Oh My Baby

Oh My Baby
Part 54


Bianca duduk gelisah menunggu dokter yang kini tengah menangani Briana. Kejadian itu begitu cepat membuat Bianca tidak tahu harus berbuat apa. Untung saja para tetangga yang mendengar teriakan dirinya nya segera masuk ke dalam rumah Bianca dan membawa Briana ke rumah sakit terdekat dengan rumahnya.


Air mata tidak henti-hentinya keluar dari wanita malang itu, pemikiran-pemikiran buruk menghantui dirinya akan kondisi Briana saat ini, membuat wanita itu tidak kuasa untuk menahan tangisannya.


"Maafkan Mamah Nak..."Ucap Bianca di iringi dengan lelehan air mata yang membasahi wajah cantiknya.


Bianca tahu Briana memiliki penyakit jantung bawaan sejak anaknya itu lahir dan terlebih lagi kondisi fisik Briana yang cukup lemah dan tidak seperti anak pada umumnya. Namun, kendala biaya membuat Bianca tidak bisa memeriksa lebih lanjut tentang penyakit jantung apa yang di idap oleh sang anak saat ini.


"Maafkan Mamah..."Bianca menggigit bibir bawahnya seiring dengan pemikiran- pemikiran buruk itu kembali menghantui wanita satu anak itu.


Bianca menangkup wajahnya dengan isakan yang tiada henti keluar dari bibir mungilnya. Bianca rapuh, wanita itu tidak sanggup mendengar dan mengetahui penyakit apa yang kini tengah di derita oleh sang anak. Jika boleh memilih lebih baik Bianca saja yang kini terbaring di atas ranjang rumah sakit, jangan Briana sang anak.


Pada saat itu dokter keluar dari ruangannya untuk memberi tahukan kepada Bianca tentang penyakit bawaan yang kini tengah di derita oleh Briana.


Bianca yang kini tengah terlarut dalam tangisan dan penyesalan nya, tidak menyadari bahwa ada seseorang berdiri di hadapannya.


"Keluarga pasien..."Seru Sang Dokter dengan menyampirkan stetoskop di bahunya.


Seketika itu Bianca mendongkakan kepalanya."Saya ibu kandung pasien Dok."


Seru Bianca beranjak dari posisi nya.


"Bagaimana dengan keadaan anak saya Dok? Apakah dia baik-baik saja Dok?"Tanya Bianca dengan bertubi-tubi bahkan tanpa terasa air mata kembali keluar dari kedua pelupuk matanya.


Bianca meremat ujung baju yang dia kenakan saat mendengar helaan nafas kasar yang keluar dari Dokter di hadapannya.


"Sebenarnya penyakit jantung bawaan apa yang tengah di idap oleh anak saya Dok?" Tanya Bianca tanpa menatap ke arah Dokter tersebut.


"Mari ikut dengan saya Nyonya. Kita bicarakan masalah ini di dalam ruangan saya."Kata Dokter itu setelah beberapa terdiam.


"Baik Dok..."Bianca pun menganggukkan kepalanya dan mengikuti langkah lebar sang Dokter di depan nya.


"Jika terjadi sesuatu kepada anakku, Aku akan benar-benar sangat membenci mu Tuan O'deon!"Guman Bianca dengan tatapan matanya yang kosong, Sehingga wanita itu tidak menyadari bahwa sang dokter telah menghentikan langkahnya.


"Maafkan saya Dok..."Ujar Bianca saat wajahnya membentur punggung dokter laki-laki itu.


"Tidak apa-apa Nyonya,,"


Sang Dokter menganggukkan kepalanya dan mempersilahkan Bianca untuk masuk ke dalam ruangannya.


"Silahkan masuk Nyonya..."


"Terima kasih Dok,"


Bianca duduk dengan raut wajah tampak gelisah. Wanita satu anak itu tampak mempersiapkan hati dan pikiran nya mendengarkan penjelasan dari sang Dokter tentang penyakit apa yang kini tengah bersemayam di dalam tubuh anaknya.


"Dokter, Sebenarnya penyakit apa yang di derita oleh anak Saya? Mengapa dia bisa sampai seperti itu Dok?"Tanya Bianca dengan menggebu-gebu.


Sebelum berbicara tampak dokter itu menghela nafasnya dengan kasar, membuat perasaan gelisah itu kian membelenggu Bianca.


Tampak dokter itu mengambil hasil pemeriksaan dari Briana dan membacanya sesekali dokter itu menatap wajah Bianca.


"Nyonya, Sebenarnya putri anda mengidap penyakit TOF."Ucap Dokter itu setelah menaruh hasil laporan Bianca.


"TOF? Penyakit apa itu Dok?"Sahut Bianca dengan kening yang mengkerut dalam merasa tidak bingung akan penjelasan dokter itu.


Dokter itu pun menjelaskan bahwa TOF atau di kenal dengan istilah Tetralogy of fallot merupakan sebuah penyakit jantung bawaan yang terjadi karena Kombinasi dari empat penyakit jantung bawaan yaitu Venticular septal defect (VSD) yang merupakan kondisi munculnya sebuah lubang abnormal yang memisahkan antara vertikal kanan dan vertikal kiri yang ada pada jantung dan penyakit jantung bawaan ini pun cukup langka terjadi, karena hanya lima belas ribu dari kelahiran bayi di seluruh dunia.


Tubuh Bianca seketika lemas dan tidak memiliki tenaga, saat mendengar penjelasan dari Dokter itu. Separah kan kondisi Briana saat ini? Terlebih lagi mendengar bahwa penyakit yang di idap Bianca cukuplah langka.


"Lalu apakah yang harus saya lakukan Dok? Apakah dengan Operasi pencangkokan jantung, Anak saya akan sembuh dan seperti anak-anak pada umumnya?"Tanya Bianca setelah wanita terdiam cukup lama.


"Jika memang ada yang berbaik hati dengan menyumbangkan nya, semua itu akan lebih baik bagi putri anak saat ini."Jawab Dokter itu.


"Maka ambilah jantung saya Dok. Saya siap akan apapun yang akan terjadi kepada saya, asalkan kondisi anak saya baik-baik saja."


"Anda tenang saja Nyonya. Penyakit TOF dapat di sembuhkan dengan jalan operasi."


"Benarkah Dok?"Tercekat jelas binar kelegaan di wajah Bianca mendengar penjelasan dari sang Dokter.


"Benar Nyonya, Jika kondisi Briana sudah menunjukan perkembangan yang baik, saya akan merekomendasikan Dokter bedah jantung terbaik yang ada di kota untuk menangani penyakit jantung Briana."Tutur Dokter itu membuat kedua mata Bianca terbelalak di tempatnya.


"Di Ko-kota Dok?"Tanya Bianca dengan suara terbata-bata.


"Benar Nyonya..."Jawab Dokter itu dengan menganggukkan kepalanya.


Bianca termangu di tempatnya, Bagaimana mungkin dia kembali ke tempat itu. Dan besar kemungkinan jika dia pindah ke kota, maka dirinya akan bertemu dengan ayah kandung Briana dan orang-orang di masa lalunya. Sanggupkah Bianca berdiri dengan tegak saat semua orang menatapnya bagaikan sebuah kotoran yang harus di lenyapkan.


***


Dengan langkah gontai Bianca berjalan pergi meninggalkan ruangan Dokter tersebut, kedua tatapan matanya kosong dan tersirat luka yang begitu dalam dari sorot matanya.


"Cobaan apalagi ini Tuhan..."Guman Bianca di dalam hatinya.


Bianca menatap Briana yang kini tengah terbaring lemah di atas brankar rumah sakit dan beberapa alat medis yang melekat di tubuh mungil mungil anaknya.


Sesekali wanita itu menyeka air matanya dan menghirup nafas sedalam-dalamnya mengurangi rasa sesak yang kian menyiksa wanita itu melihat kondisi Bianca saat ini, mengingat Bianca tentang kejadian tujuh tahun silam saat dirinya melihat Briana untuk pertama kalinya setelah Bianca bangun dari komanya akibat pendarahan yang wanita itu alami saat melahirkannya.


"Maafkan Mamah Nak, Seharusnya semua kemalangan ini tidak terjadi kepada mu. Mamah memang bodoh, tidak seharusnya mamah terus bertahan di samping laki-laki breng'sek itu dengan angan-angan semu bahwa suatu saat laki-laki itu akan berubah dan menyesali semua perbuatan yang dia lakukan!"Seru Bianca sembari mengusap kaca transparan yang memantulkan wajah sang anak yang kini tengah memejamkan matanya.


"Anda ingin masuk Nyonya."Tanya Seorang perawat yang baru saja keluar dari ruangan Briana.


"Silahkan Nyonya...."Perawat itu pun membukakan pintu untuk Bianca lewati.


Bianca menghirup nafasnya dengan dalam sembari merapihkan rambut dan menyeka air matanya sebelum masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Bangunlah sayang..."Hati Bianca tersayat melihat kondisi Briana saat ini, tangan lembutnya mengusap wajah Briana yang terlihat pucat pasi.


"Maafkan Mamah, Sayang..."Entah berapa banyak kata maaf keluar dari bibir wanita itu. Hanya penyesalan yang kini bersarang di dalam diri Bianca akan kebodohan yang dia lakukan di masa lalu.


"Bangunlah sayang, Bukankah kamu ingin bertemu Papah mu, Mamah berjanji akan mengabulkan semua keinginan mu. Meskipun keinginan mu itu membuat luka yang belum tertutup ini, kembali terbuka. Mamah ikhlas, Asalkan kamu bahagia..."Seru Bianca dengan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya meredam suara tangisannya.


"Mamah tidak sanggup sayang, Mamah tidak sanggup kehilanganmu. karena hanya Briana yang Mamah punya di dunia ini."


Tanpa Bianca sadari bahwa Briana telah tersadar dan mendengar semua perkataan dari Bianca. membuat gadis kecil itu merasa bersalah karena dirinya alasan Bianca menangis.


"Mamah..."Panggil Briana dengan lirih.


Seketika Bianca mendongkakan kepalanya mendengar suara malaikat kecilnya.


"Briana...!! Kau sudah sadar sayang."Ucap Bianca berusaha menutupi kesedihan yang membingkai di wajahnya.


"Ha-haus..."


Bianca segera mengambil segelas air yang berada di samping brankar Briana dan membantu Briana untuk meminum.


"Pelan-pelan sayang..!!"Seru Bianca sembari menyeka sudut bibir Briana.


Briana menatap Bianca dengan lekat dan Bianca pun membalas tatapan sang anak dengan seulas senyuman simpulnya.


"Ada apa Ana? Kenapa melihat Mamah seperti itu?"


"Tidak mah..."Briana menggelengkan kepalanya tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah wanita yang melahirkannya.


"Apakah disini sakit?"Tanya Bianca seraya menyentuh dada Briana.


"Tidak Mah, Briana merasa baik-baik saja. Tapi..."Briana memilin selimut yang dia kenakan.


"Kenapa sayang? Katakan saja...."


"Maafkan Briana yang telah melukai hati Mamah. Seharusnya Briana tidak menanyakan tentang keberadaan Papah kandung Ana, Meskipun Briana tahu bahwa pertanyaan Briana melukai hati Mamah, Namun Briana tetap menanyakan nya dan memaksa mamah mengatakan semua itu." Tutur Briana dengan menundukkan kepalanya.


"Maafkan Briana karena pertanyaan yang Briana lontarkan membuat Mamah menangis."


"Sayang tidak perlu menangis seperti itu. Mamah tidak apa-apa sungguh."Ucap Bianca membawa tubuh Briana ke dalam dekapan nya dan sesekali Bianca memberikan kecupan di pelipis gadis kecil itu.


"Maafkan Briana mah, Briana berjanji tidak akan bertanya tentang Papah kandung Briana lagi."Sahut Briana dengan suara yang tersendat-sendat.


"Tidak sayang, Jika Ana ingin mengetahui dan dengan Dia. Maka Mamah akan berusaha mewujudkan keinginan putri kecil Mamah ini."


Sahut Bianca.


"Tidak Mah, Jika dengan mengetahui siapa Papah kandung Briana membuat Mamah terluka dan menangis, Maka Briana lebih tahu siapa Papah kandung Briana sebenarnya..."


_


_


_


Bianca menatap kertas berlambang rumah sakit dengan lekat yang kini berada di genggamannya. Kertas ini adalah rincian biaya yang harus Bianca bayar selama Briana di rawat beberapa hari ini.


"Ya Tuhan, Ini mahal sekali..."Guman Bianca dengan helaan nafasnya yang kasar melihat nominal yang tertera di dalam kertas tersebut.


"Bagaimana Nyonya? Apakah Anda akan membayarnya saat ini?"Tanya staf Administrasi membuat Bianca terhenyak dalam lamunannya.


"Be-begini Nona, Apakah saya bisa membayarnya dengan mencicil?"Jawab Bianca.


"Bianca..."Wanita itu membalikkan tubuhnya saat merasakan namanya di panggil.


"Nenek Clara..."Pekik Bianca tanpa suara saat melihat wanita yang telah menolong dirinya tujuh tahun yang lalu kini tengah berjalan ke arah dirinya.


Entah apa yang akan terjadi kepada Bianca, Jika saat itu Nenek Clara tidak menemukan dirinya setelah di buang oleh bawahan Edward di sebuah tempat pembuangan sampah yang ada di pinggiran kota.


"Nenek..."Bianca menyalami Nenek Clara saat wanita parubaya itu ada di hadapannya.


"Kenapa tidak memberikan Nenek, Jika Briana masuk ke rumah sakit?"Tanya Nenek Clara sembari memukul pundak Bianca cukup kencang, membuat wanita itu meringis kesakitan.


"Maafkan Bianca Nek, Saat itu Bianca sangat kacau sehingga Bianca tidak bisa berpikir jernih dan memberikan kabar kepada Nenek." Balas Bianca.


"Lalu, Bagaimana keadaan Cucuku saat ini? Apakah keadaan masih seperti pertama kali masuk ke rumah sakit? Ataukah sudah membaik?"


"Syukurlah... Saat ini keadaan Briana sudah cukup membaik."Ujar Bianca.


"Mamah..."Panggil seseorang membuat Nenek Clara dan Bianca mengalihkan pandangannya.


Bianca terpaku di tempatnya melihat seseorang yang tidak asing bagi wanita itu. kini tengah berjalan menuju ke arah mereka dengan seulas senyuman simpulnya.


Jangan lupa Like Comment Rate dan Vote