Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Kebenaran Pertama



...Sakit hatiku dimulai ketika aku mendengar kebenaran pertama keluar dari mulutmu sendiri....


...~Almeera Azzelia Shanum...


...🌴🌴🌴🌴...


Suasana hening menyapa telinga Almeera. Punggung yang baru saja dia tegakkan, mulai direbahkan di sandaran kursi mobil. Matanya terpejam dan bersamaan dengan menetesnya air mata miliknya. 


Dia hanyalah manusia biasa. Memiliki rasa sakit dan cemburu. Hubungannya dengan Bara bukan satu atau dua tahun. Melainkan belasan tahun yang sudah mereka lewati bersama. 


Bara meninggalkan banyak kenangan untuknya. Dari mereka berpacaran sampai menikah, semua kenangan itu masih tersimpan rapi. Bagaimana ketika perbedaan agama terjadi di antara mereka, keduanya tetap saling menggenggam dengan segala perbedaan. 


Bukan hal yang mudah bisa melupakan semua itu dengan cepat. Walau pengkhianatan terjadi di antara mereka, rasa cinta yang Almeera miliki bukan hanya bualan semata. 


Sedikit saja, cobalah menjadi Almeera. Berada di posisi wanita itu merupaka ketidakberdayaannya. Ketika semua wanita di dunia menghujatnya sebagai wanita bodoh. Namun, dia hanyalah perempuan dengan segala perasaannya.


Bukankah Almeera memiliki hak disini?


Memiliki hak untuk mempertahankan apa yang sedari awal menjadi miliknya. Mengambil apa yang seharusnya ada disisinya. Pada dasarnya, dia memang ada di posisi ISTRI PERTAMA.


Istri sah yang menyandang nama, Nyonya Gibran Bara Alkahfi. Istri satu-satunya yang mendapatkan ridho dari kedua mertuanya dan dianggap sebagai menantu sekaligus anak oleh mereka.


Dia memiliki banyak dukungan, 'bukan?


Anak, mertua, keluarga dan sahabatnya, ada di sisi Almeera. Sedangkan Narumi, gadis itu hanya memiliki Bara seorang. Jadi bila dia mencoba bersaing dengan wanita itu, Almeera yakin masih memiliki banyak kesempatan untuknya menang. 


Pernikahan bukan hanya berisi tentang bahagia. Namun, duka dan ujian meliputi keduanya. Ijab kabul yang disaksikan oleh Tuhan, adalah sebuah jalan pertama untuk melewati segala hal merintang. Jika sang pencipta memberikan ujian seperti ini dan dia menyerah. Bukankah itu menjadi pertanda bahwa dia kalah sebelum berjuang.


Beri aku kekuatan Tuhan. Jika ini takdirku, maka aku akan menjalaninya dengan penuh rasa syukur. Namun, bila dia bukan jodoh untukku. Berikan kami perpisahan yang mendamaikan. 


Sebuah untaian doa diakhiri dengan helaan nafas berat dan bersamaan suara ketukan dari jendela yang membuat Almeera menoleh. 


"Buka, Ra," panggil Zelia dengan wajah khawatir. 


Almeera membuka pintu itu dan bersamaan Zelia masuk ke dalam pelukannya. Almeera bisa merasakan tubuh sahabatnya bergetar. Hingga hal itu tentu membuat matanya berkaca-kaca. 


"Kenapa kamu tutupi semua ini dari Adeeva? Kenapa kamu gak cerita sama kita? Kenapa kamu nyembunyiin masalah yang rumit ini sendiri?" cerocos Zelia tanpa henti. 


Almeera tersenyum. Setidaknya dia masih bisa bersyukur. Disaat suami yang dia cintai tak mengkhawatirkannya, tapi Almeera masih memiliki sahabat yang selalu ada untuknya.


"Jawab, Ra! Jangan diam terus. Kalau begini aku makin khawatir," seru Zelia dengan melepas pelukannya. 


"Kalian masuklah dulu. Aku akan menceritakan semuanya." 


Akhirnya ketiga sahabat itu saling duduk di dalam mobil. Mereka saling berhadapan dengan Almeera yang duduk di kursi kemudi, lalu Zelia duduk disampingnya dan Adeeva di kursi belakang. Mereka sama-sama menatap wajah istri dari Gibran Bara Alkahfi dengan pandangan tak sabaran. 


"Bagaimana bisa Kak Bara menikahi, Narumi?" tanya Zelia yang sudah penasaran.


"Apa!" Kedua mata sahabat Almeera membelalak tak percaya. Bahkan mulut keduanya menganga karena terlalu terkejut dengan perkataan wanita yang memakai hijab tersebut.  


"Bagaimana kamu bisa tau, Ra? Apakah Mas Bara bercerita padamu?" 


Almeera menggeleng. Dia mencoba memutar ingatannya. Ingatan dimana kebenaran pertama itu terungkap dengan telinganya sendiri. 


Saat malam itu, ketika Bara dan Narumi pertama kali bertemu di acara Anniversary mereka. Ayah dari Abraham dan Bia itu segera kembali ke kamar. Perubahan sikap itu tentu dirasakan Almeera.


Akhirnya setelah acara selesai, dia segera kembali ke kamar untuk mengecek kondisi sang suami. Meera membuka pintu kamarnya. Dia melongokkan kepala dan masuk secara perlahan. Kemudian dia menutup pintunya secara pelan tanpa menimbulkan suara decitan pintu. 


Diedarkan pandangan matanya, ranjang miliknya kosong. Kemana sang suami? Meera melangkahkan kakinya menuju kamar mandi dan hendak mengetuk pintu itu. Namun, saat tangannya masih di udara, kedua telinga Meera mendengar sebuah suara yang sedang berbicara di balkon kamarnya.


Dengan penuh penasaran, Meera mendekat ke dinding kaca yang menjadi sekat menuju balkon kamar. Tubuhnya mendadak gemetaran saat mendengar kata tiap kata yang terucap dari bibir sang suami yang begitu dia cintai.


"Aku bertemu dengannya lagi, Kir. Aku menemukan dia yang selama ini aku cari." Suara Bara terdengar bahagia. 


"Aku tau itu, memang cintaku sangat besar untuk Meera. Tetapi masih kalah besar cintaku padanya Kir." 


Almeera terjatuh ke lantai. Air mata merambat deras di kedua matanya. Tubuhnya gemetaran mendengar kenyataan pahit dari bibir sang suami, Bara. 


Apa maksud Bara mengatakan itu? Apa selama ini suaminya itu mencintai wanita lain? Apa selama ini cintanya pada Meera hanya sebuah paksaan?


Gadis itu menutup mulutnya untuk menahan isak tangis yang mulai keluar. Dia tak bisa menahan air mata yang terus membanjiri wajah cantiknya. Perlahan suara sang suami kembali terdengar.


"Aku tau, aku salah Kir. Tetapi cintaku padanya begitu besar. Apalagi dia adalah cinta pertamaku. Aku begitu mencintainya. Dia yang sudah aku cari selama ini. Hampir 8 tahun aku mencari seperti orang gila," ujar Bara dengan suara sedikit membentak.


Sakit, tentu saja sakit. Almeera tak menyangka jika suami yang begitu dia puja, begitu tega padanya. Dirinya tak menyangka bahwa suami yang begitu dicintai, sangat menyakiti hatinya saat ini. Serasa jantung miliknya diremas kuat dan dibuang jatuh ke dasar jurang. Rasanya sakit, saat kata itu keluar dan begitu menyakitkan. Suami yang begitu ia percaya, ia beri kasih sayang. Dia idolakan ternyata mampu menusuk hatinya sedalam ini.


Kenapa kamu tega sama aku, Mas. Aku tak pernah menyakitimu, tetapi kenapa sekarang kamu dengan mudahnya mengatakan bahwa kamu mencintai wanita lain. Apa maksud kamu? Gumam Almeera dalam hati yang berkecamuk.


Menguatkan hati dan tubuhnya. Almeera meraih pegangan sekat dinding di sampingnya. Menopang tubuh, dia berusaha untuk berdiri dan pergi dari sana. Hatinya sudah tak sanggup untuk mendengar kebenaran apa lagi dari bibir sang suami. Saat dirinya sudah hampir berdiri. Sebuah tamparan kata kembali membuat tubuhnya hampir merosot ke bawah jika tak ia tahan.


Apa dia tak salah dengar. Apa barusan ucapan sang suami benar dari hati terdalam Bara. Air matanya makin deras. Namun, dia menguatkan tubuhnya agar mampu menopang dirinya berdiri. Berkali-kali Meera menarik nafas dan menghembuskannya dengan berat, tapi sayang, kalimat yang baru saja diucapkan oleh suaminya, begitu terngiang dan berputar di pikirannya.


"Aku bingung, Kir. Aku harus melakukan apa. Disisi lain aku tak mau menyakiti hati Almeera, tapi aku juga tak bisa membohongi diriku sendiri. Aku masih sangat mencintai Narumi, dia wanita yang dulu menemaniku sejak sekolah. Rumi adalah gadis pertama yang begitu aku cintai hingga dia pergi meninggalkanku tanpa pamit. Aku begitu dilema saat ini, Kir. Apalagi keduanya menjalani persahabatan."


~Bersambung


Yang kemarin pada komen, Almeera tau gak kalau Narumi mantan dan cinta pertamanya darimana. Nih, dari kejadian ini semuanya bermula.


Kalau pembaca lamaku pasti tau, bagian flashback gak pernah aku kasih tulisan. Jadi bagian miring, itu adalah kisah masa lalu.


Jangan lupa, klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.


Mampir juga di karya temenku dibawah ini :