
...Seberapa banyak rencana licik dilakukan tetap akan kalah dengan perilaku baik....
...~Jimmy Harrison...
...🌴🌴🌴...
Wajah Ilham berubah pucat. Bahkan dia begitu panik saat menyadari jika keduanya terjebak di ruang rawat ini.
"Bagaimana ini, Mas?" tanya Narumi dengan gelisah.
Ilham tak tinggal diam. Dia segera meletakkan tubuh Narumi ke atas ranjang dan membaringkannya dengan lembut. Setelah itu dirinya segera menuju ke arah pintu yang tertutup rapat dengan berusaha mencari jalan keluar.Â
"Mas pikirkan jalan keluarnya!" teriak Narumi yang ikut panik.
"Iya. Mas akan cari cara!" sahut Ilham dengan suara lembut.Â
Pria itu sangat mengingat jika pintu ruangan Narumi terbuka jika ditarik keluar. Maka jika dia mendobraknya maka 100% akan berhasil.
"Mas akan menendang pintu ini, Rumi!" kata Ilham yang langsung mendapatkan anggukan kepala dari perempuan yang berbaring di atas ranjang.
Narumi benar-benar berharap agar pintu itu segera terbuka. Dia juga ingin segera keluar dari sini. Pikirannya mulai melalang buana bahwa apakah rencana Ilham sudah terendus oleh Bara dan Jimmy.Â
Jika memang iya, maka dia dalam bahaya. Kali ini Narumi yakin, Bara dan Jimmy tak akan mengampuninya lagi.
"Mas cepetan! Kenapa masih diam?" sembur Narumi saat tak mendengar pergerakan pria itu.
Ilham sejak tadi memang masih berusaha menghubungi temannya. Namun, dirinya tak mendapatkan jawaban apapun. Bahkan panggilannya ditolak hingga membuat Ilham mengepalkan kedua tangannya karena kesal.Â
Dia menatap pintu itu lagi. Ilham yakin jika dirinya bisa menendang pintu itu dan terbuka. Lalu mereka segera keluar dari sana.Â
Tanpa kata, dia segera menyimpan ponselnya lagi ke dalam saku celana. Lalu mulai memundurkan tubuhnya untuk melakukan persiapan menendang pintu kayu tersebut.
Dengan sekali gerakan.
Brak!
Pintu itu tak berhasil terbuka. Seharusnya jika memang cuma dikunci akan terbuka dengan mudah. Tapi sepertinya ada penahan di luar sana yang membuat pintu itu susah sekali didobraknya.
Sedangkan di luar sana. Dua orang perawat benar-benar gemetaran. Bahkan mereka sampai menarik kursi ruang tunggu yang biasa diletakkan di depan ruang rawat untuk menahan pintu itu.
Mereka baru menyadari jika ruangan Narumi, model pintunya seperti ini. Sangat amat mudah untuk dibuka jika terkunci dari luar.
"Bagaimana ini, Mbak?" tanya perawat yang umurnya lebih muda.
"Cepat hubungi Pak Bara. Bilang pada beliau jika mereka nekat mendobrak pintu ini," kata perawat yang umurnya jauh lebih tua.Â
Suasana di depan ruangan Narumi memang sepi. Bara dan Almeera meminta perempuan itu diletakkan di ruang VIP agar mendapatkan pelayan yang terbaik.Â
Dua perawat itu celingukan. Mereka sama-sama berdiri di atas kursi tunggu dan menahan pintu itu dengan tubuhnya.
Sebuah tendangan lagi, membuat dua perawat itu semakin kuat menahannya. Bibir mereka saling memanjatkan doa saat mengingat ucapan Bara jika orang di dalam sana harus dijaga untuk menyelamatkan kehidupan banyak orang.
"Kurang ajar! Siapa kalian?" teriak Ilham dari dalam yang membuat dua perawat itu saling pandang.
"Gimana, Mbak? Pak Bara tak bisa dihubungi," bisik perawat itu dengan menatap penuh takut ke arah pintu yang dia pegang.Â
"Kita harus menjalankan perintah Pak Bara apapun yang terjadi," kata perawat yang umurnya lebih tua. "Mereka itu penjahat. Kita tak boleh membiarkannya menang."Â
Perawat yang satunya mengangguk, lalu tak lama, sebuah tendangan kuat membuat tubuh keduanya terlempar jatuh ke lantai.
"Aghh!" pekik keduanya terkejut.
...🌴🌴🌴...
Sedangkan di waktu yang sama, terlihat Jimmy berlari dengan cepat menuju ruangan dimana Narumi berada. Pria itu menatap tajam ke arah depan dengan berusaha memangkas waktu sependek mungkin.
Tanpa jeda dia berlari hingga matanya terbelalak saat melihat dua perawat yang diperintah Bara terjatuh ke lantai.
Suara deritan pintu dan kursi yang bergeser membuat Jimmy menajamkan telinganya. Hingga tiba-tiba dia mendengar suara pria marah-marah membuatnya segera mengintip.
"Siapa yang meminta kalian melakukan ini, hah?" pekik Ilham dengan mata melotot. "Siapa?"Â
Perawat itu terpekik sakit. Rambutnya dijambak dengan kejam oleh Ilham.
"Sakit, Pak. Maafkan kami," pekik wanita itu dengan menahan rambutnya.
"Siapa yang menyuruh kalian?" seru Ilham semakin bengis.
"Pak Bara."Â
Spontan mendengar nama itu, jambakan kuat dari tangan Ilham mengendur. Pria itu lekas beranjak berdiri dan menatap ke sekeliling.
Jimmy bisa melihat jika pria itu seperti mengecek kondisi di sana. Kakak dari Almeera yakin jika saat ini pria bernama Ilham itu ketakutan.Â
Aku yakin kau mulai takut, hee, gumam Jimmy dalam hati dengan seringai licik.
Pria itu dengan asyik menyandarkan punggungnya. Dia yakin jika Ilham bukanlah tandingannya. Lebih baik dia memakai cara tercepat daripada harus mengeluarkan banyak pukulan tak berguna.Â
Akhirnya Jimmy kembali mengintip. Dia melihat Ilham masuk ke dalam ruang rawat Narumi. Tak lama pria itu keluar dengan menggendong wanita ular itu.Â
Bibir Jimmy menggerutu. Dia tak percaya jika wanita itu masih saja memiliki pria pelindung walau sudah cacat. Bahkan semua pria yang mendekatinya mampu bertindak bodoh hanya karena Narumi.Â
Benar-benar pria gila dan bodoh menurut Jimmy. Jika Adnan yang seorang dokter sampai kehilangan nyawanya karena Narumi. Maka pria ini, Ilham merelakan pekerjaan dan dirinya demi perempuan gila itu.Â
Sama-samar Jimmy mendengar pembicaraan dua orang itu yang berjalan ke arahnya.Â
"Kalian jangan macam-macam dan berani mengatakan pada Pak Bara! Kalau tidak, nyawa kalian menjadi jaminannya!" ancam Ilham menatap dua perawat itu.Â
Cehh beraninya mengancam perempuan, ejek Jimmy dalam hati.
Setelah itu, Jimmy mulai menunggu kedatangan keduanya. Hingga saat Ilham dan Narumi hendak memasuki lift yang menjadi jalan Jimmy datang ke lantai ini. Dengan sekali gerakan, kakak dari Almeera memukul tengkuk Ilham hingga membuat pria itu tak sadarkan diri.
Jimmy lekas meraih Narumi dalam gendongannya ketika perempuan itu menjerit.
"Aghh...Ilham. Apa yang terjadi?" tanyanya terkejut.
Dia berusaha meraba sosok yang menangkapnya. Tangannya mengusap pundak hingga sampai di wajahnya. Narumi berusaha meneliti setiap lekuk di wajah Jimmy hingga membuat perempuan itu kesulitan.
"Siapa kau?" tanya Narumi dengan ketus.
"Dimana Ilham? Hey kau siapa?" seru Narumi memukul dada Jimmy dengan kuat.Â
Narumi menggerakkan kepalanya. Dia berusaha meraba dengan mengulurkan tangannya tapi tak ada siapapun.Â
Siapa sosok yang menggendongnya ini?
Kemana Ilham sebenarnya?
Pria itu seakan langsung tak ada suaranya sedikitpun.Â
Tubuh Narumi gemeteran. Dirinya bahkan mulai mengingat ciri-ciri sosok yang menggendongnya ini. Dada bidang, rahang tegas. Lalu hidung mancung saat dia mulai merabanya dengan ketakutan yang tinggi.
Narumi seakan kesulitan bernafas saat ciri-ciri orang yang memeluknya seperti sosok yang sangat dia benci.Â
Sedangkan Jimmy, pria itu menyeringai. Bisa dilihat jika Narumi pasti sudah mengetahui bila ini adalah dirinya. Kakak dari Almeera mendekatkan bibirnya di telinga Narumi. Dia berbisik lirih hingga membuat tubuh Narumi menegang.Â
"Long time no see. Sepertinya kau sangat merindukan aksiku hingga berbuat hal gila lagi, heee."
~Bersambung
Ah Bang Jim mah emang sukanya bikin readers jantungan, hehe.
Jangan lupa klik like, komen dan vote.
BTW kalau aku bikin cerita Bang Fadly juga versi novel dia sendiri, setuju gak?