Oh My Baby

Oh My Baby
tidak berkembang


Pagi hari.


Hana bangun. Ia menuju ke kamar Kiki untuk membangunkan Kiki dan Seon Ho. Saat ia membuka pintu kamar, ia melihat Kiki dan Seon Ho yang sudah rapi dan siap berangkat ke daycare.


"Imo, tadi Seon Ho sama Kiki bikinin imo dan samchon roti selai." Seon Ho menunjuk roti tawar dua tumpuk yang diisi selai strawberry.


"Gomawo, Seon Ho. Gomawo, Ki. Seon Ho sama Kiki sudah sarapan?"


"Sudah." Kiki dan Seon Ho menjawab bersamaan. Hana lalu memakan roti isi selai strawberry itu. Ia kemudian mengganti pakaiannya. Ia menulis pesan "Kookie, aku antar anak-anak ke daycare."


"Appa masih tidur. Eomma yang antar Kiki." Mereka lalu pergi menuju daycare. Selesai mengantar Kiki dan Seon Ho, Hana balik ke rumah. Ia mulai mengemas lukisan Jung Kook. Ia juga menempelkan stiker fragile di atas paket.


Jung Kook bangun.


"Kookie, ada roti isi selai di meja. Kiki sama Seon Ho yang bikin."


Jung Kook memakan sarapannya.


"Aku mau ngirim lukisan lagi." Hana bersiap untuk pergi. Jung Kook melihat Hana. Ia merasa ada yang sedikit aneh dari Hana. Seperti sedang menyembunyikan sesuatu.


Hana mengirim lukisan Jung Kook ke kantor expedisi. Ia lalu ke rumah sakit. Pagi tadi perutnya agak sedikit sakit dan ada bercak-bercak.


Semoga Mint baik-baik saja.


Di rumah sakit.


Dokter memeriksa kandungan Hana. Ia memeriksa lebih lama dari biasanya. Hana menjadi cemas.


"Janin dalam kandungan anda tidak berkembang. Anda harus mengaborsinya."


"Maksud dokter?"


"Dari bulan lalu dan sekarang, besar janin anda tetap sama. Saya akan menjadwalkan aborsi anda."


Sebenarnya Hana sudah curiga. Seharusnya perutnya agak membesar. Tetapi sampai sekarang perutnya masih rata.


Hana pulang sambil berurai air mata.


Aku harus bilang apa ke Jung Kook.


"Kookie, maafkan aku." Hana lalu pingsan.


"Noona ... Noona ..." Jung Kook membaringkan Hana di sofa. Ia lalu melonggarkan pakaian Hana. Ia mengecek lubang hidung Hana. ~ Noona masih bernapas.


Jung Kook hendak menelpon 119. Tapi tak lama kemudian Hana sadar. Jung Kook mengambil air minum dan menggosokkan minyak angin ke tubuh Hana.


"Kookie, maafkan aku." Hana menangis lagi.


"Ada apa?" Jung Kook bingung.


"Kita harus merelakan Mint. Dokter bilang Mint tidak berkembang. Kita disuruh aborsi."


Jung Kook shock. Tapi ia berusaha tetap tegar. Hana yang lagi down, ia yang harus menyemangati Hana.


"Jika kita harus merelakan Mint ..." Air mata Jung Kook tiba-tiba menetes. Ia juga tidak bisa kehilangan Mint. Mereka menangis bersama.


Hana kemudian berjalan menuju ke kamar dituntun oleh Jung Kook. Hana masih lemah. Untuk sementara ini ia beristirahat dulu.


Jung Kook mulai mengerjakan pekerjaan rumah. Sesekali air matanya menetes. Boleh dibilang, diantara Hana dan Jung Kook, Jung Kook lah yang paling menginginkan Mint untuk lahir.


Ada telpon masuk di ponsel Hana. Dari guru Kiki. Jung Kook mengangkat telepon. Guru Kiki memberitahu kalau Kiki belum dijemput. "Sebentar, saya akan menjemput mereka."


Jung Kook melihat Hana sebentar lalu pergi ke daycare. Menjemput Kiki dan Seon Ho. Mereka mampir sebentar untuk membeli bubur.


Di rumah.


Jung Kook memberitahu Kiki dan Seon Ho untuk tidak ribut. "Ki, eomma tadi pingsan. Eomma sekarang lagi istirahat. Jadi, jangan ribut-ribut, ya."


b


Kiki dan Seon Ho menganggukkan kepalanya. Saat hari agak malam, Hana bangun. Ada video call dari Seon Mi. Seon Mi bisa melihat ada yang berbeda dari Hana. "Hana, ada apa?"


"Eonni ..." Air mata Hana menetes lagi.


"Mint ... Kata dokter, Mint tidak berkembang. Aku harus aborsi." Hana menangis lagi.


"Aku turut sedih." Seon Mi berusaha menghibur Hana.