
...Percayalah berada jauh dari suami adalah masa tersulit seorang istri....
...~Almeera Azzelia Shanum...
...🌴🌴🌴...
Akhirnya pagi itu, Almeera, Bia dan Abraham serta keluarga istrinya segera mengantar kepergian Bara ke bandara. Pria itu juga mungkin sedikit lebih lama disana karena akan menemani kedua orang tuanya.Â
Jujur Bara ingin membawa istrinya. Namun, kehamilan tua membuatnya tak mau mengambil resiko yang berbahaya yang bisa mengancam keselamatan istri dan si kembar.Â
Kepergian Bara kali ini tentu membuat tiga orang itu merasa sedih. Buktinya Bia sejak berada di dalam mobil terus menempel pada papanya. Dia duduk di pangkuan Bara dengan kepala direbahkan di dada sang papa.
Sedangkan Almeera. Ibu hamil menggemaskan ini terus melingkarkan tangannya di lengan sang suami. Mereka memang duduk di bangku tengah. Sedangkan Abra, pria itu duduk di kursi belakang dengan tangan mengusap leher Bara secara lembut.
Sungguh pemandangan ini membuat siapapun merasa tak tega. Namun, kembali lagi pada tujuan Bara ke Singapura. Dia disana bukan main, melainkan bekerja untuk melebarkan sayap usahanya dibidang cafe.Â
Perjalanan yang biasanya terasa lama, entah kenapa kali ini terasa cepat. Mobil yang dikendarai oleh Papa Darren tiba-tiba sudah terparkir rapi di parkiran bandara.Â
Dengan pelan, mereka semua turun. Bia terus menelusupkan kepalanya di leher sang papa dengan mulai menangis.
"Papa jangan pergi! Jangan tinggalin, Bia!" kata anak itu dengan suara seraknya.Â
"Papa mau kerja, Sayang," kata Bara mencoba memberi pengertian. "Papa juga mau jenguk Kakek dan Nenek."
"Papa bisa bekerja disini. Gak perlu pergi jauh-jauh," timpal Bia membela diri. "Kakek sama nenek suruh pulang aja. Biar Papa gak kemana-mana."Â
Entah kenapa jawaban Bia membuat Bara tersenyum. Dia merasa dibutuhkan ketika seperti ini. Dia merasa keberadaannya benar-benar mempengaruhi istri dan anak-anaknya.Â
"Papa harus kerja, Nak. Cucu Kakek, 'kan, pintar. Kalau Papa kerja buat?"Â
"Buat Bia, Abang sama Mama," balasnya dengan air mata yang terus menetes. "Tapi Bia gak mau Papa pergi."
Orang tua Almeera tak bisa melakukan apapun. Jika sudah begini mereka juga kesusahan membujuk anak kedua dari Bara dan Almeera.Â
Mereka kini mulai berhenti di pintu masuk tempat Bara dan keluarganya akan berpisah. Bara benar-benar tak bisa melepaskan lilitan tangan anaknya dari lehernya.
"Ayo, Sayang. Sama Mama!" kata Almeera mencoba membujuk.
"Gak mau!" serunya dengan marah.Â
Bara mengangguk. Mencoba mengatakan pada istri dan kedua mertuanya bahwa ia yang akan menangani ini.
"Papa mau bicara sama Mbak Bia dulu. Mana wajahnya?" rayu Bara dengan pelan.Â
"Gak. Papa pasti mau turunin Bia ''kan?"Â
"Siapa yang mau turunin putri cantik Papa ini?" tanya Bara pada putrinya. "Papa cuma mau bicara sama putri kesayangan Papa."Â
Perlahan wajah Bia dijauhkan dari leher Bara. Namun, tangannya masih setia melingkar di leher Bara. Mata bocah itu begitu sembab dengan hidung memerah karena terlalu banyak menangis.
"Dengerin Papa yah. Sebentar saja!" kata Bara sambil menarik dagu putrinya. "Papa hanya pergi sebentar, Nak. Papa bakalan pulang."Â
Bara menatap mata anaknya. Ikatan anak dan ayah itu memang kuat. Keduanya begitu tak bisa dipisahkan dalam keadaan apapun.Â
"Selama Papa bekerja. Tugas Mbak Bia dan Abang Abra buat jagain Mama dan Adik kembar selama Papa bekerja. Bisa?"
"Tapi Bia gak mau Papa pergi."Â
"Ini perjalanan Papa terakhir tanpa kalian. Setelah adik kembar lahir. Kita bakalan pergi kemanapun bersama-sama."Â
"Apa Papa bisa janji?" Tanya Bia mengulurkan jari kelingking tangannya.Â
Dia menatap papanya penuh harap. Hatinya memang tak mau ditinggalkan. Namun, anak itu mencoba memahami perkataan papanya ini.Â
"Bisa," sahut Bara dengan yakin.Â
Pria itu melingkarkan jari kelingkingnya membuat janji dengan putrinya ini.Â
"Papa berjanji akan pulang cepat setelah menjenguk kakek."
Kepala bocah kecil itu mengangguk meski terlihat berat.Â
"Iya," sahut Bia dengan pelan.Â
Bara tersenyum. Dia mencium kepala anaknya lalu mulai berjalan menuju istri dan anak pertamanya itu.Â
"Papa berangkat, yah! Tolong bantu Papa buat jagain Mama sama Adik Bia," kata Bara menepuk pundak remaja itu.
"Baik, Pa," sahut Abra dengan kepala mengangguk.
Bara beralih ke arah istrinya. Bisa dia lihat di mata Almeera ada kesedihan disana. Namun, ia coba menahannya.
Perlahan Bara menurunkan putrinya. Kemudian dia menarik tubuh istrinya itu ke dalam pelukan.
"Maafin aku ya, Sayang. Aku harus meninggalkanmu sebentar untuk bekerja," kata Bara dengan hati yang sama beratnya.
Almeera menghela nafas berat. Dia tak mau menangis dan semakin menambah beban suaminya. Dia tahu betul jika suaminya sama beratnya dengan perpisahan ini. Namun, kewajiban tetaplah kewajiban.Â
Ini adalah pekerjaan Bara. Siap tak siap. Mereka harus siap.Â
"Pergilah, Mas. Aku meridhoi perjalananmu kali ini. Semoga selamat sampai Singapura." Doa Almeera dengan tulus.Â
Bara mengangguk. Dia mencium kepala, dahi, pipi, dan tangan serta perut istrinya. Dia benar-benar mencoba mengikhlaskan dirinya yang harus pergi disaat umur kandungan Almeera sudah mendekati masa kelahiran.
Dia hanya bisa berdoa semoga anak-anaknya mau menunggu dirinya.
Bergantian, Bara juga menyalami kedua mertuanya. Dia meminta restu mereka dan meminta tolong untuk menjaga anak dan istrinya.
"Papa berangkat yah. Assalamualaikum."Â
Setelah mengatakan itu, Bara lekas menarik koper miliknya. Dia berjalan meninggalkan keluarganya dengan kepala menatap ke belakang.Â
Tangannya melambai dengan mata berkaca-kaca saat suara tangisan putrinya terdengar. Tangisan itu begitu menyayat hati. Namun, dia tak mungkin berbalik.
Bagaimanapun ini sudah tanggung jawabnya. Tak mau semakin melihat anaknya menangis. Bara segera menarik kopernya dengan cepat. Berjalan hingga tak terlihat lagi oleh keluarganya dan membuat Bia langsung memeluk kakeknya yang sedang menggendongnya.
Akhirnya air mata Almeera mengalir saat suaminya sudah tak terlihat. Dia tak bisa menahannya lagi. Berada jauh dari Bara adalah hal tersulit dalam hidupnya.
Apalagi masa kehamilannya kali ini. Ia selalu bersama Bara kemanapun pria itu berada. Tak pernah keduanya berjauhan selain jarak antar kantor dari rumah.
"Ayo kita pulang!"Â
Mama Tari segera menggandeng tangan putri dan cucu pertamanya. Dia bisa mengerti kesedihan Almeera dan Abra. Namun, mau bagaimana lagi. Semua ini juga menantunya lakukan demi masa depan keluarga kecilnya.
"Jangan dibikin beban, Nak. Ingat pesan suamimu! Kamu harus tetap bahagia meski Bara sedang bekerja," kata Mama Tari mengingatkan permintaan Bara.
Ya, pria itu memang meminta istrinya tak terbawa arus kesedihan. Almeera boleh menangis. Namun, cukup satu hari saja. Dia harus kembali bahagia demi anak yang ada dalam kandungannya.Â
"Almeera hanya belum terbiasa, Ma. Almeera benar-benar bergantung dengan Mas Bara."Â
Mama Tari tersenyum. Dia menganggukkan kepalanya paham akan apa yang dirasakan putrinya itu.
"Perlahan kamu bakal terbiasa, Sayang. Tetap jaga komunikasi saja, biar si kembar bisa tetap mendengar suara papanya walau hanya melalui ponsel."Â
"Iya, Ma."Â
Akhirnya mereka mulai keluar dari Bandara. Namun, Bia meminta mereka menunggu pesawat yang ditumpangi Papanya terbang.Â
Hingga hampir lima belas menit mereka menunggu. Akhirnya sebuah pesawat terlintas dengan lambang pesawat yang sama dinaiki oleh Bara mulai terlihat.Â
Hal itu membuat Bia melambaikan tangannya dengan berteriak. Dia benar-benar begitu berat atas keberangkatan papanya.
Sedangkan Almeera. Ibu hamil itu menatap pesawat itu dengan penuh kerinduan. Tangannya mengusap perutnya dengan air mata yang menetes.
"Selamat jalan, Mas. Aku dan anak-anak menunggumu disini."
~Bersambung
Part ini jadi bikin aku inget masa kecilku. Aku dulu juga gak bisa lepas sama namanya ayah. Ayah pergi aja, aku nemploknya banget. Bawaannya nangis ngetik bab ini.
Siap-siap hati buat pisah sama novel ini yah. Sinopsis Syakir dan Humai udah aku ajuin tadi sore di email noveltoon.
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat namatin.