Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Ultimatum Almeera



...Ketika kita sudah dikecewakan terlalu dalam. Maka untuk mempercayai dirinya lagi tidak semudah membalikkan tangan....


...~Almeera Azzelia Shanum...


...🌴🌴🌴...


"Berarti wanita itu selingkuh dari Papa, Ma," kata Abraham setelah tersadar dari keterkejutannya.


Almeera hanya mengangguk. Namun, sejurus kemudian dia mengambil ponsel miliknya dan mengarahkan ke arah dua pasangan yang asyik bercumbu di dekat mobilnya itu.


"Abang tutup mata. Jangan dilihat terus!" kata Almeera ketika melihat putranya menatap ke arah Narumi.


Bukan ekspresi antusias yang ditunjukkan oleh putranya. Melainkan jijik dan mual yang remaja itu lihat ketika mengetahui kelakuan buruk dari istri kedua papanya. 


"Buat apa Mama rekam?" 


"Bukti," sahut Almeera setelah mengambil foto dan video itu.


"Mama mau ngasih tahu ke Papa, sekarang?" 


"Nggak." Almeera menggeleng. Lalu dia kembali menyimpan ponselnya di dalam tas.


"Terus?" 


"Mama akan lihat bagaimana Papamu lepas dari wanita itu. Jika dia tak mau lepas maka kita yang bertindak," kata Almeera dengan tatapan tajamnya.


Aku tak mau suamiku dibodohi olehmu. Aku harus menjaganya dari wanita ular berkedok paras cantik sepertimu, gumam Almeera dalam hati.


Almeera bukanlah wanita bodoh. Dia hanya ingin menyadarkan suaminya dengan caranya sendiri. Dirinya ingin Bara membuka lebar matanya dan melihat siapa Narumi sebenarnya. 


Jika orang menganggap dia bodoh tapi pikiran Almeera menganggapnya ini adalah jalan terbaik. Tidak selamanya kesalahan suami harus berakhir dengan perceraian. 


Suami adalah manusia biasa. Dia memiliki mata yang pasti tanpa sengaja atau tidak bisa melihat wanita di luar sana. 


Almeera tak mau munafik. Bagaimanapun setianya para suami, dia pasti masih melihat wanita lain. Mungkin hanya tinggal melihat, bagaimana dia mengontrol diri dan menyadari jika ada istri dan anak di rumahnya.


Almeera tak menganggap dirinya sempurna. Dia bahkan masih jauh dari kata istri sholehah. Dirinya masih melawan sang suami di waktu tertentu. Terkadang dia juga tak memiliki kesabaran yang luar biasa.


Tapi sekarang dalam pikirannya, apakah salah dia memberikan kesempatan bagi suaminya sendiri?


Apakah Bara tak berhak mendapatkan satu kali kesempatan untuk memperbaiki dirinya?


Ini bukan perihal wanita selalu mengalah tetapi Almeera hanya ingin menyadarkan suaminya.


Perihal nanti mereka akan berjodoh atau berpisah, hanya Tuhan yang tahu jalan akhirnya. Dia hanya ingin berusaha. Dia hanya ingin melihat apakah suaminya serius dengan perkataannya atau tidak. 


"Aku akan dukung, Mama," kata Abraham dengan yakin.


Almeera menoleh. Dia mengelus sisi kiri wajah putranya dan memberikan senyuman terbaik. 


"Ayo lindungi Papamu dari wanita ular itu. Kita buat Papa sadar bahwa wanita yang dia cintai tak sebaik apa yang dia lihat." 


...🌴🌴🌴...


"Mama datang," kata Almeera dengan wajah bahagia.


Spontan suara itu membuat ayah dan anak yang sedang tidur bersama di atas ranjang perlahan beranjak duduk. Wajah bantal keduanya jelas terlihat disana. Almeera terkekeh ketika melihat penampakan yang sudah lama sekali tak ia lihat.


"Mama lama sekali," keluh Bia dengan bibir mengerucut.


"Maaf ya, Sayang. Restoran yang kamu minta ramai. Jadi Mama sama Abang cari di tempat lain," ujar Almeera dengan wajah memelas.


Kening Bara berkerut. Dia melihat arloji yang ada di lengannya sejenak. 


"Jam segini restoran masih ramai?" tanya Bara curiga.


Spontan ucapan Bara membuat Almeera dan Abraham yang menyiapkan makanan saling berpandangan. Keduanya seperti saling mengatakan lewat tatapan mata. 


"Iya, Mas." 


"Sudah. Lebih baik sekarang Bia makan yang banyak. Okey!" Almeera membawa sebungkus nasi goreng di dekat ranjang untuk mengalihkan perhatian keduanya.


Lalu dia mulai meminta anaknya berdoa sebelum menyuapinya makan. 


Bara tak menjawab. Dia hanya menatap putranya yang duduk di sofa dan makan dengan tenang. Tentu gerak gerik ayah dari Bia membuat Almeera mengerti. Dia sangat tahu betul bagaimana keadaan hubungan Bara dan putranya sampai detik ini. 


"Makanlah di samping Abraham, Mas. Dia tak akan marah," ucap Almeera pelan dengan tangan mengaduk nasi di tangannya. 


"Aku takut dia…" 


"Tidak akan. Putra kita tetaplah Abraham yang dulu. Dia membutuhkanmu meski berusaha menjauh," ujar Almeera penuh keyakinan. 


Sebagai seorang Ibu, Almeera tahu betul bagaimana perasaan putranya. Tak mungkin segampang itu anak membenci ayahnya sendiri. Apalagi kehidupan yang mereka jalani bukan seminggu atau dua minggu. 15 tahun Abraham selalu menghabiskan waktunya bersama Bara sebelum datangnya wanita ulat itu di kehidupan mereka. 


"Oh iya, Mas…" panggil Meera yang membuat Bara tak jadi melangkah. "Aku ingin berbicara denganmu di taman setelah kita makan." 


"Okey. Setelah makan kita berbincang disana."


Akhirnya Bara memberanikan diri duduk di samping putranya. Dia tak mengeluarkan suara apapun. Bahkan untuk melirik putranya dia tak memiliki keberanian. 


Bara benar-benar ingin menjaga perasaan Abraham. Dia takut putranya akan semakin membencinya dan hubungan keduanya semakin jauh. Setelah keempatnya makan dengan tenang. Almeera segera mengajak suaminya keluar dari ruang rawat Bia.


"Mama sama Papa titip adek dulu ya, Bang," ucap Almeera pada putranya yang berjalan mendekati ranjang pasien.


"Iya, Ma." 


Dua orang itu akhirnya berjalan dalam diam. Banyak sekali pertanyaan yang ada di benak Bara tentang apa yang ingin dibicarakan oleh istrinya itu. Rasa penasaran tentu menghinggapi dirinya, saat melihat wajah Almeera yang serius.


"Apa malam ini Narumi tidak menghubungi, Mas?" tanya Almeera setelah keduanya duduk di kursi taman yang sama.


"Dia menghubungi tapi aku tidak mengangkatnya," sahut Bara dengan mata menatap ke arah depan. 


"Kenapa?" tanya Almeera dengan melirik suaminya.


"Aku hanya ingin memastikan bahwa hatiku lebih mencintai kalian daripada dia," kata Bara dengan suara tenangnya. "Dan itu benar. Walau aku tak menghubunginya. Hatiku tak pernah sekacau saat kalian meninggalkanku waktu itu." 


Almeera menunduk. Dia tak tahu apakah yang dikatakan suaminya itu benar atau tidak. Namun, jika itu memang kebenarannya, maka mereka menang satu langkah dari Narumi.


"Kamu gak percaya?" 


Almeera menggeleng dan membuat ekspresi Bara menjadi kecewa.


"Jangan menampakkan ekspresi kecewa di depanku, Mas. Jika dibanding denganmu, rasa kecewaku jauh lebih besar," sindir Almeera yang membuat Bara mengangguk. 


"Apa kamu ingin aku percaya padamu lagi?" 


Pertanyaan Almeera tentu membuat Bara menoleh. Dia menatap istrinya yang sedang menatapnya balik.


"Tentu. Aku akan lakukan apapun agar kamu percaya lagi padaku." 


"Jangan pernah melakukan hubungan suami istri dengan istri keduamu lagi. Jangan menciumnya walau hanya di pipi. Jangan dekati dia sedikitpun!" 


Almeera mengatakannya dengan serius. Bahkan wanita itu tak tanggung-tanggung lagi. Entah kenapa dia takut Narumi membawa penyakit untuk suaminya itu. Dia takut wanita itu suka jajan di luar tanpa sepengetahuan suaminya sendiri.


"Apa Mas keberatan?" tanya Almeera saat melihat suaminya hanya diam.


"Nggak. Aku akan melakukannya." 


"Aku akan memegang ucapanmu, Mas," jeda Almeera dengan wajah penuh harap. "Dan satu lagi, lakukan pemeriksaan rutin pada tubuhmu. Aku takut kamu terjangkit HIV karena berhubungan dengan istri keduamu itu." 


Bara tertegun. Banyak pertanyaan dalam pikirannya tentang apa yang sedang dilakukan istrinya itu. Namun, dia tak menolak apapun. Bahkan Bara rela melakukan apa saja yang diminta istri pertamanya supaya Almeera kembali percaya pada dirinya.


"Selama ini aku tetap rutin mengecek kondisiku, Ra. Aku baik-baik saja dan tak ada penyakit apapun." 


"Aku hanya takut. Jadi, Mas harus pastikan betul-betul!" 


Aku harus menjagamu dari wanita ular itu. Dia benar-benar bukan Narumi yang dulu aku kenal. Dia sudah berubah dan aku harus menyadarkan suamiku sebelum semuanya terlambat, batin Almeera dengan menatap wajah Bara dalam diam 


~Bersambung


Kira-kira Mas Bara ini bisa dipercaya lagi gak, Yah?


Rungokno ultimatume Ibu Negara Mas. Nek koe ra pengen di tendang, hihi.


Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat updatenya.