
Dengan langkah yang gontai Edward pergi meninggalkan meja tersebut. Sesekali laki-laki itu memegangi kepalanya akibat dari rasa pusing yang menyerang dirinya. Tanpa Edward sadari sepasang mata menatap nya dengan tatapan yang sulit di artikan.
Hasley Harold...
Wanita itu dengan dengan secara sengaja memasukkan obat perangsang dengan dosis yang cukup tinggi di makanan dan minuman Edward. Nona Muda dari keluarga Harold itu memiliki rasa ketertarikan lebih terhadap Edward sejak pertemuan mereka beberapa bulan yang lalu. Namun harapannya pupus saat mendapatkan informasi dari salah satu bawahan sang Ayah yang dia suruh untuk mencari latar belakang kehidupan Edward. Bahkan laki laki yang dia Cintai telah memiliki kekasih dan akan segera melanjutkan ke jenjang yang lebih serius.
Hasley tidak peduli bahwa Edward hanyalah seorang Asisten dari sebuah perusahaan yang baru beberapa tahu berdiri. Terlebih lagi dirinya adalah anak tunggal dan secara otomatis semua kekayaan dan perusahaan yang kini di kelola sang Ayah akan jatuh di tangannya.
"Edward! Tidak lama lagi kau akan menjadi Milikku."Guman Hasley dengan senyuman seringainya.
Hasley pun meminta izin kepada Sang Ayah dan Asisten Kai untuk ke kamar mandi. Hasley menghentikan langkahnya saat melihat tubuh Edward bersandar di dinding dekat kamar mandi.
"Tuan Edward, Anda baik-baik saja?"Tanya Hasley berpura-pura tidak mengetahui apa yang tengah terjadi kepada Edward.
"Nona Hasley?"Desis Edward menahan gemuruh yang ada di dadanya saat hembusan nafas Hasley menerpa tengkuknya.
"Tuan..."Hasley bahkan dengan sengaja menghembuskan nafasnya di tengkuk Edward dengan tangan yang meraba dada bidang laki-laki itu.
"Apa yang anda lakukan Nona?"Tukas Edward seraya mencekal pergelangan tangan Hasley yang telah lancang menyentuh tubuhnya.
"Tuan, kenapa Anda begitu munafik! Saya tahu apa yang sekarang anda butuhkan. Maka ikutlah dengan saya, Saya yakin Anda akan puas dengan pelayanan yang akan Anda terima."Tutur Hasley melepaskan cekalan Edward dan kembali meraba dada Edward tanpa peduli penolakan dari laki-laki itu.
Dada Edward bergemuruh. Amarahnya tersulut karena wanita yang ada di hadapannya, Edward tahu ada seseorang yang memasukkan obat perangsang di dalam makanannya dan kini Edward tahu siapa orang yang memasukkan obat perangsang tersebut. Namun Edward berusaha menahan amarah dan gairahnya bersamaan, Karena Edward ingin mengetahui tujuan Hasley melakukan hal yang menjijikkan itu kepadanya.
"Nona Harold, Apakah Anda yang melakukan semua ini? Memasukkan obat perangsang ke dalam makanan yang saya pesan?"Tanya Edward dengan suara yang menajam begitupun dengan tatapan matanya.
"Sepertinya saya tidak perlu lagi menjelaskan nya, Jika Anda sudah mengetahuinya Tuan Edward."Kata Hasley dengan kekehan di akhir kalimatnya.
"Nona Harold Anda telah salah bermain main dengan saya!"Ucap Edward dengan penekanan di setiap kalimatnya.
"Oh ayolah Tuan Edward, Anda jangan munafik! Saya tahu apa yang sekarang Anda butuhkan. Lagipula ini sama-sama akan menguntungkan kita, Terlebih lagi jika Anda bersedia menjadi kekasih saya, Anda tidak perlu bersusah payah bekerja rendahan seperti itu."Seru Hasley dengan kerlingan nakalnya.
"Jaga Ucapan Anda Nona Harold..!!"Pekik Edward dengan mengeram amarahnya karena mendengar ucapan dari wanita yang ada di hadapannya. Tanpa belas kasih Edward memelintir pergelangan tangan Hasley dan mencekik leher wanita tersebut.
"Akhh Apa yang Anda lakukan Asisten Edward! Lepaskan saya!"Pekik wanita itu meronta-ronta dari cengkraman Edward.
"Anda telah salah bermain-main dengan saya Nona Hasley Harold!"Desis Edward penuh penekanan.
"Akhh..."Pekik Hasley saat Edward semakin mencengkram erat tangannya dan wanita muda itu tampak kesulitan bernafas karena cekikikan Edward di lehernya.
Sementara Asisten Kai yang merasa Tuannya terlalu lama di kamar mandi mulai gelisah. Asisten Kai sudah merasa curiga melihat gelagat Aneh Edward setelah laki-laki itu memakan makanan. Terlebih senyuman seringai Hasley saat melihat Edward. Dan dua puluh menit pun berlalu namun tidak ada tanda-tanda Edward akan kembali. Begitu pula yang terjadi kepada Tuan Harold, Laki-laki parubaya itu tampak gelisah menanti kehadiran putrinya yang tidak kunjung datang dari kamar mandi. Sehingga membuat kedua laki-laki berbeda generasi itupun sepakat untuk mencari keberadaan Edward dan Hasley.
"Permisi Nona, Apakah Anda melihat orang ini?"Tanya Asisten Kai kepada salah satu pengunjung wanita yang ada di restoran tersebut.
"Maaf Tuan, Saya tidak melihatnya."Jawab perempuan itu.
Asisten Kai dan Tuan Harold pun kembali mencari keberadaan Edward dan Hasley ke seluruh penjuru restoran dan sekitarnya. Namun nihil mereka tidak menemukan keberadaan Edward dan Hasley. Asisten Kai pun mencoba menghubungi Edward, Namun nomor Edward tidak aktif sehingga menyulitkan Asisten Kai untuk melacak keberadaan Tuannya.
"Astaga Tuan! Kenapa di saat seperti ini, Handphone Anda tidak aktif."Gerutu Asisten Kai dengan mengusap wajahnya dengan kasar. Rasa gelisah semakin menyelimuti laki-laki itu. Karena memikirkan keberadaan dan kondisi sang Tuan.
"Tuan kaisar, Kita sudah mencari mereka ke seluruh restoran ini. Namun kita tidak menemukan keberadaan Asisten Edward dan Anak Saya."Kata Tuan Harold dengan raut wajah kecemasan terlihat jelas di wajahnya yang tidak lagi muda.
Asisten Kai tidak menjawab, Laki-laki kepercayaan Edward itu tengah berpikir kemungkinan keberadaan Edward saat ini.
Dan Asisten Kai mengingat terakhir kali Edward meminta izin kepada mereka untuk ke kamar mandi dan setelah itu di ikuti oleh Nona Hasley.
"Sepertinya kita perlu mencari Mereka ke kamar mandi."Seru Asisten Kai dan Tuan Harold pun mengganguk tanpa berkata.
"Astaga Hasley...!!"Pekik Tuan Harold saat melihat Edward menjambak rambut dan mencekik putrinya, Bahkan tampak sudut bibir Hasley robek dan sedikit mengeluarkan darah.
"Apa yang kau lakukan Sialan!"Sentak Tuan Harold berusaha melepaskan putrinya dari Edward dan tanpa berkata Tuan Harold memukul wajah Edward dengan membabi buta.
"Ayah apa yang kau lakukan?! Hentikan Ayah!" Seru Hasley sembari menjauhkan Tuan Harold dari Edward.
Edward menyeka sudah bibirnya yang mengeluarkan darah. Laki-laki itu berdecih dan menatap tajam dua orang yang ada di hadapannya.
"Tuan, Anda baik-baik saja?"Tanya Asisten Kai seraya membantu Edward bangkit.
"Kaisar...!"Panggil Edward penuh penekanan dengan tatapan matanya yang tidak beralih dari Hasley dan Tuan Harold.
"Iya Tuan."Sahut Asisten Kai yang sudah mengetahui apa yang di inginkan oleh Tuannya.
"Kau tahu apa yang harus kau lakukan?" Ucap Edward dengan senyuman penuh artinya.
"Baik Tuan."
Sementara tidak jauh dari mereka, Tuan Harold dan Hasley membeku di tempatnya mendengar sebutan Asisten Kai kepada Edward.
Edward berdehem dan memerintahkan Asisten Kai untuk membantunya berjalan sampai ke mobil.
"Anda baik-baik saja Tuan?"Cemas Asisten Kai melihat wajah Edward yang memerah dan keringat sebesar biji jagung membasahi wajahnya.
"Ckck Wanita Sialan itu memberikan ku obat perangsang!"Decak Edward sembari memejamkan kedua matanya karena rasa pusing yang semakin mendera dirinya.
"APA..!!"Pekik Asisten Kai dengan membolakan kedua matanya.
"Tidak perlu kaget seperti itu!"Tukas Edward dengan ketus, Edward pun memerintahkan Asisten Kai untuk menambah kecepatan laju mobilnya. Sehingga dalam waktu lima belas menit mobil mewah berwarna hitam itu telah sampai di pelataran kediaman mewah milik Edward.
"Edward..."Ujar Dokter Andreas yang telah tiba terlebih dahulu di bandingkan Asisten Kai dan Edward."Bagaimana ini bisa terjadi lagi kepada mu Edward!"Sambung Dokter Andreas penuh ke khawatiran.
"Bisakah kau untuk diam! Kepala ku semakin pusing mendengar ocehan mu yang tidak berguna itu."Pungkas Edward.
"Ckck orang ini...!!"Decak Dokter Andreas sembari menggelengkan kepalanya.
Dokter Andreas dan Asisten Kai pun segera memapah Edward menuju kamarnya.
"Pergilah! Aku bisa sendiri."Titah Edward sembari berjalan ke kamar mandi. Laki-laki itu tampak menanggalkan semua pakaian yang melekat di tubuhnya dan menyalakan shower berusaha untuk meredam gairah yang ada di dalam dirinya. Namun sudah satu jam berlalu efek dari obat perangsang itu tidak kunjung hilang di dalam tubuhnya.
"Sialan! Obat jenis apa yang di gunakan oleh wanita murahan itu!"Pekik Edward yang tidak kunjung mendapatkan pelepasan dari satu jam yang lalu.
Sementara di depan pintu kamar mandi Asisten Kai berdiri dengan gelisah menunggu Sang Tuan yang tidak kunjung keluar dari kamar mandi.
"Tuan! Anda baik-baik saja?"Seru Asisten Kai.
"Dok bagaimana? Apakah Anda tidak memiliki cara untuk menghilangkan obat perangsang itu?"Tanya Asisten penuh harap.
"Bukankah Anda tahu, bagaimana cara menghilangkannya efek dari obat perangsang itu?"Sahut Dokter Andreas dengan mengidikan bahunya dengan acuh..
"Tapi Dok..."
"Kau tidak mempunyai pilihan lain itu Asisten Kai. Waktu terus berjalan dan kau tahu Jika hasrat Tuanmu tidak tersalurkan, maka nyawa Edward yang akan menjadi taruhannya."Tutur Dokter Andreas dengan penuh arti dan Asisten Kai pun tidak memiliki pilihan lain untuk menyelamatkan Edward.
"Maafkan saya Tuan. Ini adalah jalan satu satunya bagi saya untuk menyelamatkan nyawa Anda. Saya rela menerima kemarahan Anda atas apa yang akan saya lakukan."Guman Asisten Kai mengambil Handphone yang ada di dalam saku jasnya dan memberikan perintah kepada bawahannya.
_
_
_
Bianca berdiri di belakang meja kasir dengan tatapan matanya yang menerawang. Bangkrutnya perusahaan Alexander telah sampai di telinga wanita hamil itu. Bianca merasa ada sedikit kejanggalan atas hancurnya perusahaan Alexander, Terlebih lagi Bianca tahu bahwa perusahaan Alexander adalah salah satu perusahaan yang cukup di perhitungkan di dalam negeri ini. Ingatan Bianca kembali mengingat pertemuan terakhirnya dengan Kak Christ, Saat laki-laki itu mengantarkan nya pulang dan kedua mata Bianca membelik saat mengingat perdebatan Edward dan Kak Christ.
"Apakah hancurnya perusahaan Kak Christ adalah campur tangan Tuan Edward."Kata Bianca di dalam hatinya. Seketika wanita hamil itu menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pemikiran yang tengah bersarang di dalam dirinya."Tidak mungkin! Bagaimana bisa Tuan Edward melakukan itu semuanya."Imbuhnya.
Seketika suasana di dalam supermarket itu hening dan terasa mencekam, Saat segerombolan pria berbaju hitam memasuki supermarket tersebut. Tidak lupa sebuah senjata api tersemat di saku celana mereka masing masing pria tersebut.
"Ada yang bisa saya bantu Tuan?"Tanya Bianca berusaha menyematkan senyumannya walaupun rasa takut tiba-tiba saja membelenggu wanita hamil itu.
"Nona Bianca, Mari ikut kami."Kata salah satu pria berbaju hitam tersebut.
"A-apa? Ke-kemana?"Ujar Bianca dengan tergagap dengan kedua mata yang membelik.
"Mari Nona, Ikut kami sebelum kami bertindak kasar kepada Anda."Seru Laki-laki itu penuh dengan penekanan.
"Tidak! Saya tidak akan pernah ikut kalian, Sebelum saya tahu kalian akan membawa saya kemana?!"Pungkas Bianca dengan tegas.
Mereka saling memberi kode dan tanpa di sadari Bianca ada salah satu dari mereka berjalan ke arah Bianca dan memukul tengkuk wanita hamil itu, Sehingga membuat Bianca tidak sadarkan diri.
"Akhh..."Pekik Bianca sebelum kegelapan menyelimutinya. Dan mereka pun membawa tubuh ringkih Bianca keluar dari supermarket tersebut. Namun Seorang pria yang merupakan teman satu profesi Bianca menghalangi langkah mereka yang akan membawa Bianca.
"Turunkan Bianca! Atau saya akan menelepon polisi dan melaporkan kalian atas tindakan Kalian kepada teman kami!"
"Tuan! Sebaiknya Anda menyingkirlah dari jalan kami, Sebelum kami berbuat kasar kepada Anda."Serunya tanpa membalas perkataan laki-laki itu.
"Tidak! Sebelum kalian menurunkan Bianca dan pergi dari sini."Sargah laki-laki itu dengan berdecak pinggang.
Bughh
Tanpa berkata salah satu dari mereka memukul wajah teman Bianca, Sehingga laki-laki itu terhuyung ke belakang dan memegang wajahnya yang terasa nyeri akibat pukulan yang di terimanya.
"Hei..!!"Pekik Laki-laki itu saat melihat Bianca sudah masuk ke dalam mobil dan meninggalkan supermarket tersebut.
Tiga puluh menit pun berlalu....
Mobil yang membawa Bianca telah sampai di kediaman mewah yang tidak asing bagi wanita hamil itu. Terlihat seorang laki-laki tengah berdiri menunggu ke datangan mereka dengan perasaan cemas yang menyelimutinya.
"Tuan..."Ujar mereka setelah turun dari mobil.
"Kalian bawalah Nona Bianca ke kamar utama."Titahnya seraya menatap Bianca dengan penuh arti. Dan tanpa di perintah dua kali mereka pun segera membawa tubuh mungil Bianca.
"Dokter..."Panggil Asisten kai menatap para bawahannya yang tengah membawa Bianca. "Saya sedikit ragu tentang rencana ini. Apakah sebaiknya kita membatalkannya dan mencari cara yang lain untuk menghilangkan efek obat perangsang itu?"Sambung Asisten Kai menatap Dokter Andreas yang ada di sampingnya.
"Kau tidak punya pilihan lagi Kai. Lagipula tidak ada yang salah, Mereka adalah pasangan suami istri dan wajar jika melakukan hubungan suami istri."Tutur Dokter Andreas dengan menggidikan bahunya.
"Tapi Dokter...."
"Tidak ada tapi-tapian Kai! Kau ingin nyawa Edward terancam?"Pungkas Dokter Andreas membuat Asisten Kai menghela nafasnya dan mau tidak mau Asisten Kai pun menyetujui rencana dari Dokter Andreas.
"Maafkan saya Nona Bianca. Saya terpaksa melakukan semua itu kepada Anda, Jika Anda berbesar hati maka maafkanlah perbuatan saya."Kata Asisten Kai di dalam hatinya.
Dengan selembar handuk berwarna putih Edward keluar dari kamar mandinya. Wajahnya memerah padam, walaupun laki-laki itu telah menuntaskan hasratnya di dalam kamar mandi, Namun tetap saja hasrat yang ada di dalam dirinya tidak kunjung meredup.
Edward berjalan menuju ruangan pakaiannya, Namun langkah kaki laki-laki itu terhenti saat melihat seonggok tubuh terbaring di atas tempat tidurnya.
"Ja'ang...!!"Desis Edward dengan tersenyum menyeringai. Hasrat Edward kembali naik saat melihat Bianca.
"Ckck Kau yang menyerahkan dirimu Ja'ang jadi jangan salahkan aku, jika malam ini kau akan merasakan kesakitan yang tidak pernah kau bayangkan dalam hidupmu."Ucap Edward dengan smriknya.
Edward pun segera melucuti seluruh pakaian yang melekat di tubuh Bianca tanpa terkecuali. Sehingga laki-laki itu bisa melihat perut buncit Bianca. Tanpa melakukan foreplay, Edward menyentak miliknya di inti Bianca dalam sekali hentakan.
"Akhh..."Pekik Bianca saat sesuatu yang besar memasuki tubuhnya.
"Tu-tuan?"Kata Bianca saat melihat Edward di atas tubuhnya dan mengungkungnya.
"Akhh... Sa-sakit Tuan."Edward menyentak miliknya dengan kasar membuat Bianca merasa sakit yang sangat teramat di bagian inti dan perutnya.
Tanpa terasa cairan bening keluar dari kedua pelupuk mata wanita hamil itu, Bianca merasa Dejavu atas apa yang menimpa nya saat ini. Bianca kembali mengingat di malam Edward merenggut kesuciannya dan menghancurkan masa depannya. Dan malam ini hal menakutkan itu kembali menimpa wanita hamil itu dan Bianca tidak berdaya untuk melawan kekuatan Edward yang berkali-kali lipat darinya.
"Hiks hiks... Lepaskan Tuan. Sa-sakit."Pinta Bianca saat Edward semakin menyentak kasar miliknya.
Edward tidak mempedulikan tangisan dan permohonan wanita yang ada di bawah Kungkungan nya. Laki-laki itu tampak semakin mempercepat pompanya dengan kasar mencari kepuasan untuk dirinya sendiri.
Malam ini untuk kedua kalinya Edward memperk'sa Bianca dengan secara brutal dan kembali memberikan kesakitan dan penderitaan yang tidak pernah Bianca lupakan selama hidupnya.
Jangan lupa
Like
Comment
Vote
Rate
Favorit