
Cetarrr....
Cetarrr....
"Mamah...!!"Pekik Briana dengan menutup kedua telinganya saat suara petir menggelar begitu memekikkan telinga gadis mungil itu.
Cetarrr.....
"Hiks... Hiks... Mamah!"Briana semakin menutup telinganya saat lagi-lagi suara petir memecahkan keheningan dan kesunyian di dalam kamarnya.
Bianca yang sedang ada di dalam dapurnya pun segera menghampiri sang anak, di kala wanita satu anak itu mendengar suara sang anak yang terdengar ketakutan dan menahan tangisannya.
"Mamah..."Briana pun segera menghambur ke dalam pelukan Bianca, saat melihat Sang Mamah di hadapannya.
"Kenapa hmm...?"Bianca mengusap punggung Briana yang sedang bergetar yang menandakan bahwa anaknya itu sedang berusaha menahan tangisannya.
"Briana takut mah, Suara Petirnya kencang sekali."Ucap Briana dengan lirih sembari menyembunyikan wajahnya di celuk leher Sang Mamah.
"Tidak ada yang perlu kamu takutkan sayang. Semuanya akan baik-baik saja."
"Akhhh Mamah...."Briana kembali memekik saat lampu kamarnya tiba-tiba padam dengan di iringi suara petir yang menggelegar.
"Ma-mamah Takut."Briana semakin menyembunyikan wajahnya saat kegelapan menyelimutinya.
"Syutt... Tidak usah takut, ada Mamah disini." Kata Bianca melangkah menuju tempat tidurnya dan membaringkan Briana di atas tempat tidurnya yang cukup kecil bagi mereka berdua.
"Tidak Mah! Jangan tinggalkan Briana, Briana takut sendirian. Disini gelap sekali...."Pinta Briana dengan nada penuh permohonan.
"Takkan terjadi sesuatu kepadamu Nak, Mamah ada disini bersamamu."Briana tetap menggelengkan kepalanya dengan tangan mungilnya menggenggam pergelangan Bianca.
"Briana...!!"
"Please Mamah, temani Briana disini. Briana takut disini sendirian mah..."
Tak tega menatap wajah sang anak yang menatapnya penuh harap seperti itu. Membuat Bianca tidak bisa menolak keinginan sang anak.
"Baiklah...."Ucap Bianca sembari membaringkan tubuhnya di samping Briana.
"Terima kasih Mamah. Mamah memang Mamah yang terbaik di dunia ini. Briana sangat menyayangi Mamah..."Kata Briana dengan menghadiahkan kecupan di seluruh permukaan wajah Bianca.
"Mamah juga sayang Briana...."Balas Bianca membawa tubuh mungil sang anak untuk masuk ke dalam rengkuhan nya.
Seorang anak yang tidak pernah Bianca bayangkan sama sekali, Kehadirannya mampu menjungkir balikan kehidupan. Kehidupan yang penuh penderitaan dan air mata yang orang lain pun tidak akan pernah sanggup membayangkan. Namun Bianca mampu menghadapinya dengan sangat baik.
Bianca menghembuskan nafasnya dengan kasar, manik madu menatap langit-langit kamarnya yang cukup usang. Hanya rumah ini yang bisa Bianca jangkauan karena harganya yang cukup murah dan dekat dengan pekerjaan Bianca maupun dengan sekolahan Briana.
Bianca memejamkan matanya saat rasa sesak itu kembali menghantui dirinya di kala ibu satu anak itu tenggelam di kala ke sendirian nya, Hanya rasa penyesalan yang selama ini menghantui kehidupan Bianca.
"Ya Tuhan..."
"Kenapa hati ini sesak sekali..."Ujar Bianca sembari memukul-mukul dadanya yang terasa sesak, Di saat wanita itu mengingat kembali kenangan kenangan pahit di masa lalunya.
Seandainya saat itu Bianca pergi lebih cepat dari kehidupan Edward, mungkin keadaannya tidak seperti ini. Mungkin saat ini Kakak Briana masih ada bersama dirinya dan mungkin saja Briana bisa tumbuh seperti anak-anak pada umumnya.
Inilah yang selama tujuh tahun ini Bianca lakukan, merenung dan menyesali kebodohan dirinya yang tetap berada di samping Edward. Karena pikiran naifnya yang selalu berkata bahwa suatu hari nanti Edward pasti bisa berubah dan menyesali semua perlakuan dan perkataan kejam laki-laki brengsek itu kepadanya.
"Mamah..."Briana bergerak gelisah di dalam pelukan Bianca.
"Tenanglah sayang, Mamah ada disini bersamamu."Ucap Bianca menepuk punggung Briana dan membisikkan kata-kata sayang dan cinta di telinga sang anak dan terbukti beberapa saat kemudian Briana mulai tenang dalam tidurnya.
"kamulah kekuatan Mamah..."
Briana adalah lentera di dalam kegelapan Bianca dan Bianca tidak akan mampu membayangkan bagaimana dirinya kehilangan satu-satunya keluarga yang wanita itu miliki.
"Tetaplah bersama Mamah, Mamah tidak akan bisa hidup tanpa ada kamu di samping Mamah."Bisik Bianca dengan menghujani kecupan di wajah sang anak.
_
_
_
"Papah..."Panggil suara seseorang yang entah dari mana membuat Edward menghentikan langkahnya.
"Siapa disana...?!"Edward mengedarkan pandangan di sekelilingnya. Namun tidak ada satu orang pun di sekitarnya.
"Papah..."Panggil suara itu lagi bahkan kini terdengar sangat jelas dan begitu dekat dengan Edward.
"Sialan siapa disana?! Tunjukkan wajahmu sialan!"Pekik Edward dengan nafas yang memburu dan tidak lupa pandangan matanya yang menajam menatap ke sekeliling nya.
"Papah..."Edward menundukkan kepalanya saat merasa ada seseorang di bawah.
"Siapa Kau?"Tanya Edward dengan kening yang mengerut dalam, saat menatap seorang anak laki-laki yang kini menatapnya penuh dengan kerinduan.
"Papah..."Panggil anak laki-laki itu dengan lirih dengan suara yang tercekat.
"Siapa Kau? Dan kenapa kau memanggilku dengan sebutan menjijikkan itu?"Sahut Edward dengan suara yang menajam begitu pun dengan tatapan matanya.
"Kenapa Papah melakukan semua ini kepada aku? Apa kesalahan yang telah aku lakukan kepada Papah? Sehingga Papah melakukan hal kejam ini kepada ku?"Tubuh mungil laki-laki itu bergetar dan tidak lama kemudian terdengar isakan lirih dari bibir mungil itu.
"Apa yang kau katakan bocah sialan..!! Dan berhentilah memanggilku dengan sebutan yang menjijikkan itu..!!"Sentak Edward membuat anak laki-laki itu memundurkan langkahnya.
"Papah jahat...!!"Pekik anak laki-laki itu.
"Mengapa Papah membenci kehadiran ku?"
"Kehadiran apa yang kau katakan bocah? Berhentilah bermain-main dengan ku dan carilah kedua orang tua mu..!!"Tukas Edward dengan suara yang meninggi.
"Meskipun Papah membenci kehadiran ku, setidaknya Papah berbaik hatilah kepada ku, mengapa Papah membunuhku! Mengapa Papah melakukan semua hal kejam itu kepada anakmu sendiri Pah...!!"Ucapnya dengan deraian air mata yang mengalir dari kedua sudut matanya.
"Apa lagi kini yang kau katakan bocah Sialan..!!"
"Siapa yang membunuhmu..!"Sunggut Edward dengan mengeratkan rahangnya.
"Papah jahat...!!"
"Papah pembunuh...!!"
"Siap__...."Kedua mata Edward membelik saat melihat anak laki-laki itu bersimbah darah di sekujur tubuhnya.
"Kau...!!"Edward memundurkan langkahnya dengan nafas yang tercekat.
"Papah pembunuh...!!"
"Papah jahat! Kenapa Papah membunuhku..?"
Edward terkesiap dalam tidurnya saat memimpikan hal tersebut secara berulang kali selama beberapa tahun belakangan ini.
Dimana seorang anak laki-laki memanggil dirinya dengan sebutan Papah dan menyebut dirinya seorang pembunuh.
"Sialan...!!"Pekik Edward dengan mengusap wajahnya dengan kasar.
"Kenapa aku selalu memimpikan hal itu? Sebenarnya siapa anak itu? Kenapa dia selalu hadir di dalam mimpiku dan memanggil aku dengan sebutan Papah?"Tanya Edward kepada dirinya sendiri.
Edward menghela nafasnya dengan panjang, laki-laki itu menyingkirkan selimut yang membalut tubuhnya dan beranjak dari tempat tidurnya.
Di kesunyian dan kegelapan malam Edward berjalan meninggalkan kamarnya dan sesekali terdengar helaan nafas kasar dari laki-laki itu.
Edward menyengrit melihat lampu dapurnya menyala dan tidak jauh di sana, Edward dapat melihat punggung seseorang yang tidak asing baginya tengah duduk di salah kursi pantry dengan laptop di hadapannya.
"Kau disini?"Edward dengan tiba-tiba menepuk pundak Sean membuat laki-laki yang tengah berkutat dengan laptopnya itu terjingkrak karena apa yang telah di lakukan Edward.
"Astaga Tuhan...!!"Pekik Sean dengan mengusap dadanya yang berdetak kencang.
"Kenapa kau masih disini? Bukankah sudah ku katakan untuk pulang dan beristirahat?"
Tanya Edward membuka kulkasnya dan mengambil dua soft drink dingin di dalamnya.
"Maafkan saya Tuan..."
"Minumlah..."Edward menyerahkan minuman kaleng itu kepada Sean dan Sean pun dengan cepat menerimanya.
"Terima kasih Tuan..."
"Hmm..."
"Anda baik-baik saja Tuan?"Tanya Sean dengan penuh kekhawatiran menatap Edward yang kini tengah duduk di sampingnya.
Sean tahu apa yang di alami Edward selama ini, bahkan Sean sudah beberapa kali mengusulkan Edward untuk pergi dokter psikiater. Namun, Edward selalu berkata tidak apa-apa dan mengonsumsi obat tidur saat laki-laki itu susah untuk tertidur.
"Seperti apa yang kau lihat..."Balas Edward dengan mengidikan bahunya dengan acuh.
"Anda bermimpi lagi Tuan?"
"Hmm..."Balas Edward dengan sebuah deheman.
"Apa sebaiknya Anda pergi ke psikiater Tuan? Ini sudah terjadi ke sekian kalinya dan semua itu tidak baik untuk kesehatan mental Anda." Tutur Sean dengan hati-hati agar Edward tidak salah akan semua ucapannya.
"Kau pikir aku gila?!"Sentak Edward dengan tatapan yang menajam ke arah Sean.
"Bukan seperti itu Tuan..."
"Maafkan saya Tuan, Saya tidak bermaksud seperti yang anda katakan."
"Sudahlah jangan bahas itu lagi."Edward mengibaskan tangannya.
"Bagaimana dengan persiapan presentasi besok?"Tanya Edward mengalihkan pembicaraan mereka.
"Hampir seluruhnya selesai Tuan. Anda bisa melihatnya dan memberi tahukan kepada saya dimana kekurangan nya."Seru Sean sembari menyerahkan laptopnya ke hadapan Edward.
Memang saat ini perusahaan Edward akan bekerja sama dengan perusahaan raksasa yang ada Amerika. Jika perusahaan Edward berhasil bekerja sama dengan perusahaan raksasa itu, maka nama Edward dan perusahaan yang Edward kelola saat ini akan semakin di perhitungkan oleh perusahaan- perusahaan besar lainnya.
"Kurasa semaunya sudah cukup, Tidak ada yang perlu lagi untuk di perbaiki."Kata Edward.
"Baik Tuan..."
"Pergilah ke unit mu sendiri Sean. Ini sudah cukup malam dan beristirahat lah, tidak baik untuk kesehatan mu jika kau selalu tidur larut malam."Titah Edward dengan tegas.
"Baik Tuan..."Sean pun segera keluar dari apartemen Edward dan menuju apartemen dirinya yang berada tepat di samping apartemen Edward.
Setelah Sean tidak ada lagi terlihat dari jangkauan matanya. Dan kini Edward hanya sendiri di kala keheningan malam menyelimuti laki-laki itu.
"Ohh... Tuhan! Kapankah ketenangan ada di dalam hidupku?!"Kata Edward meremat minuman kaleng yang ada di tangannya.
***
Edward duduk di kursi kebesarannya tatapan matanya terpusat pada layar laptop di hadapannya, tangan besar Edward menari dengan lincah di atas keyboard laptop-nya. Edward menghentikan jarinya saat pintu ruangannya terbuka dari luar, Laki-laki itu tersenyum miring saat melihat Rihanna sang sekertaris masuk ke dalam ruangannya dengan berlenggak-lenggok dan tidak lupa baju wanita itu sangatlah ketat, hingga menampilkan lekukan tubuh wanita itu dengan jelas.
"Tuan..."Panggil Rihanna dengan suara lirihnya bahkan terdengar seperti suara *******.
"Ada apa?"Tanya Edward dengan menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya.
"Mr, ini berkas yang harus Anda tanda tangani sekarang dan setengah jam dari sekarang kita akan melaksanakan meeting dengan perusahaan Giant Morgan yang akan di adakan di restoran xxx..."Kata Rihanna dengan menelan Savilanya dengan susah payah melihat jakun Edward yang naik turun.
"Kemarikan..."
Dengan teliti Edward memeriksa berkas penting itu dari tangan Rihanna, walaupun Edward sudah membaca separuhnya semalaman saat Sean di rumahnya. Namun Edward tidak ingin ada kesalahan dalam kerja sama yang akan dia lakukan.
"Mr...."Tangan Rihanna mulai menjalar dan masuk ke dalam sela-sela kemeja Edward.
"Shhh..."Desis Edward dengan memejamkan matanya saat tangan wanita itu mulai menjalar ke bagian bawahnya. Membuat sesuatu di bawah sana menegang begitu saja.
Rihanna ingin menggoda Edward, meskipun wanita itu tahu bahwa sang bos telah memiliki kekasih. Rihanna sangat tahu tabiat dan betapa liarnya sang atasan bila di atas ranjang, karena mereka pernah melewati beberapa kali malam panas dan Rihana ingin kembali mengulangi nya.
"Ri-rihana berhenti sebentar lagi kita akan bertemu klien..!!"Seru Edward dengan suara yang menahan desahannya.
Tanpa peduli akan seruan Edward, kini Rihanna duduk di atas pangkuan Edward. Perlahan namun pasti Rihanna memangut bibir Edward dengan menggebu-gebu.
Edward yang mulai terpancing pun segera membalas ciuman Rihanna dengan sangat liar.
"Tu-tuan..."Erang Rihanna di sela ciu'man mereka.
Bibir Edward mulai turun dan menjalar di sekitar rahang dan leher jenjang sekertaris nya itu. Desa'han dan erangan memenuhi ruangan itu, terlebih lagi saat tangan Edward mulai bermain di kedua buah semangka Rihanna. Namun itu tidak bertahan lama sebelum Sean masuk ke dalam ruangan Edward secara tiba-tiba.
"Sialan...!!"Umpat Edward.
"Sean...!!"Seru Edward penuh penekanan tidak lupa kedua mata birunya itu menatap tajam ke arah Sean.
"Maafkan saya Tuan..."Ucap Sean dengan menundukkan kepalanya.
"Pergilah dan tunda meeting untuk satu jam ke depan...!!"Titah Edward tanpa bantahan.
"Tapi Tuan ini..."
"Kau ingin membantahku ku?"Kini tatapan mata Edward semakin menajam.
"Baik Tuan, Maafkan Saya..."Kata Sean sebelum pergi meninggalkan ruangan kerja Edward.
Jangan lupa Like Comment Rate dan Vote