Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Pertemuan Kedua



...Senyuman dan kelembutan hatinya, membuat sesuatu dalam diriku berdesir hebat....


...~Jimmy Harrison...


...🌴🌴🌴...


Almeera memukul lengan sang suami. Dia mengibaskan kakinya yang sakit karena terlalu memaksa memakai sepatu yang dulu pernah dibelikan Bara untuknya. Niat hati ingin mencoba ternyata terlalu dipaksakan membuat kakinya sakit.


"Aku sudah bilang, 'kan? Jangan dipaksakan. Ini sudah terlalu sempit," kata Bara melempar sepatu itu ke lantai.


"Jangan dibuang dong, Mas!" sembur Almeera dengan bibir mengerucut. 


"Siapa yang membuang? Tuh sepatunya aja masih kelihatan!" ujar Bara sambil menunjuk barang yang pernah dia belikan untuk Almeera. 


Akhirnya ibu dua anak itu menyandarkan punggungnya di sofa ruang tamu. Dia mengelus kakinya yang memerah dan membuat Bara tak tega. 


Pria itu segera berjalan menuju kamar utama dan mengambil minyak kayu putih untuk mengoles kaki istrinya yang terlihat lecet. Setelah itu dia segera meraih kaki Meera dan meletakkannya di atas paha. 


"Eh mau ngapain, Mas?" tanya Almeera sungkan.


"Diamlah! Aku ingin mengobati kakimu," ucap Bara dengan pelan.


"Tapi itu hanya memerah, Mas. Nanti juga…" 


"Usst." Bara menutup mulutnya meminta sang istri diam.


Kemudian dia segera membuka tutup minyak kayu putih dan mulai membalurkannya di kaki sang istri. Pelan sambil memijatnya secara lembut hingga lambat laun membuat kaki Almeera mulai rilex.


Tentu semua yang dilakukan Bara membuat Almeera tersenyum tipis. Suaminya itu masih tetap sama. Begitu perhatian kepadanya apapun keadaan yang terjadi. Namun, kesalahan yang Bara lakukan tak semudah itu untuk dilupakan. 


Almeera berharap semoga pria itu tak lagi bosan kepadanya. Dia juga memanjatkan doa pada Tuhan, agar hatinya diberikan keikhlasan dan menerima suaminya kembali. 


"Ra," panggil Bara yang membuat Meera terkejut.


"Ya, Mas?" 


"Kenapa melamun?" tanya Bara sambil menatap lekat manik mata Meera. 


"Aku hanya berpikir ternyata Tuhan sebaik itu sama kamu, Mas," jeda Almeera sambil menurunkan kedua kakinya ke lantai. "Dia memberikan kamu kesempatan dan memperlebar kesabaran hatiku. Dia mengabulkan doa-doamu agar aku bisa menerima kesalahanmu di masa lalu."


"Apa kamu menyesal telah memberiku kesempatan?" tanya Bara dengan pandangan sendu.


Almeera menggeleng. Dia meraih kedua tangan sang suami dan menciumnya secara bergantian. 


"Aku berharap, semoga buah kesabaranku bisa menuntunku ke surga," kata Almeera dengan sungguh-sungguh. "Mungkin aku salah satu wanita yang di berikan kekuatan lebih untuk menghadapi suami sepertimu, Mas." 


"Ya." Bara balas menggenggam. "Kamu adalah salah satu wanita yang Tuhan pilih menjadi wanita istimewa." 


"Jadi kamu harus bersyukur punya aku, Mas. Jangan disia-siakan lagi. Wanita kayak aku langka loh!" 


Bara mengangguk. Dia mengelus pipi Almeera dengan tersenyum. 


"Aku tak akan menyia-nyiakan kalian lagi. Cukup sekali aku melakukan kesalahan dan aku berusaha belajar dari kesalahan itu." 


"Aamiin. Semoga Tuhan menuntunmu menjadi orang yang lebih baik." 


"Aamiin." 


...🌴🌴🌴...


Di tempat lain, terlihat seorang pria tengah berjalan dengan kedua keponakannya. Jimmy, pria itu mengajak Bia dan Abraham ke mall. Dia ingin mencari kado untuk teman markasnya sekaligus mengajak Bia kecil bermain. 


Saat ini, ketiga orang itu tengah berada di salah satu store sepatu. Jimmy berkeliling sambil menggandeng tangan keponakan kecilnya. Sedangkan Abraham, remaja itu juga ikut berkeliling sendiri dan melihat-lihat barang yang dipajang di sana. 


"Om kaki Bia capek," keluh anak kedua pasangan Bara dan Almeera. 


Spontan ucapan Bia membuat Jimmy menunduk. 


"Yaudah. Kamu duduk aja yah," ucap Jimmy menuntun keponakannya di sebuah sofa yang ada disana. 


Bia menggeleng. Hal itu membuat dahi Jimmy berkerut.


"Why?" 


"Bia pengen beli es krim, itu!" tunjuknya pada sebuah kedai es yang ada tepat di depan store sepatu ini. 


"Boleh. Ayo beli!" ajak Jimmy dengan santai.


Bia menggeleng. Dia menengadahkan tangannya di hadapan Jimmy yang semakin membuat pria itu tak mengerti.


"Om cari sepatu aja disini. Biar Bia beli sendiri," kata Bia dengan wajah polosnya.


"Eh tapi nanti kalau kamu hilang. Bagaimana?" tanya Jimmy dengan khawatir.


Jimmy menatap keluar. Memang benar, kedai es itu terlihat dari sini. Namun, keadaan mall lumayan ramai. Tentu dia tak mau jika keponakannya terjadi sesuatu bila membelinya sendiri. 


"Biar Abra temani Bia, Om." Tiba-tiba terdengar suara ponakan laki-lakinya yang berdiri di dekat Bia. 


"Nah!" Bia mengacungkan jempolnya. "Om cepetan pilih sepatunya terus kita main time zone." 


Jimmy geleng-geleng kepala. Dia baru paham jika keponakannya itu sudah tak sabar ingin bermain. Akhirnya dia segera mengizinkan Abra dan Bia ke kedai es, sedangkan dirinya memilih sepatu mana yang cocok. 


"Adek mau yang coklat, Bang!" seru Bia dengan mata berbinar menatap deretan es krim yang terpajang di sana.


"Terus apalagi?" 


"Kasih vanilla juga yah," ujarnya dengan heboh.


"Oke." 


Abraham segera memesan dua es krim untuknya dan sang adik. Kemudian keduanya dengan sabar menunggu pesanan mereka sampai terdengar sebuah suara perempuan memanggil.


"Bia." 


"Tante Zelia," pekik Bia dengan wajah bahagia.


Anak itu lekas memeluk Zelia yang mensejajarkan tubuhnya. Dua perempuan itu terlihat begitu akrab saat Bia dengan hebohnya bertanya kemana saja Zelia selama ini.


"Tante, 'kan, kerja di salon, Sayang. Mangkanya gak bisa ketemu kamu sama Mama di kantor seperti Tante Adeeva," sahut Zelia menjelaskan.


"Tapi Mama sama Adek udah gak pernah ke kantor," ujar Bia menceritakan.


"Oh yah?" 


Bia mengangguk, "Mama lagi urusin wanita ular di rumah. Jadi yang di kantor ada Om Tampan." 


"Siapa wanita ular?" tanya Zelia dengan heran. 


Gadis itu segera meraih tubuh anak kedua Almeera dan menggendongnya dengan sayang. Bahkan sesekali Zelia mencium pipi chubby Bia karena anak itu sangat menggemaskan. 


"Itu loh. Mantan istrinya Papa." 


"Oh si Narumong?" 


"Nah iya." Bia mengangguk. "Kok Tante tau?" 


"Tau dong," sahut Zelia dengan jelas. "Tapi ngomong-ngomong si Narumong kok bisa di rumah Bia?" 


"Ceritanya panjang, Tante. Nanti Tante ikut aku aja ke rumah. Bagaimana?" 


"Memangnya boleh?" tanya Zelia menahan senyumnya.


"Boleh dong. Tante Zelia gak pernah ke rumah. Jadi nanti ikut yah?" 


Saat Zelia hendak menyahut. Sebuah suara seorang pria membuat kedua perempuan itu berbalik. Tubuh Zelia mematung saat tatapan matanya bersitatap dengan manik mata tajam yang beberapa hari ini mampu mengorak-arik isi pikirannya.


Ya pertemuan pertama di rumah sakit, meninggalkan bekas pikiran dalam otak Zelia. Perempuan itu juga sampai terbayang-bayang wajah Jimmy yang tanpa ekspresi.  


"Om." Bia memanggil Jimmy heboh saat tubuh pria itu ada di belakang Zelia.


"Ayo sini! Bia udah besar kasihan kalau gendong…" 


"Ini Tante Zelia, Om," sela Bia mengenalkan.


"Ya." Jimmy mengangguk. "Om udah pernah ketemu." 


"Wahh." Bia menatap berbinar. Dia memandang Om Jimmy dan Tante Zelia bergantian.


"Jadi kalau udah ketemu, udah kenalan dong?" 


"Udah, Sayang." 


"Berarti Tante Zelia boleh ikut kita main ya, Om?" 


~Bersambung


Kira-kira Zelia mau ikut gak yah?


Aku kasih kisah manis Bang Jimmy juga yah. Tapi konflik dan kisah utamanya nanti di novel Bang Jimmy sendiri.


Ini awal pertemuan Bang Jimm dan Zelia serta kelanjutannya bakalan ada di sini sampai nanti lanjut ke novel baru khusus dia.


Oh iya satu lagi, yang bilang cerita ini bertele-tele. Huftt aku ulangi sekali lagi, Narumi ini orangnya suka drama. Dia itu licik jadi apapun pasti dilakuin. Terus kisah ini nanti bukan hanya ngisi kisahnya Almeera Bara aja. Aku kasih sentuhan kisah Adeeva, Reno, Bang Fadly dan Bang Jimm. Tapi aku usahain novel ini tamat di bulan ini.


Okey, paham yah? terima kasih yang utama. Untuk semua pembaca setia novel ini. Inget! aku bisa aja adain give away dadakan tanpa s&k. Kalian rajin komen dan like bisa aja jadi pemenangnya.


Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat ngetiknya.