
...Percintaan mereka memang begitu membara dan hal itu sengaja dilakukan agar tak ada lagi orang ketiga di antara mereka....
...~Jblack ...
...🌴🌴🌴...
Suasana rumah tentu terasa sepi. Hanya ada mereka berempat yang mulai memasuki bangunan berlantai dua tersebut. Almeera segera membawa anak-anaknya masuk sedangkan Bara, pria itu menutup pintu pagar dan pintu rumah.
Sang pemilik rumah tentu tak akan pulang malam ini. Syakir akan menjaga Humaira di puskesmas sampai wanita itu dikatakan baik-baik saja oleh dokter.
"Mau makan sekarang?" tanya Almeera yang meletakkan kantong plastik hitam itu di atas meja makan.
Setelah mereka dari mini market. Almeera memang sengaja mampir di warung pinggir jalan yang menjual makanan. Entah kenapa udara dingin di Tumpang, membuat mereka terus merasa lapar.
Padahal baru saja keempatnya makan sebelum membawa Humaira ke puskesmas. Namun, saat ini perut mereka kembali berbunyi.
"Iya, Ma," sahut keduanya bersamaan.
Abraham menghidupkan layar televisi yang ada di ruang keluarga. Mereka juga duduk di atas karpet berbulu yang memang sudah digelar di sana.
"Mas juga, mau makan?" tanya Meera pada Bara yang baru saja muncul.
"Iya, Sayang. Disini rasanya lapar terus," ujar Bara mendudukkan dirinya di samping anak-anak.
Almeera segera menuju ke dapur. Dia mengambil piring, sendok dan gelas lalu membawanya ke ruang keluarga. Istri Bara itu tentu menyiapkan semuanya dengan cepat.
Lalu meletakkan di depan anak-anak dan suaminya agar mereka segera makan.
"Mama gak makan?" tanya Bia yang mulai menyendokkan nasi di mulutnya sambil menatap mamanya yang sedang memperhatikan mereka.
"Mama disuapin Papa," celetuk Bara yang membuat Abraham mengacungkan jempolnya.
"Pacaran aja terus! Anak-anak sebagai obat nyamuk," sindir Abraham sambil menatap layar televisi yang sedang menayangkan permainan bola basket.
Bia mengangguk setuju yang membuat pasangan suami istri itu hanya terkekeh malu.
"Memangnya Papa gak boleh pacaran sama Mama?" tanya Bara memancing.
"Boleh tapi jangan mencemari mata kita," ujar Bia yang membuat bola mata Almeera dan Bara membola.
Mereka tak percaya anak-anaknya saling berdemo. Namun, Almeera menyadari jika sikap suaminya saat ini lebih manja daripada kedua anak-anaknya.
Almeera tak marah.
Perempuan itu tak mengeluh.
Dia sadar bahwa suaminya pasti merindukan bermanja pada dirinya setelah kejadian di antara keduanya.
"Besok kita jalan-jalan, 'kan, Ma?" tanya Bia menatap mamanya.
"Tentu."
"Terus Om Syakir bagaimana?"
"Ya jagain Tante Humai. Kita jalan sendiri aja. Bener, 'kan, Pa?" tanya Almeera pada Bara.
Ayah dua anak itu mengangguk. Rencana mereka tak akan mundur hanya karena Syakir yang menjaga istrinya. Keempatnya besok akan menuju ke bagian Kota Batu tempat banyaknya Kota Wisata berada.
"Udah sekarang kalian makan. Habis itu pergi gosok gigi lalu tidur. Biar besok bisa jalan-jalan sepuasnya," ucap Almeera yang langsung dituruti oleh mereka.
...🌴🌴🌴...
Suasana rumah terasa sepi. Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Terlihat seorang pria meregangkan otot-otot tubuhnya. Dia mencoba mencari guling hidup yang sejak tadi dia peluk.
Kosong!
Dia meraba sisi ranjangnya dan memang benar. Tak ada siapapun disana. Hal itu tentu membuat pria yang sejak tadi terlelap mulai membuka matanya.
Dia mendudukkan dirinya. Mengedarkan pandangan mencari sosok istri tercinta. Tak ada siapapun disana hingga hal itu membuatnya turun dari ranjang lalu membiarkan tubuh bagian atasnya polos.
Tadi mereka memang langsung tidur tanpa melakukan apapun. Mengingat besok mereka akan jalan-jalan. Membuat Bara mengalah demi anak-anaknya.
Dia segera keluar dari kamar. Melihat ke dalam kamar anak-anaknya tapi tak ada istrinya di sana. Akhirnya Bara menuruni tangga. Lalu ia mengedarkan pandangannya dan hanya sunyi sepi.
Tak menemukan istrinya. Bara memilih menuju ke dapur. Dia membuka lemari es yang ada di sana dan mengambil minuman yang disimpan istrinya.
Bara membulatkan matanya. Dia menatap tak percaya istrinya yang dengan asyiknya mencomot es krim malam-malam. Sedangkan dirinya kesana kemari mencari keberadaannya.
"Sayang!"
"Ya?" Almeera lekas mendongak.
Dia nyengir kuda saat melihat Bara menggelengkan kepalanya menatap tak percaya.
"Kamu ngapain disini?"
"Nih!" Almeera menunjukkan kotak es krim di tangannya. "Aku gak bisa tidur kebayang sama es krim ini."
Almeera segera menyendokkan es krim itu lalu menyerahkannya pada Bara.
"Buka mulut!" pinta Meera dengan manja.
Bara lekas membuka mulutnya dan menerima suapan sang istri. Rasa dingin dan manis begitu memenuhi lidahnya yang membuat matanya terpejam sebentar.
Hingga tiba-tiba sebuah tangan mendorong dirinya sampai pantat Bara menabrak meja makan. Pria itu menatap istrinya yang entah hendak melakukan apa.
"Mau lagi?" tanya Almeera menawarkan es pada Bara.
"Iya, Sayang."
Saat Bara hendak menerima suapan itu lagi. Tiba-tiba Almeera menjatuhkan es krim itu di atas dada sampai perutnya dengan sengaja.
"Upss." Almeera pura-pura terkejut. "Maaf, Sayang. Aku akan membersihkannya."
Saat Bara hendak menolak. Tangan istrinya sudah menahan tubuhnya agar tak bergerak lalu wajah Almeera menunduk.
Tiba-tiba tubuh Bara menegang kaku. Saat dia merasakan usapan lidah nakal di atas dadanya yang membuatnya semakin melambung tinggi.
Lidah itu semakin menari-nari. Seakan es krim yang dengan sengaja dijatuhkan di atas dada sampai perut Bara dibersihkan dengan lidah miliknya.
Bara mendongak ke atas. Saat gairah itu kembali muncul dengan sendirinya. Ditambah naga miliknya mulai menggelembung siap memberontak meminta dilepaskan.
"Sayang!" bisik Bara begitu seksi.
"Sudah selesai." Almeera menegakkan tubuhnya.
Dia menjilat bagian bibirnya saat merasakan belepotan. Hal itu tentu membuat Bara semakin memanas. Namun, ia tak mau mengalah. Bara segera menggendong tubuh Almeera dan mendudukkannya di atas meja makan.
"Sekarang gantian! Aku akan memakanmu, Sayang," ujar Bara dengan kedipan nakalnya.
Ayah dua anak itu segera meraih kotak es krim dan sendoknya. Lalu dia mengangkat kedua kaki istrinya ke atas meja makan hingga terpampanglah surga dunia milik Almeera di hadapannya.
Bara tersenyum smirk. Dia mengelus area itu sampai membuat istrinya menjerit pelan. Hingga saat Bara sudah merasakan basah di tempat favoritnya. Pria itu segera menyendokkan es krim coklat itu lalu menumpahkan di perut bagian bawah.
"Aww dingin!" jerit Almeera terkejut dengan tubuh mengangkat sedikit.
"Jangan bergerak atau es krim ini akan semakin membuatmu dingin," ancam Bara yang menunduk Almeera mengangguk patuh.
"Lakukan semaumu, Mas. Aku dan tubuhku ini memang milikmu," ujar Meera dengan seksi.
Bara mulai mendekatkan kepalanya. Namun, bukannya merangsek masuk melainkan pria itu hanya menatapnya saja dengan bibir tersenyum miring.
Almeera yang tak sabar tentu mengangkat miliknya agar mendekati bibir Bara. Namun, hal itu membuat Bara tersenyum geli.
"Ayo, Mas!"
"Ayo apa?" goda Bara dengan jahil.
"Mas!" rengek Meera tak sabaran.
"Katakan. Kamu mau apa, Sayang?"
"Makan aku, Mas. Makan aku!"
~Bersambung
Yah yah lanjut besok, hahaha.
Cari suami sama istri dulu aja. Terus lanjut besok kalau khilaf.
Jangan lupa tekan like, komen dan vote. Biar author semangat ngetiknya.