
...Memaafkan memang mudah tapi melupakannya adalah hal terberat. Namun, aku berusaha memberikan waktu untuk membuktikan apakah dia memenuhi janjinya atau tidak. ...
...~Almeera Azzelia Shanum...
...🌴🌴🌴...
Waktu semakin berputar. Langit berganti gelap yang menandakan waktu sudah menunjukkan malam hari. Di sebuah apartemen, terlihat seorang wanita tengah menikmati tubuh sang kekasih entah keberapa kalinya. Keduanya benar-benar menghabiskan waktu itu hanya dengan gairah terlarang.
Baik Narumi dan Adnan, mereka mencoba melupakan segalanya. Rasa rindu yang menerkam membuat keduanya tak ingin berjauhan sedikitpun. Hingga saat satu erangan lolos di bibir Narumi menandakan permainan keduanya berakhir.
"Apakah kamu sudah menghubungi Bara?" tanya Adnan dengan tangan menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya.
"Sudah tapi dia tak mengangkatnya," kata Narumi dengan suara kesalnya. "Sepertinya wanita cengeng itu, sedang meraih simpati Bara agar tak meninggalkan dirinya."
Adnan hanya diam. Dia menenggelamkan wajahnya di leher sang kekasih dan memberikan kecupan ringan disana.
"Apa kamu cemburu?"
"Cemburu?" ulang Narumi sambil terkekeh. "Aku akan cemburu jika Bara memberikan uang banyak pada Almeera."
Adnan tak menanggapi apapun. Dia hanya memberikan respon dengan mencengkram salah satu bukit milik Narumi dan memijatnya.
"Adnan!" bisik Narumi ketika dirinya kembali terpancing.
"Tubuh ini hanya milikku seorang," bisik Adnan dengan tangan yang terus bekerja aktif.
"Ten-tu, Sa-yang. Se-mua ini milik-mu," kata Narumi terbata saat tangan Adnan semakin gencar.
"Segera selesaikan rencanamu dan kita segera pergi dari sini," ucap Adnan dengan suara beratnya.
"Sebelum itu, kamu harus membantuku!" kata Narumi yang membuat kening Adnan berkerut. "Kita harus bekerja sama untuk menjauhkan Bara dan Almeera agar semakin jauh."
"Kenapa?"
"Karena mereka akan menjadi kuat jika keduanya bersatu. Kita tak akan bisa meracuni otak Bara jika anak dan istrinya ada di sekelilingnya. Mengerti?"
"Tentu."
"Bagus. Terima kasih, Sayang. Kamu memang segalanya," kata Narumi sambil mencium bibir kekasihnya itu.
Keduanya saling bersilat lidah sampai Adnan yang hendak memasuki Narumi kembali diurungkan oleh wanita itu.
"Apa lagi?" kata Adnan dengan kesal.
"Aku lapar," cicit Narumi dengan mengelus perutnya.
"Baiklah. Kita akan ke restoran favoritmu tapi sebelum itu, berikan aku servisan yang terbaik."
...🌴🌴🌴...
"Ayo buka mulutmu, Sayang. Kamu harus makan," bujuk Almeera kesekian kalinya.
"Buburnya gak enak, Mama. Pahit," kata Bia sambil menjulurkan lidahnya.
Almeera tak bisa memaksa kehendaknya lagi. Putrinya benar-benar tak mau memakan makanan rumah sakit dan dirinya tak bisa membiarkan hal itu terjadi. Bia harus makan dan apapun itu yang terpenting masuk ke dalam tubuhnya.
"Bia mau makan apa?" kata Almeera dengan pasrah.
"Bia pengen nasi goreng seafood, Ma," katanya dengan pancaran mata penuh harap.
Bara yang sejak tadi melihat interaksi keduanya akhirnya mulai mengeluarkan suara.
"Biar Papa yang belikan, yah?" kata Bara sambil beranjak berdiri.
Spontan Bia menarik lengan Bara dan kepalanya menggeleng.
"Papa jangan kemana-mana. Bia takut Papa pergi bersama wanita itu," cicit Bia dengan mata berkaca-kaca.
Ya saat ini di ruangan itu hanya ada Almeera, Bara, Abraham dan Bia. Semua keluarga memilih pulang dan memberikan waktu untuk Bara bersama keluarga yang selama ini dia telantarkan.
"Tapi bagaimana…."
"Biar aku yang membelinya, Mas," lirih Meera dengan suara pelan saat memanggil suaminya dengan panggilan lama.
"Tapi ini sudah malam."
"Tunggu Mama, Okey?"
"Okey, Mama. Terima kasih. I love you," ucap Bia dengan wajah begitu bahagia.
"I love you too, My Little Princess."
Setelah berpamitan akhirnya anak dan ibu itu berjalan bersama meninggalkan ruangan Bia. Keduanya bergandengan tangan dengan Abraham yang meraih tangan mamanya terlebih dahulu.
Perlakuan yang dilakukan oleh anak SMP itu. Tentu membuat bibir Almeera tersenyum. Putranya ini benar-benar sangat menjaga dirinya. Bahkan tanpa sepengetahuan Almeera, Abraham bisa menyimpan segala sakitnya demi melihat mamanya bahagia.
"Kita pakai mobil siapa, Ma?" tanya Abraham saat keduanya sudah sampai di parkiran.
"Pakai mobilnya Om Nathan," sahut Almeera lalu berjalan ke sebuah kendaraan berwarna merah.
"Loh terus mobil Mama kemana?"
"Dibawa Om Nathan anter Kakek sama Nenek."
"Oh." Abraham hanya mengangguk.
Lalu anak itu mulai masuk ke dalam dan duduk di kursi penumpang. Dirinya hanya bisa melihat Mamanya yang berkendara. Umurnya yang masih dibawah 17 tahun, membuat Almeera dan Bara tidak mengizinkan putranya membawa mobil sendiri. Sekalipun anak itu sudah mengerti dan pandai membawanya.
Suasana di dalam mobil terdengar nyaman diiringi musik yang menyala. Alunan yang merdu membuat otot-otot dan pikiran di dalam otaknya sedikit lebih tenang. Beberapa hari melewati hari yang berat tentu membuat keduanya merasa senang dengan keadaan sekarang.
"Ma," panggil Abraham yang membuat Almeera menoleh sekilas.
"Ya, Sayang."
"Bagaimana Papa?" tanya Abraham dengan kepala menunduk.
Jujur remaja itu takut jika pertanyaan yang dia lontarkan akan menyakiti hati mamanya. Namun, tak lama dia merasakan elusan di kepala dan membuatnya mendongak.
Lampu lalu lintas yang berubah merah. Tentu membuat Almeera bisa leluasa berbicara dengan putranya.
"Maksudnya?"
"Apa tanggapan Mama dengan perkataan Papa yang ingin menceraikan wanita pelakor itu?" tanya Abraham begitu detail.
Almeera menghela nafas berat. Dia berpaling dan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
"Mama senang jika Papamu benar-benar menceraikan wanita itu. Tapi Mama belum yakin jika wanita itu mau melepaskan Papa kalian," kata Almeera dengan pikiran menerawang.
"Jika Papa berhasil cerai dengan wanita itu. Apa Mama mau menerima Papa kembali?"
Almeera menoleh. Dia tentu tahu maksut putranya itu. Almeera yakin jika Abraham takut keinginan yang dilontarkan oleh Bia akan menyakiti hatinya.
"Bukankah memaafkan itu sebuah keharusan? Tuhan saja mau memaafkan, kenapa Mama yang hanya manusia tidak bisa?" kata Almeera dengan tersenyum. "Mungkin yang sulit buat Mama adalah, melupakan semua kejadian yang terjadi dan memberi Papa kepercayaan lagi."
"Jangan dipaksa, Ma. Biarkan Papa berusaha dan berjuang untuk Mama."
Akhirnya pembicaraan keduanya berhenti ketika lampu lalu lintas kembali menyala. Almeera lekas mengendarai kendaraannya menuju restoran yang dituju. Setelah hampir dua puluh menit di perjalanan, Almeera mulai membelokkan setirnya di kiri.
Dia mulai menurunkan laju mobilnya ketika mulai memasuki halaman parkir resto. Dengan lihai, dia memarkirkan kendaraannya tepat di samping sebuah mobil yang sama-sama baru sampai.
"Abra ikut masuk?" tanya Almeera sambil merapikan tas miliknya.
"Tentu. Abra takut Mama diculik om-om ganteng."
Almeera hanya terkekeh. Dia menggelengkan kepalanya tak percaya dengan perkataan putranya. Hingga saat keduanya sudah melepaskan seat belt dari tubuh mereka dan hendak keluar. Suara perempuan yang sangat tidak asing membuat pergerakan Almeera berhenti.
Dia lekas memutar kepalanya untuk memastikan bahwa dugaannya salah. Namun, sepertinya takdir baik ada di depan mata. Disana, di depan mobil mereka, terlihat seorang wanita dan pria berjalan bergandengan tangan begitu mesra seperti pasangan kekasih.
Bahkan kedua mata Abraham dan Almeera sampai terbelalak saat melihat pasangan itu saling berciuman di depan umum. Almeera benar-benar begitu terkejut. Perempuan itu seakan kehabisan udara dan membuatnya sesak nafas.
"Mama bukankah wanita itu…" jeda Abraham yang sama-sama tak percaya.
"Ya. Dia istri muda Papamu."
~Bersambung
Dududu takdir baik banget, 'kan? Kira-kira Almeera ngelakuin apa yah?
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Terima kasih atas dukungan kalian semua.