Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Pajak Jadian



...Kebahagiaan yang utama untuk orang tua adalah ketika anak-anaknya tak kekurangan kasih sayang dan selalu tertawa tanpa beban....


...~Almeera Azzelia Shanum...


...🌴🌴🌴...


Seorang perempuan tengah berdiri di depan cermin. Dia tengah mematut penampilan dirinya. Setelan gamis berwarna hitam terlihat begitu elegan ketika dipakainya. Dirinya tersenyum saat memberikan misk thaharah di bagian leher dan pergelangan tangannya.


Tiba-tiba dia dikejutkan dengan sebuah lilitan tangan di perutnya. Dia melihat pantulan sang suami yang ada di sana sedang memeluknya dari belakang. 


Tubuhnya benar-benar merasa tegang dan kaku. Namun, sebaik mungkin perempuan itu menyembunyikan ekspresi gelisahnya. Dirinya ingin menjaga perasaan sang suami.  


"Belum siap?" tanya Bara dengan mengendus leher sang istri yang tertutupi hijab.


Almeera menelan ludahnya paksa. Dia berusaha sebaik mungkin menghilangkan rasa traumanya. Rasa takut dan bayangan Narumi semakin menumpuk hingga membuatnya bergetar.


Bara yang merasakannya tentu lekas melepas pelukannya.


"Kenapa, Sayang?" tanya Bara menarik Almeera agar menghadapnya.


"Gak ada, Mas. Aku baik-baik saja," balasnya dengan mencoba tenang.


Bara terus meneliti ekspresi istrinya. Hingga terlintas di pikirannya tentang sesuatu. 


"Apa kamu merasa tidak nyaman?" 


Spontan ucapan Bara membuat Almeera mendongak. Dia menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Bukan begitu, Mas. Aku…" Almeera terlihat kesusahan mencari alasan.


Jujur dirinya tak tahu harus menjawab apa. Karena kebenarannya memang dia masih merasakan trauma itu.


"Jangan katakan apapun," kata Bara dengan wajah sendu. 


Tanpa Almeera menjelaskan. Bara tentu sadar diri. Bagaimanapun yang dirasakan istrinya karena ulahnya sendiri.  Dia yang sudah jahat dan dirinya yang menorehkan luka. 


"Aku tak akan menyentuhmu, Ra," kata Bara setelah menarik nafasnya begitu dalam. "Aku tak mau kamu…" 


"Cukup!" sela Almeera dengan cepat. "Jangan katakan seperti itu, Mas." 


Almeera meraih kedua tangan suaminya. Dia menggenggamnya begitu erat menyalurkan kehangatan yang ada di telapak tangannya. 


"Aku masih berusaha, Mas. Aku ingin sembuh dari trauma ini," kata Almeera dengan serius.


Mata Bara menatap istrinya dengan lekat. Dia benar-benar yakin tak akan memaksa istrinya untuk melakukan apapun. Mungkin ini adalah balasan dari Tuhan karena dia menyakiti hati istri sebaik Almeera.


"Maaf, Ra," ujar Bara dengan lemah. "Aku benar-benar menyesal."


"Aku sudah memaafkanmu," balas Almeera lalu menangkup wajah suaminya agar bisa berhadapan dengannya. "Bawa aku ke psikiater, Mas. Aku ingin sembuh dari trauma ini dan kita bisa melanjutkan hidup." 


Bara menatap tak percaya. Dia benar-benar takjub dengan Almeera yang rela melakukan apapun. Wanita itu sangat mengutamakan dirinya. Menepis segala kesakitan yang pernah dirasakan dan mencoba memperbaiki selagi bisa diperbaiki.


"Apa kamu yakin?" 


"Tentu, Mas," sahut Almeera dengan yakin. "Kita periksa dan berobat bersama-sama. Aku ingin punya anak lagi darimu." 


Senyuman lebar muncul di bibir Bara. Mata pria itu berkaca-kaca menatap Almeera penuh haru. Dia benar-benar tak menyangka jika istrinya masih mau hamil anak pria yang pernah menyakitinya.


"Yang pasti jangan paksakan apapun, Ra. Katakan padaku jika kamu tak nyaman. Katakan jika kamu takut. Aku tak mau memaksamu lagi. Mengerti?" 


"Mengerti, Mas." 


...🌴🌴🌴...


Suara celotehan dengan nyanyian khas anak-anak terdengar di dalam mobil. Dua anak yang berbeda usia terlihat begitu bahagia. Mereka akan menuju ke sebuah mall untuk menonton bioskop dan bermain. 


Ini adalah ide papanya sendiri. Bara, pria itu ingin memperbaiki quality time mereka hingga sore ini dirinya pulang lebih awal.


"Papa!" panggil Bia sambil mencondongkan kepalanya ke depan. 


"Ya, Nak?" sahut Bara melirik putrinya sejenak.


"Kita mau nonton apa?" tanya Bia dengan antusias. 


"Spider-Man, No Why Home ." Itu bukan suara Bara. Melainkan suara Abraham yang menyahut.


Bia lekas menoleh. "Abang serius?" 


"Ya. Bukankah itu film terbaru saat ini?" tanya Abraham berbalik.


"Apa Tom Holland pemainnya, Abang?" tanya Bia menunjukkan sebuah foto pemeran salah satu spiderman.


"Yaps. Dia idolaku," ucap Abraham dengan menyugar rambutnya ke belakang. 


Menatap bangga aktor andalannya. Aksi yang selalu diperankan oleh Tom Holland tak pernah gagal menurutnya.


"Dia juga idola Bia," kata Bia sambil mendekap ipad yang memperlihatkan foto Tom. 


"Bagus. Kita nanti akan menontonnya dengan heboh. Setuju?" 


"Setuju." 


Almeera dan Bara yang mendengar hanya mampu tertawa. Tingkah kedua anaknya yang saling menyayangi membuat mereka begitu bersyukur. Tak pernah mereka membedakan kasih sayang keduanya. Baik Bara maupun Meera, keduanya berusaha bersikap adil.


Perlahan kendaraan yang dikendarai Bara telah sampai di parkiran mall. Keempatnya segera turun dan memasuki bangunan yang begitu luas dan ramai itu.


Terlihat Bia terus menggandeng tangan papanya. Mereka bahkan saling bercanda tawa dengan berjalan menuju lantai atas tempat dimana lantai bioskop berada. Namun, saat keduanya hendak menaiki eskalator. 


Sebuah pemandangan yang sangat mengejutkan membuat Bara dan Almeera saling menatap. 


"Om Jimmy, Tante Zelia!" teriak Bia saat anak itu melihat dua wajah yang sangat dikenali.


Sosok yang dipanggil dan tengah beradu mulut itu, serentak menoleh. Kedua mata keduanya terbelalak melihat keluarga Bara berdiri tak jauh dari sana. 


Anak kedua Bara segera berlari. Dia memeluk kaki Zelia yang berdiri di samping Jimmy.


"Tante sudah sembuh?" tanya Bia penuh sayang.


Zelia berusaha tersenyum. Dia sedikit gugup saat sahabat dan suami sahabatnya, menatapnya penuh intens.


"Ya. Tante sehat, Nak." 


"Bagaimana Tante bisa bareng Om Jimmy?" tanya Bia penasaran.


Sedangkan dua tersangka itu hanya bisa saling menatap dengan menggaruk kepalanya yang tak gatal. Keduanya benar-benar seperti ketahuan mencuri saja.  


Hingga suara deheman Bara membuat keduanya semakin salah tingkah.


"Sepertinya ada yang baru jadian, Sayang," sindir Bara mengedipkan matanya ke arah Almeera.


"Iya. Bahkan dengan berani, mereka menutupinya dari kita," sindir Almeera mendengus menatap sahabatnya yang semakin memerah karena menahan malu. 


"Jadian itu apa, Papa? Apa seperti Mama dan Papa?" tanya Bia dengan polosnya 


"Ah. Itu, Nak." Bara bingung menjelaskan. Namun celetukan Abraham membuat Bia menatap Tante dan Omnya berbinar.


"Teman spesial? Jadi bisa tinggal sama kayak Mama Papa dong?"


"Udah. Gak usah dijelasin," seru Jimmy mengalihkan perhatian mereka. "Kalian mau kemana?" 


"Nonton spider-man," sahut Bia dengan cepat.


"Wahhh. Boleh dong Om ikutan?" tanya Jimmy meraih tubuh ponakannya dalam gendongan.


"Boleh tapi Tante Zelia gimana?" tanya Bia menunjuk perempuan yang sejak tadi menunduk.


"Ya ikut. Kalau ditinggal nanti Om Jim ngamuk," celetuk Almeera sambil diiringi kekehan. 


Pasangan suami istri itu benar-benar tak hentinya menggoda. Bahkan kedua pipi Zelia sampai memerah menahan malu yang sangat luar biasa.


"Kamu harus cerita, bagaimana bisa jadian sama kakakku," bisik Almeera saat menggandeng lengan sahabatnya menuju bioskop.


"Ya. Berhentilah menggodaku! Kalau tidak, aku tak akan menceritakannya!" ancamnya yang membuat Almeera hanya mampu tertawa. 


Saat mereka sudah berada di area bioskop. Kedua pria dewasa itu berjalan untuk membeli tiket nonton. Bara segera memesan 6 tiket kepada petugas di depannya. 


"Bar, mau kemana!" tanya Jimmy saat petugas mulai mengatakan harga tiket kepadanya.


"Sebagai perayaan jadian, Kak Jim. Jadi sore ini, semua tiket kakak yang bayar. Anggap aja pajak jadian!" 


~Bersambung


Woy lah, Mas Bar! Lu juga kaya, masih malak pajak. Hahaha.


Aku juga gitu sih, hihi. Suka gratisan.


BTW aku update 3 bab terus loh. Likenya jangan lupa ditekan. Insya allah akhir bulan novel ini tamat yah.