganjal rasa lapar Bianca."Kata Bianca seiring dengan air mata yang semakin deras keluar dari kedua pelupuk matanya dan membasahi wajahnya.
_
_
_
Hancurnya perusahaan Alexander dalam satu malam, menjadi trending topik dan topik yang hangat di bicara di seluruh penjuru negeri dan mancanegara. Tampak para pencari berita berbondong-bondong memenuhi pelantara lobby perusahaan dan kediaman mewah Alexander, Namun tidak ada satupun dari keluarga Alexander yang mengkonfirmasi berita tersebut.
Tempak seorang laki-laki tengah duduk di atas kursi kebesarannya dengan senyuman penuh kemenangan tercekat jelas di wajah tampannya. Kedua manik matanya tidak henti hentinya menatap sebuah layar televisi yang menampilkan sebuah berita yang sangat santer di beritakan saat ini yaitu hancurnya perusahaan Alexander yang telah berdiri puluhan tahun.
"Kerja bagus Kai."Kata Edward dengan menatap Asisten Kai dengan penuh arti. Senyuman menyeringai tercekat jelas di wajah tampan Edward.
"Lihatlah Christian Alexander! Ini adalah konsekuensi untuk mu karena telah berani bermain-main dengan seorang O'deon."
Batin Edward.
"Anda ingin melakukan konferensi pers Tuan? Mengingat perusahaan Alexander sudah berada di bawah naungan perusahaan Anda? Dan bukankah ini waktu yang tepat untuk memberi tahukan siapakah sebenarnya pemimpin dan pemilik sebenarnya Dimitri Group?"Tutur Asisten Kai langsung di tolak tegas oleh Edward
"Tidak perlu Kai! Ini bukanlah saat yang tepat untuk melakukan semua itu."Tolak Edward dengan menautkan kedua alisnya.
"Baiklah Jika itu keputusan Anda."Sahut Asisten Kai.
Berbicara tentang Dimitri Group, Edward mengingat Sang Mamah yang sudah hampir tiga bulan ini dia temui. Dimitri di ambil dari Nama keluarga besar Sang Mamah Eleana Dimitri.
Jangan lupa
Like
Comment
Vote
Rate
Favorit