Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Diikat dan Diancam!



...Seorang ayah akan mengeluarkan taringnya jika anak-anaknya disakiti oleh orang lain....


...~Gibran Bara Alkahfi...


...🌴🌴🌴...


"Kemana Bia, Dek?" tanya Jimmy yang baru saja keluar dari dalam rumah. 


Almeera yang sedang mencuci tangannya lekas mengangkat wajahnya. 


"Dia ada di taman bersama Zelia," ujar Almeera dengan jujur. "Ada apa, Kak? Kenapa wajah Kakak begitu khawatir?"


Almeera lekas mendekati kakaknya. Dia memegang lengan Jimmy ketika pria itu hanya diam.


"Kakak jujur! Ada apa!" 


"Bia dalam bahaya, Ra. Aku akan mengecek mereka!" seru Jimmy dengan berlalu.


"Meera ikut!"


Wanita itu lekas berlari menyusul kakaknya. Jantung Jimmy terus berdetak kencang. Ketakutannya semakin besar tatkala melihat banyak orang di taman perumahan itu.


Matanya mengedar. Rasa penyesalan mendera hatinya. Dia merasa lalai dan lupa dengan Bia karena mendapatkan panggilan dari markas. Panggilan itu membutuhkan waktu lama dan membuatnya tak memperhatikan laptop yang menyala di atas ranjangnya.


"Ada apa ini?" tanya Jimmy pada seseorang disana. 


"Ada penculikan, Mas. Disana juga ada wanita yang tergelatak di jalan dengan luka tusukan."  


Jantung Jimmy serasa berhenti berdetak. Dua mata itu saling tatapan. Air mata Almeera mulai merebak. Dia menggelengkan kepalanya dengan berlari ke arah gerombolan orang-orang itu.


"Aku mohon jangan sesuai dengan tebakanku," gumam Almeera dengan air mata terus berjatuhan.


"Permisi! Permisi," ucap Almeera mencoba menerobos.


Dia tak peduli apapun. Saat ini Almeera hanya ingin memastikan siapa perempuan itu. Hingga saat dirinya berhasil menerobos. Mata Almeera terbelalak.


Dia spontan menjatuhkan tubuhnya dan menarik kepala sahabatnya yang sudah memejamkan mata.


"Zelia!" teriak Almeera ketakutan. "Bangun, Ze! Bangun!" 


Tubuh Jimmy spontan mematung. Pria itu merasa semakin bersalah. Dirinya seperti pria tak berguna saat ini. Disana, wanita yang mengacaukan pikirannya tergeletak lemah dengan darah yang sudah mengalir deras.


"Kakak telepon ambulance!" teriak Almeera menyadarkan Jimmy.


"Kami sudah menghubungi ambulance, Mbak!" kata seorang ibu-ibu yang sejak tadi berada di dekat Zelia. 


"Kumohon bertahanlah, Ze!" 


Tiba-tiba Almeera mengingat sesuatu. Dia menatap sekeliling. 


Putrinya, anak perempuannya. Kemana Bia?


"Kemana Bia? Ibu melihat anak kecil yang bersama temanku ini?" 


"Maksud Mbak, anak yang dibawa penculik itu?" 


"Apa!" Almeera merasa dunianya berhenti.


Dia merasa kepalanya pusing. Namun, Jimmy lekas menahan tubuh adiknya saat tubuh Almeera hendak oleng. 


"Gak mungkin...gak mungkin. Biaku," ujarnya dengan suara lemah. 


"Kuat, Ra! Kakak janji akan menemukan, Bia!" ucap Jimmy dengan memeluk tubuh adiknya erat.


"Ingat! Kamu harus kuat. Ada Zelia yang membutuhkanmu!" 


Almeera berusaha menarik nafasnya begitu dalam. Dia berusaha kuat dan menatap wajah sahabatnya yang mulai pucat pasi. Hatinya memang khawatir. Pikirannya harus terpecah antara anak dan sahabatnya. Dia benar-benar takut. 


"Tolong cari Bia, Kak. Kumohon!" pinta Almeera penuh harap.


"Ya aku akan mencarinya." 


Bersamaan dengan itu. Suara ambulance mulai terdengar. Mereka segera memasukkan Zelia ke dalam diikuti Almeera.


"Kakak akan menyusulmu dengan membawa mobil. Oke!" 


Almeera hanya mengangguk. Dia percaya bahwa kakaknya akan menemukan putrinya itu. Sebelum pintu ambulance tertutup. Jimmy bertanya rumah sakit mana.


"Oke. Makasih ya, Mas," ucap Jimmy pada petugas ambulance.


Baru saja mobil itu melaju. Jimmy lekas meraih teleponnya. Dia menunggu deringan itu dengan berlari ke rumahnya. 


"Halo?" sahut suara pria dari seberang telepon.


"Aku, Agen J. Tolong lacak seseorang. Aku akan memberikan kodenya."


Panggilan itu terputus. Jimmy segera mengirim kode pelacak yang sudah dia letakkan dalam pakaian Bia. Setelah itu pria itu segera berlari ke rumahnya.


Tak mengindahkan teriakan semua orang. Dia segera membuka sebuah pintu kamar yang di dalamnya terdapat seseorang yang akan menjadi kunci jawaban dari semua ini. 


Brakk!


"Apa yang kau lakukan?" seru Narumi tak habis pikir.


"Kemana pacarmu membawa keponakanku, hah?" teriak Jimmy dengan nafas memburu.


"Apa maksudmu?" tanya Narumi pura-pura tak mengerti. 


"Jangan memberikan tampang palsumu itu padaku, ******! Aku tak pernah tertipu olehmu!" serunya membuat tubuh Narumi mulai gemeteran.


"Katakan! Dimana Bia?" seru Jimmy dengan tangan terkepal.


Teriakan itu tentu membuat Darren, Mama Tari, Bara, Jonathan dan Kayla spontan memasuki kamar Narumi. 


"Ada apa ini, Jim?" tanya Papa Darren dengan serius.


"Jimmy!" 


"Bia diculik!" ujar Jimmy jujur.


"Apa!" Mama Tari terbelalak. Dia merasa tubuhnya oleng.


Namun, dengan sigap Papa Darren menahannya sebelum tubuh itu terjatuh ke lantai. 


"Mama!" seru Kayla terkejut.


"Kak Jim!" 


"Dia pelakunya, Bar. Dia dengan Adnan!" 


Wajah Bara lekas menoleh. Dia menatap tajam mantan istrinya itu. Perlahan Bara mendekat. Dia menaiki ranjang dan menarik rambut Narumi hingga wanita itu mengaduh kesakitan.


"Dimana anakku?" seru Bara dengan marah. 


"Aku tak tau, Mas. Dia memfitnahku!" 


"Jangan membual, Narumi!" cepat katakan dimana anakku?" seru Bar hilang kendali.


Pria itu sudah gelap mata. Kedua anaknya adalah jantung Bara yang tak bisa digantikan oleh siapapun. Pria itu tulus menyayangi Bia dan Abraham. Hingga jika sesuatu terjadi pada mereka, maka Bara yang paling tersiksa.


"Katakan!" teriak Bara menjambaknya semakin kuat.


Narumi mulai ketakutan. Baru kali ini dia melihat kemarahan Bara yang begitu menggebu. 


"Katakan!" 


"Aku tak tau, Mas. Adnan tak mengatakan apapun padaku!" 


Bara menggeram. Dia menarik rambut Narumi tanpa ampun.


"Aku tak akan membebaskanmu sampai anakku ditemukan," seru Bara tanpa ampun. "Kemari kau!" 


"Kakiku…" 


"Jangan menipuku lagi, Rumi! Aku tau kakimu tak lumpuh." 


Jantung Narumi mencelos. Mata wanita itu menatap wajah Bara yang menatapnya dengan tajam. 


"Kau tak bisa menipuku lagi. Kakimu itu sehat. Hanya patah dan tak lumpuh!" 


"Jadi…" 


"Ya. Kami hanya mengikuti permainanmu," sahut Jimmy dengan tersenyum miring. "Kau sendiri yang membawa dirimu kemari, tikus kecil!" 


Tubuh Narumi semakin gemetaran. Apalagi saat Bara terus menarik tubuhnya sampai ke ruang tamu. Kakinya yang kram membuatnya berjalan dengan tertatih.


"Pelan-pelan, Mas. Kakiku sakit!" keluh Narumi dengan jujur.


"Jangan banyak alasan, Rumi! Lebih baik hubungi kekasihmu dan bawa Bia kembali!"


Bara menghempaskan tubuh Narumi di sofa ruang tamu. Lalu dengan segera Jimmy yang membawa tali mengikat kedua tangan mantan istri Bara hingga membuatnya menjerit.


"Lepaskan aku! Aku akan mengatakan dimana Bia berada," teriak Narumi berusaha agar tangannya tak diikat.


"Lama!" dengus Jimmy kesal.


Dia harus cepat. Setelah kaki, tangan dan mulut Narumi terikat, Jimmy lekas menghubungi seseorang.


"Jack. Bawa anak-anak kemari. Aku membutuhkan kalian!" serunya setelah panggilan itu tersambung. 


"Oke," sahut suara dari seberang.


Setelah panggilan itu terputus. Jimmy menatap Narumi yang tak bisa melawan lagi. Wanita itu terikat di sofa dengan mulut dibungkam.


"Kau membawa dirimu ke kandang harimau. Nikmati saja deritamu sekarang! Jika terjadi sesuatu pada Bia dan Zelia. Maka aku pastikan kakimu tak akan bisa berjalan lagi." 


~Bersambung


Ada yang baca sambil ikut ngos-ngosan gak? nyesek gedeg juga. huhu maapkan aku yak.


Kurang satu bab lagi. Jam 7 malam bab ketiga di update yah. Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat ngetiknya