Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Kondisi Ayah Adeeva



...Sejahat-jahatnya orang tua pasti akan ada tempat khusus di hati anaknya. Mereka akan terus memaafkan tapi tidak dengan melupakan....


...~Adeeva Khumairah....


...🌴🌴🌴...


Selama perjalanan menuju tempat yang entah dimana. Isak tangis terdengar di bibir Adeeva. Baru kali ini dia berjauhan dengan Reyn dalam waktu yang tidak bisa ditentukan.


Selama ini mereka selalu bersama. Bagaimanapun sibuknya Adeeva. Reyn akan terus ada di sampingnya. Kesedihan gadis itu membuat Reno merasa bersalah.


Dia menatap istrinya yang sejak tadi menatap ke jalanan saat mobil berhenti dilampu merah. Pria itu mengulurkan tangannya lalu mengusap kepala Adeeva hingga wanita itu menoleh.


"Maafkan aku, Sayang. Bukannya aku ingin memisahkan kamu dengan Reyn," kata Reno dengan mata menatap wajah Adeeva yang memerah.


"Memangnya kita mau kemana sih, Mas? Kenapa harus dititipin segala Reyn? Kenapa gak diajak?" tanya Adeeva beruntun.


Sejak tadi wanita itu mencoba menahan semua gejolak yang ada dalam hatinya. Dia mencoba memahami kemauan Reno. Namun, tetap saja rasa penasaran itu memenuhi pikirannya.


"Kita akan ke rumah sakit," kata Reno dengan nada pelan.


"Siapa yang sakit?" tanya Adeeva dengan degup jantung berdebar kencang.


Dia memandang mata Reno hingga pria itu mengalihkan tatapannya saat klakson mobil di belakang mereka berbunyi. 


"Katakan padaku, Mas. Siapa yang sakit?" tanya Adeeva menuntut.


"Nanti kamu pasti tahu sendiri!" 


Adeeva terdiam. Dia mencoba mengingat sesuatu hingga tiba-tiba ia mengingat sosok ibunya.


"Apa Ibu yang sakit? Ibu tadi tak ada di rumah. Ya. Bener, Mas?" 


Reno mencengkram setir kemudinya. Keadaan Ini membuat pria itu juga menahan sakit.  Dia tak mampu mendengar suara tangis istrinya. Namun, mau bagaimana lagi. 


Semua ini karena janjinya pada sosok yang menelponnya tadi!


Akhirnya perjalanan itu mulai berakhir. Reno segera turun dan membukakan pintu untuk istrinya. Dia mengerti Adeeva saat ini dalam keadaan hati yang buruk. Namun, sebisa mungkin istrinya itu menahannya. 


"Maafkan aku jika kali ini menyakitimu, Sayang. Tapi ini demi kebaikanmu," kata Reno dengan suara penuh sesal.


Adeeva masih diam. Namun, dia menyadari jika suaminya sama sepertinya. Sama-sama tersakiti saat berada jauh dari putranya. 


Perlahan mereka mulai berbelok, dari tempatnya mereka melangkah. Adeeva bisa melihat sosok ibunya yang berdiri di depan ruangan. 


"Ibu!" panggilnya yang membuat ibu Adeeva menoleh.


Hati Adeeva mencelos. Dia melihat keadaan ibunya tidak baik-baik saja. Dengan sigap wanita itu memeluk ibunya. 


Adeeva bisa merasakan tubuh wanita yang melahirkannya ini bergetar hebat. Bisa ia rasakan ibunya sedang bersedih begitu dalam. 


"Ada apa, Bu? Apa Ibu sakit?" tanya Adeeva yang semakin dibuat takut. 


Bukannya menjawab. Ibu Adeeva semakin menangis dengan kencang. Hal itu membuat Adeeva membawa ibunya duduk di kursi ruang tunggu. Dia mengusap punggungnya ibunya agar ibunya segera tenang.


Hati wanita itu entah kenapa mulai resah. Jantungnya berdegup kencang entah apa yang saat ini ia rasakan. Perasaannya benar-benar campur aduk hingga tiba-tiba air matanya mengalir.


"Ibu katakan padaku, Bu. Jangan menakuti Adeeva seperti ini!" katanya memohon.


Perlahan pelukan itu terlepas. Ibu Adeeva mengusap air matanya yang mengalir lalu menatap putrinya itu.


"Ibu mohon jangan menyimpan dendam ya, Sayang. Maafkan apa yang menjadi sakitmu selama ini agar kamu bisa tenang," kata Ibu Adeev dengan ambigu.


"Pasien ingin bertemu dengan Adeeva. Siapa Adeeva?" tanya dokter pada Ibu Adeeva.


Sang pemilik nama menunjuk dirinya. "Saya, Dok." 


"Silahkan masuk! Pasien memanggil nama Anda terus," kata Dokter sebelum kembali masuk.


Adeeva menatap ibu dan suaminya. Bisa Adeeva lihat suaminya menatapnya penuh kesedihan. Namun, pria itu mencoba menahannya dengan kepala mengangguk dan memaksakan senyum. 


"Lapangkan hatimu, Sayang. Ingat! Jangan paksakan apa yang menyakitimu." 


Setelah itu Adeeva mulai masuk. Entah kenapa memasuki ruangan ini membuat jantungnya tak karuan. Apalagi ketika suster memberikan masker, sarung tangan dan pakaian steril yang membuat jantungnya makin tak karuan. 


"Mari, Mbak!" ajak suster yang memandu langkahnya.


Dari jauh Adeeva bisa melihat sosok yang terbaring lemah dengan banyak alat di tubuhnya. Tubuhnya mulai gemetar saat dia sangat mengenal bentuk tubuh itu.


Hingga kakinya yang semakin mendekat. Adeeva menutup mulutnya tak percaya. Disana, yang terbaring lemah adalah sosok ayah kandungnya. Sosok yang selama ini putus hubungan dengannya karena memang Adeeva tak bisa melupakan semuanya. 


Suara isakan yang keluar membuat sosok yang mulanya terpejam perlahan membuka matanya. Dia menatap sosok yang datang di samping ranjangnya dengan tak percaya.


Pria tua itu menangis. Dia mencoba mengangkat tangannya yang kurus untuk menggapai tangan putri yang sudah dia sakiti hatinya terlalu dalam.


Bayangan bagaimana tingkah lakunya pada istri dan anaknya. Bagaimana sikapnya yang buruk membuatnya selalu terbayang akan dosa-dosanya itu.


"Terima kasih sudah mau datang kesini," kata Ayah Adeeva dengan nafas berat. "Ayah ingin minta maaf sama kamu."


Adeeva meraih tangan ayahnya yang berusaha mencari tangannya itu. Dia menggenggamnya dengan pelan saat melihat bagaimana tangan yang dulunya kokoh dan berotot kini kurus tinggal tulang. 


Sungguh keadaannya begitu lemah dan mengkhawatirkan. Hal itu membuat sesuatu dalam diri Adeeva mulai ketakutan.


"Ayah…" ujarnya berjeda saat nafasnya mulai berat. 


Pria tua itu berusaha membuka matanya. Menggenggam tangan anaknya dengan pelan lalu membawanya ke atas dadanya.


Dadanya naik turun yang membuat Adeeva semakin menutup mulutnya tak kuat. Tanpa kata, dia memeluk tubuh lemah itu dengan perasaan bersalah.


"Maafkan Adeeva, Ayah. Maafkan Adeeva yang menjauhi, Ayah!" 


Telak sudah. 


Sekuat apapun kebencian seorang anak pada orang tuanya. Masih ada ruang dimana dia sanggup memaafkan. Sebesar apapun kesalahan orang tua pada anaknya. Masih ada hati dan celah untuk mereka memaafkan. 


"Ayah harus sembuh. Jangan tinggalin Adeeva!" 


Pria tua itu mencoba membalas pelukan anaknya. Entah kenapa ada sesuatu yang terasa lega dalam dirinya. Perlahan nafasnya semakin berat. Matanya mulai tertutup terbuka.


Dia sudah tak kuat akan penyakitnya. Ayah Adeeva menyerah. Kebanyakan minum alkohol dan menyesali semuanya membuat dirinya sakit karena kesalahannya sendiri.


Hingga suara mesin detak jantung yang berbunyi nyaring membuat Adeeva semakin mengeratkan pelukannya.


Kepalanya menggeleng saat para dokter mencoba melepaskan pelukan itu. Adeeva mengerti arti bunyi itu. Dia tak mau melepaskan ayahnya. Rasa penyesalan itu hadir di hatinya di saat seperti ini.


Ini sakit bahkan jauh lebih sakit oleh luka yang diberikan oleh papanya sendiri.


"Ayah jangan pergi, Ayah! Jangan tinggalin Deeva sama Ibu!" 


~Bersambung 


Beberapa bab ke depan ngabisin tisu pol hikss. Aku yang ngetik bener-bener nangis juga.


Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.