
...Suaranya yang datar dan matanya yang tajam. Mampu mendebarkan perasaan dan hatiku yang selama ini kosong....
...~Azzelia Qaireen...
...🌴🌴🌴...
"Papa." Sebuah suara khas itu membuat perhatian sepasang suami istri teralihkan.Â
Mata mereka saling berbinar. Beranjak berdiri mendekati brankar yang terdapat putri kedua mereka yang sedang berbaring.Â
"Putriku," pekik Almeera dengan wajah bahagia.
"Papa...Mama," lirih Bia dengan mata berkaca-kaca.Â
"Kamu sudah sadar, Nak," kata Almeera penuh syukur.
"Papa panggilin dokter dulu yah," ujar Bara yang langsung mendapatkan gelengan kepala dari Bia.
"Jangan tinggalin Bia sendirian. Bia takut," ucapnya dengan mata menatap ke sekeliling.
Almeera dan Bara tentu saling pandang. Dia bisa melihat ketakutan di wajah putrinya yang membuat kedua orang tua itu sama-sama khawatir.
"Papa gak kemana-mana kok. Papa disini nemenin, Bia."Â
Anak itu mengangguk. Dia mengulurkan tangannya dan Bara lekas menggenggamnya dengan lembut. Dia merasa hancur saat melihat tatapan anaknya tak sebahagia dulu. Senyuman dan celotehan yang biasa anak itu lontarkan, tak lagi bisa mereka lihat.Â
"Ayo tidur," pinta Bara dengan pelan.Â
"Bia takut mimpi itu datang lagi, Pa."
"Mimpi?" tanya Bara dengan bingung.
Bia mengangguk. "Bia mimpi dipukuli oleh seseorang. Mata Bia ditutup dan dibawa ke tempat yang gelap."
"Ustt." Almeera lekas menutup mulutnya dengan jari telunjuk.
Memberikan kode pada putrinya agar tak melanjutkan perkataannya. Almeera benar-benar tak sanggup. Ketakutan akan psikis dan mental anaknya terganggu, ternyata benar adanya.Â
"Sekarang sudah ada Mama dan Papa disini. Bia gak sendirian lagi," ucap Almeera dengan yakin.
"Janji yah, jangan tinggalin Bia."Â
"I promise, Honey. Mama sama Papa gak bakal ninggalin, Bia," ujarnya membuat anak itu terlihat sedikit lebih tenang.Â
...🌴🌴🌴...
Sedangkan di tempat lain, lebih tepatnya di sebuah ruang rawat yang lain. Seorang perempuan mulai mengerjapkan matanya. Telinganya menangkap suara orang yang sangat dikenali sedang berbincang.Â
Matanya mengedar. Ruangan serba putih dengan infus menggantung di atasnya membuat perempuan itu tahu dirinya sedang ada dimana. Perlahan ia berusaha untuk duduk tapi tiba-tiba dirinya merasakan sakit yang luar biasa di perutnya.
"Ustt," rintihnya dengan tangan yang berada di atas perutnya.
Suara itu tentu membuat ketiga orang yang sedang berbincang lekas menoleh. Mama Zelia, spontan berjalan ke arah anaknya yang sedang kesakitan.
"Tidurlah, Lia. Jangan duduk," kata Mama Zelia menahan tubuh anaknya.
"Perutku sakit, Ma," ujarnya dengan kening berkerut.
"Mangkanya tidur dulu, Nak. Ayo!"Â
Zelia mengatur nafasnya. Dia membaringkan tubuhnya dengan bantuan sang Mama.
"Jangan terlalu dipaksakan, Nak. Jahitan di perutmu masih basah jadi kamu harus hati-hati," nasehat papanya yang membuat Zelia mengangguk.
"Lia lupa sama luka ini," ujarnya kemudian mengangkat kepalanya.
Seketika jantungnya berdegup kencang. Saat tanpa sengaja matanya bersitatap dengan mata tajam milik pria yang sangat ia kenali.Â
Bagaimana bisa pria itu ada disini?
Bahkan bersama kedua orang tuanya.Â
Apakah sejak ia bangun dan mendengar suara orang berbincang dan tertawa itu muncul dari pembicaraan kakak dari sahabatnya dan kedua orang tuanya.
Jimmy yang merasa diperhatikan lekas mendekat. Dia berdehem untuk menetralkan jantungnya yang sama-sama berdegup tak karuan.
"Bagaimana kabarmu, Ze?"Â
Suara datar itu kenapa jadi canduku sekarang? Gumam Zelia dalam hati.
Dia seakan kesusahan untuk menjawab. Suaranya tercekat dan Zelia hanya bisa menganggukkan kepalanya.
Mama Zelia dan Papanya saling memandang. Keduanya menahan tawa saat melihat tingkah anak muda di depannya ini. Tak lama Papa Zelia berdehem yang membuat pandangan keduanya terputus.Â
"Nak Jimmy, saya minta tolong bisa?"Â
"Boleh, Om. Ada apa?" tanya Jimmy spontan sambil menetralkan detak jantungnya.
"Saya sama Mamanya Zelia belum sarapan. Apa bisa titip anak kami sebentar?"Â
"Ehh." Zelia tersentak kaget. "Lia bisa sendiri kok, Pa. Gak perlu dijagain."Â
"Boleh, Om."
"Hah." Zelia spontan mendongakkan kepalanya.
Dia menatap Jimmy dengan pandangan tak percaya. Zelia berpikir kakak dari sahabatnya akan menolak. Tapi ternyata di luar dugaan. Dengan entengnya Jimmy mau menjaganya dan menuruti keinginan kedua orang tuanya.Â
"Serius, Nak Jimmy?" tanya Mama Zelia sambil tersenyum. "Mungkin kami sedikit lama karena masih ingin pulang dan mengambil baju ganti."Â
"Iya, Tante. Saya serius. Saya akan menunggu Zelia sampai Tante dan Om kembali."Â
Senyuman lebar muncul di bibir Mama dan Papa Zelia. Kedua orang tua itu seakan berhasil membuat anaknya semakin salah tingkah. Apalagi saat melihat kedipan mata sang mama, membuat Zelia yakin jika ini akal-akalan mereka berdua.
Begini kalau punya orang tua yang friendly banget. Anaknya sendiri dijadiin korban mati kutu, gumamnya dalam hati dengan jantung yang terus berdebar.Â
"Mama pulang ya, Nak. Kalau butuh apa-apa minta tolong sama kakaknya Meera dulu," kata Mama Zelia lalu mencium pipi putrinya.
"Jangan sampai gagal. Mama juga pengen punya mantu," bisik Mama Zelia yang membuat perempuan itu geleng-geleng kepala.
Akhirnya kedua orang tua Zelia mulai keluar dari ruangan anaknya. Meninggalkan sepasang anak manusia yang saling diam dan tak tahu harus melakukan apa.Â
Jimmy masih berdiri di dekat brankar. Pria itu seakan ingin mengatakan sesuatu tapi tak tahu harus memulainya darimana. Hingga tak lama dari kepergian Mama dan Papa Zelia. Suara ketukan di pintu ruangan membuat keduanya menoleh.
Terlihat seorang suster meminta izin untuk memberikan jadwal sarapan pagi untuk Zelia.
"Terima kasih, Sus," kata Zelia dengan ramah.
"Sama-sama."
Setelah suster itu pergi. Zelia menatap Jimmy yang masih berdiri di dekat ranjangnya.
"Duduklah, Kak."Â
"Apa kamu ingin sarapan?" tanya Jimmy dengan menatap Zelia lekat.
Zelia benar-benar hampir dibuat gila. Pria itu berbincang santai tanpa tahu bahwa dirinya begitu grogi.Â
"Emm nanti saja. Aku nunggu Mama datang," sahut Zelia dengan gugup.Â
"Jika kamu menunggu orang tuamu, maka makanan itu akan dingin dan tak enak dimakan."Â
Zelia membenarnya ucapan kakak dari sahabatnya. Namun, melihat kondisinya, tak mungkin dia duduk dan makan sendiri.Â
"Ayo aku bantu kamu duduk," kata Jimmy lalu berjalan mendekati brankar Zelia.
"Eh tapi…"Â
"Jangan membantah. Apa kamu lebih suka di rumah sakit?"Â
"Sembarangan!" sembur Zelia dengan kesal.
Perlahan Jimmy mulai mengatur ranjang itu agar bisa membuat Zelia seperti orang duduk. Setelah itu dia mengambil bantal yang ada di sofa lalu membawanya menuju Zelia.
"Maaf. Aku ingin meletakkan bantal ini di punggungmu."Â
Zelia merasa gugup. Dia hanya bisa mengangguk. Saat tubuh Jimmy semakin dekat. Aroma khas pria itu tercium di hidungnya yang semakin membuat jantungnya tidak aman.Â
Zelia benar-benar gugup setengah mati. Apalagi ketika tangan itu menyentuh punggungnya, seakan ada sengatan listrik yang membuat hatinya berdesir.Â
"Sudah," ucap Jimmy yang membuat pikiran Zelia tersadar.
"Terima kasih."Â
"Ayo. Aku bantu kamu makan."Â
"Eh tidak usah," tolak Zelia dengan cepat. "Aku bisa makan sendiri."
Namun, baru saja Zelia hendak bergerak. Jahitan perutnya yang masih basah, membuatnya meringis.Â
"Jangan memaksa. Aku bisa menyuapimu."Â
Deg.
Kedua mata itu saling tatap. Mereka seakan saling menyelami pikiran antara satu dengan yang lain.Â
"Buka mulutmu," pinta Jimmy yang sudah menyodorkan makanannya.Â
Zelia tersadar. Dia menatap sesuap makanan itu lalu mulai membuka mulutnya. Jimmy dengan telaten menyuapi dengan pelan. Bahkan pria itu juga membantu Zelia minum obat hingga semuanya beres.Â
"Pintar. Jangan telat makan jika ingin cepat sembuh."Â
"Aku bukan anak kecil yang harus diingatkan!" ketus Zelia menyebikkan bibirnya.
Entah kenapa pria itu seakan menganggapnya seperti anak kecil saat menyuapinya tadi. Tanpa sadar keduanya mulai sedikit dekat dan tak kaku seperti pertama saling mengenal.Â
"Yaya. Kamu memang sudah dewasa. Jika masih kecil, aku tak akan terpesona pada dirimu," lanjutnya dalam hati di kalimat terakhir.
~Bersambung
Ya Tuhan, Bang! Kok Gass poll banget sih. Gemes nih haha.
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat nih ngetiknya.