Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Dia Datang!



...Sejauh apapun aku melangkah. Kau tetap rumah ternyaman untukku pulang....


...~Jimmy Harrison...


...🌴🌴🌴...


Duduk berjam-jam di taman rumah sakit sambil menatap lalu lalang kendaraan yang lewat dengan banyaknya perawat serta pasien yang duduk diam di sana membuatnya sedikit tenang. Zelia menghela nafas pelan sebelum beranjak berdiri.


Ingatan tentang bagaimana ia membentak mamanya sendiri membuat rasa bersalah menyelimuti hatinya. Sebagai seorang anak yang tak pernah membantah orang tuanya, tentu Zelia sudah merasa takut. 


Takut jika apa yang dia lakukan tadi membuat beban pikiran untuk mamanya. Takut jika perkataan dan pertanyaan yang meledak ketika dia emosi, membuat mamanya tersinggung dan sakit hati.


Begitulah seorang Zelia dibesarkan dengan kasih sayang mama dan papanya. Membuatnya menjadi sosok yang gampang merasa bersalah ketika sudah menyakiti orang lain.


Akhirnya ia segera kembali ke kamar mamanya. Ia ingin meminta maaf dan berjanji tak akan mengulanginya lagi.


Mungkin orang tuanya memiliki alasan tersendiri untuk menyembunyikan semuanya. 


"Aku harus minta maaf. Bagaimanapun perkataanku tadi terlalu kasar," kata Zelia dengan yakin. 


Dia segera berjalan dengan semangat menuju kamar mamanya. Lalu membuka pintu itu hingga terlihat papanya yang sedang menyuapi mamanya. Tak ada siapapun disana. Sepertinya Almeera, Adeeva, Reno dan Bara sudah pulang. 


"Lia. Maafin, Mama," kata Mama Zelia saat melihat anaknya masuk.


Gadis itu segera berjalan menuju ranjang mamanya. Papa Zelia memberikan waktu untuk istri dan anaknya memperbaiki semuanya.


"Maafin Lia ya, Ma. Maafin Lia udah bentak-bentak, Mama," ujar Zelia dengan tulus.


Gadis itu memeluk sosok mamanya dengan pelan. Tubuh mamanya yang semakin kurus tanpa sadar membuatnya menangis. Ternyata mamanya sudah melewati banyak hal berdua dengan papanya. 


"Lia gak salah," ujar Mama Zelia dengan pelan. Tangannya mengusap rambut putrinya penuh sayang.


"Mama yang salah sama, Lia. Mama yang minta Papa buat rahasiain semuanya. Maafin Mama yah?" 


Kepala Zelia mengangguk. Dia mencoba menerima semuanya dengan ikhlas. Gadis itu tersadar jika saat ini ia marah pun, percuma. Mamanya sedang sakit dan tak seharusnya memikirkan hal-hal yang tak penting. 


"Mulai sekarang jangan menyembunyikan apapun dari Lia ya, Ma. Ikut sertakan Lia di setiap kegiatan Mama dan Papa di rumah sakit."


Hati Mama Zelia tersentuh. Namun, kepala wanita tua itu mengangguk mengiyakan permintaan anaknya. Dia juga tak mau menutupi apapun lagi.


Anaknya berhak tahu kondisi sebenarnya. Anaknya berhak menyiapkan sesuatu bila terjadi sesuatu kepada dirinya sendiri.


Siap tak siap. Mau tak mau. Mama Zelia sadar jika penyakitnya ini tak bisa disembuhkan. 


"Lia harus janji gak boleh sedih, oke? Mama kuat karena semangat Lia dan Papa," pinta Mamanya dengan penuh harap.


"Iya, Ma. Lia gak bakal sedih," ujarnya dengan yakin.


Gadis itu menghapus air matanya yang mengalir. Lalu menarik kedua sudut bibirnya melengkung ke atas.


"Lia bakalan terus tersenyum di samping, Mama."


"Terima kasih, Nak." 


Interaksi mereka berdua membuat Papa Zelia tersenyum. Dia tahu bagaimana istrinya berjuang hidup untuknya dan putri mereka. Namun, bagaimanapun semuanya ada ditakdir Tuhan.


Jika memang umur istrinya tak lama lagi. Papa Zelia ingin istrinya selalu bahagia di akhir hidupnya. Dia ingin waktunya dan sang anak untuk menemani detik-detik istrinya berjuang untuk penyakitnya. 


"Papa bahagia kalau liat Mama sama Lia akur. Kalian memang kesayangan Papa." 


Mereka tersenyum bahagia. Mencoba menerima takdir tuhan yang sedang menerkam ketiganya. Semua ini pasti bisa mereka lalui bersama. Entah endingnya seperti apa. Namun, mereka sudah pasrah atas jalan Allah yang sudah digariskan.


...🌴🌴🌴...


Bahkan pria itu meyakinkan atasannya bahwa dia bisa melakukan pekerjaannya dari rumah dan akan selesai tepat waktu. 


Pria itu benar-benar tak mau semuanya semakin salah faham. Penjelasan yang adiknya berikan benar-benar seperti sebuah tamparan untuknya.


Membuatnya sadar bahwa selama ini dia sudah menyakiti hati wanita yang begitu ia cintai.


Suara klakson terdengar kencang saat dia harus menekan pedal rem dengan mendadak. Tubuhnya hampir terpental tapi masih terlindungi karena ia memakai sabuk pengaman.


Pria itu memukul setir kemudi karena pengemudi mobil di depannya berhenti secara mendadak. Saat dia turun dari mobil, pengemudi di depannya sudah menghampiri mobilnya terlebih dahulu. 


"Bagaimana jika kelalaian Anda membuat orang lain celaka?" seru pria itu dengan tegas. 


"Maaf, Tua . Saya benar-benar mengantuk."


"Jika mengantuk. Minggirlah terlebih dahulu! Istirahat baru dilanjutkan," ujarnya menasehati. "Kalau saya tadi tidak menginjak rem. Pasti akan ada kecelakaan beruntun." 


"Iya, Tuan. Saya…"


"Lain kali hati-hati!" sela pria itu lalu kembali melanjutkan perjalanannya.


Pria itu sudah diberikan alamat oleh adiknya dimana kekasihnya itu berada saat ini. Dia begitu khawatir jika apa yang dikatakan oleh Almeera benar adanya.


Kekasihnya sudah menyerah pada hubungan mereka. Itu tak bisa dia terima dengan baik. Dirinya tak mau hubungan yang mulai ia bangun hancur di tengah jalan.


Pria itu benar-benar tak mau putus dari kekasih yang mampu membuat hatinya bergetar untuk kesekian kalinya. 


Akhirnya perjalanan itu berakhir dengan selamat. Pria itu segera memarkirkan kendaraannya di parkiran rumah sakit. Lalu tak lupa ia membawa tas punggungnya dan segera berjalan memasuki bangunan dimana orang tua kekasihnya dirawat. 


"Dimana ruangannya?" gerutu pria itu sambil menatap ruangan-ruangan yang ia lewati dan bergantian menatap alamat yang dikirimkan oleh adiknya melalui pesan teks.


Hingga akhirnya setelah hampir lima menit mencari. Pria itu telah berdiri di depan pintu kamar ruangan dimana mama kekasihnya dirawat.


Dia menghela nafas begitu dalam sebelum mendorong pintu itu agar terbuka. Namun, saat dia sudah bersiap membukanya. Pintu itu terbuka terlebih dahulu hingga muncullah sosok yang sangat tak ia duga.


Disana, sosok yang sangat dirindukan olehnya berdiri di depannya. Tubuh keduanya mematung dengan pandangan begitu lekat.


Keterkejutan tentu juga dirasakan oleh orang yang membuka pintu. Gadis yang sama terpana dan tak percaya akan kehadiran kekasihnya. Kekasih yang ia tunggu kabarnya ternyata berdiri dengan nyata di depan pintu ruangan mamanya.


Mereka sama-sama masih diam di tempat. Namun, baik sang wanita maupun prianya menatap penuh kerinduan. Akhirnya setelah sekian lama mereka berpisah. Kini keduanya dipertemukan lagi.


Menepis rindu walau dalam keadaan yang sangat tidak diduga oleh keduanya.


"Sayang."


"Kak Jim." 


Saat keduanya sadar bahwa apa yang ada di hadapan mereka benar-benar nyata. Baik Zelia maupun Jimmy saling beranjak mendekat dan merengkuh tubuh pasangannya.


Tangis Zelia pecah saat tubuh ini nyata dipeluknya. Bukan foto lagi yang menepis kerinduannya. Melainkan sosok nyata benar-benar hadir di dekatnya.


"Aku pulang, Sayang. Maafkan aku karena sudah mengabaikanmu." 


~Bersambung


Kan-kan keselnya kalau Bang Jim balik itu begini. Bapernya itu loh! huh bikin mengcapek.


Jangan lupa klik like ya woy. Komen dan vote. Biar kalian bisa ikutan Give Away berhadiah MINIGOLD.


Yok pantai IG author @myname_JBlack