Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Bang Jimm Menggalau



...Aku tak mengerti perasaan apa yang sedang hinggap di hatiku. Melihatmu terluka, hatiku terasa sakit. Aku merindukan senyuman tulusmu dan pancaran matamu yang gugup. ...


...~Jimmy Harrison...


...🌴🌴🌴...


Semua orang yang di sana tentu menegang kaku. Namun, penjelasan dokter tentu membuat Bara segera menandatangani surat persetujuan amputasi pada kaki Narumi.


Apapun hasilnya itulah jalan terbaik untuk wanita itu. Kesehatan yang diutamakan oleh sang Dokter. Mau tak mau, membuat mereka harus mengambil jalan ini. 


Kedua kaki itu sudah tak bisa diselamatkan. Remuk karena jepitan benda keras dan membuat tak bisa dikembalikan seperti semula.


"Terima kasih, Pak. Malam ini juga pasien akan kami operasi," kata Dokter setelah menjabat tangan Bara.


Pria itu hanya mengangguk lalu kembali duduk di antara Abraham dan Almeera. 


"Apa Papa kepikiran wanita itu?" celetuk Abraham yang membuat Almeera menatap wajah suaminya.


Dia juga penasaran dengan jawaban Bara. Suaminya itu lebih banyak diam setelah mendengar penjelasan dokter.


"Nggak." Bara menggeleng.


Dia menatap Almeera dan Abraham bergantian. Lalu meraih kedua tangan mereka untuk digenggam.


"Papa hanya berpikir, kenapa wanita itu tak mati saja? Dia bahkan sudah…"


"Mas," sela Almeera sebelum suaminya semakin banyak bicara. "Kita sebagai manusia, tak berhak menentukan kematian seseorang." 


"Tapi karena dia, aku menyakiti kalian," gumam Bara dengan menundukkan kepalanya. "Karena jebakannya aku menyia-nyiakan anak dan istriku." 


Bara benar-benar merasa sangat bersalah. Apalagi ditambah kejadian yang terjadi pada putrinya semakin membuatnya begitu terpukul.


"Papa," sela Abraham menggenggam tangan papanya. "Bagaimanapun Papa di masa lalu, bukankah Papa sudah mau berubah? Mengakui kesalahan dan belajar dari masa lalu itu berat, Pa. Tak semua orang bisa melakukannya." 


Apa yang dikatakan anak umur 14 tahun itu memang benar. Menyadari semua kesalahan yang dia lakukan, meminta maaf dan berusaha menjadi sosok yang lebih baik lagi, itu sangat langka untuk didapatkan. 


Hanya beberapa orang yang bisa melakukan itu. Hanya beberapa orang yang mampu menerima dan terbuka akan kesalahannya. Lalu berubah menjadi versi terbaik. 


Mata Bara berkaca-kaca. Apalagi melihat putranya yang mencoba menghibur dirinya semakin membuat Bara meraih Abraham ke dalam pelukan. 


"Terima kasih sudah menjadi sosok Abang yang baik saat Papa khilaf dan salah. Abang benar-benar menjaga Mama dan Adik dengan ikhlas."


"Jangan katakan itu, Pa. Ini adalah tanggung jawab Abang. Tanggung jawab Papa juga. Jadi, kita belajar melindungi mereka bersama-sama. Janji?" 


Abraham menatap papanya penuh harap. Dia masih menunggu Papanya menerima lilitan jari kelingking di jarinya. 


"Janji." 


...🌴🌴🌴...


Kehadiran Jimmy tentu membuat kekhawatiran semua keluarga perlahan tertepis walau sedikit. Mereka segera menunggu di depan ruang IGD agar Bia mendapatkan penanganan lanjutan.


Baik Almeera maupun Bara tak mampu menutupi raut wajah cemasnya. Keduanya sama-sama memanjatkan doa agar anak kedua mereka baik-baik saja. 


"Ya Allah, Nak. Lengan kamu!" pekik Mama Tari saat melihat lengan anaknya dibalut kain kasa. "Ini kenapa?" 


Mama Tari sudah meneteskan air mata. Beginilah resiko memiliki putra seorang agen. Bermain dengan pistol dan nyawanya tentu menjadi hal yang sudah biasa untuk mereka.


"Tadi Adnan mau menembak Bia, Ma. Tapi tenang saja, Jimmy berhasil melindunginya, " katanya menghapus air mata sang mama dengan sayang. 


"Jangan menangis," pinta Jimmy penuh harap.


"Mama hanya khawatir sama kamu, Jimmy. Kamu selalu terluka dengan pekerjaanmu ini," ucap Mama Tari menyampaikan keluhannya. 


"Mama percaya sama Jimmy. Jimmy bakalan jaga diri baik-baik," katanya dengan serius.


"Iya, Ma." 


Akhirnya percakapan itu terputus saat brankar yang membawa tubuh Bia mulai keluar. Bara yang sudah mengisi formulir untuk putrinya meminta ruangan tepat di samping ruangan Zelia. Semua itu tentu atas permintaan istri tercintanya. Almeera berpikir dia bisa menjaga keduanya sekaligus jika jarak kamarnya begitu dekat. 


Setelah semuanya beres. Almeera perlahan mendekati anaknya. Dia menggenggam tangan mungil yang terbebas dari infus lalu menciumnya dengan lembut.


"Jangan," lirih Bia dengan pelan.


"Pergi! Pergi...pergi!" serunya lagi yang membuat Almeera mendongakkan kepalanya. 


"Om jahat. Bia takut, Om! Lepasin!" serunya lagi semakin kencang.


Hal itu tentu membuat air mata Almeera menetes begitu deras. Dia lekas memeluk putrinya dengan perasaan hancur. 


"Ini Mama, Nak. Bia gak sendiri lagi. Bia sudah aman sama Mama," bisik Meera pelan di telinga anaknya.


"Mereka gak bakal berani mukul lagi. Udah ada Mama yang bakal jadi superheronya, Bia."


Perlahan mulut yang tadinya meracau pun berhenti. Bia tak lagi menangis sesenggukan. Dia merasa nyaman dengan pelukan sang mama hingga membuat Almeera merasa semakin tak karuan.


Dia mencium dahi putrinya. Mengelus bekas luka di sudut bibirnya dengan air mata yang menetes.


"Ini pasti sakit, 'kan, Sayang?" gumam Meera pelan dengan mengelusnya secara perlahan. 


Terlalu fokus pada Bia. Almeera tak menyadari jika sejak tadi ada Bara yang terus menatapnya dalam diam. Pria itu bahkan meneteskan air mata saat melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana putrinya tidur dengan tidak tenang. 


Maafkan Papa, Bi. Papa banyak salah sama kamu, gumamnya dengan menunduk.


"Papa kenapa diam?" tanya Abraham yang membuat Almeera spontan mendongak. 


Begitupun dengan Bara. Pria itu berjingkat kaget dengan kehadiran putra pertamanya.


"Papa?" 


"Papa baik-baik saja," sela Bara sebelum Abraham bertanya makin lanjut. 


Pria itu segera berjalan menuju sang istri. Dia berusaha memberikan senyuman menenangkan agar Almeera tak semakin sedih.


"Sayang, istirahatlah. Biarkan aku yang menjaga Bia malam ini," kata Bara pelan mengelus pipi istrinya.


"Tapi Bia, Mas…" kata Almeera seakan enggan jauh dari anak keduanya. 


"Mas yang akan menemani Bia. Kamu sama Abraham mending tidur di sofa. Besok anak kita sekolah," peringat Bara mengingatkan istrinya itu. 


Akhirnya Almeera menurut. Dia membawa putranya menuju sofa dan keduanya segera berbaring. Tubuhnya yang lelah tentu membuat Almeera dan Abraham tak butuh waktu lama untuk terlelap.


...🌴🌴🌴...


Sedangkan ditempat lain. Lebih tepatnya di ruangan Zelia berada. Perempuan itu sudah melewati masa kritis. Dia juga sudah diletakkan di ruang rawat dan menunggu Zelia sadar. 


Terlihat seorang pria baru saja masuk ke ruangan itu. Dia menatap Zelia dengan pandangan sendu dan penuh penyesalan. Panggilan dari markas, membuatnya melupakan keberadaan dua wanita yang membuat hatinya begitu resah. 


"Maafkan aku, Ze. Kamu harus melawan mereka seorang diri tanpa aku," gumam Jimmy pelan dan menatap sahabat adiknya. 


Zelia tetap terlelap. Dia seakan enggan membuka matanya lagi. Jimmy benar-benar merasa terhipnotis akan kecantikan wanita itu. Dengan tidur saja, parasnya semakin terlihat begitu luar biasa dan membuat jantungnya berdegup kencang. 


"Entah apa arti perasaan yang saat ini aku rasakan untukmu. Tapi yang pasti, mulai sekarang aku tak mau kehilanganmu."


~Bersambung


Gombal gombal, Bang. Gombal woyy lah. Iri nih!


Jangan lupa klik like, komen dan vote. Jujur 3 bab selama 3 hari kalian luar biasa loh.