
Keesokkan harinya ...
Hana mengetuk pintu kamar Yoon Gi "Oppa ... Kami mau pulang. Besok Kiki mau masuk daycare."
Tapi tidak ada jawaban dari Yoon Gi.
"Mungkin Yoon Gi oppa masih tidur. Kemarin ia minum sendirian."
Saat Hana terbangun di malam hari, ia melihat Yoon Gi sedang memegang gelas dan melihat botol minuman keras yang sisa separuh.
Hana mengambil ponselnya. Ia memesan sup pengar untuk Yoon Gi dan makanan untuk sarapan mereka.
Tak lama kemudian makanan datang. Mereka pun makan bersama.
"Yoon Gi oppa belum bangun-bangun."
Hana menulis sebuah catatan dan menaruhnya di meja makan di samping sup pengar untuk Yoon Gi.
Oppa
Aku dan Jung Kook harus pergi.
Kiki besok harus ke daycare.
Belum selesai Hana menulis, Yoon Gi keluar dari kamarnya. Yoon Gi masih terasa pusing akibat minuman keras.
Yoon Gi duduk di meja makan dengan rambut khas bangun tidur. Masih tercium aroma alkohol dari tubuhnya.
"Oppa ... Tadi aku belikan sup pengar." Hana membuka penutup sup dan menyodorkan mangkuk sup pengar ke Yoon Gi.
Yoon Gi memakannya.
Hana masuk ke dalam kamar Yoon Gi. Ia hendak mengambil pil untuk meringankan efek mabuk. Hana membuka laci nakas. Ia mencari pil pereda mabuk.
Ketemu.
Tapi ada yang menarik perhatian Hana. Sebuah kotak kecil berwarna merah. Kotak yang biasa berisi cincin.
Karena penasaran Hana membukanya. Ia melihat cincin berlian di sana. Cincin yang ia inginkan saat Yoon Gi menaruh cincin bayangan saat mereka berpacaran dulu.
Hana menutup kotak tersebut.
Tidak mungkin cincin itu untukku.
Oppa pasti sudah punya wanita lain di hatinya.
Lagipula aku sudah punya Jung Kook dan Kiki juga kemungkinan ada adik Kiki.
Entah kenapa hati Hana terasa perih. Sedari kecil ia selalu membayangkan akan menikah dengan Yoon Gi. Bahkan saat mereka kecil dan bermain rumah-rumahan, Yoon Gi selalu menjadi ayah dan Hana menjadi ibu. Sedangkan Jung Kook menjadi putra mereka.
Hana menghela napas panjang. Meyakinkan dirinya untuk tidak melihat masa lalu.
Sudah takdir kita untuk berpisah.
Aku jadi tidak sabar wanita seperti apa yang mendapatkan hati oppa.
Mudah-mudahan ia wanita yang akan selalu mencintai dan menyayangi oppa.
Hana keluar dari kamar sambil membawa pil pereda mabuk. Ia menaruhnya di samping Yoon Gi.
"Noona ... Aku lari pagi dulu." Jung Kook berpamitan. Ia ingin memberi Hana waktu untuk berbincang dengan Yoon Gi.
"Ikut ..." Kiki ingin ikut ayahnya.
Jung Kook bersama Kiki berlari mengelilingi kompleks.
Sedangkan itu di apartemen Yoon Gi ...
"Apa oppa sudah punya pacar? Bukan ... Calon istri, mungkin?" Hana bertanya.
Yoon Gi terkejut. Ia tersedak.
"Hukh ... Hukh ..." Ia menuju ke tempat cuci piring. Berusaha mengeluarkan makanan yang membuat ia tersedak.
Hana menggosok punggung Yoon Gi. Ia kemudian mengambil air minum. Yoon Gi meminumnya.
"Aku belum punya pacar. Apalagi calon istri."
"Oppa jangan boong, ya."
"Aku nggak boong."
"Oppa, tadi aku lihat ada cincin berlian di laci nakas. Nggak mungkin oppa yang pake. Cincin itu pasti buat calon istri oppa. Oppa harus kenalin dia ke aku."
Yoon Gi ~ Hana melihat cincinnya?
"Itu untukmu."
Hana ~ Untukku?
"Maksud oppa?" Hana tidak mengerti.
"Kau masih ingat saat aku memasangkan cincin bayangan ke jari manismu saat kita masih berpacaran dulu."
Hana menganggukkan kepalanya.
"Saat itu aku belum punya uang. Sekarang aku sudah punya uang. Jadi aku bisa membelikannya untukmu."
"Aku masih mencintaimu," ucap Yoon Gi.