Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Kebakaran



...Kebahagiaan seorang anak adalah tujuan utama orang tua. Kesedihan yang mereka alami akan menjadi pukulan telak di kehidupan kedua orang tuanya. ...


...~Almeera Azzelia Shanum...


...🌴🌴🌴...


Akhirnya setelah tiga hari dirawat di rumah sakit. Hari ini Bia diizinkan pulang ke rumah. Anak itu sudah jauh lebih baik. Bahkan selama berada disini, perkembangan mental Bia benar-benar dipantau oleh ahli psikiater. 


Anak itu memang masih jarang tersenyum. Namun, setidaknya Bia sudah tak takut jika ditinggal sendiri atau berada di keramaian. Baik Bara maupun Almeera, mereka tak pernah lepas menemani dan mengontrol putri mereka.


Bahkan Abraham, yang biasanya cuek terhadap siapapun. Berusaha menghibur adiknya dengan mengajaknya bercanda. Anak itu juga selalu berada di rumah sakit. Dia akan pulang ketika hendak berangkat sekolah saja. 


"Semua sudah dirapikan, Nak?" tanya Mama Tari yang ikut menjemput cucu kesayangannya.


"Udah, Ma. Udah Meera masukkan ke dalam tas." 


Mama Tari mengangguk. Lalu dia berjalan ke arah Bia yang sedang duduk dengan suaminya.


"Bia seneng gak, bisa pulang ke rumah?" tanya Mama Tari mengusap kepala cucunya.


"Iya, Nek," sahutnya dengan mengangguk.


Sebelum mereka kembali ke rumah. Keluarga Almeera berbelok menuju ruangan dimana Zelia berada. Perempuan itu belum diperbolehkan pulang karena jahitannya kemarin kembali terbuka saat Zelia memaksa berjalan ke kamar mandi sendiri.


"Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Almeera mendekati sahabatnya itu.


"Bosan. Kapan aku bisa pulang?" rengek Zelia memegang lengan sahabatnya. 


Almeera terkekeh. Dia sudah diceritakan oleh Mama Zelia kemarin ketika sahabatnya itu memaksa hingga pergerakan yang dibuat membuat perutnya yang baru dijahit mulai bergesekan. 


"Mangkanya. Jangan membantah kata Dokter. Kalau disuruh diam, ya diam. Tidur ya tidur." Nasehat Almeera membuat Zelia mencebikkan bibirnya.


"Kamu kira aku patung, huh." sungut Zelia kesal. "Tidur seharian disini bikin punggung aku sakit." 


"Ya. Hanya sementara, 'kan?"


"Yayaya." 


Perlahan pandangan Zelia beralih ketika melihat sosok Bia yang digendong oleh Bara. Dia tersenyum dan meminta suami sahabatnya itu mendekat.


"Hai, Princess. Sudah sehat, hm?" tanya Zelia dengan ramah.


Bia mengangguk. Lalu dia meminta turun ke ranjang Zelia dan duduk di samping wanita itu. 


"Tante bagaimana?" tanyanya dengan suara pelan.


Perkataan yang keluar dari bibir Bia, membuat semua keluarga Almeera saling pandang. Baru kali ini anak itu mau mengeluarkan suaranya. Biasanya selama di rumah sakit, Bia hanya berbicara ketika meminta minum atau makan. 


"Tante sudah sehat," ujar Zelia dengan wajah bahagia. "Nih buktinya Tante bisa gerak-gerak, 'kan?" 


"Iya." Bia mengangguk. "Perut Tante bagaimana?"


"Ehh." Zelia mendongak.


Dia menatap Almeera dan Bara bergantian. Zelia pikir anak itu sudah melupakan kejadian itu. Namun, ternyata Bia masih mengingat kejadian penusukannya dengan baik. 


"Tante," panggilnya lagi yang membuat pandangan Zelia turun. 


"Perut Tante baik-baik aja." 


"Tante gak boong?"


Zelia menggeleng. Dia meraih wajah Bia dan meminta anak itu mendekat. Dengan lembut sahabat Almeera itu mencium dahi Bia kemudian meminta anak itu untuk memeluknya.


"Bia gak boleh diam terus yah," kata Zelia membuat pandangan Bia meredup. "Disini ada Mama, Papa, Tante, Om, Kakek, Nenek dan yang lain. Bia gak sendirian lagi."


"Bia cuma takut, Tante," lirihnya yang membuat mata Zelia berkaca-kaca.


"Hey." Zelia kembali mengangkat wajahnya. 


Dia berusaha menahan air mata yang ingin keluar tanpa permisi. Perlahan Zelia mengusap pipi anak itu dan memberikan senyuman yang terbaik. 


"Mereka gak bakal berani jahatin Bia lagi. Percaya sama Tante." 


Bia masih diam. Namun, matanya terus menatap lekat wajah Zelia seakan ingin meneliti apakah wanita itu berbohong atau tidak. 


"Kalau Bia sedih pasti Mama Meera lebih sedih," katanya hingga membuat anak itu menatap Almeera yang menghapus air matanya.


Ibu mana yang tak hancur melihat kebahagiaan yang biasa anaknya berikan kini menghilang. Bibir yang biasanya berceloteh, kini lebih banyak diam. Wajah yang selalu menebar kebahagiaan itu seakan meredup karena rasa trauma yang ditinggalkan dari kejadian penculikan itu. 


"Apa betul, Ma?" 


"Ya." Almeera mengangguk. "Bia kalau banyak diam, Mama jadi khawatir." 


Bia masih diam. Namun, lama-lama kepala mungil itu mengangguk dan membuat semua orang yang ada disana bersyukur.


"Ayo senyum! Tante udah kangen liat senyumnya, My Princess," pinta Zelia dengan penuh harap.


Bibir yang mulanya datar perlahan tertarik. Membentuk sebuah senyuman yang beberapa hari ini menghilang. Canda tawa yang biasanya terdengar, kini mereka mencoba untuk mengembalikannya lagi.


"Ah. Makin manis banget. Diabetes Tante liat senyuman Bia terus." 


Diam-diam sejak tadi ada sosok pria yang menatap interaksi itu. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya kala melihat bagaimana lucunya wanita yang beberapa hari ini mengobrak abrik hatinya. 


Melihat bagaimana wanita itu merayu Bia. Membuat anak itu kembali tersenyum, entah kenapa memunculkan getaran yang semakin menjadi di hatinya. 


Rasanya jantungku semakin tak karuan melihat senyumnya. Apa aku sudah mulai jatuh cinta? Gumam Jimmy dalam hati dengan sudut bibirnya yang tersenyum. 


...🌴🌴🌴...


Setelah menjenguk Zelia. Mereka segera kembali ke rumah. Bara sengaja membawa anaknya langsung pulang karena tak mau Bia kembali diam atau traumanya kembali muncul.


"Aku antar anak-anak ke kamar dulu ya, Mas," kata Almeera saat Bara menurunkan barang-barang mereka.


"Ya, Sayang." 


Semua orang mulai masuk. Sedangkan Bara dan Jimmy mengeluarkan semua barang yang ada di bagasi lalu membawanya ke dalam rumah. Setelah itu, dia segera menyusul istrinya ke kamar putrinya untuk melihat kondisi anaknya itu.


Sama-samar Bara mendengar percakapan antara anak dan istrinya. 


"Bia mau tidur sama Mama, boleh?" 


Suara itu terdengar penuh harap. Namun, Bara mengerutkan keningnya tatkala istrinya tak menjawab.


"Kenapa?" tanya Bara memecah keheningan mereka.


"Bia minta tidur sama kita, Mas. Apa boleh?" tanya Almeera menatap suaminya.


"Kenapa masih tanya sama Mas? Untuk Bia dan Abraham pasti boleh," ujar Bara yang membuat senyuman tipis terbit di bibir Bia. 


Bara dan Almeera bersyukur. Keduanya benar-benar berterima kasih pada Zelia karena wanita itu mampu membujuk putrinya. 


"Ayo kita ke kamar! Setelah itu Bia harus istirahat," ucap Bara lalu meraih anaknya.


Ketiganya segera menuju ke kamar utama. Membaringkan tubuh mungil Bia di atas ranjang. Lalu keduanya segera menyusul. Namun, saat Bara hendak berbaring, suara panggilan dari ponselnya membuat pria itu mengurungkan niatnya.


Keningnya berkerut saat menatap nama Reno di layar ponselnya. Tanpa menunda pria itu segera mengangkatnya dan sedikit menjauh. 


"Ya, Reno?" 


"Kamu dimana, Bar?" tanya Reno dengan nada sedikit berteriak. 


Bara semakin penasaran ketika mendengar suara ramai di seberang telepon. Ada dimana temannya itu.


"Aku di rumah. Kenapa, Ren? Disana ramai banget."


"Apa kamu bisa ke cafe sekarang?" tanya Reno dengan suara yang seakan terdengar ragu. 


"Memangnya ada apa?" 


"Cafe kebakaran, Bar. Kamu harus kesini secepatnya!" 


 


~Bersambung


Dari kemarin pada tanya, balesannya buat Bara apa, Kak? kok enak banget, Narumi dapet balasan, Bara gak dapet.


Ini novel masih bersambung. Jadi pelan-pelan yah. Aku gak bisa upload langsung banyak.


Eh aku juga mau jawab, kemarin ada yang bilang. Bedanya pelakor di dunia nyata sama novel ya begini. Kalau novel, pelakornya kalau gak mati ya cacat. Kalau di dunia nyata, cari mangsa baru.


Aku jawab yah!


Sebenarnya Narumi nyata itu, di dunia masih hidup. Masih bernafas. Masih sehat. Bahkan masih foya-foya dan masih jadi istri kedua Mas Bara. Walau udah gak dipeduliin karena dicerai dia gak mau.


Kenapa di novel ini aku buat cacat?


karena ada pembaca yang sampai sumpahin aku biar hidupku kayak Almeera.


Ya Allah, rasanya sakit baca komentar ampek disumpahin begitu.


Kalau cuma nyumpahin pemeran di novel, aku masih anggap angin lalu sambil buat pelajaran aku.


Tapi kalau udah disumpahin? rasanya sakit banget. Bahkan aku sempat mau hiatus tapi karena inget aku punya pembaca yang lebih sayang aku. Aku coba bertahan.


Gakpapa kalian mau hujat tokoh novel, aku malah seneng. Berarti ceritaku ngena di hati kalian. Tapi kalau kalian hujat aku? cobalah memutar posisi kita. Kamu jadi penulis. Aku jadi pembaca dan aku hujat kamu. Apa kamu sanggup?