Oh My Baby

Oh My Baby
Part 42


Kaisar Valentino itu adalah nama lengkap dari seorang laki-laki yang berpengaruh besar terhadap berkembangnya perusahaan yang di bangun oleh Edward. Kontribusi, pemikiran dan ide-idenya mampu membuat perusahaan Dimitri berada di puncaknya dalam kurun waktu beberapa Tahun.


Kaisar Valentino seorang laki-laki yang tidak memiliki nama keluarganya, karena sosok Asisten Kai besar di sebuah panti asuhan yang ada di pinggiran kota. Sebuah panti asuhan sederhana dan dimiliki oleh perorangan dan tidak memiliki donatur yang tetap sehingga membuat ibu panti harus berjuang keras memenuhi kebutuhan Anak- anak yang ada di dalam panti asuhan.


Kaisar kecil memiliki kecerdasan yang cukup cemerlang, Namun semua itu tidak serta merta membuat kehidupan kaisar berjalan mulus. Di tahun ke delapan kaisar harus menelan pil pahit saat melihat ibu panti yang mengasuh dan membesarkan nya di nyatakan meninggal karena sengaja di bunuh oleh seseorang yang tidak di kenal dan seminggu kemudian panti asuhan tempat kaisar bernaung di gusur paksa oleh sebuah perusahaan besar untuk di jadikan sebuah tempat perbelanjaan.


Asisten Kai menghela nafasnya dengan panjang saat mengingat kisah kelam masa lalunya, mengingat bagaimana tragisnya kematian ibu pantinya membuat sebuah tanda tanya besar bagi Asisten Kai. Terlebih lagi tentang masalah yang menjerat ibu panti sehingga membuatnya menjadi korban pembunuhan dan siapa yang telah membunuh sang ibu panti kini menjadi masalah yang belum terpecahkan oleh Asisten Kai.


"Siapapun orang itu, Akan ku pastikan membuatnya menyesal karena telah merenggut Ibunda dari sisiku."Ucap Asisten Kai dengan tatapan matanya yang menerawang. Mengingat kenangan manis bersama ibu panti dan anak-anak panti lainnya.


Dan untuk kedua orang tuanya, Asisten Kai sudah tidak lagi mengingat dan memikirkan nya. Karena pada saat mereka menelantarkan dirinya ke panti asuhan, maka pada saat itu pula hubungan darah di antara mereka terputus dan Asisten Kai tidak ingin mengambil pusing tentang kehidupan kedua orang tuanya.


Lamunan Asisten Kai terhenyak saat seruan dari salah satu anak buahnya dengan nada yang cukup meninggi.


"Kau ingin mati Sialan...!!"Pekik Asisten Kai dengan belikan kedua matanya.


"Maafkan saya Tuan."Ucap bawahan itu tanpa berani mengangkat pandangannya karena melihat tatapan tajam dari Asisten Kai.


Asisten Kai menghembuskan nafasnya dengan panjang, mengurangi rasa amarah yang kian membelenggu dirinya.


"Katakan, Bagaimana tugas yang telah ku berikan kepadamu?"Tanya Asisten Kai dengan menatap intens sang bawahan.


"Saya berhasil mendapatkan rekaman cctv malam itu Tuan. Walaupun supermarket itu berjarak cukup jauh dengan hotel, Namun rekaman videonya cukup terlihat jelas dan jernih."Sahut sang bawahan seraya menyerahkan sebuah flashdisk kepada Asisten Kai dan dengan cepat laki-laki itu mengambilnya.


"Benarkah? Apakah bukti yang kau serahkan dapat di percayai kebenarannya?"Seru Asisten Kai dengan menyipitkan matanya dan tatapan matanya tidak hentinya menatap Sang bawahan.


"Anda bisa mempercayai saya Tuan dan jika ternyata rekaman yang saya berikan kepada Anda adalah kesalahan, Maka nyawa saya taruhannya."Ucap Sang bawahan itu dengan tegas membuat sudut bibir Asisten Kai yang mendengarnya terangkat.


"Bagus..."Asisten Kai pun segera mengambil laptopnya dan menyambungkan flashdisk nya ke laptop dan tidak lama kemudian muncullah video dimana Edward keluar dari Club malam dimana pesta lajangnya di rayakan dan setelah itu datanglah segerombolan pria berbaju hitam yang menahan Edward setelah beberapa menit muncullah Bianca dari sebrang jalan menatap curiga ke arah segerombolan pria.


"Jadi yang di ceritakan oleh Nona Bianca adalah kebenaran."Guman Asisten Kai.


Laki-laki itu kembali teringat tentang laporan yang telah di berikan oleh bawahan nya beberapa bulan lalu, yang berbanding terbalik dengan laporan yang kini berada di tangan nya.


"Sialan..!! Sepertinya ada yang ingin mempermainkan kehidupan Tuan Edward." Pekik Asisten Kai dengan mengebrak meja di hadapannya.


"Cari keberadaan Anthonio! Bila perlu kerahkan seluruh Anggota untuk mencari keberadaan pengkhianat itu hidup-hidup!" Titah Asisten Kai dengan suara lengkingan Nya.


"Ba-baik Tu-tuan."Jawab Sang bawahan itu dengan cepat. Laki-laki itu pun segera berjalan keluar dari ruangan yang terasa mencekiknya tersebut, Namun dia menghentikan langkahnya saat mengingat ada satu lagi bukti yang belum dia serahkan kepada Asisten Kai.


"Untuk apa lagi kau disini Sialan...!!"Pekik Asisten Kai dengan menatap tajam bawahan nya.


"Maafkan atas kelancangan saya Tuan. Saya hanya ingin memberikan satu lagi laporan kepada Anda tentang Nona Laura." Ucap bawahan itu seraya memberi sebuah amplop coklat kepada Asisten Kai dan dengan cepat Asisten Kai pun menerimanya.


"Tuan Marvin..."Guman Asisten Kai saat melihat foto seorang laki-laki yang merupakan teman dari Tuannya yang begitu intim dan mesra kepada seorang wanita yang di rangkulan nya yang tidak lain adalah kekasih Edward yang beberapa bulan ini menghilang.


"Sebenarnya ada hubungan apa Tuan Marvin dan Nona Laura? Kenapa mereka begitu mesra?"Batin Asisten Kai dengan memijat pelipisnya yang terasa berdenyut akibat memikirkan masalah yang kini menimpa Tuanya.


"Rahasiakan informasi ini dari siapapun dan jangan sampai informasi ini terdengar di telinga Tuan Edward."Titah Asisten Kai dengan suara penuh peringatan.


"Baik Tuan..."Jawab sang bawahan.


"Entah apa yang akan di lakukan oleh Tuan Edward kepada Nona Bianca, Setelah Tuan Edward mengetahui informasi ini."


_


_


_


Ternyata menghilangnya Bianca dari rumah sakit telah sampai ke telinga Cleona maupun dengan Dokter Andreas. Kini mereka berdua telah kalang kabut mencari keberadaan Bianca di tempat tempat yang sering Bianca kunjungi dan tempat kerjanya, Namun semuanya nihil mereka sama sekali tidak menemukan Bianca. Membuat Cleona merasa bersalah karena telah meninggalkan Bianca seorang dirinya, tanpa pengawasan siapapun.


"Kita akan kemana lagi Cleona? Semua tempat telah kita datangi dan semua teman-teman Bianca telah kita temui dan tidak ada satupun dari mereka yang mengetahui keberadaan Bianca."Seru Dokter Andreas tanpa mengalihkan pandangannya ke arah kemudinya.


Cleona termenung memikirkan bagaimana keadaan Bianca. Menurut Cleona tidak mungkin Bianca melarikan diri dari rumah sakit dengan keadaan lemah seperti itu, ataukah ada seseorang yang dengan sengaja menculik Bianca dan seketika Cleona memekik saat mengingat bahwa Edward telah terlepas dari tuntutan nya.


"Sialan...!! Kenapa aku baru menyadari nya." Umpat Cleona membuat Dokter Andreas mengalihkan tatapannya ke arah Cleona.


"Kenapa kau mengumpat seperti itu Cleona?"


"Andreas, Apakah kau telah memeriksa cctv yang mengarah ke ruangan Bianca?"Tanya Cleona dengan penuh harap. Lebih baik Bianca melarikan diri, dari pada wanita hamil itu di culik oleh Edward. Cleona tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kepada Bianca Saat semua itu bayangan terjadi. Edward akan melampiaskan semua kebenciannya kepada Bianca dan Cleona tidak bisa membayangkan apa yang akan Edward lakukan kepada.


"Sudah dan tidak ada satupun rekaman yang menunjukkan bahwa Bianca keluar dari ruangan rawatnya. Tapi tunggu dulu...."


Dokter Andreas kembali mengingat obrolannya dengan petugas cctv bahwa ada beberapa rekaman cctv yang telah menghilang saat jam makan siang dan semua cctv itu berada di lantai ruangan rawat Bianca.


"Jangan bilang bahwa Edward lah dalang dari hilangnya Bianca saat ini."Ujar Dokter Andreas dengan kedua matanya yang membola.


"Entahlah itu hanyalah praduga ku semata. Terlebih lagi sekarang Edward telah bebas dari penjara."Sahut Cleona dengan menghela nafasnya dengan kasar.


"APA...!!"Pekik Dokter Andreas dengan menghentikan mobilnya dengan tiba-tiba, membuat kening Cleona terpentuk dashboard mobil.


"Apa yang kau lakukan Andreas...!!"Seru Cleona dengan mengusap keningnya yang berdenyut.


"Kenapa hal sepenting itu kau tidak memberi tahukan ku Cleona?!"Ucap Dokter Andreas penuh dengan penekanan.


Andreas mengusap wajahnya dengan kasar, laki-laki tahu apa yang telah di katakan nya salah. Namun untuk saat ini jika dirinya meminta maaf kepada Cleona, maka semuanya akan sia-sia karena amarah Cleona masih meledak-meledak dan keheningan menyertai perjalanan mereka menuju mansion milik Edward.


Tiga puluh menit pun berlalu mobil mewah Dokter Andreas telah tiba di depan gerbang pertama untuk masuk ke dalam rumah Edward. Namun tidak ada satupun di antara para penjaga yang membukakan gerbang untuk mobil yang di kemudikan oleh Dokter Andreas.


"Kenapa kalian diam saja! Cepat buka pintu gerbang itu untukku!"Sentak Cleona.


"Maafkan kami Nona Cleona, Anda di larang memasuki kediaman Tuan Edward."Tutur salah satu penjaga disana membuat amarah Cleona semakin tersulut emosi.


"Apakah kalian tidak ingat bahwa aku adalah sepupu dari Tuan Kalian?!"Tukas Cleona penuh penekanan dengan tatapan matanya menatap tajam laki-laki yang ada di hadapannya.


"Maaf Nona Cleona. Ini adalah perintah langsung dari Tuan Edward, Jika Anda di larang memasuki kediamannya."Ujar Penjaga itu dengan membungkukkan badannya.


"Sialan kalian semua...!!"Pekik Cleona dengan mengeratkan rahangnya.


"Berhentilah Cleona! Jangan membuang buang tenaga mu dengan hal yang tidak seperti itu! Kita masih mempunyai urusan yang lebih penting dari pada kau marah- marah seperti itu."Seru Dokter Andreas di dalam mobilnya.


**


Sementara itu Edward tengah duduk di atas kursi kebesarannya, Sudut bibirnya tersenyum penuh kemenangan saat mendengar laporan dari anak buahnya tentang Cleona yang ingin memaksa masuk ke dalam kediamannya.


"Bagus, teruslah seperti itu jangan biarkan wanita Sialan itu kembali masuk ke dalam kediaman ku."Ucap Edward sebelum mengakhiri sambutannya secara sepihak tanpa mendengarkan balasa dari anak buahnya.


Kening Edward menaut saat mendengar keributan dari luar ruangan kerjanya. Dada Edward bergemuruh dengan kedua tangan yang terkepal mendengar suara yang tidak asing di pendengaran nya.


"Untuk apa lagi Tua Bangka itu mencari keributan di kantor ku."Dengan rahang yang mengerat Edward bangkit dari kursi kebesarannya dan membuka pintu ruangannya.


Ternyata benar apa yang Edward pikirkan Papah Julian tengah bersitegang dengan para petugas keamanan dan para sekertaris Nya. Rupanya Papah Julian memaksa masuk untuk menemuinya walaupun telah di larang oleh para karyawan nya dan tidak lupa Erland yang selalu berada di sisi Papah Julian yang tengah menenangkan laki-laki parubaya itu yang tengah di kuasai oleh amarah.


"Ada apa ini? Kenapa kalian membuat keributan di depan ruangan ku."Seru Edward berpura-pura tidak melihat keberadaan Papah Julian dan Erland.


Seketika itu juga perdebatan mereka terhenti saat mendengar suara intrupsi dari Edward.


"Maafkan kami Tuan. Kami Sudah berusaha menghalangi Tuan O'deon untuk menemui Anda. Akan tetapi beliau memaksa masuk dan membuat keributan."Ucap Salah satu petugas keamanan disana.


"Ada kepentingan apa Tuan besar O'deon yang terhormat menemui pengusaha kecil ini." Seru Edward dengan senyuman penuh seringainya. Membuat amarah laki-laki parubaya itu semakin menguasainya.


"Kau Anak Sialan...!!"Pekik Papah Julian yang tubuhnya di tahan oleh para petugas keamanan.


"Siapa yang kau bilang anakmu? Bukankah anak mu hanyalah Erland O'deon saja." Kata Edward dengan tersenyum kecut saat kembali mengingat kenangan pahit di dalam kehidupannya.


"KAU...!"Kedua tangan Papah Julian sudah bersiap untuk memukul wajah Edward, Namun dengan cepat para petugas keamanan meringkus Papah Julian.


"Pergilah dari sini jika kau hanya membuat keributan saja. Dan jangan lupa bawa anak haram mu itu dari hadapan ku!"Sargah Edward dengan mengibaskan tangannya.


"Edward O'deon...!!"Pekik Papah Julian dengan suara yang melengking dan menggema di seluruh lorong-lorong kantor Edward.


Edward tidak peduli bahwa apa yang kini terjadi kepadanya menjadi tontonan dan bahan gunjingan para karyawan nya.


"Kenapa kau marah seperti itu?! Bukankah apa yang aku ucapkan adalah kebenaran? Anak kesayangan mu adalah anak haram. Dia adalah anak hasil hubungan gelap mu dengan seorang wanita rendahan yang bernama Emma Watson?"Tutur Edward dengan menggidikan bahunya dan menatap papah Julian dengan senyuman penuh kemenangan.


"Seorang wanita rendahan yang rela menjajakan tubuhnya kepada seorang laki-laki yang telah beristri, Bukankah perilaku itu lebih hina dari pada Seorang Ja'ang? Dengan beralaskan cinta dia merusak sebuah rumah tangga dari wanita lainnya dan merusak kebahagiaan seorang anak yang sangat membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tuanya."Seru Edward dengan memalingkan wajahnya. Laki-laki itu tidak ingin Sang Papah melihat kerapuhan dari sorot matanya.


Kenangan itu masih terekam jelas di ingatan Edward, dimana pertengkaran kedua orang tuanya menjadi makanan sehari-hari Edward kecil dan Edward masih mengingat jelas bagaimana Papah Julian membawa Wanita Ja'ang itu kerumahnya dan mengatakan dengan bangganya kepada Sang Mamah bahwa mereka akan menikah, karena Sang Wanita telah hamil anak dari hubungan gelapnya dengan Papah Julian.


Semua itu masih terekam jelas di ingatan Edward di mana air mata dan tangisan sang Mamah dan keterpurukannya saat melihat suaminya bersanding dengan wanita lain. Bagaimana wajah bahagia Papah Julian dan wanita Ja'ang itu di atas penderitaan sang Mamah. Dan semua itu pula yang menjadi salah satu alasan Edward membenci Bianca. Karena setiap melihat wajah Bianca Edward selalu teringat perbuatan wanita yang telah merusak kebahagiaan Sang Mamah.


"Jaga Ucapan mu Anak Sialan...!!"Sentak Papah Julian seraya mengangkat tangannya untuk menampar wajah Edward.


"Kau ingin menampar ku? Silahkan saja..." Tantang Edward dan memerintahkan petugas keamanan untuk melepaskan cekalan mereka di tangan Papah Julian dan Erland.


Bughh...


Tanpa berkata Papah Julian menghantam wajah Edward dengan pelukan yang cukup kencang, sehingga membuat wajah Edward memaling ke samping dengan sudut bibir yang robek dan tidak sedikit mengeluarkan cairan berwarna merah.


"Papah...!!"Erland segera menahan lengan Papah Julian yang akan kembali menghadiahi wajah Edward dengan sebuah pukulan.


"Lepaskan Papah Erland! Jangan coba-coba kau menahan Papah mu lagi. Papah ingin sekali menghajar wajah sombongnya itu."Tukas Papah Julian meronta melepaskan lengannya dari cekalan Erland.


"Menjijikkan..."Decak Edward melihat drama yang ada di hadapannya.


Jangan lupa


Like


Comment


Vote


Rite


Favorit


Tips