Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Happy Wedding



...Ketika statusmu sudah berganti dengan namaku di akhir namamu. Maka di detik itu, tanggung jawabmu sudah berganti di pundakku. ...


...~Reno Akmal alfayyadh...


...🌴🌴🌴...


"Saya terima nikah dan kawinnya, Adeeva Khumairah Binti Nahla Khumairah dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai." 


"Bagaimana para saksi, sah?" 


"SAH."


"Alhamdulillah." 


Wajah bahagia tentu saja jelas kentara pada Reno. Jantungnya yang sejak tadi berdegup kencang dengan perasaan gugup begitu menyelimuti dirinya.  


Dia tak menyangka jika hari ini, detik ini, menit ini statusnya sudah berganti sebagai seorang suami dari Adeeva Khumairah. Wanita menyebalkan yang ia pikirkan selalu merepotkan ternyata mampu mengetuk hatinya yang sudah lama padam.  


Wanita yang penuh kesederhanaan. Kehidupannya yang tragis serta pendirian yang kuat. Dibaliknya terdapat kenangan yang sangat menyakitkan. Tembok besar yang diciptakan oleh Adeeva ternyata mampu Reno dobrak dengan cintanya.


Hingga akhirnya. Disinilah mereka berada. Di sebuah masjid besar yang menjadi pilihan Adeeva sebagai tempat ijab kabul. Entah kenapa ia ingin, Reno mengucapkan kalimat sakral itu di rumah Allah yang suci ini.


Dia ingin Reno mengingat setiap kali dia akan menikahinya. Bahwa disinilah, di rumah Allah. Reno meminta Adeeva sebagai istri yang akan menemaninya sepanjang waktu.


Sepanjang takdir Allah yang akan memisahkan keduanya!


"Pihak wanita silahkan keluar dan bertemu suaminya," kata seorang pria paruh baya yang menikahkan Adeeva dengan Reno. Beliau ini wali hakim karena memang bagaimanapun nasab Adeeva hanya ada pada ibunya.


Maka dari itu! Wahai kaum wanita. Jagalah dirimu dan jangan terjerumus. Berhati-hatilah karena apa yang menimpamu juga, akan membuat anakmu ikut merasakannya. 


Reno berdiri dengan tangan berkeringat dingin. Dia menatap ke depan menunggu wanita yang baru menyandang status istrinya itu keluar. Dia ingin melihat bagaimana wajah Adeeva saat ini.


Wajah yang hampir satu minggu tak ia temui. Ya, Ibu Adeeva meminta keduanya dipingit. Itupun karena permintaan Almeera yang mengatakan keduanya sangat berbahaya jika dibiarkan berdua.


Namun, apa yang dikatakan memang benar. Reno sendiri saat mengajak Adeeva ke rumahnya rasanya ia ingin membuat penyatuan, tapi dirinya tak mau merusak wanita yang ia cintai.


Pantang untuknya meniduri wanita sebelum menikah! Dan itu sangat amat jauh berbeda dengan Syakir. 


"Pengantin wanita dipersilahkan!" 


Reno tersadar dari lamunannya. Dia mendongak hingga tatapannya bertemu pandang dengan sepasang mata milik istrinya itu.


Ah istri!


Itu berarti dia berhak atas diri Adeeva. Memiliki wanita itu lahir dan batin begitupun sebaliknya.


Mata itu terus memandang tanpa kedip. Sampai Adeeva berdiri sempurna di depannya, Reno tak menurunkan pandangannya sekalipun. Kecantikan istrinya itu benar-benar membius sosok Reno 


Eh bukan Reno saja! Tapi semua yang ada di sana mengakui jika Adeeva sangat amat terlihat cantik. 


Perlahan, Almeera sebagai pengiring menuntun Adeeva untuk berdiri berhadapan dengan Reno. Hal itu semakin membuat pasangan pengantin baru itu gugup luar biasa.


Mereka sama-sama malu-malu kucing tapi mau, hahaha.


"Cium tangannya yah tapi tahan karena kami mau ambil fotonya," kata seorang fotografer yang disewa oleh Reno untuk mengabadikan momen sekali seumur hidup dalam dirinya.


Perlahan, tangan itu mulai bersentuhan. Entah kenapa saat ini keduanya merasa seperti ada aliran listrik ketika kulit itu menempel.


Berbeda sekali saat masih pacaran. Keduanya merasa sudah biasa saja. Namun, kali ini sangat jauh berbeda.


Seakan keduanya memahami bila sentuhan ini ternyata membuat keduanya mendapatkan pahala.


Apa yang haram sebelum menikah maka akan jadi halal ketika kalian sudah menikah! 


Luar biasa sekali yah.


Reno membelalakkan matanya. Dia merasa sesak napas saat tak percaya Adeeva menyebutnya dengan panggilan yang sangat amat romantis. Reno dibuat malu bukan kepalang hingga membuat Almeera yang berdiri tak jauh dari mereka terkekeh.


"Reno sepertimu, Mas! Gugup," bisik Almeera pada Bara yang sama terkekehnya dengan tingkah sahabatnya.


"Jelas gugup, Sayang. Menikahi kekasih yang sangat dicintai sebuah anugerah. Padahal dulu perjuangan kita susah sekali," ujar Bara yang membuat Almeera mengangguk.


Setelah salaman. Sekarang giliran Reno yang membaca doa dengan memegang ubun-ubun istrinya lalu berakhir dengan sebuah kecupan di dahi. 


Kedua mata itu tertutup. Saat tangan Reno sudah menyentuh kepala bagian atas milik Adeeva. Pria itu membaca doanya dengan pelan yang tanpa sadar membuat air mata mengalir di sudut mata Adeeva.


Wanita itu tak menyangka jika agama Reno sangat kuat. Bahkan pria itu menghafal doa ini dengan lancar dan hal itu membuat Adeeva yakin bahwa pilihannya tak pernah salah.


"Waalaikumsalam, Istriku. Aku mencintaimu," bisik Reno sebelum dia memajukan wajahnya lalu mulai memberikan kecupan mesra di dahi Adeeva.


Jantung keduanya berdebar kencang. Bahkan ketika benda kenyal itu menyentuh dahinya membuat Adeeva sangat ingin melayang.


Kilatan flash memenuhi tubuh keduanya. Bahkan baik Adeeva dan Reno benar-benar merasa semua kamera mengarah ke arah mereka.


Sampai kecupan itu selesai dan wajah Reno menjauh. Kedua mata itu saling memandang penuh cinta dengan bibir saling tersenyum.


"Aku juga mencintaimu." 


Akhirnya Adeeva dan Reno saling menggenggam. Keduanya menatap ke depan dan membuat para fotografer kembali mengambil gambarnya. 


Keduanya benar-benar menampakkan wajah bahagia. Tak ada keterpaksaan atau rasa tertekan. Baik Reno maupun Adeeva. Keduanya sama-sama bahagia dengan berubahnya status mereka.


Acara di masjid akhirnya selesai. Kini mereka segera menuju rumah Reno yang sudah keduanya putuskan sebagai tempat resepsi. Tentu hal ini yang meminta Adeeva sendiri. Dia mengatakan agar mertuanya bisa melihat acara pernikahan mereka walau sederhana. 


"Selamat untuk kalian berdua," kata Almeera menyalami keduanya. "Aku doain semoga rumah tangga kalian, sakinah, mawaddah dan warahmah, aamiin.".


"Aamiin, Ra. Doain aku semoga bisa sesabar dan sekuat kamu," kata Adeeva yang membuat Almeera mengangguk.


"Ujian tiap istri itu berbeda. Yang terpenting percayalah pada Allah. Apa yang sudah menjadi hakmu, perjuangkan walau itu sakit. Kamu paham, 'kan?" 


"Tentu. Aku paham sekali."


Sedangkan Bara dan Reno pembahasan keduanya jauh berbeda dengan para istri. Keduanya saling berbisik seakan topik yang dibahas sangat amat membuat mereka begitu bahagia.


"Gue doain semoga malam pertama Lo lancar. Jan dipaksa ya, Bodoh! Pelan-pelan aja," bisik Bara yang membuat Reno mengangguk.


"Memangnya sakit?" 


"Ya jelas. Lo kek gak pernah aja liat film hiya-hiya," sindir Bara memukul pundak sahabatnya. 


"Ya pernah tapi, 'kan gue gtw rasanya!" 


"Mangkanya jadi laki cepet kelarin status perjaka tua Lo itu! Biar gak penasaran!" 


"Sialan Lo!" seru Reno memukul pantat sahabatnya.


Untung saja disana hanya ada beberapa orang. Tamu undangan belum datang karena memang Reno menentukan jam resepsinya.


"Yang pasti kalau udah nyobain. Gue yakin Lo gak mau lepas!" 


~Bersambung


Emang gitu pembahasan istri dan suami sangat jauh berbeda. Kelakuan tim Bara, Reno yang omes dah kebelet. hahaha


Alhamdulillah aku bisa ngetik, walau ya ini hasil dari ngetik pakek suara. Semoga bisa menemani kalian.


Aku gak bakal maksain update. Sekuatnya aku yah.


Jangan lupa klik like, komen dan vote..Biar author jadi semangat buat sembuh.