Oh My Baby

Oh My Baby
berhenti?


"Ki ... ayo. Kiki mau les balet, kan?" Hana melihat Kiki hanya diam. Ia tidak bergerak. Ia malah duduk di depan daycare.


"Nanti telat, lho." Hana mengingatkan.


Setelah pulang dari daycare Kiki akan Hana bawa ke tempat les. Kiki memonyongkan bibirnya.


"Kiki nggak mau les lagi?"


Kiki menganggukkan kepalanya.


"Kenapa?"


Kiki hanya melihat Hana.


"Apa karena cuma Kiki yang laki-laki di sana?"


Kiki menganggukkan kepalanya.


"Kiki mau Seon Ho Hyung ikut belajar balet?"


Kiki menganggukkan kepalanya lagi.


"Tapi Imo ... Seon Ho nggak punya uang buat bayar les." Seon Ho sebenarnya ingin belajar balet tapi ia tahu ibunya saat ini kesulitan keuangan. Untuk biaya daycare aja, ibunya sering telat membayar. Kadang Hana yang menalangi duluan.


"Nggak pa pa. Imo yang bayarin. Tapi Seon Ho mau belajar balet?"


"Seon Ho mau, Imo."


Akhirnya Hana mendaftarkan Seon Ho. Seon Ho belajar dengan antusias. Ia masih ikut kelas pemula seperti Kiki. Tapi Kiki senang ada Seon Ho yang menemani dirinya.


Hana menunggu di luar kelas. Ia bosan dan melihat-lihat ruang di sebelah kelas balet. Berbeda dengan kelas balet yang sering memutar musik klasik, ruangan di sebelahnya memutar musik hip hop.


Gerakan mereka juga tampak berbeda. Jika balet terlihat anggun dan elegan. Gerakan tari hip hop terasa lebih trendi dan sesuai masa kini. Ada gerakan locking, wacking, krumping dan lain-lain.


Apa sebaiknya Kiki ikut kelas tari modern?


Biar ia bisa jadi idol.


Suaranya Kiki, kan lumayan bagus kalau nyanyi walau kadang masih lupa lirik.


Wajar aja.


Namanya masih batita.


"Wow ..." Hana terkesima saat ada yang melakukan gerakan break dance. Kepala di bawah sedangkan kaki berputar di atas.


Itu yang namanya gerakan kincir angin itu, ya?


Atau aku salah istilah?


"Eomma ..." Kiki melihat dari pintu kaca tapi tidak ada ibunya di luar pintu. Biasanya Hana dengan setia menunggu Kiki sampai selesai les balet.


"EOMMAAAAA ..." Kiki mulai berteriak saat ia tidak melihat Hana. Ia mengira ibunya hilang.


"EOMMAAAA ..." Kiki berteriak lagi. Kali ini sangat kencang.


Teriakan Kiki terdengar sampai luar studio. Hana yang mendengarnya langsung menuju ke ruangan balet.


Ia melihat Kiki menangis.


"Eomma di sebelah aja, kok. Tadi eomma bosan duduk-duduk di sini terus." Hana menggendong Kiki dan menenangkannya.


"Cup ... Cup ... Cup ..." Hana menepuk-nepuk punggung Kiki.


Latihan balet dimulai lagi tapi Kiki sudah malas mengikutinya.


"Kiki nggak mau nari lagi?"


Tidak ada jawaban dari Kiki. Rupa-rupanya Kiki sudah tertidur. Hana lalu menaruh Kiki di sofa.


Nggak pa pa.


Mungkin Kiki kelelahan dan butuh istirahat.


Hana masih menunggui Seon Ho belajar balet.


Ada telpon masuk dari Jung Kook.


"Noona ... Aku jemput di tempat les. Aku sudah selesai latihannya."


"Iya ... Jemput aja." Hana berkata pelan.


"Kenapa suara Noona kecil banget?" Jung Kook ikut berbisik.


"Kiki lagi tidur. Aku takut ia bangun."


Jung Kook lalu menjemput Hana. Pas sekali saat ia jemput, sesi les Seon Ho juga selesai.


Jung Kook menggendong Kiki yang masih tertidur dan menaruhnya di baby seatnya.


"Seon Ho ... Apa tadi di daycare Kiki banyak lari-lari?"


"Iya, Imo. Kiki nggak bisa diam. Sampai pengurus daycare di sana tadi marahin Kiki."


Namanya juga masih anak-anak.


Jung Kook lalu mengantar Seon Ho ke rumahnya dan ia lalu menuju ke rumah mereka.


"Apa sebaiknya Kiki berhenti les?" Hana bertanya ke Jung Kook.


"Kita lihat aja. Kalau Kiki nggak suka atau kecapaian kita batalin aja lesnya."


"Tapi Kookie ... Aku rasa yang lebih berbakat itu Seon Ho dibandingkan Kiki. Tubuhnya itu lentur. Nggak seperti baru belajar balet."


"Semoga aja Seon Ho sudah menemukan bakatnya dan apa yang ia mau."