
"Mamah sebenarnya kita akan kemana?" Tanya Briana kepada Sang Mamah yang kini tengah duduk di sampingnya.
"Rahasia..."Cetus Bianca dengan tersenyum penuh arti ke arah Briana yang kini tengah menatapnya.
Briana mengerucutkan bibirnya saat mendapatkan jawaban yang seperti itu untuk ke sekian kalinya dari Sang Mamah.
"Mamah..."Rengek Briana dengan tangan yang bersedekap di dadanya.
"Berhentilah merajuk seperti itu Ana dan lihatlah kejutan apa yang akan Mamah berikan kepada mu."Tutur Bianca mengelus pucuk kepala Briana dengan sayang.
"Hemm, Baiklah..."Ucap Briana dengan membuang pandangannya dengan kesal.
"Kesini tidurlah, karena perjalanan kita masih panjang."Seru Bianca membawa Briana ke dalam pelukannya.
"Baiklah..."Jawab Briana.
Tidak membutuhkan waktu yang cukup lama Briana pun kembali terlelap dalam peraduan nya di dalam dekapan wanita yang melahirkannya.
"Anak Mamah sayang."Ucap Bianca dengan pandangan matanya yang kosong.
Bianca menghembuskan nafasnya dengan kasar saat rasa sesak menyeruak di dalam dadanya. Di antara kegelisahan yang menyelimuti wanita itu, akhirnya Bianca memutuskan sebuah keputusan yang besar di dalam hidupnya, Yaitu mempertemukan Briana dengan Papah kandungannya, apapun yang terjadi Bianca akan menghadapinya dengan berlapang dada.
Bianca sudah mempersiapkan dirinya saat bayang-bayang penolakan Edward akan kehadiran Briana menghantui wanita itu dan tangisan Briana karena mengetahui kebenarannya bahwa kehadirannya tidak di inginkan oleh Sosok Papah yang selama ini gadis kecil itu rindukan.
Debaran jantung Bianca semakin terasa saat dirinya telah berada di pinggiran kota kelahirannya, kota yang telah wanita itu tinggalkan selama tujuh tahun ini, kota yang telah menorehkan banyak luka dan kenangan pahit bagi kehidupan wanita malang itu.
"Ya Tuhan, Semoga ini keputusan yang aku ambil adalah keputusan yang terbaik untuk hambamu ini maupun bagi anakku ini."
Pinta Bianca di dalam hatinya dengan memejamkan kedua matanya.
Bianca menyandarkan kepalanya dengan tatapan matanya tidak lepas dari pemandangan di sekitarnya, dimana gedung-gedung menjulang tinggi walaupun kini mereka masih berada di pinggiran kota.
"Ternyata semuanya telah berubah setelah Tujuh tahun aku pergi meninggalkan kota dengan sejuta kenangan pahit ini."Guman Bianca sembari menyeka air mata yang entah kapan keluar dari kedua pelupuk matanya.
"Bagaimana keadaan Ayah dan Kak Arnold saat ini? Apakah Papah merindukan ku? Ataukah Papah merasa sangat bahagia saat Bianca menghilang di kehidupan Papah? Akh, Bianca lupa jika memang itulah keinginan Papah."Ujar Bianca dengan tersenyum getir saat mengingat betapa besarnya keinginan Sang Papah agar dirinya lenyap di kehidupan Ayah Kandungnya tersebut.
Satu jam pun berlalu, Bus yang di tumpangi oleh Bianca telah sampai di tujuan dan Bianca pun dengan segera keluar dari bus tersebut. Namun, melihat wajah lelap dari sang anak di dekapannya, membuat Bianca tidak tega untuk membangunkan Briana sehingga membuat Bianca akhirnya memilih untuk menggendong Briana.
Briana yang merasakan tubuhnya melayang pun sontak membuka kedua matanya dan hal yang pertama Briana lihat adalah wajah teduh Sang Mamah yang tengah menggendong nya.
"Mamah..."Panggil Briana dengan suara seraknya khas orang yang baru bangun tidur.
"Kamu sudah bangun..."
"Hemm..."Briana memutar pandangannya ke sekeliling arah, saat melihat tempat yang begitu asing bagi gadis kecil itu.
"Kita ada dimana Mah?"Tanya Briana dengan menautkan kedua alisnya.
"Kita ada di kota xxx sayang."Jawab Bianca dengan langkah yang perlahan-lahan saat wanita itu menuruni tangga bus tersebut.
"Kota xxx..."
"Mamah turunkan Briana Mah. Mamah pasti leleh menggendong Briana sejak tadi."Seru Briana melihat keringat yang membasahi pelipis wanita yang melahirkan nya itu.
"Tidak apa-apa sayang, Mamah tidak lelah. Lagi pula kamu itu masih dalam proses penyembuhan jadi tidak boleh terlalu lelah."
Timpal Bianca sembari mendudukkan Briana di kursi tunggu yang ada di terminal bus itu.
"Mamah kenapa kita ada di kota xxx."Tanya Briana dengan menatap Sang Mamah dengan tatapan puppy eyes nya.
Bianca menghela nafasnya saat tatapan Briana yang mengarah kepadanya.
"Mah..."Briana menggoyangkan lengan Mamahnya itu saat Bianca tidak kunjung menjawab pertanyaan nya.
"Bukankah Ana ingin bertemu Papah?"Ujar Bianca dengan menatap intens anaknya itu.
"Pa-papah..."Cicit Briana dengan mendongkakan kepalanya dan membalas tatapan sang Mamah.
"Benar sayang, Papah.. Bukankah Anna ingin bertemu Papah?"
Briana menatap lekat sorot mata Bianca dan gadis kecil itu mengetahui tidak ada kebohongan dari tatanan Mamah itu.
"Benarkah Mah? Mamah tidak berbohong?"
"Apakah Mamah pernah berbohong kepada Anna?"Tanya balik Bianca.
"Akhhh... Terima kasih Mamah."Pekik Briana dengan menghambur ke dalam dekapan Sang Mamah.
"Hati-hati Anna! Lukamu masih belum sembuh sepenuhnya."Tegur Bianca membalas pelukan Briana tidak kalah erat.
"Maafkan Anna Mah. Anna terlalu senang karena Anna mengetahui bahwa sebentar lagi Anna akan bertemu dengan Papah." Seru Briana dengan senyuman yang selalu menghiasi wajahnya.
Bianca yang melihat senyuman Briana pun seketika itu ikut tersenyum karena merasakan kebahagiaan yang kini anaknya itu rasakan.
"Mamah..."
"Ada apa sayang?"
"Terima kasih Mah. Terima kasih karena Mamah telah menepati janji Mamah kepada Anna. Meskipun Briana tahu, keinginan Briana saat ini pasti menyakiti perasaan Mamah."
"Apa yang kamu katakan Nak..!!"Tukas Bianca.
"Anna tidak tahu permasalahan apa terjadi kepada Mamah dan Papah sehingga kita sekarang seperti ini. Namun, yang harus Mamah tahu Anna sangat menyayangi Mamah melebihi apapun di dunia ini."
Bianca tidak kuasa menahan air matanya mendengar kata-kata manis itu keluar dari bibir anaknya.
"Mamah jangan menangis seperti itu lagi.
Hati Anna sakit melihat Mamah menangis seperti ini. Terlebih lagi alasan Mamah menangis adalah karena Anna."Ucap Briana sembari menyeka air mata wanita yang melahirkannya itu.
"Tidak sayang, Mamah menangis bukan karena Mamah bersedih. Namun, Mamah menangis karena Mamah bersyukur Tuhan telah menitipkan Anak yang pintar kepada Mamah."Jawab Bianca mengecup tangan mungil anaknya itu.
"Anna makan dulu ya, setelah itu Anna minum obat lalu kita lanjutkan perjalanan kita."Seru Bianca membuka tas ranselnya dan mengambil kotak bekal yang telah wanita itu siapkan sebelumnya.
"Baik Mah..."
Bianca pun menyuapi Briana dengan hati-hati sampai kotak bekal itu habis tidak bersisa.
"Sudah Mah, Anna kenyang."Ujar Briana dengan menggelengkan kepalanya saat Bianca akan menyuapi nya.
"Ya sudah. Sekarang minum obatnya ya."
Kata Bianca dan di angguki oleh Briana.
.
.
.
.
.
Di pagi hari Edward kembali di buat murka, saat mengetahui bahwa ada salah satu bawahannya berkhianat dan menyebabkan kerugian yang tidak sedikit bagi perusahaan laki-laki itu. Amarah laki-laki itu memuncak karena Edward paling benci dengan yang namanya penghianatan apapun itu alasannya.
Bugg...
Bugg...
Tanpa belas kasihan Edward memberikan pukulan dan tendangan yang bertubi-tubi di tubuh pengkhianatan itu. Tidak peduli bahwa kini tubuh sang pengkhianatan itu telah di penuhi oleh luka lebam karena pukulan yang Edward lakukan.
"Arkhh..."Erangan dengan sebuah jeritan menyatu saat Edward menendang tulang keringnya dengan sangat kencang, bahkan tanpa terasa cairan berwarna merah menyembur dari mulut laki-laki itu.
Tiada ampun bagi seorang pengkhianat. Jika dulu Edward dengan gempang memaafkan kesalahan orang yang telah mengkhianatinya, tapi tidak dengan sekarang! Tidak ada tempat bagi seorang pengkhianat di tempatnya.
"A-ampun Tuan Maafkan saya."Kata laki-laki itu dengan mengatupkan kedua tangannya dan memohon ampun kepada Edward.
"Ampun katamu..!!"Ujar Edward dengan tersenyum miring kepada laki-laki yang kini tengah bersimpuh di bawahnya tersebut.
Brugg...
Sementara itu Sean hanya menatap apa yang di lakukan nya itu dengan berdecak pelan pekerjaannya kembali bertambah karena laki-laki pengkhianat itu.
"Ckck Sialan..!!"Guman Sean dengan mendecakan bibirnya.
"Sean..."Panggil Edward dengan nafas yang memburu karena amarah yang masih memburu laki-laki itu.
"Iya Tuan..."Sean pun segera menghampiri Edward tanpa di perintah dua kali.
"Bereskan pengkhianat ini."Titah Edward.
"Baik Tuan."Jawab Sean dengan cepat.
Mendengar apa yang di ucapkan oleh Edward, sontak membuat laki-laki itu berusaha menggapai Edward karena dia tahu apa yang akan dirinya terima akibat apa yang telah dirinya lakukan.
"Ampun Tuan, Maafkan saya..."Ucap laki-laki itu bersimpuh di hadapan Edward dan memegang kaki Tuannya itu.
"Beraninya sekali kau memegang ku dengan tangan kotor mu itu Hah..!!"Pekik Edward dengan menendang perut laki-laki itu.
"Uhuk-uhuk Tu-tuan, Maafkan saya..."
"Maaf katamu?!"Cetus Edward dengan tersenyum penuh arti. "Seharusnya kau berpikir ulang saat kau melakukan hal yang menjijikkan itu!"Imbuh Edward dengan penuh penekanan.
"Maafkan saya Tuan."Laki-laki itu pun menundukkan kepalanya pasrah akan apa yang terjadi kepadanya.
"Ckck... Sean bawalah pergi pengkhianat ini dari hadapan ku!"Titah Edward.
"Baik Tuan..."
Edward hanya diam saat laki-laki pengkhianat itu di bawa secara paksa oleh bawahannya. Edward menulikan telinga nya saat laki-laki pengkhianat itu meminta ampun kepada dirinya.
...
"Mamah kenapa kita kesini? Bukankah Mamah akan membawa Briana ke Papah?" Tanya Briana dengan mendongkakan kepalanya saat melihat gedung yang menjulang tinggi di hadapannya.
"Apa Mamah lupa tempat tinggal Papah dimana?"Cetus Briana seraya menatap Mamahnya.
"Tidak sayang, Mamah tidak lupa kok tempat tinggal Papah mu."Balas Bianca dengan senyuman khas wanita itu.
"Lalu, kenapa kita kesini?"Tanya Briana dengan mengerjab-ngerjabkan kedua matanya.
Bianca tersenyum tanpa menjawab pertanyaan anaknya itu. Bianca pun menggandeng tangan Briana untuk masuk ke dalam perusahaan laki-laki yang telah menorehkan luka kepada dirinya itu.
"Maaf Nona, Bisakah saya bertemu dengan Tuan Edward?"Ujar Bianca kepada resepsionis yang ada di hadapannya.
"Apakah Anda sudah memiliki janji sebelumnya dengan Tuan Edward Nyonya?" Tanya resepsionis itu dengan ramah.
"Belum Nona, Tapi saya mohon izinkan saya bertemu Tuan Edward karena saya memiliki urusan yang sangat penting Nona."Seru Bianca dengan gusar.
"Maafkan saya Nyonya, tapi ini sudah kebijakan dari perusahaan dan jika memang Anda memiliki urusan yang sangat penting dengan Tuan Edward, silahkan Anda membuat janji terlebih dahulu dengan Tuan Edward."Seru resepsionis itu tanpa senyuman yang luntur di wajahnya.
Bianca melirik Briana yang kini tengah menundukkan kepalanya mendengar jawaban dari Resepsionis itu. Bianca tahu kini Briana tengah menahan tangisannya karena harapan gadis kecil itu sirna untuk bertemu sosok Papah yang selama ini gadis kecil itu rindukan.
"Papah..."Guman Briana dengan memilin ujung baju yang dia kenakan.
"Nona saya Mohon, satu kali ini saja..."Pinta Bianca dengan mengatupkan kedua tangannya memohon sedikit saja untuk mengizinkannya bertemu dengan Papah kandung sang anak.
"Maaf Nyonya, Saya tidak bisa membantu Anda."Kata resepsionis itu.
"Mamah..."Panggil Bianca menarik ujung baju Mamahnya itu.
Briana mengedarkan pandangannya ke sekeliling nya dan seketika mata Briana membelik melihat dua orang yang keluar dari sebuah lift. Meskipun Briana baru satu kali melihat foto Papah nya itu, tapi Briana yakin bahwa salah satu laki-laki yang baru keluar dari lift itu adalah Papah nya.
"Papah..."Pekik Briana dengan melepaskan tangannya dari genggaman Sang Mamah.
Briana berlari tidak peduli rasa lelah yang gadis kecil rasakan. Waktu seolah berhenti bagi Briana melihat sosok laki-laki yang begitu gadis kecil itu rindukan.
"Papah..!!"Briana pun memeluk kaki Edward dengan erat seolah-olah takut kehilangan Papah nya itu.
"Papah Anna rindu..."Ucap Briana dengan suara seraknya.
"Apa yang kau lakukan Sialan..!!"Pekik Edward menghempaskan tubuh Briana membuat gadis kecil itu terbentur lantai dengan cukup kencang.
"Briana...!!"Bianca memekik dengan kedua bola mata yang membelik melihat anak yang selama ini dirinya jaga terluka karena Papah kandungnya.
"Mamah..."Mata gadis kecil itu berembun dan siap mengeluarkan air matanya dengan sekejap saja.
"Apa yang Anda lakukan Tuan Edward?!"
Pekik Bianca membantu Briana untuk bangkit.
"Ja'ang...!!"Desis Edward dengan gigi yang bergemurutuk. Amarah laki-laki itu belum sepenuhnya reda, kini kembali membara melihat wanita yang telah menghancurkan hidupnya.
"Tu-tuan..."Ucap Bianca membawa Briana ke belakang tubuhnya.
"Ternyata kau masih punya nyali untuk menemui ku hmm..."Ujar Edward dengan tersenyum miring.
Bianca masih melihat dengan jelas kebencian itu masih membara dalam sorot mata Ebahwa wdward, meskipun semua peristiwa kelam itu telah tujuh tahun berlalu.
"Tuan, tidak bisakah Anda melupakan semua kejadian itu?"Tukas Bianca dengan menggenggam erat tangan Briana.
"Melupakan..?!"Cetus Edward dengan seringai yang semakin tercekat jelas di sudut bibir laki-laki itu.
"Tu-tuan...!!"Bianca memundurkan langkahnya saat laki-laki itu melangkah menuju dirinya.
"Kau pikir setelah apa yang kau lakukan kepada ku, Aku dengan mudah memaafkan semua kesalahan yang kau lakukan?!"Seru Edward dengan penuh penekanan.
"Dan bukankah sudah seringkali saya katakan bahwa bukanlah saya yang menjadi dalang dari malam itu!"Tukas Bianca dengan tegas.
Briana menggenggam erat tangannya saat melihat perdebatan antara Mamah dan Papah nya itu.
"Mamah..."Panggil Briana dengan mengalihkan Atensi kedua orang dewasa yang tengah beradu argumentasi itu.
"Ckck... Apakah ini Anak haram mu!"Seru Edward membuat Briana terhenyak di tempatnya.
"Anak haram..."Cicit Briana berusaha menahan tangisannya.
"Tuan Edward..!!"Sentak Bianca saat mendengar kata-kata kejam itu dari mulut Papah kandung anaknya tersebut.
"Berani sekali, wanita murahan seperti kau meninggikan suara di hadapan ku..!!"Desis Edward dengan menajamkan suaranya begitu pun dengan tatapan mata laki-laki itu.
"Anda boleh menghina saya dengan sesuka hati Anda. Injak-injaklah harga diri saya sampai Anda merasa puas, Namun jika Anda sekali lagi menghina Anak saya, Maka saya yang sendiri yang akan membungkam mulut Anda itu!"Seru Bianca dengan menunjuk Edward dengan tatapan penuh kemarahan.
"Ja'ang Sialan..!!"Desis Edward yang entah kapan sudah menggapai tangan tangan Bianca dan memelintir tangan mungil itu.
"Akhh..."Jerit Bianca saat tangannya begitu kuat di cengkraman oleh Edward.
"Mamah...!!"
"Ja'ang seperti mu memang harus di beri pelajaran."Tutur Edward dengan tersenyum misterius.
"Aakhh..."Bianca kembali memekik saat Edward menjambak rambutnya dan berjalan tanpa melepaskan jambakannya. Membuat wanita itu terpaksa mengikuti langkah Edward dengan terseok-seok.
"Papah, Apa yang Papah lakukan? Lepaskan Mamah Pah..!!"Seru Briana dengan memukul mukul kaki Edward.
"Diamlah kau Sialan..!!"Edward mendorong Briana dengan kasar membuat gadis kecil itu lagi-lagi harus tersungkur akibat perbuatan dari Papahnya tersebut.
Para karyawan tidak mampu berbuat apa-apa ataupun membantu Briana untuk bangkit. Karena tempramen Edward yang di milikinya oleh sangatlah buruk dan telah mereka ketahui, jadi mereka hanya diam dan mencari aman saja agar tidak terkenal masalah dengan atasannya tersebut.
Jangan lupa
Like
Comment
Rate
Vote
Favorit