Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Pria Misterius



...Baru selesai masalah yang lain. Kini muncul masalah yang baru. ...


...~Gibran Bara Alkahfi...


...🌴🌴🌴...


"Ada apa, Mas?" tanya Almeera yang sama-sama tak jadi membaringkan tubuhnya. 


Wanita itu bisa melihat perubahan pada ekspresi wajah Bara. Pria itu terlihat panik dan membuatnya semakin penasaran. 


"Aku harus pergi, Ra," kata Bara mulai mengantongi ponselnya ke dalam saku.


Spontan ucapan itu membuat Bia yang semula berbaring ikut terduduk.


"Mas mau kemana?" tanya Almeera memicingkan mata menatap suaminya curiga. 


Bara spontan menghentikan aktivitasnya saat mendengar nada suara yang berbeda dari istrinya. Dia mendongakkan wajahnya dan melihat Almeera yang sedang menunggu jawabannya. 


Bukannya pria itu tak ingin menceritakan apa yang baru saja dia dengar. Namun, Bara tak mau istrinya ikut merasa khawatir. Tapi melihat Almeera yang seperti curiga padanya, membuat pria itu segera mendekati istrinya. 


Bara menghela nafas berat. Dia merasa ujian mulai berdatangan di keluarganya. Saat satu masalah selesai, muncul lagi masalah yang baru. 


"Mas mau ke cafe, Sayang," ujar Bara dengan berusaha menutupi ekspresi wajahnya yang khawatir.


"Ngapain?" 


Saat Bara hendak menjawab. Suara pintu yang terbuka dengan kencang membuat pandangan keduanya menoleh. Di sana, terlihat putra pertama mereka dengan nafas ngos-ngosan.


Almeera mengerutkan keningnya. Dia menatap putranya yang seperti habis berlari itu.


"Ada apa, Nak? Kenapa tak ketuk pintu dulu?" tanya Almeera saat melihat tingkah anaknya yang tak seperti biasanya.


"Apa Papa sudah lihat berita?" 


"Berita?" ulang Almeera semakin tak mengerti. "Berita apa?" 


Tanpa menjawab. Abraham segera menyalakan televisi yang berada di kamar kedua orang tuanya. Saat layar itu mulai menyala, langsung terlihat tayangan tentang kebakaran yang terjadi di cafe milik Bara.


Cafe yang memang terkenal itu pasti menjadi sorotan para pencari berita. Ini menjadi sasaran empuk media untuk disebarluaskan. 


"Mas ini apa?" tanya Almeera dengan khawatir.


Jika sudah seperti ini, Bara tak bisa menutupinya lagi. Niat hati dia ingin membereskan semuanya sendiri tapi diurungkan. Bara yakin jika sudah begini, Almeera pasti menunggu penjelasannya. 


"Cafe di kota kebakaran, Ra. Aku juga baru tau dari Reno," ujar Bara menjelaskan.


"Jadi yang telpon barusan…"


"Ya. Itu dari Reno," sela Bara dengan cepat.


Almeera menggelengkan kepalanya. Dia menatap berita itu dengan jantung berdegup kencang. Cafe yang dibangun dari jerih payah suaminya terlihat hangus merata di lahap si jago merah.


Almeera segera menatap suaminya yang terlihat begitu tertekan. Dia bisa membayangkan bagaimana perasaan Bara sekarang. Pasti saat ini pria itu sedih dan khawatir bercampur menjadi satu.


"Sabar, Mas. Aku yakin semua pasti baik-baik aja," ucap Almeera menarik tubuh Bara dan memeluknya.


"Aku merasa gagal, Ra. Cafe yang pertama kali aku bangun harus hancur tak bersisa," lirih Bara dengan membalas pelukan istrinya. 


"Aku tau, Mas. Aku tau perjuangan kamu," dahut Almeera lalu melepas pelukan mereka. 


Dia menangkup kedua wajah Bara dan mengusap kedua pipinya dengan lembut.


"Ingat kata Abi Hafiz. Semua yang ada di dunia ini hanya titipan semata. Jika nanti Allah menariknya maka kita harus ikhlas," ucap Almeera menirukan nasehat papa mertuanya. 


Entah kenapa mendengar nasihat istrinya sendiri. Membuat hati Bara yang mulanya terasa berat  perlahan mulai menerima. 


Bara menganggukkan kepala mengerti, sampai hal itu membuat Almeera tersenyum bahagia. Inilah Bara suaminya. Bara yang selalu menurut pada nasehatnya. Bara yang akan panik jika tentang pekerjaannya. Akhirnya bisa ia lihat dan rasakan kembali. 


Almeera bersyukur. Tuhan masih mengetuk hati suaminya. Tuhan masih memberikan kesempatan keluarganya untuk memperbaiki semuanya. Bahkan Tuhan masih memberikan kebahagiaan pada kedua anaknya hingga tak menjadi anak broken home. 


"Terima kasih, Sayang. Mas berangkat dulu yah," pamit Bara lalu memberikan kecupan lembut di dahinya. 


"Hati-hati, Mas. Meera doain semoga semuanya lancar dan tak ada korban." 


Akhirnya Bara mulai meninggalkan rumah mereka. Dia segera mengendarai mobilnya menuju cafe tempat dimana dia mencari nafkah selain di perusahaan. 


Saat Bara baru saja menginjakkan kakinya di lokasi kebakaran. Terlihat banyak sekali kerumunan orang yang ingin melihat kejadian viral itu. Bara bahkan melihat para damkar yang sedang berusaha mematikan si jago merah. 


Bangunan yang dulunya cantik dan unik, sudah berubah menjadi hangus terbakar. Tak Ada yang tersisa apapun di sana. Terlihat sekali jika api benar-benar melahap cafe yang menjadi tempat pertama kalinya dia membangun sendiri menggunakan tabungan uang jajannya. 


"Lo baru dateng?" tanya Reno menepuk bahu Bara yang melamun menatap bangunan mereka.


Bara menarik nafasnya begitu dalam. Dia mengangguk lalu menatap sosok sahabat sekaligus tangan kanannya di perusahaan.


"Bagaimana bisa terjadi, Ren? Apa ini konsleting atau memang disengaja?" tanya Bara menatap sahabatnya curiga. 


Jujur Bara dan Reno adalah orang yang begitu teliti. Mereka selalu menyiapkan semua bahan dengan yang berkualitas dan mencoba menunjukkan ruangan agar terlihat bersih dan rapi. Semua yang ada di cafe, selalu dipantau oleh mereka berdua.


"Hal itu masih diselidiki, Bar," ujar Reno menjelaskan. "Menurut gue gak mungkin kalau cuma resleting biasa. Pasti ada yang sengaja ingin jatuhin, Lo." 


"Gue juga berpikir begitu," sahut Bara setuju pada pendapat sahabatnya.


"Lo harus selidiki sampai tuntas," ucap Reno dengan serius. "Jangan sampai cecunguk itu lari ke perusahaan dan merusak semuanya."


...🌴🌴🌴...


Sedangkan di sebuah ruangan bernuansa putih. Terlihat seorang pria baru saja datang memasuki kamar rawat itu. Dia menatap sosok perempuan yang tengah berbaring dengan pandangan yang sulit diartikan.


Pria itu mulai menurunkan tubuhnya. Dia menarik  sebuah kursi dengan pelan agar tak menimbulkan suara. Lalu setelah itu, dia mulai menduduki tubuhnya di sana. 


"Narumi," panggil suara berat itu yang membuat pemiliknya spontan membelalakkan mata.


Wanita yang mulanya diam spontan berusaha beranjak duduk. Walau kesusahan, Narumi akhirnya bisa menegakkan tubuhnya meski harus dengan cengkraman tangan yang kuat untuk menghilangkan rasa ketidakberdayaannya ini. 


"Kenapa kau baru kemari?" Seru Narumi dengan kemarahan yang luar biasa. 


"Maaf aku baru bisa menjengukmu, Rumi," sahut pria itu dengan nada terdengar khawatir.


Narumi mulai menangis. Bahunya bergetar menandakan bahwa ia benar-benar sedang dalam keadaaan terendah. 


Pria itu lekas memeluk tubuh mantan istri Bara. Dia mengelus punggungnya erat, saat Narumi membalas pelukannya.


"Aku sudah tak memiliki apa-apa, Mas. Kakiku hilang, mataku buta dan wajahku sangat jelek," ujar Narumi dengan menangis.


"Ustt. Jangan katakan apapun!" Seru pria itu lalu melepaskan pelukannya.


Pria itu perlahan menangkup wajah Narumi. Mengelusnya dengan lembut lalu menghadiahkan kecupan sayang di dahinya.


"Ada aku disini, Rumi. Kita akan membalas perbuatan Bara sama-sama." 


~Bersambung


Lalalala kira-kira siapa dia?


Tenang gak ada konflik berat kok. Ini cuma penyelesaian dari semua masalah dah. Habia itu tamat, ehhh.


Kagak-kagak. Gak tamat.


Jangan lupa klik like yah, dikomen juga yang banyak. Biar author semangat ngetiknya.