
"Bagaimana? Apakah kau sudah melakukan apa yang ku perintahkan?"Tanya Edward dengan tatapan penuh arti.
"Sesuai dengan perintah Anda Tuan..."Jawab Asisten Kai dengan tegas membuat sudut bibir terangkat.
Melihat senyuman Edward membuat Asisten Kai merasa bahwa mood Edward saat ini tengah membaik. Membuat Asisten Kai memberanikan dirinya untuk berbicara kepada Edward tentang Bianca dan segala sesuatu yang telah terjadi kepada Bianca maupun Edward.
"Tuan...."Panggil Asisten Kai dengan nada penuh keraguan begitu pun dengan raut wajahnya.
"Ada apa?"Tanya Edward yang melihat keraguan di wajah sang Asisten.
Untuk beberapa saat terjadi keheningan antara Edward dan Asisten Kai. Asisten Kai membisu merasa bingung harus memulai dari mana membicarakan tentang Bianca dan semua kejadian yang terjadi di antara Bianca dan Edward.
"Kenapa kau diam seperti itu? Cepat katakan apa yang ingin kau katakan?!"Cerca Edward dengan lipatan di kedua alisnya. Laki-laki itu merasa tidak sabar mendengar apa yang ingin di katakan oleh tangan kanannya tersebut.
"Begini Tuan tentang Nona Bianca...!!" Belum sempat Asisten Kai menyelesaikan perkataannya Edward langsung memungkas perkataan Orang kepercayaannya tersebut.
"Untuk apa lagi kau membicarakan tentang wanita Sialan itu!"Tukas Edward dengan suara penekanannya.
"Maaf Tuan..."Asisten Kai membungkukkan badannya.
"Tapi ini tentang tugas yang anda berikan dan apa yang terjadi kepada Anda maupun dengan Nona Bianca."Timpal Asisten Kai membuat Edward mendengus di tempatnya.
"Apalagi yang ingin kau jelaskan Kaisar! Aku sudah mengetahui semuanya tanpa kau beritahu. Jadi berhentilah membicarakan tentang wanita itu! Menjijikkan sekali jika aku kembali mengingat apa yang telah wanita itu lakukan kepadaku?"Seru Edward dengan decihan di setiap katanya.
Asisten Kai menautkan kedua alisnya saat mendengar semua perkataan Edward. Bukankah jika Edward sudah mengetahui semua kebenarannya, berarti Edward tahu Bianca bukanlah wanita yang di bayar Marvin untuk menjebak nya. Pikir Asisten Kai.
"Ma-maksud Anda apa Tuan?"Tanya Asisten Kai menatap Edward dengan penuh arti.
Firasat buruk kembali muncul di benak Asisten Kai saat melihat senyuman seringai di sudut bibir Edward.
"Kau tidak perlu berpura-pura bodoh seperti itu Kaisar! Aku berani bertaruh bahwa kau sudah mengetahui bahwa dalang dari semua yang terjadi di malam itu adalah ulah Baji*ang Marvin itu! Dan Wanita Ja'ang itu adalah orang suruhan Marvin untuk menjebak ku!" Sunggut Edward dengan menggebu-gebu bahkan kilatan-kilatan amarah tercekat di wajah tampannya.
"APA...!!"Pekik Asisten Kai dengan rona keterkejutan nampak jelas di raut wajahnya.
Bagaimana mungkin Edward berkata seperti itu. Bukan Edward mengatakan sudah mengetahui kejadian sebenarnya yang menimpa dirinya? Lalu mengapa kini laki-laki itu berkata demikian setelah mengetahui semuanya.
"Sialan...!!"Umpat Asisten Kai dengan mengeratkan rahangnya saat menyadari bahwa Marvin kembali mempermainkan kehidupan Edward dengan cerita karangan yang laki-laki itu buat dan dengan bodohnya Edward mempercayai karangan laki-laki Bajingan itu.
"Tidak perlu berpura-pura kaget seperti itu Kai, Akting yang kau lakukan sangatlah buruk!"Tukas Edward dengan lengkingan suaranya yang cukup nyaring membuat Asisten Kai terhenyak dalam lamunannya.
"Tuan...!! Apa yang Anda katakan?! Anda salah paham Tuan, Semua cerita yang Anda dengarkan semua itu salah!"Sahut Asisten Kai dengan sejuta kegusaran di wajahnya.
"Salah paham apa lagi yang kau maksud Kaisar?! Jelas-jelas semua bukti telah berada di tanganku dan Marvin pun mengakuinya bahwa Bianca adalah wanita yang telah dia bayar untuk menjebakku di malam itu." Pungkas Edward dengan belikan kedua matanya.
_
_
_
Tanpa terasa seminggu pun berlalu dengan cepat, Namun selama satu Minggu itu pula tidak ada kemajuan sama sekali yang signifikan di perusahaan O'deon. Membuat Papah Julian kalang kabut di buatnya karena para pemilik saham terus-menerus mendesaknya agar segera menyelesaikan semua permasalahan yang ada di dalam perusahaan besar tersebut. Jika tidak mereka dengan sangat terpaksa menarik kembali uang yang telah mereka investasikan di perusahaan O'deon.
"Sudah berapa kali ku katakan bersabarlah sebentar!! Semua ini hanyalah masalah kecil bagi perusahaan O'deon dan tidak lama lagi pasti masalah ini akan selesai."Seru Papah Julian dengan menggebu-gebu bahkan kilatan amarah tercekat jelas di wajahnya yang di bingkai dengan guratan-guratan halus di sekitar mata dan dahinya.
"Kau bilang waktu? Aku sudah memberikan mu waktu selama satu Minggu ini untuk mengembalikan keadaan perusahaan seperti semula, Namun lihatlah apa yang terjadi? Saham Perusahaan ini dari hari ke hari semakin menurun dan terancam bangkrut!" Sahut seorang laki-laki yang usianya hampir menyamai dengan Papah Julian.
Papah Julian menghembuskan nafasnya dengan kasar berusaha untuk menahan amarah yang kian menyala di dalam dirinya.
"Baiklah jika ini keputusan Anda..!!"Jawab Papah Julian dengan helaan nafasnya yang kasar.
"Saya harap Anda tidak akan menyesali keputusan Anda saat ini."Seru Papah Julian dengan nada penuh peringatan.
Lima belas menit pun berlalu, Setelah kepergian laki-laki yang menyisakan amarah yang kian menjalar ke seluruh tubuh Papah Julian dan lagi-lagi Papah Julian harus menelan pil pahit saat mendapatkan laporan dari orang kepercayaannya saat harga saham perusahaan O'deon Semakin merosot naik dan pemberitaan media tentang scandal perselingkuhan dirinya semakin menjadi-jadi.
"Sialan...!!"Pekik Papah Julian dengan mengusap wajahnya dengan kasar.
Tidak lama kemudian pintu ruangan Papah Julian pun di ketuk dari luar dengan di iringi suara yang tidak asing bagi laki-laki parubaya itu.
"Tuan..."Panggil Asisten pribadi Papah Julian setelah berada di depan Papah Julian.
"Bagaimana? Apakah kau sudah mengetahui siapa dalang yang telah menyebarkan berita tentang ku?"Tanya Papah Julian dengan binar penuh harap dari sorot matanya.
"Silahkan Tuan..."Asisten pribadi Papah Julian pun menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat yang cukup tebal ke arah Papah Julian dan dengan segera laki-laki parubaya itu pun membuka amplop tersebut.
Kata demi kata Papah Julian membaca tulisan itu dengan kening yang mengkerut dan beberapa saat kemudian rahang Papah Julian mengeras dengan kedua bola matanya yang memancarkan kemarahan.
"Sialan...!! Ternyata laki-laki brengsek yang melakukan ini semua!"Pekik Papah Julian memukul meja yang ada di hadapannya membuat Asisten pribadi Papah Julian terjingkrak di tempatnya.
"Beraninya laki-laki brengsek itu kembali mengusik kehidupan ku..!!"Desis Papah Julian dengan gigi yang gemerutuk.
Suara gaduh di luar ruangan kerjanya, membuat Papah Julian mengalihkan atensinya dan kedua mata Papah Julian menatap sang Asisten pribadi seolah-olah bertanya siapa yang telah membuat kegaduhan di dalam perusahaannya.
Seolah tahu apa yang di inginkan oleh Papah Julian laki-laki itu pun segera berjalan menuju pintu. Namun baru beberapa langkah Asisten Jimmy melangkah pintu ruangan itu di terbuka dengan sangat kencang sehingga menimbulkan suara yang cukup nyaring di dalam ruangan itu.
"Nyonya..."Asisten Jimmy membungkuk saat melihat Mamah Eleana lah yang membuka pintu ruangan tersebut.
Mamah Eleana hanya menganggukkan kepalanya tanpa membalas Asisten Jimmy. Dengan langkah yang tergesa-gesa Mamah Eleana berjalan ke arah Papah yang kini tengah menatapnya dengan tajam.
"Mas...."
"Untuk apa kau kesini?!"Tidak ada sapaan hangat Papah Julian hanya kata-kata sarkas yang Mamah Eleana terima.
"Erland Mas...."
"Ada apa dengan Erland?"Papah Julian seketika itu berdiri saat mendengar nama sang anak di sebut oleh Mamah Eleana.
"Kenapa kau diam seperti itu Eleana? Katakan..?! Apa yang terjadi kepada anakku?" Tanya Papah Julian bahkan tanpa segan mencengkeram bahu Mamah Eleana dengan kencang.
"Katakan Eleana! Sebelum kesabaran ku habis..!"Desis Papah Julian.
"Erland pergi dari rumah Mas..."
"APA?! Bagaimana semua ini bisa terjadi?"
Pekik Papah Julian dengan belikan kedua matanya.
"Aku tidak tahu Mas, Beberapa hari yang lalu Erland meminta izin kepadaku untuk menginap di rumah temannya. Namun sampai saat ini Erland belum pulang ke rumah, Bahkan saat aku menelepon Erland pun nomornya tidak bisa di hubungi."Sahut Mamah Eleana penuh kekhawatiran.
"Dasar Bodoh...!! Kenapa hal sepenting ini bisa terjadi tanpa kau menyadarinya..!!" Desis Papah Julian.
"Ma-maafkan aku Mas."Kata Mamah Eleana dengan menundukkan kepalanya penuh penyesalan.
"Kau pikir dengan minta maaf Erland bisa di temukan?!"Sentak Papah Julian.
"Dasar wanita tidak berguna...?!"Umpat laki-laki parubaya itu.
Mamah Eleana menundukkan kepalanya saat lagi-lagi umpatan begitu mudahnya keluar dari mulut suaminya, Bahkan di depan bawahan Papah Julian. Seakan-akan Papah Julian menegaskan bahwa dirinya bukanlah dirinya bukanlah berharga yang harus di jaga.
_
_
_
Sementara itu Edward tengah duduk di kursi kebesarannya dengan Asisten Kai yang kini tengah berdiri di hadapannya. Tiada lelah laki-laki itu rasakan sebelum matahari menampakkan sinarnya Edward telah berkutat dengan tumpukan pekerjaannya bahkan laki-laki itu tidak mengindahkan rasa lapar yang kini tengah menderanya karena sejak tadi pagi laki-laki itu belum memakan dan meminum apapun.
"Bagaimana dengan perkembangan proyek kerjasama kita dengan perusahaan xxx?" Tanya Edward tanpa mengalihkan tatapan matanya dengan berkas di hadapannya.
"Sesuai dengan prediksi kita Tuan. Bahkan sudah hampir 80% proyek pembangunan telah selesai."Jawab Asisten Kai.
"Baguslah...."
Tangan besar Edward bergulir menyentuh tombol-tombol keyboard di bawahnya dan setelah beberapa saat terlihat sudut bibir Edward terangkat saat melihat berita tentang scandal Papah Julian.
"Kau terjebak dengan permainan mu sendiri Pak Tua..!"Guman Edward dengan senyuman penuh arti.
"Kai kemarilah..."Panggil Edward.
Asisten Kai pun mendekat ke arah Edward.
"Lihatlah..."Edward mengarahkan laptop ke Asisten Kai yang menampilkan scandal yang menyangkut Papah Julian.
"Bagaimana menurutmu?"Tanya Edward dengan senyuman yang tidak luntur di sudut bibirnya.
"Maksud Anda Tuan?"Tanya balik Asisten Kai dengan kening yang mengkerut dalam.
"Sepertinya bermain-main dengan laki-laki tua bangka itu cukup menyenangkan."Kata Edward dengan penuh arti.
"Siapkan mobil..."Titah Edward bangkit dari kursi kebesarannya."Kita akan pergi ke perusahaan O'deon."Imbuhnya.
"Baik Tuan...."
Tiga puluh menit pun berlalu mobil mewah telah sampai di pelantara perusahaan O'deon dan kedatangan Edward di sambut baik oleh para karyawan disana. Karena mereka mengetahui bahwa Edward adalah Anak pertama dari sang pemilik perusahaan walaupun berita yang beredar di luaran sana.
"Apakah Tuan O'deon ada di ruangannya?" Tanya Asisten Kai kepada resepsionis yang ada disana.
"Tunggu sebentar Tuan, Saya akan bertanya kepada sekertaris Presdir terlebih dahulu."
Sahut resepsionis itu.
"Hmm..."Balas Asisten Kai dengan sebuah deheman.
"Maaf Tuan, Presdir sedang tidak menerima tamu untuk saat ini."Ucap Sang resepsionis setelah mengakhiri sambungan teleponnya.
"Ckck lama...!!"Decak Edward.
Tanpa mengindahkan peringatan dari sang resepsionis Edward pun segera berjalan menuju lift yang di peruntukan untuk para petinggi perusahaan.
"Tuan Muda...!!"Sapa seseorang laki-laki sembari membungkuk di hadapan Edward.
"Paman..."Edward seketika menghentikan langkahnya saat melihat Asisten sang Papah berjalan ke arah dirinya.
"Apakah Anda ingin menemui Tuan Julian?" Tanya Asisten Jimmy dengan binar di kedua mata saat secercah harapan mengingat bahwa kini Edward adalah pemilik salah satu perusahaan terbesar.
Edward tersenyum simpul tanpa membalas pertanyaan laki-laki parubaya yang ada di hadapannya.
Edward kembali melanjutkan langkahnya menuju lift di ikuti dengan Asisten Kai di belakangnya. Namun setelah berada di depan ruangan Papah Julian, Edward mendengar suara pekikan dari dalam membuat sudut bibir Edward terangkat.
"Ckck... Laki-laki Tua Bangka itu!"Decak Edward.
Dengan kasar Edward membuka pintu ruangan Sang Papah sehingga menimbulkan suara yang cukup nyaring di dalam ruangan tersebut.
"E-edward..."Mamah Eleana terbata-bata saat melihat Sang Anak yang telah lama tidak dia jumpai.
Dengan langkah lebarnya Mamah Eleana menuju Edward untuk menghambur ke dalam pelukan sang Anak. Namun Edward dengan cepat menghindari rengkuhan Mamah Eleana karena rasa kecewanya masih meliputi laki-laki di kala mengingat Mamah Eleana lebih Papah Julian dari pada dirinya.
"Maaf Nyonya, Sepertinya kita tidak sedekat itu."Kata Edward dengan memundurkan tubuhnya.
Mamah Eleana tercekat mendengar perkataan Edward, terlebih lagi saat Edward memangilnya dengan sebutan Nyonya seakan-akan jarak di antara mereka sangatlah jauh.
Jangan lupa Like Comment Rate dan Vote