
Mobil mewah milik Edward berjalan dengan kecepatan tinggi membelah padatnya jalanan ibu kota. Terjadi keheningan di dalam mobil itu, baik Edward dan Asisten Kai mereka berdua membisu akan pikiran mereka masing-masing.
Edward menyandarkan kepalanya dengan tatapan matanya yang tidak lepas dari gedung-gedung pencakar langit yang menentukan setiap sudut ibu kota. Entah apa yang kini ada di pikiran Edward, sehingga membuat laki-laki kejam itu termenung di tempatnya.
Bukan kehidupan ini yang Edward inginkan, Namun apalah daya kebencian dan dendam telah menguasai pikiran dan hati laki-laki. Membuat Edward gelap mata dan melakukan hal kejam yang tidak pernah laki-laki itu bayangkan sebelumnya. Namun apalah daya Edward tetaplah manusia biasa yang dapat di kuasai oleh nafsu dan dendam.
"Ya Tuhan...!!"Guman Edward.
Bahkan untuk menyebut nama Tuhan saja, Laki- laki itu merasa tidak layak saat mengingat semua yang telah dia lakukan selama ini.
Jika saat Tuhan memberikan pilihan untuk di lahirkan ke dunia ini atau tidak, Maka Edward akan menjawab dengan cepat, bahwa dia tidak ingin di lahirkan ke dunia ini jika Edward tahu kehidupan nya akan seperti ini.
Lahir dari keluarga kaya dengan harta yang melimpah tidak serta membuat kehidupan Edward bahagia. Masih lekang di ingatan Edward pertengkaran-pertengkaran kedua orang tuanya yang menghiasi masa kecilnya hingga Edward dewasa saat ini, yang membantu Edward ragu dan berpikir berulang kali untuk hidup berumah tangga.
"Tuan kita sudah sampai..."Seruan dari Asisten Kai membuat Edward terhenyak dalam lamunannya.
"Iyaa...?"
"Kita sudah sampai Tuan..."Ucap Asisten Kai depan suara beratnya dan menatap Edward dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.
"Benarkah...?"Edward mengedarkan pandangannya dan benar saja dia telah sampai di tempat tujuannya.
Asisten Kai segera keluar dari bangku kemudinya dan memutari bagian depan mobil untuk membukakan pintu untuk Edward lewati.
"Terima kasih Kai..."Ucap Edward dengan senyuman hangat laki-laki yang tidak pernah Edward tunjukan sebelumnya.
Untuk sejenak Asisten Kai mematung di tempatnya saat mendengar ucapan dari Edward.
"Sama-sama Tuan."Jawab Asisten Kai dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Barisan para laki-laki berpakaian hitam telah berbaris dengan rapi menanti kedatangan Edward.
"Tuan, Anda benar-benar serius ingin meninggalkan negara ini? Tidakkah Anda berpikir ulang tentang keputusan Anda Tuan? Bisnis dan perusahaan Anda sedang berada di puncaknya, bagaimana mungkin Anda bisa meninggalkan semua kerja keras Anda selama ini dengan mudah?"Seru Asisten Kai membuat Edward menghentikan langkahnya.
"Kenapa kau masih membahas semua ini kaisar?! Bukankah sebelumnya kita sudah membicarakan semua ini? Dan tentang kursi kepemimpinan perusahaan aku percayakan sepenuhnya untuk kau kelola!"Sahut Edward dengan memicingkan matanya saat melihat tatapan sendu Asisten Kai yang mengarah kepadanya.
Tanpa harus bertanya Edward tahu apa yang membuat tangan kanannya bersedih seperti itu, Namun tekad laki-laki itu sudah bulat. Edward akan pergi dan meninggalkan negara ini demi memulai lembaran hidupnya yang baru tanpa ada bayang-bayang dendam dan kebencian yang menghantui dirinya.
"Tapi Tuan..."Kata Asisten Kai dengan suara yang tercekat.
"Tidak ada tapi-tapian lagi Kaisar Valentino! Keputusan ku sudah bulat dan aku paling tidak menyukai ada seseorang yang mempertanyakan keputusan ku."Tukas Edward dengan suar yang menajam.
"Maafkan saya Tuan..."Walau dengan berat hati Asisten Kai akan menerima semua keputusan yang telah di buat oleh Edward Sang Tuan.
Langkah demi langkah Edward memasuki jet pribadi akan dia gunakan beberapa saat lagi.
"Hati-hati Tuan..."Ucap Asisten Kai tanpa berani menatap ke arah Edward.
Edward membalikkan badannya mendengar suara parau laki-laki yang telah Edward anggap sebagai adiknya tersebut.
Tanpa berkata Edward membawa tubuh Asisten Kai ke dalam pelukannya dan beberapa kali menepuk punggung laki-laki itu. Masih lekang di ingatan Edward saat pertemuan pertamanya dengan Laki-laki itu yang kini ada di pelukannya. Tubuh yang kurus penuh dengan luka di sekujur tubuh Kaisar kecil, Sehingga membuat Edward merasa iba dan memutuskan untuk merawat Kaisar layaknya adiknya sendiri.
"Jaga kesehatan mu baik-baik, jangan lupa makan dan jangan terlalu sering lembur dan bergadang."Titah Edward menepuk punggung Asisten Kai.
"Tuan, bisakah Anda membawa saya saja dan biarkan Sean yang memegang kendali perusahaan disini."Pinta Asisten Kai dengan penuh harap bahkan tanpa segan laki-laki itu mengatupkan kedua tangannya ke hadapan Edward.
"Tidak Kai, ini semua sudah keputusan ku dan untuk perusahaan yang ada di sini ku percayakan penuh kepada mu dan untuk Sean, dia masih butuh banyak bimbingan dari ku untuk memimpin sebuah perusahaan, tidak seperti kau yang sudah lama mengabdi di perusahaan ku."Timpal Edward dengan helaan nafasnya.
"Walaupun berat untuk saya menerima keputusan Anda, Saya akan berusaha menerimanya dan saya berjanji tidak akan mengecewakan kepercayaan kepada saya." Ucap Asisten Kai dengan bersungguh- sungguh.
_
_
_
Tujuh tahun pun berlalu dengan cepat.
Di sebuah ruangan berdominasi warna putih dengan barang-barang mewah yang menghiasi setiap sudut ruangannya. Terlihat seorang laki-laki tengah bergerak dengan cepat di atas tubuh seorang wanita yang kini tengah terbaring pasrah di bawah Kungkungan laki-laki itu. Suara de'sahan dan geraman menggema di seluruh kamar mewah tersebut.
"Ed, Kamu memang laki-laki yang hebat. Laki-laki yang belum pernah aku temui sebelumnya...!"
"Hanya senjata mu saja yang bisa membuat ku puas dan melayang seperti saat ini"Ucap wanita itu dengan ******* di setiap kalimatnya.
Hasrat Edward semakin melambung tinggi saat mendengar ucapan dari wanita yang ada di bawah Kungkungan.
Edward semakin di buat bringas, Laki-laki itu menggerakkan pinggulnya dengan cepat seolah-olah tengah berpacu dengan waktu.
Edward mengerang tidak ada habis- habisnya saat senjatanya terasa di cengkraman kuat oleh milik Gwen. Tidak sulit bagi Edward mendapatkan wanita seperti Gwen.
Gwen adalah salah satu model yang kini tengah naik daun dan semua itu berkat kekuasaan yang Edward miliki. Tidak ada ikatan di antara Gwen dan Edward. Mereka hanya melakukan hubungan timbal balik, Semua biaya hidup Gwen Edward yang menanggung semuanya dengan syarat Gwen harus siap melayani Edward di mana pun dan kapan pun gairahnya itu datang.
"Papah..."Sebuah suara tiba-tiba saja terdengar di telinga Edward, membuat has'rat laki-laki itu yang tengah melambung meninggi sirna dalam sekejap.
"Akhhh... Sialan!"Pekik Edward sembari menghentikan gerakannya.
Gwen yang hampir saja mencapai puncaknya seketika terkesiap saat Edward tiba-tiba beranjak dari atas tubuhnya.
"Sayang..."Panggil Gwen dengan suara yang seraknya.
Edward hanya menatap Gwen sekilas seraya membalut tubuhnya dengan selembar handuk.
"Edward...!!"Gwen mengerucutkan bibirnya saat Edward tidak menghiraukan seruan dari dirinya.
"Pergilah Gwen! Mood ku sedang tidak baik saat ini."Usir Edward tanpa mengalihkan pandangan ke sembarang arah.
Alis Gwen menekuk tajam mendengar semua perkataan Edward, dia tidak rela Edward meninggalkanya saat has'rat dirinya yang tengah melambung tinggi.
Dengan tubuh polosnya Gwen turun dari ranjang dan melangkah menuju Edward. Seketika Edward membuka matanya saat merasakan sepasang tangan memeluk dada polosnya.
"Gwen...!!"
Gwen tidak mengindahkan seruan Edward, kedua tangan lentiknya meraba dan menjalari seluruh tubuh laki-laki itu tanpa terkendali.
"Shhh...."Edward mengeram saat tangan Gwen mulai memainkan miliknya.
Gwen tersenyum penuh kemenangan di kala merasa nafas Edward yang kian berat dan memburu dengan di iringi geraman yang keluar dari mulut laki-laki itu.
Gwen membalikkan tubuh Edward, dengan berjinjit Gwen menggapai bibir Edward dan terjadilah ciu'man yang cukup panas dan liar diantara dua manusia yang berbeda jenis tersebut.
Tidak puas dengan itu, bibir Gwen mulai turun dan mencumbu tubuh Edward, mulai dari rahang, leher, dada dan perut laki-laki itu tidak lepas dari cumbuan Gwen dan Gwen cukup tahu untuk tidak meninggalkan bekas kecupan di tubuh laki-laki itu.
Entah dari kapan handuk yang melingkar di pinggang Edward terjatuh. Tidak tahan dengan semua yang Gwen lakukan di tubuhnya, Edward segera membawa tubuh Gwen kembali ke atas ranjangnya tanpa melepaskan ciu'man mereka.
Sementara itu di luar sana, Sean yang kini berkerja menjadi Sekertaris sekaligus Asisten pribadi Edward, kini tengah berdiri mematung di depan pintu kamar yang menjadi saksi bisu penyatuan dua manusia berbeda kelamin tersebut.
Ekspresi laki-laki itu sulit untuk di artikan. Tujuh tahun dirinya menjadi Asisten pribadi Edward, Laki-laki itu mengetahui sepak terjang Edward selama ini yang sering bergonta-ganti wanita di setiap harinya. Bahkan Edward sering memerintahkan Sean untuk mencari wanita untuk melampiaskan has'rat nya.
Sean sama sekali tidak mengenal Edward yang kini ada bersamanya. Tidak ada lagi Edward yang dingin namun memiliki hati yang baik. Kini hanya menyisakan Edward Sang pria Casanova nan brengsek.
"Kenapa Anda bisa melakukan semua ini Tuan? Dimanakah Tuan Edward yang kami kenal dulu? Ataukah rasa dendam dan kebencian membuat hati Anda buta, akan kebenaran yang selama ini ada di hadapan Anda?"Batin Sean dengan menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Suara yang berasal dari ponselnya memberikan Atensi Sean, tanpa menunggu lama Sean pun mengangkat telepon tersebut.
"Halo Kai, Bagaimana? Apakah kau sudah mendapatkan kabar tentang keberadaan Nona Bianca?"Tanya Sean dengan memelankan suaranya agar tidak terdengar oleh dua manusia yang kini tengah mengarungi surga dunia itu.
Di seberang sana Asisten Kai mendesakkan Nafas saat mendengar cercaan pertanyaan dan Sean. Memang setelah tujuh tahun lalu kepergian Edward untuk membuka lembaran hidupnya, dengan diam-diam Asisten Kai dan Sean mencari keberadaan Bianca, karena walau bagaimana pun anak yang ada di dalam kandungan Bianca adalah darah daging dan tanggung jawab Edward. Meskipun laki-laki itu menolak fakta bahwa anak yang ada di dalam kandungan Bianca adalah anak kandungnya.
"Sepertinya ada seseorang yang dengan sengaja menutup akses kita untuk menemukan keberadaan Nona Bianca."
Jawab Asisten Kai dengan memijat pelipisnya yang berdenyut.
"Apa?! Bagaimana mungkin semua itu bisa terjadi?!"Pekik Sean dengan nada yang cukup meninggi.
"Pelankan suara mu sialan..!! Kau ingin Tuan Edward mengetahui rencana kita?"Sunggut Asisten Kai.
Sementara itu Edward semakin menggerakkan pinggulnya dengan sangat kencang dan cepat di saat laki-laki itu merasakan pelepasan nya akan tiba sebentar lagi.
"Pelan-pelan Ed..!!"Pekik Gwen saat intinya terasa perih akan hujaman yang Edward lakukan.
"Akhh..."
Edward ambruk di atas tubuh Gwen saat pelepasan itu terjadi beberapa saat yang lalu.
"Ed be-berat...!!"Gwen memukul punggung Edward saat tubuh besar Edward menindih tubuhnya.
Edward pun segera beranjak dari tubuh Gwen dan kembali memakai pakaiannya yang sempat terlepas sebelum pergulatan itu terjadi.
"Ed...!!"Panggil Gwen tanpa beranjak dari posisinya."Bagaimana dengan permintaan ku? Kau benar-benar berjanji kan, Akan menjadikan aku brand ambassador produk dari perusahaan mu?"
"Kau tidak perlu khawatir, Akan ku pastikan kau yang akan menjadi model produk yang akan di keluarkan oleh perusahaan ku." Seru Edward seraya keluar dari ruangan itu.
Selama tujuh Tahun ini adalah kehidupan ini yang laki-laki itu jalani. Memuakkan bukan, Semua orang mendekati dirinya hanya demi mendapatkan keinginannya dengan cara singkat. Tidak ada satupun orang yang benar-benar tulus menerima Edward apa adanya.
"Terima kasih Ed, Kau memang yang terbaik."Pekik Gwen dengan tersenyum menyeringai tanpa di ketahui oleh Edward.
Edward segera keluar dari kamarnya tanpa menghiraukan Gwen yang memanggil dirinya. Setelah Edward keluar dari kamar itu, langkah kaki Edward terhenti saat melihat Sean yang tengah berdiri mematung persis di depan pintu kamar itu.
"Tuan..."
"Kenapa kau masih ada disini?"Edward masih mengingat beberapa jam yang lalu dirinya memerintahkan Sean untuk pergi meninggalkan apartemen nya.
"Maafkan saya Tuan."Laki-laki itu tampak membungkukkan badannya ke hadapan Edward. "Saya hanya ingin menyerahkan berkas ini, agar Anda pelajari untuk meeting di esok hari."
"Baiklah, Kau boleh pergi dari sini."
_
_
_
Seorang wanita tengah tertidur di atas tempat peraduan nya. Bulir-bulir keringat sebesar biji jagung tampak menghiasi pelipis dan leher jenjang wanita itu.
"Saya mohon lepaskan saya Tuan..!!"Seru wanita itu tanpa membuka kedua matanya.
"Tidak Tuan..!! Ja-jangan..."
"Akhhh...."Wanita itu memekik seraya menyentuh perut datarnya, Seolah-olah yang kini di dalam mimpinya benar-benar terjadi saat ini.
Seketika wanita itu membuka kedua matanya saat bayang-bayang masa lalu kembali menghantui dirinya, walaupun wanita itu mencoba melupakan segala kenangan buruk dan pahit di masa lalunya.
"Ya Tuhan..!! Cobaan apalagi yang kau berikan kepada hambamu ini. Tidak bisakah Engkau menghapus kenangan pahit masa laluku ini?"Ucap Wanita itu seraya menyeka
keringat yang membasahi wajahnya.
"Aku Lelah Tuhan..."
"Setidaknya berikanlah sedikit saja kebahagiaan bagi hambamu yang hina ini Tuhan."Pinta Wanita itu.
Wanita itu mengalihkan pandangannya saat merasakan pergerakan di sampingnya. Tangan wanita itu terulur menyentuh wajah tubuh mungil yang kini meringkuk dalam satu selimut bersama dirinya.
Briana Tiffany anak yang telah dia lahirkan enam tahun yang lalu, kelemahan sekaligus kekuatan yang di miliki oleh wanita itu. Jika saja dirinya tidak memiliki malaikat kecilnya itu, mungkin saja wanita itu lebih memilih mengakhiri hidupnya dari pada menjalani kehidupan nya yang penuh kesakitan dan penderitaan.
Kenangan pahit masa lalunya selalu menghantui wanita itu. Saat dimana dirinya terjebak dalam sebuah hubungan dengan laki-laki yang tidak pernah dia bayangkan sama sekali. Sebuah hubungan yang memberikan luka dan kesakitan yang begitu dalam dan tidak pernah dia lupakan.
Edward O'deon....
Mengingat nama laki-laki brengsek itu membuat Bianca tanpa sadar mengepalkan tangannya. Karena laki-laki brengsek itu Bianca harus kehilangan salah satu anak yang ada di dalam kandungannya. Gara- gara laki-laki brengsek itu membuat Briana nya harus terlahir tidak seperti anak-anak usianya.
Bianca masih mengingat setiap perkataan dan siksaan yang Edward lakukan kepada dirinya. Tendangan itu, Bianca masih mengingatnya dengan jelas. Bagaimana kaki besar itu menendang perutnya dengan sangat kencang, sehingga membuat dirinya harus kehilangan salah satu anaknya.
Seandainya Bianca tidak naif dan lebih memilih pergi dari kehidupan Edward, pasti saat ini kedua anaknya tumbuh dengan sehat tanpa kekurangan apapun.
Briana lahir secara prematur dan memiliki kelainan jantung bawaan,membuat Briana tidak seperti anak-anak seumuran nya pada umumnya. Bianca sangat posesif kepadanya anak perempuan nya itu, Bianca tidak ingin apa yang terjadi kepada dirinya, akan terjadi pula kepada buah hatinya.
"Mamah..."Panggil Briana dengan mengerjabkan kedua matanya.
"Sayang, Kenapa kau terbangun hmm..." Tanya Bianca seraya menyelipkan helaian rambut yang menutupi wajah malaikat kecilnya itu.
Bianca sedikit bersyukur karena gen dirinya mendominasi wajah Briana. Mulai dari alis, mata, hidung dan bibir semua menurun dari Bianca. Hanya saja warna mata Briana menurun dari laki-laki brengsek itu.
"Mamah bermimpi buruk bagi?"Tanya balik Briana tanpa menjawab pertanyaan sang Mamah.
"Tidak sayang, Mamah terbangun karena haus ingin minum."Jawab Bianca dengan senyuman yang menghiasi wajah cantiknya.
"Benarkah? Mamah tidak mencoba untuk membohongi Briana kan?"Tukas Briana dengan memincingkan matanya. Karena Briana tahu Sang Mamah selalu bermimpi buruk saat di malam hari.
"Astaga, Putri kecil Mamah ternyata cerewet sekali."Sahut Bianca dengan kekehan nya membuat Briana mencebikkan bibirnya.
"Mamah...!!"
Jangan lupa Like Comment Rate dan Vote