
...Jantungku benar-benar tak aman jika terus dekat dengannya. Mata tajamnya terlihat begitu menusuk dan menembus jantungku yang selalu berdegup kencang....
...~Azzelia Qaireen...
...🌴🌴🌴...
"Ayo, Nak Jimmy. Masuk!" ucap Mama Zelia dengan lembut.
Kakak dari Almeera itu lekas mengalihkan tatapannya dari Zelia. Entah kenapa sudut hatinya terasa sakit melihat pemandangan yang tadi sempat dia lihat.
Jimmy lekas berjalan menuju sofa tempat dimana kedua orang tua Zelia berada. Dia mencium kedua punggung tangan mereka, lalu segera berjalan menuju ke arah Zelia sambil membawa sekantong kresek berisi roti dan buah.
"Kak Jim," panggil Zelia berusaha menetralkan detak jantungnya.
"Aku bawakan roti dan buah. Dimakan yah! Biar cepet sehat," kata Jimmy dengan wajah dingin.
Entah kenapa melihat perubahan pada wajah Jimmy membuat Zelia panik. Apalagi ketika pria itu berpamitan pulang, membuat wanita itu lekas meraih lengan Jimmy.
"Tunggu, Kak," sahut Zelia dengan cepat.
Jimmy tak lekas berbalik. Pria itu hanya menatap cengkraman tangan Zelia hingga membuat wanita itu semakin salah tingkah.
"Jangan pulang dulu!" kata Zelia dengan malu-malu. "Aku mau mengenalkan Kakak dengan sepupu aku dari Mama."Â
Mendengar perkataan Zelia membuat perasaan Jimmy sedikit lebih lega. Dia lekas berbalik dan berusaha menyembunyikan rasa bahagianya.
"Kenalin, Kak. Ini Roy," jeda Zelia menatap Jimmy lalu bergerak menatap Roy. "Dan Roy, Ini Kak Jimmy."
"Kekasihmu?" ujar Roy tanpa rasa bersalah.
Mata Zelia membulat penuh. Dia tak menyangka jika Roy seenaknya mengatakan itu saat ada Jimmy disini. Rasanya ingin sekali dia membekap dan menyumpal mulut itu dengan kain saat seenaknya nyablak tanpa berpikir.
"Emm anuu…"Â
Zelia mendelik tak suka. Dia mencoba melirik Jimmy yang seakan tak risih akan ejekan sepupunya. Namun, entah apa yang dipikirkan oleh Jimmy, membuat Zelia begitu penasaran dengan pemikiran pria itu sekarang.
"Doakan saja yang terbaik," kata Jimmy yang semakin membuat Zelia tercengang.
Wanita itu menatap kakak dari sahabatnya tak percaya. Dia tak menyangka jika Jimmy mengatakan hal tak terduga. Apa maksud dari kalimatnya itu.
Yang terbaik?
Versi terbaik menurutnya seperti apa memang?Â
Seperti ini? Digantung saja atau pdktan?
Ah hal itu membuat Zelia pusing tujuh keliling.
Sedangkan Mama dan Papa Zelia hanya saling mengedipkan matanya satu dengan yang lain. Keduanya sangat mengerti bagaimana perasaan anak muda di hadapan ini.
Malu-malu kucing bukan?Â
Sifat yang jelas kentara di antara keduanya.
Saling mencintai tapi saling menahan.
Masih menutupi karena rasa gengsi atau malu jelas ada di antara keduanya.Â
"Wah, selamat. Akhirnya saudaraku yang cerewet ini bisa memiliki kekasih juga," ejek Roy yang membuat Zelia mendelik. "Dia sudah menjadi perawan tua selama ini. Jadi tolong segera halalkan dia."
"Sembarangan!" Zelia memukul kepala Roy dengan keras. "Awas kau mengatakan itu lagi. Akan kupukul kau!"Â
"Huh, kenapa kau betah dengan perempuan kasar seperti dia, Jim. Lihatlah! Dia tak ubahnya seperti macan betina."Â
"Aggh pergi kau!" seru Zelia ketus.
Untung saja dirinya tak bisa bergerak dengan bebas. Jika bisa, mungkin saat ini dia sudah memukuli saudaranya itu karena kesal.Â
"Ah memang saudara tersayang dia. Mengusir pria tampan sepertiku, karena kekasihnya sudah datang," keluh Roy pura-pura merajuk. "Awas saja kau!"
"Pergi-pergi! Malu-maluin emang!"Â
Interaksi antar dua saudara itu tentu membuat Jimmy tanpa sadar tersenyum. Entah kenapa pria itu melihat sisi lain dari sosok Zelia saat ini. Ternyata dibalik sikapnya yang tomboy dan memiliki ilmu bela diri.
"Sudah, Roy. Jangan diganggu pasangan yang sedang berbunga itu. Lebih baik kita keluar cari angin!"Â
Akhirnya Mama, Papa Zelia dan Roy melambaikan tangan meninggalkan Jimmy dan Zelia. Mereka benar-benar memberikan waktu untuk keduanya menyampaikan sesuatu yang selama ini dipendam.
Setelah kepergian keluarga Zelia. Perlahan Jimmy berjalan mendekati brankar. Entah kenapa situasi seperti ini membuat sahabat Almeera itu kesulitan menelan ludahnya.Â
Dia seakan tercekik dengan keadaan yang membuat jantungnya selalu berdegup kencang.Â
Kenapa?
Karena dimana ada Jimmy, maka disitu Zelia selalu merasa gugup.Â
"Gimana keadaanmu sekarang?" tanya Jimmy mendudukkan dirinya di kursi samping brankar.Â
"Emm baik, Kak. Sudah lumayan baik, iya," sahut Zelia terbata dengan kepala menunduk.
Jimmy tersenyum tipis. Dia tahu betul jika Zelia sedang canggung berhadapan dengannya. Sebenarnya bukan wanita itu saja, dirinya sendiri pun sebenarnya merasa dag dig dug tak karuan. Namun, sebisa mungkin Jimmy berusaha menutupinya agar mereka tak sama-sama canggung.
"Apa perutmu masih sakit?" tanya Jimny menatap perut Zelia yang tertutupi pakaian pasien.
"Ya. Dokter mengatakan besok atau lusa aku bisa pulang," cerita Zelia dengan bahagia.
Jujur dia sudah tak tahan berada disini. Di tempat yang berbau obat-obatan serta jarum infus yang menusuk punggung tangannya. Zelia ingin segera keluar dan menikmati udara segar.
"Syukurlah," sahut Jimmy dengan singkat.
"Kenapa cuma sepatah kata doang?" cebik Zelia kesal bukan main. "Apa Kak Jim ketika pembagian kata dan suara ada di urutan belakang?"
Jimmy mengerutkan keningnya. Dia menggelengkan kepala dengan ekspresi wajah tak berdosa.
"Jika tidak, kenapa Kakak cuek sekali?" sungut Zelia mengeluarkan uneg-unegnya. "Kalau bukan iya, ya jawab nggak. Kalau gak gitu cuma angguk-angguk kepala atau geleng-geleng. Huftt apa tak ada jawaban lain?"
"Aku memang seperti itu, Lia."Â
Jantung Zelia terasa tak aman. Dia menelan ludahnya paksa dan memberanikan diri menatap mata Jimmy yang sedang menatapnya juga. Â
Perempuan itu tak percaya jika panggilan Jimmy kepadanya sama seperti panggilan orang tuanya. Lia adalah panggilan khusus yang hanya diberikan oleh Mama dan Papa Zelia. Lalu Jimmy, menjadi orang ketiga yang memanggilnya dengan panggilan itu.Â
"Kenapa, Li?" tanya Jimmy saat menyadari jika Zelia tengah gugup.
Pria itu menundukkan tubuhnya. Dia meletakkan kedua tangannya di depan Zelia hingga tubuhnya condong ke depan dan berhadapan dengan wajah sahabat Almeera itu.Â
Bisa Jimmy lihat jika kedua pipi Zelia perlahan memerah seperti tomat. Ditambah nafasnya yang berat semakin jelas terlihat jika wanita itu gugup luar biasa.Â
"Kenapa kamu tegang sekali?" tanya Jimmy berniat menjahili. "Apa kamu takut kepadaku?"Â
"Nggak!" sahut Zelia dengan jujur.
Dia memang tak takut pada Jimmy. Menurutnya segarang apapun kakak sahabatnya itu, di matanya sangat terlihat keren.Â
"Lia," panggil Jimmy pelan hingga tatapan mata keduanya beradu.
Baik Zelia maupun Jimmy saling menatap penuh lekat. Berusaha mengobrak abrik dan menyelami bola mata keduanya dan menunggu perkataan apa lagi yang keluar dari bibir pria tersebut.Â
"Jangan pernah dekat dengan pria manapun! Baik itu teman ataupun saudaramu. Kamu harus membatasi interaksi kalian," kata Jimmy dengan serius.
"Memangnya kenapa? Mereka kan saudaraku?" tanya Zelia ingin memperjelas hubungan keduanya.
"Aku tak suka melihatmu tertawa bersama pria lain."
Zelia menatap mata Jimmy dengan serius. Dia benar-benar takjub akan perkataan pria itu yang baru saja dia dengar.Â
"Tapi, kenapa…"
"Karena kamu milikku, Lia!"Â
~Bersambun
Hiyaa huaaa aku baper woy lah!
Ada yang sama gak?
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.