
Yoon Gi menutup kotak merah kecil berisi cincin berlian yang diperuntukkan untuk Hana dan memasukkannya kembali ke dalam nakas.
Ingatan Yoon Gi kembali lagi ke masa lalu ...
Saat dirinya dan Hana masih berpacaran.
Saat ia berada di kamar Hana ...
"Oppa ... Kalau kita sudah menikah nanti, oppa ingin punya anak berapa?" Hana yang masih remaja bertanya ke Yoon Gi.
"Kalau kamu?" Yoon Gi balik bertanya.
"Dua. Satu perempuan dan satu laki-laki. Kalau oppa?"
"Satu."
"Laki-laki atau perempuan?"
"Laki-laki."
"Oppa nggak mau punya anak perempuan secantik aku?" Hana bertanya sambil memuji dirinya.
"Nggak. Karena aku nggak mau membagi cintaku dengan wanita lain."
"Oppa~"
"Hana turun. Makan siang sudah siap." Ibu angkat Hana memanggil dari lantai bawah.
"Iyaaaaa ... Oppa ... Kita turun sekarang." Hana mengajak Yoon Gi untuk makan siang bersama.
Yoon Gi ikut makan siang bersama keluarga Hana. Hari itu hari Minggu. Semua keluarga Hana lengkap berkumpul kecuali Jung Kook yang sedang berlatih taekwondo.
"Ibu ... Besok aku mau belajar masak." Hana berucap tiba-tiba.
"Tumben ... Nggak biasanya." Ayah angkat Hana berucap. Ia tahu Hana tidak suka berada di dapur.
"Oppa suka daging, kan?" Hana bertanya ke Yoon Gi.
Yoon Gi menganggukkan kepalanya.
"Ibu ... Besok aku mau belajar masak daging."
"Pegang pisau aja takut. Gimana mau belajar masak." Ibu angkat Hana membuka rahasia Hana di depan Yoon Gi.
"Ibu ... Jangan buka rahasia." Hana meminta ibunya untuk tidak berbicara lagi.
"Hana itu kupas apel aja nggak becus." Ibu angkat Hana berbicara lagi dengan nada menggoda Hana.
"Ibu ..." Hana malu di depan Yoon Gi.
"Nanti aku ajari." Yoon Gi berucap.
"Bisa."
Setelah selesai makan Hana membawa pisau dan sebuah apel. Ia mulai belajar mengupas apel.
"Jangan seperti itu." Yoon Gi mengoreksi cara Hana memegang pisau.
"Mata pisaunya harus menghadap ke dalam." Yoon Gi mencontohkan cara memegang pisau.
Hana dengan perlahan-lahan mengupas kulit apel. Kulit apel berceceran di lantai kamar.
"Syung ..." Kulit apel yang dikupas Hana yang berbentuk lingkaran tidak beraturan dengan diameter 1 cm terbang ke pipi kiri Yoon Gi.
Membuat wajah Yoon Gi seperti ada tompelnya. Hana menaruh lagi kulit apel yang berwarna merah di pipi kanan Yoon Gi.
"Oppa yeppo. Wajah oppa kayak pengantin wanita yang pake baju pengantin tradisional Korea."
Hana tertawa.
Hana menyerah untuk sementara. Ia menyerahkan apel yang baru saja terkupas lima centimeter ke Yoon Gi.
Hana memandang takjub melihat Yoon Gi mengupas apel dengan lancarnya. Tidak seperti dia yang tersendat-sendat.
"Oppa ... Apa yang nggak bisa oppa lakuin? Semuanya oppa bisa." Hana memuji-muji Yoon Gi.
"Ninggalin kamu."
"Oppa~"
Yoon Gi memasukkan satu potong apel ke mulut Hana.
Hana ikut menyuapi Yoon Gi potongan apel yang berada di piring.
Hana lalu mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Yoon Gi.
"Oppa ... Janji, ya. Wanita yang boleh ada di hati oppa itu cuma aku. Kalau oppa melanggar, oppa harus makan 1000 jarum."
Sadis ...
Bukannya kesepakatan itu harus dengan persetujuan dari kedua belah pihak.
Hana menempelkan ibu jarinya dan ibu jari Yoon Gi. Tanda perjanjian sudah dibuat.
Flashback end.
Di apartemen Yoon Gi ...
Hana ...
Kau masih ingat tentang pinky promise kita?