Oh My Baby

Oh My Baby
Part 73


Tidak ingin kehilangan kembali momen kebersamaan nya dengan Briana sang cucu Mamah Eleana meminta atau lebih tepatnya memaksa Bianca untuk mengizinkan nya menginap di rumah Bianca. Bianca yang tidak tega melihat wajah penuh harap dari Mamah Eleana pun dengan terpaksa mengizinkan Mamah Eleana untuk menginap di rumah kecilnya.


"Maafkan saya atas ketidaknyamanan yang Anda rasakan Nyonya."Ujar Bianca tidak lupa dengan nada formalnya.


"Apa yang kau katakan Nak, Semua ini sudah lebih dari cukup untuk Mamah."Kata


Mamah Eleana menghembuskan nafasnya dengan kasar saat mendengar apa yang di ucapkan oleh Bianca.


"Dan satu lagi, berhentilah memanggil Mamah dengan Nyonya karena kamu bukanlah pelayan Mamah."Tukas Mamah Eleana dengan tegas dan menatap Bianca dengan penuh intimidasi membuat Bianca tidak berkutik sama sekali.


"Ba-baik Mah..."Ucap Bianca dengan terbata-bata.


"Seperti itukan lebih bagus..!!"Kata Mamah Eleana dengan tersenyum simpul.


Bianca pun segera beranjak dari duduknya untuk keluar dari kamar yang di tempati oleh Mamah Eleana. Namun gerakan wanita itu terhenti saat pergelangan tangannya di cekal dari belakang oleh Mamah Eleana.


"Kamu ingin kemana Bianca?"Tanya Mamah Eleana dengan kening yang mengerut.


"Bianca akan melihat Briana sebentar saja Mah. Takutnya Briana terbangun dan mencari Bianca."Jawab Bianca dengan wajah kakunya saat memanggil Mamah kepada wanita yang ada di hadapannya.


Mendengar jawaban Bianca, sontak Mamah Eleana pun melepaskan cekalanya di pergelangan tangan Bianca dan memberikan izin kepada wanita yang telah melahirkan cucunya tersebut.


Setelah mendapatkan izin dari Mamah Eleana, Bianca pun segera keluar dari kamarnya dan berjalan ke arah kamar briana yang bersebelahan dengan kamarnya.


"Papah..."Lagi dan lagi Bianca harus mendengar Briana bergumam memanggil Edward di dalam tidurnya.


Bianca pun segera menghampiri Briana dengan perasaan sedihnya karena melihat bagaimana Briana begitu merindukan sosok seorang Papah di dalam kehidupannya.


"Anak Mamah sayang..!!"Ucap Bianca sembari menarik selimut hingga batas dada briana.


"Papah..!!"Guman Briana kembali dengan kening yang mengerut dengan bulir-bulir keringat membasahi wajah gadis mungil itu.


"Tenanglah sayang, Mamah ada disini bersamamu."Bisik Bianca sembari menyeka keringat yang membasahi wajah gadis kecilnya.


Sementara itu tanpa Bianca sadari bahwa Mamah Eleana mengikuti dirinya untuk melihat bagaimana perlakuan Bianca kepada briana sang cucu. Namun suatu kejadian yang wanita parubaya itu tidak duga sama sekali dan membuat Mamah Eleana merasa Dejavu mengingat masa lalunya.


"Ya Tuhan, Malang sekali nasib cucuku..."


Batin Mamah Eleana menjerit melihat bagaimana rapuhnya Briana akan kerinduan gadis kecil itu terhadap sosok Papah kandungannya.


"Kamu benar-benar bodoh Edward..!! Karena Telah menyia-nyiakan wanita sebaik Bianca."Lirih Mamah Eleana saat melihat Bianca dengan telatennya menenangkan Briana yang gelisah di dalam tidurnya.


_


_


_


Suasana mobil terasa sangat hening, Mamah Eleana fokus dengan setir kemudi nya dan sesekali wanita parubaya itu melirik Bianca dan Briana yang duduk di samping kursi kemudinya.


"Nenek..."Panggil Briana dengan menatap wajah Mamah Eleana yang tengah sibuk dengan kemudinya.


"Ada apa sayang?"Tanya Mamah Eleana tanpa memalingkan wajahnya dari kemudi.


"Sebenarnya Nenek akan membawa Briana kemana?"Ujar gadis kecil itu dengan mengerjab-ngerjabkan kedua matanya membuat Mamah Eleana tidak kuasa menahan senyuman nya.


"Ekhmm Rahasia..."Cetus Mamah Eleana dengan mengulum senyumannya melihat wajah memberenggut Briana.


"Nenek..!!"Rengek Briana dengan menggoyangkan tangan Mamah Eleana yang sedang memegang kemudi.


"Anna..!!"Tegur Bianca melihat apa yang di lakukan oleh sang anak.


Tanpa terasa beberapa menit pun berlalu sampai mobil yang di kendarai oleh Mamah berhenti di sebuah restoran mewah yang ada di kota xxx. Apakah Mamah Eleana tidak salah mengajak dirinya dan Briana kesini? Pikir Bianca.


"Ayo Sayang, Kita sudah sampai."Kata Mamah Eleana.


"Mamah ayo..!!"Panggil Briana saat Bianca diam saja dan menatap restoran yang ada di hadapannya.


Bianca pun keluar dari mobil itu di ikuti oleh briana. Briana memegang tangan Bianca dengan erat dan sesekali menggoyangkan tangan Bianca saat gadis kecil itu masuk ke dalam restoran mewah itu.


"Bagus sekali..!!"Guman Briana saat gadis kecil itu terpesona akan restoran yang merasa masuki. Rupanya baru pertama kali gadis kecil itu melihat restoran sebagus dan semewah itu. Karena biasanya jika dirinya dan sang Mamah keluar untuk makan, biasanya mereka akan makan di pinggir jalan ataupun restoran yang murah.


Briana masih menggenggam erat tangan Bianca sembari mengikuti langkah Mamah Eleana.


"Ayo Duduk Sayang."Briana menatap sang Mamah dan Bianca pun tersenyum seraya menganggukkan kepalanya memberi isyarat untuk Briana duduk.


Mamah Eleana menatap Briana yang duduk di hadapannya. Semakin lama menatap briana maka semakin Mamah Eleana merasa bersalah akan apa yang terjadi kepada Briana selama ini.


"Anna mau pesan apa?"Tanya Mamah Eleana.


"Emm..."Briana menoleh dan menatap Bianca seolah minta jawaban.


"Samakan saja dengan Mamah."Ujar Bianca yang mengerti arti tatapan dari anaknya itu.


Mamah Eleana pun menganggukkan kepalanya dan mulai menyebutkan menu makanan apa yang akan Mamah Eleana pesan.


Briana menatap ke sekelilingnya dan disini tidak terlalu banyak pengunjung yang datang. Namun tatapan gadis kecil itu terhenti saat melihat saat melihat satu keluarga yang duduk di pojok ruangan terlihat bahagia. Membuat gadis kecil itu merasa iri karena dirinya tidak pernah merasakan hal seperti ini. Terlebih lagi saat gadis kecil itu mengingat bahwa Sang Papah tidak menginginkan kehadirannya.


"Briana kelas berapa?"Tanya Mamah Eleana.


Mamah Eleana pun mengikuti arah pandang sang cucu dan Mamah Eleana pun mengerti apa yang di rasakan oleh Briana saat ini.


"Briana..."Ucap Mamah Eleana mengusap pucuk kepala gadis itu.


"Iya Nek..."


Bianca menatap Briana dengan menghela nafasnya dengan kasar. Saat wanita itu melihat bagaimana rapuhnya Briana akan kerinduan sosok ayah di dalam hidupnya.


"Briana kelas berapa?"Tanya Mamah Eleana mengulangi perbuatannya.


"Kelas Dua Nenek..."Jawab Briana.


"Bagaimana dengan sekolahnya? Pasti Seru ya?"Ujar Wanita parubaya itu.


"Emm... I-iya Nek."Jawab Briana dengan memaksakan senyumannya saat mengingat perlakuan teman-temannya di sekolah.


Tidak lama kemudian datanglah para pelayan membawa pesanan yang beberapa saat lalu Mamah Eleana pesan.


"Selamat menikmati..."


Tiga piring berisikan sebuah steak telah terhidang di atas meja makan dengan beberapa makanan lainnya. Kedua mata Briana berbinar melihat makanan yang ada di hadapannya, Selama ini Briana berharap bisa memakan makanan seperti ini, Namun melihat kondisi keuangan sang Mamah, Briana hanya bisa memendam keinginannya itu. Bahkan tanpa di ketahui oleh Sang Mamah Briana kerap kali menyisikan uang jajannya untuk memakan makanan yang ada di hadapannya bersama dengan sang Mamah di suatu hari nanti.


Dengan pelan Briana mulai mencoba memotong steak di hadapannya. Mamah Eleana yang melihat Briana kesusahan memotong steak nya seketika itu juga terdiam. Kasihan sekali, Apakah selama ini Briana tidak pernah memakan steak?


"Briana pernah mencoba makan steak?"


Tanya Mamah Eleana dengan nada yang hati-hati.


"Belum Nek.."Cicit Briana dengan wajah yang memerah karena malu.


Mamah Eleana menghembuskan nafasnya dengan kasar, Sesaat mendengar ucapan dari sang cucu. Betapa malang kehidupan yang di jalani oleh Briana dan Bianca hanya untuk makan di sebuah restoran pun tidak bisa.


"Anna lebih suka masakan Mamah di rumah Nek."Imbuh Briana saat sorot mata Mamah Eleana ke arahnya.


Sementara itu tidak jauh dari bangku yang di duduki oleh Mamah Eleana dan Briana, Sepasang mata menatap tajam mereka dengan penuh kebencian. Edward yang kala itu sedang melakukan makan siang dengan Sean pun sontak mengeratkan rahangnya melihat pemandangan yang ada di hadapannya.


"Bagaimana Ja'ang itu bisa bersama dengan Mamahku..!!"Desis Edward dengan gigi yang bergemurutuk.


Sean yang saat itu posisinya membelakangi meja yang di tempati oleh Mamah Eleana pun tidak menyadari keberadaan Bianca maupun Briana.


"Sialan..!!"Umpat Edward saat melihat kedekatan dan keakraban Briana dengan sang Mamah.


"Semua ini tidak bisa di biarkan! Bagaimana ****** itu bisa seakrab itu dengan Mamahku..!!"Desis Edward dengan menyimpan sendok dengan kasar sehingga menimbulkan suara yang cukup nyaring di dalam ruangan itu.


Bianca mengedarkan pandangannya saat merasakan seseorang terus-menerus menatap nya dan seketika Bianca terpaku saat kedua matanya bersitatap dengan Edward yang kini tengah menatapnya dengan tajam.


"Tu-tuan Edward..!!"Lirih Bianca dengan suara yang bergetar karena rasa takut yang mulai menguasai wanita itu.


Seketika perasaan Bianca mulai tidak tenang terlebih lagi melihat Edward berjalan menghampiri meja mereka. Alam bawah sadar Bianca seketika memberikan tanda bahaya.


"Anna..."Panggil Bianca dengan suara yang bergetar dengan tatapan matanya tidak lepas dari tubuh tegap laki-laki itu.


Briana mendongkakan kepalanya saat sang Mamah memanggil namanya. "Mamah..!!


Kenapa wajah Mamah pucat sekali? Mamah sakit?"Tanya gadis kecil itu dengan nada penuh ke khawatiran.


"Anna, Lebih baik kita pergi dari sini."Seru wanita itu.


"Tapi mah, makanan Anna belum habis." Sahut Briana menatap makanan nya yang baru sedikit gadis kecil itu makan.


"Briana Tiffany..!! Ikuti saja apa yang Mamah katakan!"Seru Bianca dengan nada penuh penekanan.


"Bianca apa yang kau lakukan?! Kenapa kau membentak Briana..!!"Tukas Mamah Eleana yang merasa marah akan perbuatan yang di lakukan oleh Bianca.


Namun, belum sempat Bianca menjawab seruan Mamah Eleana. Suara berat dari belakang membuat atensi Mamah Eleana teralihkan.


"Edward..!!"Lirih Mamah Eleana dengan menatap wajah laki-laki itu dengan penuh kerinduan.


"Apa yang Mamah lakukan dengan wanita Ja'ang itu..!!"Seru Edward dengan menatap sinis ke arah Bianca.


"Jaga ucapan mu Edward..!!"Pekik Mamah Eleana dengan penuh penekanan.


"Memang benar yang ku katakan, Jika dia adalah wanita Ja'ang yang tidak tahu malu yang menghancurkan kehidupan wanita lainnya demi setumpuk uang."Ujar Edward dengan sarkas dengan tatapan sinis tidak lepas dari sorot mata laki-laki itu.


Bianca memejamkan matanya dengan perasaan hancurnya saat Edward lagi-lagi menghina dirinya. Terlebih lagi kini Edward menghina dirinya di depan Briana.


"Mah..."Panggil Briana dengan suara sendu dan menatap Bianca dengan berkaca-kaca saat sang Papah kembali melontarkan


kata-kata kasar kepada wanita yang telah melahirkannya.


"Anna ingin pulang Mah.."Ujar Briana seraya menggenggam tangan sang Mamah dengan erat.


Bianca mengalihkan pandangannya dan menatap Bianca dengan lekat dan wanita itu dapat melihat kesedihan dan ketakutan di raut wajah sang anak.


"Kita pergi dari sini, karena tempat kita bukanlah disini."Kata Bianca dengan lirih.


Bianca dan Briana pun pergi meninggalkan restoran itu dengan perasaan dan hati yang hancur.