Oh My Baby

Oh My Baby
demam


Hana dan Jung Kook masih berbincang-bincang di sofa. Hana duduk mendekat ke tubuh Jung Kook. Akhir-akhir ini entah kenapa ia selalu ingin berada di dekat Jung Kook. Ia merasa aman dan nyaman bila mencium aroma tubuh Jung Kook.


Jung Kook memeluk Hana ~ Badan Noona kok lebih hangat dari biasanya.


Jung Kook menempelkan telapak tangannya ke dahi Hana dan dahinya ~ Panas. Noona demam?


Jung Kook menggendong Hana menuju ke kamar.


"Kookie ... Aku bisa jalan sendiri." Hana berucap.


Jung Kook seolah-olah tidak mendengar perkataan Hana. Ia tetap menggendong Hana ala bridal style. Menaruh Hana di ranjang mereka.


"Noona demam. Noona berebah aja. Tunggu bentar. Aku siapkan kompres." Jung Kook menuju ke kamar mandi. Ia menaruh air di baskom. Kemudian menaruh batu es supaya air menjadi dingin.


Jung Kook memeras handuk kecil yang terendam air. Ia mulai mengompres dahi Hana.


"Kookie ... Ini mengingatkanku seperti dulu saat kita baru saja mengetahui keberadaan Kiki di perutku." Ingatan Hana kembali ke masa lalu.


Flashback saat Hana hamil muda. Saat Hana masih berada di rumah orang tua mereka.


"Kookie ... Panggil Hana makan. Makan malam sudah siap." Ibu menyuruh Jung Kook memanggil Hana yang masih berada di dalam kamar.


Jung Kook berjalan menuju ke kamar Hana.


"Tok ... Tok ..." Jung Kook mengetok pintu kamar Hana.


"Noona ... Makan malam sudah siap. Ayah dan Ibu sudah nungguin tuh di meja makan." Jung Kook mengingatkan. Tapi tidak ada jawaban dari Hana.


"Noona ... Aku buka pintunya, ya." Jung Kook membuka pintu setelah menunggu beberapa saat.


Aneh.


Biasanya akhir-akhir ini kamar Noona selalu terkunci.


Jung Kook pun masuk ke dalam kamar Hana.


"Noona ..." Jung Kook membangunkan Hana yang sedang tertidur. Ia menepuk ringan lengan atas Hana.


Hangat.


Noona demam?


Jung Kook menyentuh dahi Hana ~ Panas.


Jung Kook menuju ke meja makan.


"Ibu ... Ayah ... Noona demam. Kalian makan aja dulu." Jung Kook memberitahu ayah dan ibunya.


"Ayah antar ke dokter." Ayah mereka bangkit berdiri dari kursi.


"Jangan ... Biar aku kompres dulu. Siapa tahu turun panasnya." Jung Kook berkata seperti itu. Sebenarnya ia takut bila ayah mereka membawa Hana ke dokter maka aborsi Hana akan diketahui oleh orang tua mereka. Dan sudah bisa dipastikan ayah mereka akan murka mengingat sifat keras sang ayah. Entah apa yang terjadi pada Hana nantinya.


Jung Kook mengambil baskom. Mengisinya dengan air dan es batu. Ia kembali lagi ke kamar Hana.


Jung Kook mulai mengompres dahi Hana ~ Apa ini efek samping dari aborsi? Bikin demam?


Hana terbangun saat merasakan kompres dingin di dahinya. Ia melihat wajah cemas Jung Kook.


Hana menatap Jung Kook. Ia menaruh kedua tangannya di atas perutnya. Ia berkata dengan lirih "Kookie ... Aku akan mempertahankan bayi kita."


Kookie ...


Jangan suruh aku untuk mengaborsi bayi kita lagi.


Saat itu Hana merasa berada di dua persimpangan yang berlawanan. Sebelah kirinya Nam Joon. Sebelah kanannya bayinya.


Ia hanya bisa memilih satu jalan. Bila ia memilih Nam Joon, ia harus merelakan bayinya. Bila ia memilih bayinya maka ia harus merelakan Nam Joon. Dua pilihan yang sama beratnya karena ia sangat mencintai Nam Joon dan tak ingin kehilangan bayinya.


Seandainya bayi yang dikandungnya adalah bayi Nam Joon akan lain ceritanya. Ia akan tetap bisa mempertahankan Nam Joon dan bayinya. Kenyataannya sekarang adalah bayi yang dikandungnya merupakan anak Jung Kook.


Sampai akhirnya Hana memutuskan untuk memilih bayinya. Yang artinya tak akan ada lagi Nam Joon di sisinya. Ia tak akan pernah bisa menyandang status sebagai istri Nam Joon nantinya. Status yang selalu ia impikan. Membangun keluarga bersama Nam Joon, sudah harus ia lupakan untuk seumur hidupnya.


Keputusannya juga didasarkan dari pengalaman kedua orang tuanya. Ayah dan ibu mereka kesulitan mendapatkan keturunan. Bahkan orang tua mereka sampai mengadopsi Hana sebagai pancingan supaya ibu mereka bisa hamil.


Hana tak ingin menggugurkan bayinya karena di luar sana banyak pasangan yang menginginkan keturunan tetapi tidak mendapatkannya. Ia lebih memilih bayinya daripada kebahagiaannya sendiri.


Jung Kook hanya terdiam saat mendengar kata-kata Hana.


Noona belum melakukan aborsi?


Noona mau melahirkan bayi kami?


Apa yang ada dalam pikiran Noona sekarang?


"B-Bagaimana kalau ayah dan ibu tau?" Akhirnya bibir Jung Kook berucap.


"Aku akan tetap tinggal di sini sampai kehamilanku sudah tidak bisa ditutupi lagi. Lalu aku akan pergi keluar kota untuk melahirkan dan membesarkan bayi kita."


"A ... Aku mau g-ganti air kompresannya." Jung Kook terbata-bata. Ia menuju ke kamar mandi. Ia tak tahu harus berkata apa lagi.


Hana yang melihat punggung Jung Kook pergi menjauh darinya mulai menitikan air matanya.


Kookie ...


Aku juga nggak tahu apa aku sanggup untuk membesarkan bayi kita sendirian.


Tapi bayi kita tak bersalah.


Aku ingin melahirkan dan membesarkannya walau aku tak tahu apa yang terjadi nantinya.


Anak haram?


Pasti itu akan menjadi cap untuk anak kita karena aku belum menikah.


Wanita murahan?


Apa itu yang akan orang-orang katakan tentang diriku?


Hana buru-buru mengusap air matanya saat ia melihat Jung Kook keluar dari kamar mandi.


Hana menyentuh kembali perutnya ~ Anak eomma ... Mari kita berjuang bersama walau mungkin appa nggak bersama kita.


Flashback end.