
...Aku bahkan rela bertaruh nyawa, demi mencapai apa yang aku inginkan....
...~Narumi Alkhansa...
...🌴🌴🌴...
Suara teriakan seorang perempuan terdengar santer di sebuah ruang kamar. Wanita itu seakan sedang melampiaskan kemarahannya. Wajahnya merah padam dengan dada bergemuruh.Â
Wanita itu yang tak lain adalah Narumi benar-benar dalam emosi yang begitu kuat. Dia tak bisa tinggal diam. Bahkan wanita itu tak mau kehilangan semuanya.Â
"Aghhh!" Narumi melempar semua alat make upnya ke lantai.Â
Dia benar-benar lepas kendali. Wanita itu hanya ingin melampiaskan segala kegelisahan di hati dengan cara seperti ini. Perkataan dan ancaman Jimmy terus terngiang-ngiang di otaknya.Â
"Aku tak takut. Aku tak akan pernah melepaskan Bara sedikitpun!" teriaknya dengan menunjuk dirinya sendiri di depan cermin. "Dia milikku. Hanya milik Narumi!"Â
Wanita itu benar-benar berdiri tegak dan menatap pantulannya sendiri, seakan dia adalah musuh. Pikiran Narumi mulai berputar saat dimana kejadian yang membuat dirinya bisa menjadi Nyonya Gibran Bara Alkahfi.Â
*Saat itu Narumi yang sudah merencanakan sesuatu, segera menelepon Bara. Dia menunggu panggilannya tersambung hingga deringan ketig*a panggilan itu diangkat.
"Halo, ada apa, Rumi?" tanya suara pria di seberang telepon. "Apa kamu sudah sembuh?"Â
Ya, hari itu, Narumi memang izin tidak bekerja. Dia mengatakan sedang sakit dan membuatnya berada di apartemen seharian.Â
"Aku boleh minta tolong, Mas?"Â
"Minta tolong apa?" tanya Bara dengan nada suara terdengar ragu.
"Tolong belikan paracetamol di apotik dan antarkan ke apartemen. Stok obatku kehabisan, Mas. Aku mau keluar sendiri, kepalaku masih sakit."Â
Tak ada jawaban. Seakan pria di seberang sana sedang menimbang sesuatu.Â
"Mas. Gak mau yah?" tanya Narumi pura-pura kecewa.
"Baiklah. Aku akan beli obatnya dan aku akan kesana setelah pulang kerja."
Wajah Narumi berbinar cerah. Wanita itu segera mematikan ponselnya dan mencium pria yang berdiri di dekatnya saat ini.
"Bagaimana, Sayang?"Â
"Aman. Bara akan kesini nanti," sahut Narumi dengan senyuman puas.
"Bagus. Lakukan semuanya seperti rencana kita."Â
Tanpa sadar jarum jam terus berputar. Suara bel pintu mulai terdengar dan membuat Narumi segera meraih selimut dan membalut tubuhnya. Dirinya benar-benar sudah menyiapkan semuanya dengan baik.Â
Wajahnya dia poles dengan make up hingga terlihat begitu pucat. Lalu dia segera membuka pintu apartemen hingga muncullah sosok Bara disana.
"Bagaimana keadaanmu, Rum?" tanya Bara dengan membawa kantung kresek di tangannya.Â
"Demamku mulai turun karena aku mengompresnya sejak tadi," kata Rumi dengan suara dibuat selemah mungkin. "Obatnya ada?"Â
"Ini." Bara menyodorkan kantung itu dan langsung dibawa oleh Rumi ke dapur.
Suami dari Almeera itu memilih duduk di sofa apartemen dan melihat Narumi yang sedang menelan obat yang ia belikan.Â
"Kamu mau minum apa, Mas?"Â
"Gak perlu, Rum. Aku juga hanya sebentar disini," tolak Bara dengan gelengan kepala.
"Jangan gitu dong, Mas."
"Yaudah. Air putih aja," kata Bara yang langsung mendapatkan anggukan kepala olehnya.Â
Sambil menunggu Narumi, Bara meraih ponselnya saat merasakan getaran di sakunya. Hingga hal itulah yang membuat wanita yang sedang pura-pura sakit itu mulai melancarkan rencananya.Â
Perempuan itu mencampur air putih dengan sebuah serbuk yang dia beli dan mengaduknya. Bibirnya menyunggingkan senyuman puas saat air itu tercampur dengan sempurna. Dia segera membawa gelas itu dan meletakkannya di hadapan Bara.
"Diminum, Mas." Bara yang ternyata sejak tadi sibuk dengan ponselnya hanya bisa mengangguk.Â
Dia meletakkan benda pipih itu di atas meja dan meraih segelas air putih karena merasa haus. Dua kali tegukan, air itu akhirnya masuk ke dalam tenggorokannya.
"Lebih baik kamu istirahat, Rumi. Aku akan pulang. Pasti istri dan anak-anakku sedang menunggu," ucap Bara dengan memasukkan ponselnya ke dalam saku.
"Iya, Mas. Hati-hati yah," kata Narumi dengan tenang.
Namun, baru saja Bara hendak beranjak berdiri. Kepalanya terasa berdenyut sakit. Hingga mau tak mau dia kembali mendudukkan tubuhnya di sofa apartemen.
"Kenapa, Mas?"Â
"Kepalaku sakit, Rumi," keluh Bara sambil memijat dahinya.
"Hahaha kena kamu, Mas," kata Narumi dengan bahagia.Â
"Bagaimana?" kata Adnan yang baru saja keluar dari tempat persembunyiannya.Â
"Beres, Sayang."
"Bagus. Ayo kita bawa ke kamar," ajak Adnan dengan cepat.
Dua orang itu akhirnya mulai menopang tubuh Bara di kanan kirinya. Lalu mulai membawanya ke sebuah ruangan yang ternyata kamar milik Narumi. Dengan pelan, mereka merebahkan tubuh Bara, lalu dengan tangan lihainya, Narumi membuka seluruh pakaian Bara tanpa sisa.Â
"Tubuhnya tetap indah, Sayang. Bolehkah aku mencicipinya?" kata Narumi sambil mengelus dada bidang milik Bara.Â
Adnan mendengus. Dia segera menarik Narumi dan merobek pakaian yang wanita itu gunakan.Â
"Lebih baik kamu main sama aku daripada dengan mantanmu itu," seru Adnan dengan posesif.Â
Akhirnya dua orang itu mulai bergelut di dalam kamar tanpa memperdulikan sosok Bara yang tak sadarkan diri. Hingga dua ronde permainan, akhirnya mereka segera menyelesaikannya.Â
"Setelah ini apa yang harus aku lakukan?" kata Narumi saat nafasnya masih naik naik turun.
"Buat bercak darah seperti bekas perawan di spreimu," sahut Adnan dengan lelah.
"Tapi darahnya?"Â
Adnan tak menjawab. Dia segera berjalan ke arah meja rias kekasihnya dan mengambil jarum pentul yang ada disana. Setelah itu, dua tusukan dia masukkan di ibu jarinya lalu keluarlah cairan merah segar miliknya.Â
"Astaga. Kamu gila, yah!" seru Narumi tak percaya.
"Ini untuk kebahagiaanmu. Maka semua harus dimaksimalkan."Â
Akhirnya Adnan mengusapkan darah itu di sprei tempat Narumi dan Bara akan berbaring. Setelah semuanya selesai, pria itu mulai pamit pulang dan meninggalkan Narumi yang berbaring di samping mantan kekasihnya.Â
Dia mengelus dada bidang Bara lalu membuat kissmark di sana untuk memberikan huru hara di rumah tangga pria itu.
"Ternyata kamu masih Bara yang dulu. Terlalu baik pada orang sampai mudah dimanfaatkan," bisik Narumi dengan senyuman menahan luka.Â
Akhirnya sampai waktu yang sudah diperkirakan oleh Narumi. Wanita itu mulai memiringkan tubuhnya membelakangi Bara. Dia harus berakting dengan baik agar pria itu percaya dengan kejadian yang terjadi.Â
Suara tangisan seorang perempuan tentu membuat Bara yang mulai sadar terusik. Pria itu mulai membuka matanya sampai dirinya merasa aneh dengan ruangan ini.
Jantungnya berdegup kencang saat dia menoleh ke samping. Apalagi melihat keadaannya membuat Bara lekas duduk dan menatap Narumi yang membelakanginya.Â
"Apa ini, Rumi? Apa yang terjadi?" kata Bara dengan suara gemetaran.Â
"Kamu sudah memperkosaku, Mas!" teriak Narumi sambil duduk di samping Bara.Â
"Kamu merenggut kesucianku!"Â
Jantung Bara mencelos. Pria itu menyibak sedikit selimut dan benar saja. Dirinya seakan sesak nafas saat melihat bercak darah disana.Â
"Ini bohong, 'kan, Rumi? Ini prank, 'kan?" seru Bara dengan menurunkan kakinya dan mulai memakai pakaiannya lagi.Â
"Bohong katamu, Mas!" seru Narumi dengan ikut beranjak berdiri.
Dia menahan perih saat mata Bara menatapnya dengan lekat. "Kamu sudah ambil keperawananku dan kamu bilang prank? Gila kamu!"Â
"Tapi aku tak mengingat apapun!" seru Bara membela diri.Â
"Aku tak peduli. Kamu harus bertanggung jawab," seru Narumi berteriak.
Bara menggelengkan kepalanya. "Aku sudah memiliki istri. Jangan gila!"Â
"Kalau kamu tak mau tanggung jawab. Aku akan bunuh diri!" seru Narumi sambil mengambil pisau buah yang ada di nakas samping ranjang dan menempelkannya di denyut nadi tangannya.
"Jangan main-main, Rumi!"Â
"Aku gak main-main. Kamu sudah mengambil keperawananku dan kamu tak mau bertanggung jawab. Lebih baik aku mati."Â
Saat Narumi hendak mengiris denyut nadinya. Sebuah tangan kekar menarik pisau itu dan menjauhkan dari tubuh Narumi. Wanita itu tentu meronta marah, dia meminta lepaskan dan menjerit. Bara yang diliputi rasa bersalah akhirnya mengatakan sebuah kalimat yang tentu menjadi bumerang untuk pernikahannya sendiri.Â
"Oke. Aku akan menikahimu."Â
~Bersambung
Buset dah nulis part ini udah lebih banyak dari jumlah kata bab lainnya. Keasyikan nulis alhasil jumlah katanya membludak hehe.
Buat para pembaca yang membagikan kisah kalian di kolom komentar. Kisah hidupnya hampir sama dengan Mbak Meera dan masih bertahan. Kalian adalah wanita hebat. Untuk wanita yang mungkin memilih bercerai, aku yakin batas sabar kalian pasti sudah kelewat batas. Yang pasti! wanita nangis itu bukan wanita lemah! tapi ada masa dimana wanita capek dan dia butuh istirahat.
Semangat untuk ibu luar biasa di luar sana. Wanita kuat itu banyak versinya. Yang pasti kita harus kuat sesuai kemampuan kita. Peluk jauh dari aku.
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat updatenya.