Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Jangan Rindu!



...Trauma itu begitu menakutkan. Bahkan aku masih terbayang bagaimana dulu tangan itu memukul mamaku sampai dia menjerit kesakitan....


...~Adeeva Khumaira ...


...🌴🌴🌴...


Adeeva terus menatap pada dua orang manusia berbeda usia yang tengah berbincang hangat dengan asyiknya. Bahkan keduanya sedang membicarakan sesuatu yang tak ada habisnya hingga membuat perempuan itu geleng-geleng kepala.


Keduanya baru saja kenal tapi sikap mamanya yang gampang akrab, membuatnya dengan mudah bisa berteman dengan siapa saja. Apalagi Reno yang sikapnya hampir mirip dengan mamanya, membuat keduanya jika disatukan sangat cocok sekali.


Cocok disini dalam rangka teman ngobrol. Baik mamanya maupun Reno, seperti tak kehabisan topik untuk saling bercengkrama.


"Kenapa gak dimakan nasinya, Sayang?" tanya Mama Adeeva saat melihat anaknya hanya mengaduk-ngaduk makanan miliknya. 


"Gapapa, Ma. Males makan aja," sahutnya lalu meletakkan sendok miliknya.


"Apa perlu disuapi?" 


Mata Adeeva membulat penuh. Dia spontan mendongakkan kepalanya dan menatap nyalang ke arah pria yang dengan seenak jidat mengatakan hal-hal tak berguna di hadapannya. 


Bagaimana jika mamanya menafsirkan perkataan pria itu dengan serius. Bisa-bisa akan terjadi kesalahpahaman. Ya karena memang dari dulu, dirinya yang tak pernah dekat dengan siapapun hingga membuat Adeeva takut jika mamanya berpikir bahwa ia memiliki hubungan dengan pria di depannya ini.


"Nggak perlu! Aku bisa makan sendiri," sahut Adeeva dengan cepat.


Akhirnya perempuan itu lekas memakan nasi gorengnya. Mengabaikan sepasang mata yang terus menatapnya dengan intens. Perempuan itu benar-benar lebih fokus dengan makanannya daripada harus merasakan jantungnya terus berdegup kencang jika memikirkan Reno yang terus mengawasinya.


Akhirnya setelah acara makan selesai. Reno segera berpamitan pada Mama Adeeva untuk pulang. Pria itu bahkan terlihat sangat hormat sekali ketika berbicara dengan mamanya.


"Sekali lagi, Reno ucapin terima kasih ya, Tante. Perut Reno jadi kenyang," ujar pria itu dengan mengelus perutnya.


"Iya. Tante juga mau berterima kasih karena udah mau anterin Adeeva dengan selamat." 


"Sama-sama, Tante." 


"Antar Nak Reno ke depan, Sayang. Mama mau beresin piring!" 


Akhirnya Adeeva tak bisa menolak lagi. Dengan malas dia berjalan lebih dulu keluar dari rumah dengan diikuti Reno dari belakangnya. 


Entah kenapa jika sudah berdua seperti ini, Adeeva selalu mengingat bagaimana dulu pria itu menciumnya.


Kecupan ringan yang mampu menjungkir balikkan keadaan. Merubah otak bersihnya menjadi mesum dan selalu berharap pria itu menciumnya lagi.


Benar-benar gila, 'bukan! Bukan kekasih tapi otaknya terdoktrin dan terus terngiang dengan bibir kenyal yang mencuri kecupan di wajahnya untuk pertama kali. 


"Udah sana pulang!" usir Adeeva dengan raut wajah sebal.


"Yakin mengusir nih?" tanya Reno mengangkat salah satu alisnya. "Nanti kalau rindu bagaimana?" 


"Jangan berkhayal. Aku tak akan merindukanmu!" ujar Adeeva lalu mendorong tubuh pria itu agar mendekati mobilnya. 


"Sana balik!" seru Adeeva membuka pintu mobil Reno yang sudah tak dikunci.


"Bolehkan aku mendapat sebuah kecupan?" 


"Apa!" 


Mata Adeeva terbelalak. Dia mendelik tak suka pada wajah jahil Reno saat ini. Pria itu benar-benar sudah berubah sekali. 


Entah jika di perusahaan maupun di rumah seakan jin yang menempel pada tubuhnya selalu berubah-ubah. Kadang hangat, kadang menyebalkan. Kadang tukang paksa uh sangat amat lengkap sekali.


"Ya, 'kan? Aku belum balik aja udah ngelamun. Ngelamunin aku, 'kan?" 


"Jangan pede!" seru Adeeva menepuk pundak Reno.


Sahabat Almeera itu tak menyerah. Dia segera mendorong Reno masuk ke mobilnya lalu menutup pintu itu dengan cepat. 


Reno yang kecanduan menggoda lekas menurunkan jendela mobilnya. Menatap sosok perempuan yang wajahnya sangat lucu di matanya. 


"Aku pulang, Deeva," pamit Reno dengan suara seksinya.


Ah mendengar suara ini, membuat Adeeva menelan ludahnya paksa! 


"Jangan rindu!" godanya semakin gencar. 


"Kalau kamu gak balik sekarang. Aku tendang pantatmu!" 


"Okeoke. Aku pulang," sahut Reno diiringi kekehan lalu menghidupkan mesin mobilnya. "Terima kasih nasi gorengnya, Sayang."


Tanpa menunggu jawaban, Reno segera meninggalkan Adeeva sendirian dengan semburat kemerahan di pipinya. Wanita itu menatap mobil Reno dengan pandangan yang sulit dijabarkan. 


...🌴🌴🌴...


"Nak Reno sudah pulang, Sayang?" tanya Mama Adeeva saat perempuan itu baru saja menutup pintu rumah.


"Iya, Ma. Dia udah pulang," sahut Adeeva dengan pelan.


Sahabat Almeera itu lekas berjalan ke arah mamanya yang sedang duduk di meja makan. Dia mendudukkan dirinya di kursi samping mamanya dengan lesu. 


Semua tingkah laku Adeeva tentu ditatap oleh mamanya langsung. Gadis itu bahkan tak menyadari jika mamanya tengah tersenyum tipis. 


"Boleh Mama tanya sesuatu?" tanya Mama Adeeva tiba-tiba yang membuat Adeeva menoleh.


"Kenapa Mama harus pamit?" tanya Adeeva dengan meraih tangan mamanya lalu menciumnya. "Mama berhak tanya apapun sama Deeva." 


Mama Adeeva balas menggenggam tangan anaknya. Mengelusnya dengan lembut sambil matanya terus menatap wajah putri yang ia lahirkan dengan penuh kasih sayang.


"Bagaimana perasaanmu pada Reno, Nak?" 


"Maksud, Mama?" tanya Adeeva tak mengerti.


"Bagaimana hati kamu jika bersama Reno? Apa kamu suka padanya?" 


Adeeva merasa pertanyaan mamanya sangat sulit untuk dijawab. Dia merasakan oksigen di sekitarnya habis hingga membuatnya kesulitan bernafas. 


"Jujur pada Mama?" 


Adeeva menarik nafasnya begitu dalam. Seakan dirinya yang ditimpa masalah berat. Wanita itu berusaha lebih tenang dan memikirkan apa yang dirinya rasakan pada Reno. 


Apakah sebuah rasa cinta atau hanya ingin tahu saja.


"Aku…" jeda Adeeva penuh kebingungan. 


"Katakan saja, Nak!" ujar mamanya dengan lembut.


"Perasaan Adeeva tak karuan, Ma. Kadang Adeeva merasa kasihan pada Reno. Kadang kalau dia lagi nyebelin, rasanya Adeeva pengen nendang dia," ucap Adeeva memulai ceritanya. "Tapi kalau lagi sehat tu orang! Lagi hangat sama Deeva. Bisa bikin hati Adeeva deg deg degan." 


Penjelasan putrinya membuat senyuman lebar muncul di wajah mamanya. Perempuan paruh baya itu semakin menggenggam tangan putrinya yang terasa dingin.


"Itu tandanya kamu suka sama Reno, Sayang." 


Kepala Adeeva menggeleng. Dia menolak rasa suka itu karena bayangan papanya masih begitu lekat.


Walau mereka sudah pindah. Walau Adeeva terus mencari kesibukan agar melupakan segala perlakuan papanya tapi hal itu selalu gagal.


Ketakutan memiliki suami seperti sosok papanya semakin menjadi!


"Adeeva gak mau, Ma. Adeeva gak mau suka sama siapapun. Adeeva takut!" 


"Hey, Nak!" Mama Adeeva meraih kedua sisi wajah putrinya. 


Mama Adeeva menangkap wajahnya, agar tatapan keduanya bisa saling menatap lekat. 


"Semua pria itu tidak sama, Nak. Tak semuanya seperti papamu," kata Mama Adeeva dengan lembut. "Mama bisa melihat bagaimana Reno begitu tulus sama kamu." 


Adeeva masih diam. Dia terus menatap wajah mamanya saat ini.


"Berikan satu kesempatan pada Reno untuk mendekatimu, Nak. Biarlah kalian saling mengenal. Mungkin bisa saja dari perkenalan itu kamu bisa tahu karakter Reno yang jauh berbeda dengan Lapa." 


Adeeva menggeleng. Dia lekas beranjak berdiri dan melepaskan tangan mamanya. Tanpa kata perempuan itu pergi menaiki tangga menuju kamarnya.


Dia masuk ke sana dengan kepalanya terus menggeleng. Menolak segala hal yang sebenarnya sudah terjadi kepada dirinya.


Adeeva tak buta! 


Ya dia mengakui sudah tertarik pada Reno.


Bahkan mungkin sudah tumbuh perasaan pada pria itu.


Namun, kembali lagi. Dirinya takut! 


"Aku tak mau memberikannya harapan palsu. Aku ingin menutup perasaan ini dan tetap pada tujuan awalku. Aku tak mau menikah!" 


~Bersambung


Yang bilang Adeeva lebay. Tanyain aja sama anak broken home. Seratus persen kejadian rumah tangga orang tuanya, jadi satu ketakutan mereka mau jalani hubungan sama pria lain.


Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.