
...Kabar ini memang mengejutkan. Namun, siap tidak siap aku harus mengatakan hal jujur itu pada istriku daripada dia menyesal....
...~Reno Akmal Alfayyadh...
...🌴🌴🌴...
Keesokan harinya, suasana rumah Reno dan Adeeva terlihat begitu lenggang. Hari libur kali ini keduanya habiskan di rumah bermain dengan Baby Reyn.Â
Mereka sangat amat bekerja sama untuk menemani anak mereka. Jika Adeeva sibuk maka Reno yang akan bersama putranya. Begitupun sebaliknya. Tak ada yang egois, tak ada yang mencoba keras kepala.
Keduanya benar-benar dipersatukan oleh adanya Reyndra di antara mereka. Jika dulu Adeeva dan Reno adalah dua sosok yang sama-sama keras. Maka sekarang mereka saling mengalah dan mengerti.Â
"Mas!" panggil Adeeva sambil menyusul suaminya yang ada di balkon kamar.
Pria itu memang pamit untuk mengerjakan sesuatu hingga membuatnya diam di balkon dengan laptop ada di pangkuannya. Jika dalam mode begini, Adeeva tak pernah mengganggu suaminya kecuali dia memang sangat amat terpaksa.
"Ya, Sayang?" balas Reno tak beranjak berdiri.
Adeeva muncul dari pintu penghubung kamar dan balkon. Dia mendekati suaminya lalu memeluknya dari belakang.Â
Pria itu menatap laptop yang berada di pangkuan sang suami. Melihat pekerjaan apa yang sedang pria itu kerjakan di hari libur seperti ini.
"Ada apa, hmm?" tanya Reno sambil menoleh.
"Bisa jagain Reyn sebentar? Aku pengen pup," pamitnya dengan nyengir.Â
Reno terkekeh. Dia meletakkan laptopnya di atas meja lalu beranjak berdiri.
"Pergilah! Ntar pupmu keburu keluar!" ledek Reno yang membuat Adeeva malah tertawa kencang.
"Dan kamu yang aku suruh ngepel, Mas!" teriaknya sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
Pasangan pengantin ini tetaplah sama. Tak ada yang berubah. Baik tingkah gilanya, cueknya, bobroknya masih sangat jelas. Baik Reno maupun Adeeva selalu menjadi diri sendiri.Â
Tak ada yang berusaha menjadi sosok sempurna. Mereka berusaha menjadi apa adanya dan berubah menjadi sosok yang lebih baik. Belajar, belajar dan belajar untuk kebahagiaan anak mereka.
Itulah yang selalu ada dalam pikiran pasangan pengantin tersebut.
Reno dengan santai berjalan ke arah putranya yang sedang berada di atas ranjang. Kanan kirinya sudah banyak bantal guling untuk menjaga pergerakan Reyn yang aktif.
"Udah kayak anak ayam yah. Dikandangin ama Mama pakek bantal?" ujarnya sambil terkekeh.
Reno perlahan merebahkan tubuhnya di samping tubuh Reyn. Menggendong bayi itu dan meletakkan di atas dadanya. Posisi seperti ini sangat disukai bayi mungil tersebut.
Reyn selalu merasa nyaman dan tenang ketika dia berada di dada papanya.
"Reyn kalau sudah besar nanti. Jangan pernah sayang sama papa aja ya, Nak," kata Reno mengusap punggung bayi yang sedang bermain dengan jari kecilnya itu. "Hormati juga Mamamu. Sayangi dia sebelum kamu menyayangi Papa. Perjuangan mama jauh lebih besar daripada papa, Nak."Â
Apa yang dikatakan Reno memang benar. Dia ingin anaknya lebih menghargai Adeeva. Sosok wanita yang berjuang di depan mata kepalanya sendiri. Bagaimana Adeeva mempertaruhkan nyawa. Melupakan rasa sakit yang dirasakan hanya untuk buah hati mereka lahir di dunia.Â
"Papa itu nomor empat. Mama itu nomer satu, dua dan tiga. Hormati, ibumu, ibumu, ibumu lalu ayahmu. Papa ridho, Nak. Papa ridho."Â
Entah Reyn mengerti atau tidak. Namun, anak itu terus berceloteh hingga membuat Reno mencoba mengartikan bahwa anaknya setuju dengan permintaannya.
"Kalau sudah besar, kita jagain mama sama-sama yah. Siapa yang berani jahat. Kita hajar bareng!"Â
Ayah dan anak itu benar-benar menikmati waktu dengan posisi seperti ini. Reno yang terus mengoceh dan Reyn yang berceloteh khas bayi.
Hingga tak lama, suara dering ponsel membuat Reno meletakkan Baby Reyn ke atas ranjang. Pria itu segera beranjak dan menggapai ponselnya yang berada di atas nakas samping ranjangnya.
Keningnya berkerut saat melihat nomer yang tak dikenal menghubunginya. Namun, Reno mengingat jika tak akan ada orang yang tahu nomor pribadinya ini selain orang penting atau terdekat.Â
"Halo?" seru Reno dengan cepat.
Perlahan terdengar suara perempuan dari seberang sana. Hingga sebuah kabar mengejutkan membuat tubuh pria itu menegang. Badannya terasa kaku hingga suara pintu kamar mandi yang terbuka membuat Reno menatap istrinya dengan nanar.
"Ada apa, Mas?" tanya Adeeva mendekati anak dan suaminya.
"Halo, Sayangku. Sama Papa ya, dari tadi," ujar Adeeva lalu mencium pipi putranya.
Adeeva menatap suaminya yang masih tersambung dengan telepon. Hingga ekspresi wajah Reno membuat Adeeva penasaran.Â
"Kenapa, Mas?"Â
Reno menatap istrinya dengan tatapan bingung. Dia meletakkan ponselnya di atas ranjang hingga membuat pertanyaan besar di pikiran Mama Reyn tersebut.Â
"Sayang. Bilang! Kenapa?"Â
Reno langsung beranjak berdiri. Dia menatap istrinya dengan tatapan penuh kesedihan.
"Bersiaplah, Sayang. Ikut aku sekarang juga. Bawa Reyn dan kita antar dia ke rumah Almeera."
Adeeva berkerut. Dia beranjak berdiri dengan wajah bingungnya.
"Katakan padaku! Ada apa?"Â
"Jangan tanyakan apapun. Yang terpenting, bereskan semua keperluan Reyn selama di rumah Almeera. Aku akan menghubungi Bara dan mengatakan tentang Reyn!"Â
...🌴🌴🌴...
"Maafin gue ya, Bar. Gue bener-bener kepepet jadi titipin Reyn disini!" kata Reno penuh sesal.
Bara yang menggendong Baby Reyn menepuk pundak Reno. Dia sangat mengerti sahabatnya bila pasti ada sesuatu hal darurat.
"Tenang aja. Anak Lo pasti baik-baik aja disini. Ada mertua, istri dan kakak ipar gue kok."Â
Saat ini mereka ada di pelataran rumah Papa Darren. Keduanya memang masih ada disana sampai detik ini.Â
"Papa sama Mama pergi yah, Nak. Hanya sebentar kok!" pamit Reno lalu mencium pipi Baby Reyn.
Adeeva yang masih bingung dengan keadaan menatap putranya yang tak rela. Namun, genggaman tangan yang ditarik oleh suaminya membuat mata wanita itu berkaca-kaca.
"Aku gak mau pisah sama Reyn, Mas!" ujar Adeeva menarik tangannya hingga genggaman itu terlepas. "Aku gak mau!"
Reno memejamkan matanya. Saat ini benar-benar keadaan genting hingga memaksanya menitipkan Reyn disini. Dia tidak mungkin mengajak anaknya ke tempat yang akan dituju karena itu tak baik untuk anak-anak.Â
"Plis, Sayang. Hanya sebentar. Aku minta waktumu satu jam saja. Kamu harus ikut!"Â
Adeeva menatap anaknya lagi. Lalu ia menatap Almeera, Mama Tari dan Kayla serta Papa Darren yang mengangguk mantap seakan Adeeva harus percaya bahwa anaknya akan baik-baik saja bersama mereka.
"Pergilah, Va. Aku akan menjaga Reyn dengan baik," kata Almeera menepuk pundak sahabatnya.
Akhirnya dengan berat. Adeeva segera masuk ke dalam mobil mengikuti suaminya. Dia melambaikan tangannya dengan air mata menetes ketika tangan anaknya digerakkan oleh Bara seperti balas melambai.Â
"Tunggu Mama sama Papa yah, Nak. Mama bakalan jemput kamu."Â
~Bersambung
Kira-kira ada yang bisa nebak, kabar apa hayo? percayalah semua konflik bakalan selesai sebelum tamat.
Gak ada yang gantung, gak ada yang diperlambat.
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.Â